![]() |
| Kue Tamo dalam Upacara Adat Tulude, Selasa (31/12/2024) / (Foto : Rico / RRI Tahuna) |
KBRN, Tahuna: Kue Tamo
adalah dodol berbentuk kerucut yang diletakkan di atas baki dalam berbagai
acara Adat. Kata "Tamo" berasal dari Tamolo atau Tamonde,
yang berarti "Disanjung-sanjung".
Kue ini pertama kali
dikenal dalam pernikahan seorang Putri Raja di Kerajaan Tabukan Tua, sekitar
400 tahun lalu, setelah runtuhnya Majapahit. Awalnya, terdapat dua jenis
Tamo: Tamo Boki (putih) dan Tamo Coklat, yang
masih dibuat hingga kini. Secara filosofis, Tamo
melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat. Kue ini juga disebut Datung
Kaeng (Raja Makanan), yang menunjukkan kehormatan dalam adat
Sangihe. Awalnya, puncak Tamo
dihiasi telur sebagai simbol kehidupan baru, sesuai cerita Gumansalangi.
Setelah kemerdekaan, simbol ini diganti dengan bendera merah putih, dan sejak
2006, digunakan bunga atau telur. Tamo memiliki nilai
ritual yang tinggi. Proses pembuatannya harus dilakukan di tempat yang tenang
dan tidak boleh diganggu, karena dipercaya bahwa gangguan dapat menghambat
pembuatannya. Menurut tradisi, gangguan ini berasal dari makhluk halus,
sehingga pembuatan Tamo harus dipersembahkan kepada Genggona Langi (Tuhan Yang
Maha Kuasa). Dua Jenis Tamo 1. Tamo
Banua – Dibuat dalam upacara kerajaan dan selalu ada
dalam ritual Tulude. 2. Tamo
Kawanua – Dibuat dalam berbagai acara tradisi, seperti
peluncuran perahu, naik rumah baru, panen, dan pernikahan. Makna dan Tradisi Tamo Bagian penting dalam
ritual Tamo adalah "Memoto Tamo" (memotong Tamo),
yang diawali dengan sasalamate', yaitu ungkapan syukur dan pesan
kebaikan. Dalam tradisi, Tamo selalu dibungkus dengan kain tertutup,
melambangkan kehormatan, seperti wanita cantik yang dihormati. Tamo juga menjadi simbol
keterbukaan sosial. Dalam tradisi, kehadiran Tamo dalam suatu acara menandakan
bahwa siapa pun boleh datang tanpa undangan. Seiring waktu, Tamo menjadi bagian
penting dalam acara resmi, termasuk yang diselenggarakan oleh pemimpin daerah. Dalam pesta adat, Tamo
mendapat penghormatan tertinggi. Kue ini dibawa masuk terakhir setelah semua
tamu hadir, diiringi barisan adat, dan diletakkan di meja utama. Filosofinya,
Tamo bukan hanya simbol persatuan dan kesuksesan, tetapi juga mencerminkan sifat
ideal seorang pemimpin. Selain itu, Tamo juga
mengabadikan sejarah leluhur Raja Tampungang Lawo, serta ujian kemanusiaan,
moral, dan kesaktian yang dilakukan para raja di masa lalu. (Rico) Link Berita : https://rri.co.id/tahuna/daerah/1296041/nilai-filosofi-pada-kue-tamo
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar