Peristiwa terjadinya Gunung Awu (Buludu Awu) di Pulau Sangihe tidak memiliki data akurat, namun menjadi cerita rakyat karena masih hidup dan diceritakan secara lisan dari mulut kemulut.
Gunung Awu berada dibelakang atas pusat kota Tahuna dengan ketinggian 1.320 meter dari atas permukaan laut, atau lebih kurang dari 3.300 meter dari dasar laut sekitarnya, dan memiliki luas kurang lebih 135 km2, terletak di dua kecamatan yakni Kecamatan Tahuna Barat dan Kendahe. Sekalipun keberadaannya dianggap sebagai sesuatu yang kadang – kadang menjadi ancaman hidup manusia, tetapi dipihak lain merupakan salah satu “ keajaiban “ yang membanggakan di daerah Kepulauan Sangihe.
Kehadiran Gunung Awu menjadi symbol dari kesantunan masyarakat Sangihe yang memiliki serta menyimpan banyak kekayaan dan ada hubungannya dengan sumber hidup manusia. Karena itu, bila terjadi gesekan dalam kenyamanan masyarakat dengan hadirnya peristiwa musibah, bencana alam, semuanya mengarahkan pada pemahaman bahwa harus ada keseimbangan manusia dengan lingkungan dimana kehidupan ini berlangsung.
Sekitar akhir abad ke 14, hiduplah dua orang raksasa sebagai suami isteri. Raksasa Laki – laki tidak diketahui namanya, sedangkan yang perempuan bernama Bakeng. Untuk memenuhi kebutuhan hidup makan sehari – hari, mereka berkebun dan berburu manusia. Ketika ada manusia yang tertangkap, di bawa hidup – hidup kemudian dikurung di bawah kolong rumah, dipelihara sampai tiba waktunya untuk disembelih menjadi ikan mereka.
Di pedalaman Meti, wilayah Kerajaan Kendahe dahulu berdiam tiga bersaudara. Sulung bernama Manggaia, yang kedua bernama Panggelawang dan yang bungsu seorang wanita bernama Nangin Bulaeng. Pekerjaan Manggaia dan Panggelawang mencari nafkah setiap hari sedangkan adik perempuan mereka memasak dan menenun kain kofo untuk pakaian mereka bertiga.
Pada suatu hari Manggaia dan Panggelawang pergi mencari makanan sementara adiknya perempuan menyambung serat kain kofo untuk bahan tenunan. Tiba-tiba Nangin Bulaeng disergap oleh raksasa dan dibawanya untuk dimangsa. Beruntung, Nangin Bulaeng sebelum dibawa pergi oleh raksasa, sempat memegang ujung serat kofo yang sudah disambungnya tanpa sepengetahuan raksasa.
Bertepat dengan pulangnya Manggaia dan Panggelawang, keduanya menemukan ujung serat kofo diujung tangga, bergerak seiring dengan langkah raksasa yang memanggul Nangin Bulaeng. Melihat ujung benang yang bergerak seiring menjauhi tangga dan setelah menyadari bahwa adik bungsunya sudah tidaka ada ditempat biasa ia menenun. Keduanya sudah dapat menerka, siapa lagi yang membawa adiknya kalau bukan si Bakeng Raksasa yang ganas. Lalu mereka beristirahat sejenak sambil berpikir mencari siasat bagaimana caranya mendekati rumah raksasa dan membebaskan adiknya.
Dengan kesaktian yang mereka miliki, berhasillah keduanya mendatangi rumah raksasa itu. Namun, baru saja keduanya memasuki pekarangan rumahnya, si raksasa Bakeng sudah dapat membauinya dan berkata : “O! kai pia darurung kalu tamata” (Oh! Ada bau manusia biasa). Belum sempat raksasa keluar dari rumahnya, dengan suara gamblang Panggelawang menyahut katanya : “I Kandua tahatuari kainakaringihe. Kuade I upungkai mangundanging nebaele kere eng kasariane. I kadini nanamahi sorong anung I upung metulung I upung, mani eng medalapuhang” (Kami berdua mendengar bahwa kakek sedang menghadapi pekerjaan yang besar, maka kami berdua datang untuk membantu, setidak-tidaknya kami bisa memasak makanan untuk kakek berdua)
Dijawab oleh raksasa katanya : “Baiklah
jika demikian. Marilah naik ke dalam rumah”. Tapi dijawab oleh panggelawang
kembali katanya : “Biarlah kakek, kami berdua di dapur saja”. Keesokan harinya
meskipun sebenarnya semalam suntuk keduanya tetap berjaga. Raksasa Bakeng turun
dari rumah dan berkata : “Kami suami istri akan pergi dan tumbuklah padi yang
tersimpan dalam bambu sedangkan untuk lauknya sembelilah salah seorang yang
paling gemuk di dalam kandang.” Sesudah berkata demikian, pergilah kedua
raksasa itu.
Setelah Manggaia dan
Panggelawang menumbuk padi, pergilah Panggelawang ke kandang dimana terkurung
manusia yang ditangkap oleh kedua raksasa itu. Melihat adik bungsunya yang
berada dikandang, sesegeranya kandang yang kokoh itu dirombak oleh
Panggelawang. Semua orang yang ada didalam kurungan segera dibebaskan dan
mereka disuruh oleh Panggelawang untuk menunggu diujung jembatan kayu melintasi
tebing yang sangat dalam yang dibangun kedua kakak beradik ini.
Adapun kedua raksasa ini
mempunyai seorang anak perempuan bernama Batairo. Pekerjaannya hanyalah
memerahkan kukunya dengan sejenis tumbuhan yang biji buahnya berwarna merah.
Lalu naiklah Panggelawang ke rumah raksasa itu dan bersama Manggaia menyembelih
Batairo. Badan Batairo diturunkan ke dapur sedangkan kepalanya disandarkan
dekat jendela, supaya orang tuanya dapat melihat rambut anaknya terurai dari
jendela. Tubuh Batairo lalu dicincang dan direbus dalam kuali yang amat besar.
Lalu keduanya memasak lauk yang tidak lain adalah tubuh Batairo. Ada satu kelengahan
yang dibuat oleh kedua kakak beradik ini, yakni turut memasukkan jari-jarinya
dengan kuku yang berwarna merah.
Waktu matahari mulai
condong ke barat, terdengarlah oleh keduanya kayu-kayu di hutan berderak-derak,
pertanda kedua raksasa itu sedang dalam perjalanan kembali kerumahnya. Karena
kedua raksasa sudah sangat lapar, maka mereka mengambil sendiri makanan dari
dalam belanga dan lauknya dari kuali. Sementara kedua raksasa itu menikmati
makan siangnya, tiba-tiba seekor burung Kalawo berbulu kuning hinggap diatas
bubungan rumah si raksasa dan berkata : “Pirua i Bakeng nepulu ne pangsong
kinumina ana’e, talimedong ana’e mahamu eng kalaruga” (Kasihan si Bakeng, ia
menyantap anaknya sendiri, jari-jemarinya yang merah karena warna kayu
karaluga). Tapi kedua raksasa itu tidak menghiraukannya. Keduanya terus
menikmati makan siangnya. Manggaia dan Panggalawang semakin berhati-hati
setelah mendengar teriakan burung. Keduanya lalu keluar dari dapur rumah
raksasa dan duduk-duduk di atas batu dipekarangan. Bertepatan si raksasa Bakeng
mengambil lauk dari kuali dan menemukan jari-jemari dengan kuku berwarnah
merah. Ia berhenti makan dan naik ketempat anaknya sambil memanggil Batairo.
Setelah sampai ditempat anaknya dan melihat anaknya sudah disembelih dan
tinggal kepalanya yang tersandar disamping jendela, si Bakeng dengan istrinya
melompat turun dari rumah dan mengejar kedua kakak beradik itu. Tapi Manggaia
dan Panggelawang sudah lebih dahulu melarikan diri bagaikan anak panah yang
melesat lepas dari busurnya.
Setibanya kedua kakak
beradik itu diujung jembatan diseberang tebing, tibalah pula raksasa suami
istri itu pada sisi tebing yang lain. Kedua raksasa itu tidak menyadari bahwa
jembatan yang melintas tebing yang dalam itu sudah ditetak bagian bawahnya.
Tepat kedua raksasa berada di bagian tengah jembatan maka patahlah kayunya dan
ambruk pula jembatan itu bersama kedua raksasa ke dalam jurang yang menganga.
Sebelum raksasa suami istri itu menghembuskan napasnya, Si Bakeng Berkata
: “Lembah jurang tempat kami berdua jatuh akan menjadi mata gunung api.
Daging kami menjadi belerang, darah dan mata hancur menjadi air danau, serta
tulang-tulang kami tumbuh menjadi tpulau ditengah danau, yang kelak akan
meletus mengeluarkan atau menyemburkan api, belerang, lahar dan abu menyelubungi
pulau ini. Membinasakan kamu dan keturunan-mu turun temurun sepanjang
hayat”. Tapi perkataan ini dijawab oleh Panggelawang katanya : “Jika
kamu menjadi puncak gunung api yang membinasakan kami sampai keturunan kami,
maka kami berdua akan bermukim di pihak masrik”.
Maka tamatlah riwayat si Bakeng Raksasa itu. Namun
pesannya masih hidup sampai sekarang, yang tertuang dalam kearifan ungkapan
leluhur Sangihe,” Mesulungu I Bakeng Kimina Anae”. Ungkapan ini bisa ditujukan kepada orangtua yang
terlalu keras perlakuannya dalam mendidik anak dengan perkataan ironis,” Kai Makoa I Bakeng Kai Kumina Anae! ”. Seperti Bakeng makan anaknya sendiri.
Akhirnya, tumbuhlah sebuah Gunung Awu dari tempat si
Bakeng raksasa itu jatuh tenggelam. Berdasarkan ucapan si Bakeng raksasa itu,
dibalas oleh Panggelawang dan Wanggaia, itu menjadi moral orang Sangihe… dimana
setiap Gunung Awu meletus dengan menegeluarkan material berupa pecahan
batu-batuan, abu dan awan panas, maka banyak orang di masa itu selalu memanggil
nama Panggelawan dan Wanggaia untuk menolong. Sehingga bertiuplah angin timur
dengan kencang, untuk mengalihkan awan panas, semburan batu dan abu yang membahayakan,
beralih ke barat. Maka selamatlah orang – orang di bawah lereng Gunung Api Awu.
Demikianlah kisah Legenda Gunung Api Menakanusa atau sekarang dikenal Gunung Awu, karena setiap meletus gunung ini banyak menyemburkan abu (awu) panas atau lahar, sehingga gunung menakanusa oleh orang - orang tua dahulu menyebutnya sebagai Gunung Awu.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar