Sabtu, 01 Februari 2025

Nilai Filosofi Pada Kue Tamo

 

Kue Tamo dalam Upacara Adat Tulude, Selasa (31/12/2024) / (Foto : Rico / RRI Tahuna)

KBRN, Tahuna: Kue Tamo adalah dodol berbentuk kerucut yang diletakkan di atas baki dalam berbagai acara Adat. Kata "Tamo" berasal dari Tamolo atau Tamonde, yang berarti "Disanjung-sanjung".

Kue ini pertama kali dikenal dalam pernikahan seorang Putri Raja di Kerajaan Tabukan Tua, sekitar 400 tahun lalu, setelah runtuhnya Majapahit. Awalnya, terdapat dua jenis Tamo: Tamo Boki (putih) dan Tamo Coklat, yang masih dibuat hingga kini.

Secara filosofis, Tamo melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat. Kue ini juga disebut Datung Kaeng (Raja Makanan), yang menunjukkan kehormatan dalam adat Sangihe. 

Awalnya, puncak Tamo dihiasi telur sebagai simbol kehidupan baru, sesuai cerita Gumansalangi. Setelah kemerdekaan, simbol ini diganti dengan bendera merah putih, dan sejak 2006, digunakan bunga atau telur.

Tamo memiliki nilai ritual yang tinggi. Proses pembuatannya harus dilakukan di tempat yang tenang dan tidak boleh diganggu, karena dipercaya bahwa gangguan dapat menghambat pembuatannya. Menurut tradisi, gangguan ini berasal dari makhluk halus, sehingga pembuatan Tamo harus dipersembahkan kepada Genggona Langi (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Dua Jenis Tamo

1.    Tamo Banua – Dibuat dalam upacara kerajaan dan selalu ada dalam ritual Tulude.

2.    Tamo Kawanua – Dibuat dalam berbagai acara tradisi, seperti peluncuran perahu, naik rumah baru, panen, dan pernikahan.

Makna dan Tradisi Tamo

Bagian penting dalam ritual Tamo adalah "Memoto Tamo" (memotong Tamo), yang diawali dengan sasalamate', yaitu ungkapan syukur dan pesan kebaikan. Dalam tradisi, Tamo selalu dibungkus dengan kain tertutup, melambangkan kehormatan, seperti wanita cantik yang dihormati.

Tamo juga menjadi simbol keterbukaan sosial. Dalam tradisi, kehadiran Tamo dalam suatu acara menandakan bahwa siapa pun boleh datang tanpa undangan. Seiring waktu, Tamo menjadi bagian penting dalam acara resmi, termasuk yang diselenggarakan oleh pemimpin daerah.

Dalam pesta adat, Tamo mendapat penghormatan tertinggi. Kue ini dibawa masuk terakhir setelah semua tamu hadir, diiringi barisan adat, dan diletakkan di meja utama. Filosofinya, Tamo bukan hanya simbol persatuan dan kesuksesan, tetapi juga mencerminkan sifat ideal seorang pemimpin.

Selain itu, Tamo juga mengabadikan sejarah leluhur Raja Tampungang Lawo, serta ujian kemanusiaan, moral, dan kesaktian yang dilakukan para raja di masa lalu. (Rico)

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/1296041/nilai-filosofi-pada-kue-tamo

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...