KBRN
Tahuna : Kuingin mengulang lagi kenangan masa kecilku. Kenangan hari
Natal yang Bahagia Kunyalahkan lilin - lilin, kunyalahkan lenteraku. Kenangan
Natal di dusun yang kecil. Demikian salah satu bait lagu Kenangan Natal di
Dusun Yang Kecil, dipopulerkan pada tahun 1996 oleh Charles Hutagalung dan
Tissia. Mendengarkan lagu ini, seolah membangkitkan Kembali kenangan natal di
masa kecil.
Salah
seorang anggota Connect Grup (CG) Family GMS Tahuna, Rheinhard, menuturkan
waktu kecil masih bisa merasakan hangatnya suasana natal bersama orangtua dan
sanak saudara. Kalau sudah hari natal, rumah tidak pernah sepi, karena ramai
kunjungan dari para relasi, teman, kerabat dan keluarga.
Bahkan
untuk keluar rumah terasa sulit, karena saking banyaknya yang bergantian datang
kunjungan kasih ke rumah. Tapi sekarang, suasana seperti itu sudah langka
di temukan. Meskipun terlihat sama, tetap saja berbeda, katanya.
Rya
Boot Barik, Keyboardis Tim Praise And Worship (PAW) GMS Tahuna mengatakan, bagi
umat Kristiani, Paskah memiliki makna yang lebih besar dibanding Natal, karena
Paskah menandai tuntasnya misi hidup Yesus Kristus.
Natal
sendiri memperingati kelahiran-Nya, suatu pengalaman yang dialami semua orang,
meskipun tidak semua orang menutup hidupnya dengan penuh kemuliaan. Meski
begitu, Natal sering dirayakan dengan lebih meriah karena menggambarkan suasana
hangat dan kebersamaan dalam keluarga.
Salah
satu leader Army of God (AOG) GMS Tahuna, Octovan Parlindungan mengutarakan,
perpaduan dengan akhir tahun dan libur panjang, Natal menjadi momen yang
dinantikan. Bagi banyak keluarga, Natal menjadi waktu untuk saling berkumpul
dan berbagi kasih. Dalam beberapa keluarga, tradisi ini bahkan menjadi
kesempatan untuk berbagi hadiah di antara anggota keluarga lainnya.
Kezia,
Anggota Profesional Muda (PRO.M) GMS Tahuna menyatakan, dirinya pernah
mengalami tinggal di perantauan ketika berkuliah di Manado. Libur panjang
memungkinkan dirinya dan anak - anak perantau lainnya kembali ke kampung
halaman, mempererat hubungan dengan orang tua dan saudara.
Ini
menjadi kesempatan emas bagi dirinya dan keluarga untuk mempererat kebersamaan.
Namun ia juga menyayangkan adanya pergeseran budaya kunjungan kasih dari tahun
ke tahun. Momen Natal dirasakan biasa saja seolah kehilangan makna.
Menurut
Nolfi Pontoh leader CG Family GMS Tahuna, pergeseran itu terjadi karena
sebagian orang beranggapan bahwa dari tahun ke tahun, Natal tetap sama.
Padahal, konsepnya tidak demikian. Di tengah modernisasi dan mobilitas tinggi,
masyarakat sering kali menjadi lebih terpisah secara emosional dan fisik.
Barik
menyebut, momen seperti Natal sebagai "waktu kudus," di mana
kebersamaan dapat dirasakan dengan lebih mendalam. Ritual ini mempertegas
pentingnya makna hidup dalam komunitas. Ia juga mengungkapkan bahwa ritual
bersama menciptakan ikatan emosional yang memperkuat persatuan dan rasa
memiliki.
Dalam
konteks Natal, Pontoh mengatakan bahwa kebersamaan ini menjadi simbol
persaudaraan dan kasih yang menghubungkan keluarga dan masyarakat. Natal
sebagai tradisi keluarga menjadi waktu untuk mengungkapkan rindu, berbagi
cerita, dan saling memaafkan.
Bagi
Barik pribadi, Natal lebih dari sekadar ritual keagamaan. Natal adalah momen
yang menumbuhkan rasa syukur atas keluarga, sukacita dalam kebersamaan, dan
kesempatan berbagi kebahagiaan.
Pada
intinya, kasih dan persatuan adalah bagian dari panggilan umat Kristiani, baik
dalam keluarga maupun masyarakat. Semoga Natal kali ini membawa sukacita,
mempererat hubungan, dan mendorong kita untuk berkontribusi bagi kemajuan
bangsa, dan semoga kita semua menjadi sahabat bagi sesama. (Rico)
Link
Berita :
https://rri.co.id/tahuna/daerah/1221495/kunjungan-kasih-benarkah-mulai-pudar
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar