KBRN, Tahuna: Kilauan
kembang api selalu memukau, memeriahkan malam-malam perayaan seperti Tahun
Baru, Natal, Imlek, hingga pesta peresmian.
Warna-warni yang
menciptakan pola indah di langit sering kali menjadi daya tarik utama. Namun,
di balik keindahannya, kembang api menyimpan cerita tentang kandungan kimia
yang menciptakan warna tersebut serta dampaknya pada lingkungan.
Kembang api bekerja
melalui campuran bahan peledak dan unsur kimia yang menghasilkan efek suara,
cahaya, asap, hingga percikan warna-warni. Warna dalam kembang api berasal dari
logam dan senyawa kimia tertentu, seperti:
• Strontium untuk warna merah,
• Kalsium untuk oranye,
• Barium untuk hijau,
• Natrium untuk kuning,
• Tembaga untuk biru,
• Kombinasi Strontium dan Tembaga untuk ungu,
• Dan Titanium untuk warna putih.
Namun, sebagaimana
dilansir dari Waste4Change, dampak dari penggunaan kembang api tidak hanya
berhenti di langit. Bahan-bahan kimia yang dilepaskan selama ledakan sering
kali meninggalkan jejak tak kasat mata yang dapat mencemari udara, tanah, dan
air.
Efek negatif ini meliputi
polusi udara akibat partikel halus dan bahan kimia beracun, yang dapat
memengaruhi kualitas udara dan kesehatan manusia, terutama bagi mereka yang
memiliki gangguan pernapasan. Selain itu, residu logam dari kembang api yang
jatuh ke tanah atau perairan dapat berdampak buruk bagi ekosistem.
Saat kita menikmati
keindahan kembang api, penting untuk merenungkan bagaimana perayaan ini
memengaruhi lingkungan yang semakin rentan. Dengan meningkatnya kesadaran akan
dampak lingkungan, kini saatnya kita mempertimbangkan cara alternatif untuk
merayakan momen istimewa tanpa mengorbankan keberlanjutan bumi.
Kilauan kembang api
mungkin menyenangkan, tetapi merawat bumi untuk generasi mendatang adalah
tanggung jawab kita bersama. (Rico)
Link Berita :
https://rri.co.id/tahuna/daerah/1223041/sisi-gelap-kembang-api-cantik-tapi-berbahaya
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar