NILAI FILOSOFI PADA KUE TAMO
Kue Tamo adalah kue dodol berbentuk kerucut,
diletakkan dalam baki di atas meja sajian makanan dalam berbagai acara. “Tamo”
berasal dari kata Tamolo atau Tamonde yang artinya disanjung–sanjung. Tamo, pertama kali dikenal dalam satu pesta
perkawinan putri seorang raja dikerajaan Tabukan Tua. Pesta perkawinan itu
terjadi sesudah berdirinya Kerajaan Tampungang Lawo, 400 tahun silam atau
sesudah keruntuhan Majapahit. Pada masa lalu Tamo memiliki dua spesifikasi dari
bentuk dan kegunaannya, yaitu Tamo Boki berwarna putih dan Tamo Coklat seperti
yang masih dibuat sampai saat ini.
Berdasarkan cerita lisan, perkawinan Mangulundagho dengan Bangsang peliang di Bongko lumenehe (Kampung dagho sekarang) tamo semacam makanan yang kemudian disebut Golopung. Kue Tamo yang menjulang di atas meja itu adalah Datung Kaeng artinya Raja Makanan, yang bermakna/memberi simbol persatuan dan kesatuan serta kekompakan inter/antar anggota masyarakat disegala lapisan. Itulah sebabnya, sehingga Kue Tamo juga disebut sebagai Kue adat. Tamo memiliki unsur utama yaitu badan tamo, ditambah asesoris pada badan tamo berupa udang (dimasa lalu) dibagian dasar diletakan bermacam–macam makanan khas sangihe.
Pada mulanya dibagian pucuk tamo diletakan telur
yang melambangkan kehidupan baru (sesuai dengan cerita manusia mula-mula dalam
cerita gumansalangi). Sesudah perang kemerdekaan maka symbol telur diganti
dengan bendera negara merah putih. Namun pada tahun 2006 tidak lagi menggunakan
bendera pada pucuk tetapi bunga atau telur. Dengan latar belakang sejarah,
tamo merupakan makanan yang sangat berwibawa, sebab pertama dibuat dalam
pernikahan atau perkawinan leluhur Sangihe, Mangulun Dagho serta Bangsang
Peliang, yaitu pada abad ke 13 tahun 1311. Kedua, diberlakukan lagi oleh
leluhur masyarakat Sangihe yaitu Makaampo pada tahun 1425 untuk versi Tabukan.
Tamo
memiliki makna yang sangat ritual disamping pemaknaan tinggi yang terkandung
dalam Tamo sebagai kue adat, mampu merampung dan mempersekutukan manusia
pemerhati adat. Pertama, tamo ini adalah
kue adat yang mampu merampung, mempersekutukan orang–orang atau manusia
pemerhati adat. Kedua, di dalam tamo ini ada pemaknaan yang sangat religi.
Karena membuat Tamo ini harus di tempat yang strategis, ditempat aman, ditempat
nyaman yang tidak bisa diganggu. Menurut kebiasaan, harus satu dua orang saja
yang melakukan ini, yang membuat ini, jangan diganggu oleh orang lain. Karena
ketika diganggu ini, pengolahan ini tidak bisa jadi. Karena menurut pemahaman
tradisi dari para leluhur kita, bahwa penggangu–pengganggu dari ritualisasi
pembuatan tamo ini adalah mahluk–mahluk halus. Sehingga pembuatan tamo ini
harus benar–benar diyakinkan kepada seorang penguasa yaitu Genggona Langi’. Berikut, dari latar belakang sejarah, tamo
ini adalah makanan yang sangat berwibawa, sebab pertama dibuat dalam pernikahan
atau perkawinan leluhur kita, Mangulun Dagho serta Basa Peliang, yaitu pada
abad ke 13 tahun 1311. Kedua, diberlakukan lagi oleh leluhur kita yaitu
Makaampo yaitu pada tahun 1425, dan ini untuk versi Tabukan.
Resep tamo tua adalah campuran dari beras, umbi - umbian,gula, minyak kelapa, tetapi resep ini tidak
bertahan lama karena mudah basi. Pada saat ini resep tamo terdiri dari beras, gula, dan
minyak kelapa. Untuk membuat tamo harus melewati beberapa ketentuan adat diantaranya,
orang yang akan memasak tidak sedang dalam keadaan bertengkar sebelum sampai ke
dapur, tempat untuk meletakan kuwali harus menggunakan 3 batu sebagai tungku. Karena
sakralnya kue ini sehingga minyak yang menetes dari cetakan tamo selalu
disimpan sebagai minyak yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.
Pembuatan Tamo yang baik disetiap tempat, itu
ada oknum atau keluarga dengan kerabatnya tertentu yang dari dulunya sudah
menjadi juru pembuat kue Tamo. Adapun kalangan yang boleh berkesanggupan buat
kue tamo ini memang tidak semua
masyarakat boleh mengadakannya. Ini dalam suatu
persekutuan, dalam suatu kekerabatan, atau dalam satu kampung, apabila
mengadakan suatu kenduri atau suatu acara syukuran, itu biasanya mereka membuat
kue tamo. Kecuali pada waktu dulu, para
raja – raja kerajaan – kerajaan para jogugu itu setiap ada acara upacara,
mereka membuat kue tamo. Sampai saat ini diketahui orang banyak, tetapi yang
boleh membuat dan yang boleh melakukan itu adalah kalangan terbatas. Karena
selain rumitnya pembuatannya, juga diperlukan biaya yang tidak sedikit.
Ada dua versi tamo yang dikenal yaitu tamo banua
dan tamo kawanua. Keduanya mengandung makna mendalam. Tamo
Banua adalah dibuat dalam suatu upacara ritual dulu dalam kerajaan. Sehingga
tamo itu Cuma satu, yaitu tamo yang mempersekutukan. Dari tingkat kerajaan itu,
dan masyarakat adat. Misalnya, Tamo Banua selalu dilakukan pada setiap upacara
tulude’. Kedua adalah Tamo Kawanua. Tamo Kawanua ini memiliki makna bahwa
setiap upacara ritual yang sifatnya tradisi, itu boleh membuat tamo. Misalnya
dalam meluncurkan perahu, naik rumah baru, panen, pernikahan.
Bagian terpenting dalam pembuatan tamo adalah ritual “memoto tamo”
(memotong tamo). Sebelum memotong tamo, orang yang ditugaskan untuk memotong
tamo harus menyampaikan sasalamate’ yang dinamakan sasalamate tamo. Isi dari sasalamate
tamo adalah berkisah tentang tamo itu sendiri dan pesan atau nasehat tentang
kebaikan kepada banyak orang. Sebagai sebuah makanan yang istimewa, maka dimasa
lalu tamo harus dibungkus dan tidak terlihat.
|
Filosofi
terpenting dari Tamo adalah Mengundang masyarakat banyak
untuk datang dalam satu pertemuan. Masyarakat dari kalangan manapun boleh
datang dalam satu hajatan atau acara syukuran tanpa diundang apabila didalam
acara tersebut sudah terlihat Tamo. Seiring
perkembangan zaman masa kini, telah diupayakan pelestarian kue adat tradisional
ini dalam muatan lokal disekolah–sekolah, agar keberadaan kue tamo tetap
bertahan. Untuk
generasi sekarang, di MULOK [muatan local] di
sekolah – sekolah sudah diajarkan
bagaimana resep membuat tamo, bagaimana sastra pemotongan kue tamo ini,
sehingga sudah banyak kali dilombakan. Malahan anak – anak kecil dari SD, SMP itu sudah sangat pintar membawakan sastra
menuwang tamo.
Tamo bukanlah status sosial tetapi pada akhirnya Tamo berubah kedudukan dan penggunaannya dalam acara atau syukuran. Dikemudian hari Tamo menjadi bagian sosial masyarakat. Hal ini terbukti dengan ditempatkannya Tamo pada acara-acara yang sangat khusus seperti acara diadakan oleh pimpinan daerah atau acara khusus seperti pesta pernikahan adat dan modern. Begitu sakralnya kue adat Tamo sehingga terungkap
satu pernyataan lain yang mengatakan bahwa kue adat Tamo harus dibungkus dengan
penutup yang tidak tembus pandang, karena berdasarkan kebiasaan bahwa kue Tamo
itu Laksana seorang wanita cantik yang sangat terhormat.
Tamo dalam pesta adat memperoleh penghormatan tertinggi , dinyatakan dalam bentuk antara lain Tamo memasuki ruang pesta terakhir setelah semua tamu termasuk para petinggi sudah hadir dan wajib berdiri sebagai penghormatan. Selanjutnya Tamo diusung dan diiringi satu barisan Adat yang terdiri dari unsur Bobato dan diletakkan di meja khusus depan tamu kehormatan. Wajarlah demikian mengingat secara filosof, Tamo bukan saja berlambang Persatuan dan Kesatuan, Keberhasilan dan Kesuksesan tetapi juga Tamo mengisyaratkan kriteria yang harus dimiliki oleh Pemimpin yang ideal. Masyarakat Sangihe yang dahulu masih menyatu dengan Talaud mempercayai untuk memulai suatu pekerjaan seperti mendirikan rumah, menebang kayu, turun ke laut haruslah memperhatikan waktu dan cuaca sebagaimana diartikan pada hiasan – hiasan Tamo dan meskipun demikian sangat diyakini saat itu Genghona Langi diatas segalanya dan dapat menghindarkan bebagai jenis ancaman atau bahaya. Pembuatan hingga pemotongan serta rasa Kue Adat Tamo, memiliki keunikan tersendiri. Anggapan dimana hadirnya roh – roh halus termasuk arwah nenek moyang, jika terjadi unsur kesengajaan dalam pemotongan Kue Tamo akan menimbulkan suasana tidak nyaman atau dikenal istilah Menengkule. Oleh karena itu selain kata – kata adat, pemotongan Tamo perlu adanya Mangenpaluhe dan Manangpuha menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. Kue
Adat Tamo mengabadikan sejarah asal usul nenekmoyang Raja Tampunganglawo
Medellu dan Mekila. Selain itu pula mengabadikan syarat yang berhasil ditempuh
dengan kesaktian seroang Raja yang dilakukan dewata melaui Kondoati atau
Sangiang kondah terhadap Gumansalangi yakni ujian Kemanuasiaan, Moral dan
Kesaktian. |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar