Jumat, 29 Juli 2022

TULUDE' BENTENG KEKUATAN NKRI

 


Upacara adat Tulude terbentuk dari latar belakang kepercayaan para leluhur masyarakat Sangihe, dalam rangka membina kehidupan yang sehat-sejahtera dan berkesinambungan. Tulude identik dengan kata “Suhude”, artinya menolak bala atau mendorong  yang bermakna melepaskan tahun yang lalu dengan segala syukuran, tentang apa yang telah dialami dan dinikmati, serta mendoakan kehidupan yang akan dilanjutkan dan dijalani di tahun baru. Pelepasan dengan syukuran akan tahun yang telah silam serta doa berkat dan anugerah bagi tahun yang baru dan sedang dijalani itu, ditujukan kepada Genggonalangi, yaitu Tuhan yang Maha Kuasa dan bertahta di sorga, di atas segala langit. Tulude’ atau Menulude’, adalah sebuah perlakuan adat, yang artinya adalah upacara yang sifatnya ritual yaitu menata sesuatu atau membuat sesuatu menjadi baik.


Semasa Hidupnya, Alm. Gideon Makamea pernah menuturkan bahwa,” Tulude’ atau Menulude’ ini adalah sebuah perlakuan adat, yang artinya adalah upacara yang sifatnya ritual, yaitu menata sesuatu atau membuat sesuatu itu agar supaya jadi baik. Sehingga didalam perlakuan upacara Tulude’ ini, disana ada dua hal yang perlu menjadi sasaran pembinaan secara tradisi. Yaitu yang pertama adalah pembinaan mental–spiritual atau kebatinan–kerohanian. Berikut yang kedua adalah pembinaan fisik–material atau jasmani dari pada pelaku–pelaku adat dan masyarakat adat itu sendiri. Perubahan ataupun pergeseran itu tetap ada, tetapi adat–budaya harus tetap dipertahankan dari sisi nilai tradisionalnya. Karena dari sisi nilai tradisionalnya ini, banyak yang diwariskan. Hal–hal yang positif, yang harus dimaknai oleh temurun kita pada saat sekarang ini.

Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu. Apapun bentuk pelaksanaannya, hakikat dari Tulude itu sendiri tetap menjadi dasar bagi pelaksanaannya setiap tahun. Menurut Gideon Makamea, salah seorang tokoh adat Sangihe,  Perubahan ataupun pergeseran tetap ada,  tetapi adat–budaya harus dipertahankan dari sisi nilai tradisionalnya.


Sementara itu, salah satu tokoh adat Sangihe, Niklas Mehare menambahkan bahwa,” Adat selalu mengalami penyesuaian, tetapi nilai–nilai luhur daripada adat itu sendiri tidak pernah luntur, selalu relevan didalam perlakuannya. Adat itu tidak statis, tetapi dinamis tanpa meninggalkan nilai–nilai luhurnya daripada acara itu sendiri. Ada beberapa hal yang penting di dalam upacara Tulude’. Yang pertama, sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas penyertaanNya kepada kita setahun yang lalu. Jadi manusia itu, yang ada di kepulauan Sangihe ini, tetap merasakan sejak dulu bahwa hidup ini tetap dituntun, dipelihara oleh Sang Pencipta, pemelihara kehidupan, dalam hal ini adalah Genggona Langi’. Yang kedua adalah pengakuan atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh manusia pada setahun yang lalu atau yang telah silam. Mengapa? Karena kehidupan manusia di tempat ini, kedekatannya sangat luar biasa dengan alam. Jadi ketika ada sesuatu yang terjadi, umpamanya bencana alam maka pemahaman mereka, siapa lagi kalau bukan manusia yang berbuat salah. Jadi ketika dilakukan itu upacara adat Tulude’, maka disadari, dipahami bahwa karena usia manusialah terjadi sesuatu, sehingga pada tempatnyalah ada pengakuan dihadapan Tuhan sekaligus mohon ampun atas perbuatan yang sudah keliru. Yang ketiga, doa. Disamping pengakuan, harapan ada doa. Dimohon kepada Genggona Langi’, kiranya Tuhan akan melimpahkan berkatNya, rahmatNya kepada kehidupan kepada manusia, sehingga pada tahun yang dijalani ini, awal sampai akhirnya kiranya berkat Tuhan selalu melimpah.”

Adapun beberapa perlakuan dalam upacara adat Tulude ini yang paling utama adalah Kakumbaedê, Mêhiwu SaÍa, Menahulênding, lalu masuk pada yang akhir adalah Memoto’ Tamo. Kakumbaede tadi adalah pemaknaan terhadap sebuah adat atau terhadap sebuah budaya. Yang istilah sekarang kalau Kakumbaedê diterjemahkan secara adat adalah Nazam kiasan. Namun dalam pemahaman, Kakumbaedê ini sepertinya hubungan kebatinan dengan kerohanian adalah adat yang bersafaat. Lalu dalam tahapan Kakumbaedê sepertinya itu, pertama adalah Lahagotang, yaitu ungkapan isi hati. Kedua adalah Lahakane, kepasrahan. Yang ketiga adalah LaÍa’e, yaitu keyakinan secara batin, keyakinan secara rohani. Bahwa segala sesuatu ini adalah berdasarkan kuasa atau penciptaan Allah. Sehingga dalam segala sesuatu semuanya dari Genggona Langi’ Ruata Saluruang. Yang keempat adalah Lansuhe yaitu Harapan. Jadi sesuatu yang diharapkan dari rahmat Genggona Langi’. Yang terakhir adalah Akane, yaitu kesungguhan. Dengan sungguh–sungguh memberlakukan upacara tulude’ itu, bahwa itu sangat religi dan mempunyai dampak apabila dilalaikan.

Upacara adat Tulude’ bukan hanya sekedar seremonial atau pelaksanaan maupun digelarnya tanpa makna. Sesungguhnya pada Tulude’ terkandung nilai budaya yang sangat tinggi dan filosofis yang dalam, juga nilai–nilai adat istiadat yang mengikat. Wujud persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan, rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur dalam nilai–nilai agama yang ada, sebagaimana diungkapakan Niklas Mêharê, salah satu Tokoh Adat Masyarakat Sangihe. “ Nilai–nilai adat istiadat yang mengikat, wujud persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan, rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur dalam nilai–nilai agama yang ada, itu nilai yang pertama. Yang kedua, menumbuhkan motivasi dan semangat gotong royong masyarakat, yang dapat dimanifestasikan dalam pelaksanaan tugas atau kerja dan tanggung jawab selama setahun ke depan.

Upacara adat Tulude’ suatu saat nanti, bukan tidak mungkin dapat hilang ditelan waktu apabila tidak dilanjutkan dan dilestarikan oleh generasi sekarang. Ini perlu diwariskan, karena dari sisi religinya ini memang mempunyai hubungan erat budaya dengan agama. Dalam sebuah anutan kepercayaan, sebab tulude ini bukan dimiliki saja oleh salah satu organisasi penganut sebuah agama, tetapi Tulude’ adalah budaya masyarakat tradisi Sangihe sehingga Tulude’, perlu dipertahankan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...