Muhrij Lawendatu, saat melakukan
pemotongan Kue Adat Tamo di Upacara Adat Tulude
|
(Foto: Dokumentasi / Stenly
Pontolawokang) |
KBRN, Tahuna : Tamo
adalah Kue Adat asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang bisa ditemui di acara
seperti Upacara Adat Tulude dan pernikahan.
Di Kabupaten Sangihe,
memotong Kue Adat ini dilakukan oleh Pelaku Adat yang menguasai Sastra yaitu
kata-kata yang digunakan saat melakukan pemotongan kue Adat Tamo.
Untuk belajar memotong
Kue Adat Tamo, bukan hanya tentang menghafal kata-katanya saja tapi harus tau
maknanya.
Hal ini diungkapkan oleh
Pelaku Adat sekaligus seseorang yang menguasai pemotongan Kue Adat Tamo, Muhrij
Lawendatu, dalam acara Dendang Basudara Prosatu Tahuna.
Kata-kata yang digunakan
dalam pemotongan Kue Adat Tamo, adalah bahasa sastra.
"Mencari kata-kata
untuk memotong Tamo adalah bahasa Sastra yang bukan digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Sebenarnya itu merupakan bahasa asli orang Sangihe dulu tapi saat
ini sudah tidak dipelajari," tutur Muhrij.
Sementara untuk
regenerasi, menurut Muhrij, ia mengajarkan kepada siswa ketika sekolah
membutuhkan.
"Tahun lalu ada
sekolah SMP di sini, mereka membuat program pelajaran mempraktekkan Upacara
Adat Tulude dari awal hingga akhir. Saya mengajarkan sampai mereka bisa
menggunakan bahasa daerah dan hafal dengan baik," ucap Muhrij. (Herlien)
Link Berita :
https://rri.co.id/daerah/1306393/memotong-tamo-bukan-sekedar-hafalan-tapi-paham-maknanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar