![]() |
Ilustrasi
Nyamuk Penyebab DBD (Foto. Google / iStockphoto) |
KBRN,
Tahuna : Menurut dr. Jefry Hamonangan Hinonaung, kebersihan lingkungan yang
buruk dapat menjadi pemicu berbagai penyakit, termasuk kedatangan serangga dan
hewan yang membawa bahaya, seperti nyamuk.
Nyamuk
merupakan penyebar penyakit yang dapat menimbulkan masalah kesehatan serius,
salah satunya adalah demam chikungunya dan demam berdarah dengue (DBD), yang
sering terjadi di daerah tropis seperti Sangihe.
Meskipun
keduanya disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti, gejalanya sering kali
mirip, sehingga banyak yang sulit membedakannya pada tahap awal. Demam
chikungunya juga bisa disebabkan oleh Aedes Albopictus. Untuk itu, penting
untuk memahami perbedaan gejalanya.
DBD
biasanya dimulai dengan demam tinggi yang berlangsung selama 5-7 hari, disertai
sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan ruam. Ada dua fase pada DBD: fase
demam yang berlangsung 2-7 hari setelah gigitan nyamuk, dan fase kritis yang
dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh dalam 24-48 jam, yang kadang memerlukan
perawatan rumah sakit.
Sementara
itu, demam chikungunya juga diawali dengan demam akut, namun disertai gejala
khas berupa poliartralgia (nyeri sendi yang parah), sakit kepala, dan sendi
yang membengkak. Gejala chikungunya berlangsung sekitar 1–2 minggu, sementara
DBD bisa berlangsung hingga 7 minggu, tergantung kondisi tubuh pasien.
Untuk
itu, dr. Jefry menyarankan agar menjaga daya tahan tubuh dengan menjaga kebersihan
lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga secara teratur,
guna mencegah kedua penyakit ini. (Rico)
Link
Berita :
https://rri.co.id/tahuna/kesehatan/1226864/kenali-perbedaan-mendasar-demam-chikungunya-dan-dbd
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar