Tahuna,
Sangihe (Foto: visitingsangihe/Jez O'Hare)
KBRN,
Tahuna ; Kisah yang secara khusus mengangkat sejarah Kepulauan Sangihe masih
jarang dijumpai. Namun, terdapat beberapa narasi yang lebih luas yang membahas
peran strategis Laut Sulawesi di masa lalu. Dalam bukunya Orang Laut,
Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, A.B. Lapian
menggolongkan wilayah Kepulauan Sangihe - Talaud, yang sering dikenal sebagai
Nusa Utara, ke dalam sebuah tatanan yang ia sebut sebagai Sistem Laut Sulawesi.
Terkait
Laut Sulawesi, Dennys Lombard menggambarkannya sebagai bagian dari segitiga
kawasan bersama Laut Sulu dan Laut Maluku, yang secara historis membentuk jalur
perdagangan terpadu di wilayah timur Nusantara. Sementara itu, Anthony Reid,
dalam konteks era Age of Commerce, menyebut jalur Sangihe - Talaud
sebagai rute strategis yang menghubungkan jalur pelayaran menuju daratan Cina
melalui Filipina dan Sulu hingga ke Kepulauan Rempah-rempah.
Salah
satu catatan paling awal tentang Sangihe berasal dari Antonio Pigafetta,
seorang penjelajah yang mengikuti ekspedisi Magellan pada 1519-1521. Dalam
perjalanan tersebut, rombongan Magellan melintasi sejumlah gugusan pulau di
utara sebelum akhirnya mencapai Maluku.
Membahas
sejarah Kepulauan Sangihe tak bisa dilepaskan dari kekayaan cerita rakyat yang
berkembang di tengah masyarakat. Kisah-kisah ini diwariskan secara lisan dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu legenda yang paling mendalam
adalah kisah Gumansalangi, yang mengisahkan asal - usul Sangihe, masyarakatnya,
serta peristiwa - peristiwa yang melatarbelakangi berdirinya kerajaan -
kerajaan di wilayah tersebut. (Rico)
Link
Berita :
https://rri.co.id/tahuna/daerah/1205860/asal-usul-sangihe-legenda-mitos-dan-cerita-rakyat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar