Upacara adat Tulude terbentuk dari latar belakang kepercayaan para leluhur masyarakat Sangihe, dalam rangka membina kehidupan yang sehat-sejahtera dan berkesinambungan. Tulude identik dengan kata “Suhude”, artinya menolak bala atau mendorong yang bermakna melepaskan tahun yang lalu dengan segala syukuran, tentang apa yang telah dialami dan dinikmati, serta mendoakan kehidupan yang akan dilanjutkan dan dijalani di tahun baru. Pelepasan dengan syukuran akan tahun yang telah silam serta doa berkat dan anugerah bagi tahun yang baru dan sedang dijalani itu, ditujukan kepada Genggonalangi, yaitu Tuhan yang Maha Kuasa dan bertahta di sorga, di atas segala langit. Tulude’ atau Menulude’, adalah sebuah perlakuan adat, yang artinya adalah upacara yang sifatnya ritual yaitu menata sesuatu atau membuat sesuatu menjadi baik.
Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu. Apapun bentuk pelaksanaannya, hakikat dari Tulude itu sendiri tetap menjadi dasar bagi pelaksanaannya setiap tahun. Menurut Gideon Makamea, salah seorang tokoh adat Sangihe, Perubahan ataupun pergeseran tetap ada, tetapi adat–budaya harus dipertahankan dari sisi nilai tradisionalnya.
Sementara itu, salah satu tokoh adat Sangihe, Niklas
Mehare menambahkan bahwa,” Adat selalu
mengalami penyesuaian, tetapi nilai–nilai luhur daripada adat itu sendiri tidak
pernah luntur, selalu relevan didalam perlakuannya. Adat itu tidak statis,
tetapi dinamis tanpa meninggalkan nilai–nilai luhurnya daripada acara itu
sendiri. Ada beberapa hal yang penting di dalam upacara Tulude’. Yang pertama,
sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas penyertaanNya kepada
kita setahun yang lalu. Jadi manusia itu, yang ada di kepulauan Sangihe ini,
tetap merasakan sejak dulu bahwa hidup ini tetap dituntun, dipelihara oleh Sang
Pencipta, pemelihara kehidupan, dalam hal ini adalah Genggona Langi’. Yang
kedua adalah pengakuan atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh
manusia pada setahun yang lalu atau yang telah silam. Mengapa? Karena kehidupan
manusia di tempat ini, kedekatannya sangat luar biasa dengan alam. Jadi ketika
ada sesuatu yang terjadi, umpamanya bencana alam maka pemahaman mereka, siapa
lagi kalau bukan manusia yang berbuat salah. Jadi ketika dilakukan itu upacara
adat Tulude’, maka disadari, dipahami bahwa karena usia manusialah terjadi
sesuatu, sehingga pada tempatnyalah ada pengakuan dihadapan Tuhan sekaligus
mohon ampun atas perbuatan yang sudah keliru. Yang ketiga, doa. Disamping
pengakuan, harapan ada doa. Dimohon kepada Genggona Langi’, kiranya Tuhan akan
melimpahkan berkatNya, rahmatNya kepada kehidupan kepada manusia, sehingga pada
tahun yang dijalani ini, awal sampai akhirnya kiranya berkat Tuhan selalu
melimpah.”
Adapun beberapa perlakuan dalam upacara adat
Tulude ini yang paling utama adalah Kakumbaedê, Mêhiwu SaÍa, Menahulênding,
lalu masuk pada yang akhir adalah Memoto’ Tamo. Kakumbaede tadi adalah
pemaknaan terhadap sebuah adat atau terhadap sebuah budaya. Yang istilah
sekarang kalau Kakumbaedê diterjemahkan secara adat adalah Nazam kiasan. Namun
dalam pemahaman, Kakumbaedê ini sepertinya hubungan kebatinan dengan kerohanian
adalah adat yang bersafaat. Lalu dalam tahapan Kakumbaedê sepertinya itu,
pertama adalah Lahagotang, yaitu ungkapan isi hati. Kedua adalah Lahakane,
kepasrahan. Yang ketiga adalah LaÍa’e, yaitu keyakinan secara batin, keyakinan
secara rohani. Bahwa segala sesuatu ini adalah berdasarkan kuasa atau
penciptaan Allah. Sehingga dalam segala sesuatu semuanya dari Genggona Langi’ Ruata
Saluruang. Yang keempat adalah Lansuhe yaitu Harapan. Jadi sesuatu yang
diharapkan dari rahmat Genggona Langi’. Yang terakhir adalah Akane, yaitu
kesungguhan. Dengan sungguh–sungguh memberlakukan upacara tulude’ itu, bahwa
itu sangat religi dan mempunyai dampak apabila dilalaikan.
Upacara adat Tulude’ bukan hanya sekedar
seremonial atau pelaksanaan maupun digelarnya tanpa makna. Sesungguhnya pada
Tulude’ terkandung nilai budaya yang sangat tinggi dan filosofis yang dalam,
juga nilai–nilai adat istiadat yang mengikat. Wujud persatuan dan kesatuan
dalam kebersamaan, rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur
dalam nilai–nilai agama yang ada, sebagaimana diungkapakan Niklas Mêharê, salah
satu Tokoh Adat Masyarakat Sangihe. “ Nilai–nilai
adat istiadat yang mengikat, wujud persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan,
rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur dalam nilai–nilai
agama yang ada, itu nilai yang pertama. Yang kedua, menumbuhkan motivasi dan
semangat gotong royong masyarakat, yang dapat dimanifestasikan dalam
pelaksanaan tugas atau kerja dan tanggung jawab selama setahun ke depan.”
Upacara adat Tulude’
suatu saat nanti, bukan tidak mungkin dapat hilang ditelan waktu apabila tidak
dilanjutkan dan dilestarikan oleh generasi sekarang. Ini perlu diwariskan, karena dari sisi religinya ini
memang mempunyai hubungan erat budaya dengan agama. Dalam sebuah anutan
kepercayaan, sebab tulude ini bukan dimiliki saja oleh salah satu organisasi
penganut sebuah agama, tetapi Tulude’ adalah budaya masyarakat tradisi Sangihe
sehingga Tulude’, perlu dipertahankan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar