KBRN,
Tahuna : Kembang api, bahan peledak rendah yang dirancang untuk menciptakan
efek visual menakjubkan, telah lama menjadi bagian dari tradisi perayaan di
berbagai budaya. Berasal dari Tiongkok, kembang api awalnya digunakan untuk
mengusir roh jahat. Hingga kini, Tiongkok masih memanfaatkan kembang api untuk
merayakan Tahun Baru Imlek dan festival bulan.
Secara
teknis, kembang api adalah proyektil berbasis piroteknik yang meledak dengan
pola tertentu, menghasilkan suara ledakan serta warna-warni spektakuler di
udara. Warna tersebut berasal dari reaksi kimia antara garam logam dan bahan
peledak yang, ketika dipanaskan, memancarkan cahaya beraneka warna.
Namun,
di balik keindahannya, kembang api memiliki sisi gelap. Proses pembakaran
kembang api melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida, karbon
monoksida, dan nitrogen. Partikel logam yang menciptakan warna cerah sering
kali tidak sepenuhnya terbakar, sehingga berubah menjadi aerosol yang mencemari
udara, air, dan tanah. Ketika terhirup atau tertelan, partikel ini dapat memicu
berbagai gangguan kesehatan, seperti asma, mual, diare, kerusakan ginjal,
gangguan jantung, hingga kanker.
Selain
dampak kesehatan, kembang api juga meningkatkan risiko kecelakaan. Ledakan tak
terkendali dapat menyebabkan kebakaran atau cedera serius, termasuk kehilangan
anggota tubuh.
Penelitian
dari The Institute of Environmental Assessment and Water Research (IDAEA-CSIC)
menunjukkan bahwa asap kembang api dapat memperburuk kondisi penderita asma.
Dampaknya bergantung pada frekuensi, durasi, dan konsentrasi bahan kimia yang
dilepaskan ke udara.
Meski
kembang api menghadirkan hiburan spektakuler, penting untuk mempertimbangkan
dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan. Edukasi tentang penggunaan
yang aman dan ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk menjaga
keselamatan bersama. (Rico)
Link
Berita :
https://rri.co.id/tahuna/daerah/1223085/keindahan-kembang-api-hiburan-spektakuler-risiko-mengintai
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar