Sabtu, 29 November 2025

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

 


Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyarakat di Kampung Para Lele, Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Sangihe.  

Secara singkat, rangkaian kegiatan ini meliputi:

Tujuan: Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang melimpah, sekaligus permohonan keselamatan dan keberuntungan bagi para nelayan. Upacara ini juga menanamkan nilai-nilai persaudaraan dan kearifan lokal tentang menjaga kelestarian ekosistem laut.  

Waktu Pelaksanaan: Seke Maneke biasanya digelar satu kali dalam setahun pada waktu tertentu yang disepakati bersama oleh tokoh adat dan masyarakat setempat, seringkali bertepatan dengan puncak surut air laut atau akhir dari masa eha (masa larangan penangkapan ikan di wilayah adat tertentu). 

Alat dan Prosesi: Prosesi utamanya adalah kegiatan menggiring ikan dari tengah laut menuju tepian pantai menggunakan alat tradisional yang disebut "Seke", yaitu jaring yang terbuat dari bahan alami seperti akar kayu dan janur atau daun kelapa yang disimpul. Masyarakat secara bergotong royong terlibat dalam prosesi ini. 

Filosofi: Yang unik dari tradisi ini adalah ribuan ikan seolah terpikat dan secara alami mengikuti jaring ke arah pantai, menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Masyarakat percaya bahwa jika tradisi dan aturan adat ditaati, hasil tangkapan akan melimpah, namun jika tidak, hasil yang didapat bisa sedikit, menunjukkan makna spiritual yang kuat di baliknya.  

Seke Maneke, sebuah tradisi megah menggiring ikan dari laut ke darat dengan alat tradisional warisan nenek moyang. Tradisi ini melibatkan penangkapan ikan. Secara tradisional menggunakan alat yang disebut seke yang terbuat dari bambu, kayu nibu, rotan, budaya, kearifan lokal, gotong royong, dan pelestarian lingkungan skemaneke adalah simbol harmonisasi antara manusia dan laut.

Tradisi ini melibatkan kerja sama dan gotong royong seluruh masyarakat dalam mempersiapkan alat menangkap ikan dan membagikan hasil tangkapan. Dengan anyaman bambu, sorak komando, dan gerakan terkoordinasi, masyarakat setempat menggiring kawanan ikan menuju pantai.

Seke maneke dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah dan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan antar warga dan cinta pada alam laut. Tradisi ini juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bawah laut. Karena alat seke tergolong ramah lingkungan.

Seke Maneke adalah warisan budaya yang perlu dilestarikan sebagai identitas dan kearifan lokal masyarakat Sangihe. 

Pada intinya, Seke Maneke bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan sebuah perayaan budaya yang sarat makna spiritual, sosial (gotong royong), dan ekologis (konservasi alam). 


Kata Kunci : 

 

#prosesisekemaneke

#budayatangkapikan

#desawisata

#paralele

#sekemaneke

#rritahunavlog

#exploreparalele

#exploresangihe

#universitasterbuka

#mkpenulisankontenmediabaru

 

Link :


https://youtu.be/YI9jxbItr74?si=b279bVmMkLKvN2mg

VLOG EXPLORE PARA ISLAND - ECHOES OF 

SEKE MANEKE

 

https://youtu.be/QjkMfd7N9nY?si=_GYccTQKDhJOseNe 

RRI VLOG EXPLORE PARA ISLAND 

 





 

Sabtu, 08 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Hardnews

 

KARNAVAL BUDAYA RAMAIKAN PEMBUKAAN FSBS 2025

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   8 Nov 2025 -  07:30  Tahuna


II Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari membuka Festival Seni Budaya Sangihe (FSBS) tahun 2025, Jumat (07/11/2025) di Pendopo Rudis Bupati Sangihe / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe) 

KBRN, Tahuna;  Festival Budaya Sangihe (FBS) 2025 resmi digelar pada Jumat, 7 November 2025, dengan pembukaan yang berlangsung meriah di Boulevard Pelabuhan Tua, Tahuna. Event tahunan ini diawali dengan karnaval budaya yang mengambil start dari Lapangan Gelora Santiago, Rumah Jabatan Bupati.

Karnaval dilepas langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, SE., MM, yang juga turut berjalan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

FBS 2025 dijadwalkan berlangsung selama 7–15 November 2025, menghadirkan rangkaian kegiatan seni seperti pentas budaya, musik bambu, lomba masamper, hadrah, pameran seni–fotografi, hingga pesta rakyat.

 II Karnaval Budaya, start dari Lapangan Gelora Santiago, Rumah Jabatan Bupati,
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe)

Dalam sambutannya, Bupati Thungari menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

“Kegiatan hari ini bukan sekadar hiburan, tetapi upaya mempertahankan dan menghidupkan budaya daerah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya transformasi budaya ke ruang digital tanpa menghilangkan akar tradisinya.

 II Karnaval Budaya, menuju ke arah Boulevard Pelabuhan Tua, Pusat Kota Tahuna,
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe)

“Digitalisasi bukan untuk meninggalkan budaya, tetapi menjadi jembatan agar budaya kita dikenal lebih luas. Tarian, musik, hingga ritual adat kini bisa dinikmati dunia melalui platform digital,” tambahnya. 

Menurut bupati, FBS 2025 menjadi momentum membangkitkan kesadaran generasi muda agar bangga dan aktif melestarikan identitas budaya Sangihe.

Dengan perpaduan seni tradisional, teknologi, dan partisipasi masyarakat, festival ini tidak hanya menampilkan keindahan budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas warga kepulauan di ujung utara Indonesia.(MS)

 

Kata Kunci:

Karnaval Budaya Sangihe, FBS 2025, Tahuna, Pelestarian Budaya 

Jumat, 07 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Edukasi

 

GENERASI MUDA SANGIHE JADI GARDA TERDEPAN

PELESTARIAN BUDAYA

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   7 Nov 2025 -  12:00  Tahuna

Upaya pelestarian budaya Sangihe kini digerakkan sejak usia dini melalui dunia pendidikan. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap identitas budaya daerah.

II Sekretaris Panitia Festival Seni Budaya Sangihe 2025, Julien Manangkalangi, S.
(Narasumber Di program TahunaPagi Ini, Pro1),
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe) 

KBRN, Tahuna; Festival Seni Budaya Sangihe (FBS) 2025 tak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan kuat tentang regenerasi budaya. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Panitia FBS 2025, Julien Manangkalangi, S.Pd, dalam wawancara bersama RRI baru-baru ini.

Menurutnya, kekayaan budaya Sangihe seperti tari Masamper, Ampat Wayer, dan Hadrah Manggut, kini mulai diperkenalkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD, hingga SMP sebagai bagian dari penguatan identitas lokal.

“Sekarang di sekolah-sekolah, siswa sudah mulai memilih ekstrakurikuler seperti Masamper atau tari Gunde. Ini langkah awal memperkenalkan budaya kepada generasi penerus,” ujar Julien.

Langkah ini dinilai strategis karena budaya bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab bersama yang harus dirawat oleh generasi berikutnya.

Menurutnya, karakteristik Kabupaten Kepulauan Sangihe yang kaya akan adat istiadat memiliki potensi besar untuk terus dijaga, dikembangkan, dan dihidupkan kembali dalam keseharian masyarakat.

“Merekalah penerusnya. Di tangan generasi mudalah nilai budaya ini bisa terus hidup di masa depan,” tambahnya.

Dengan masuknya budaya lokal ke dalam sistem pendidikan formal dan kegiatan sekolah, pemerintah dan komunitas budaya berharap kecintaan terhadap tradisi dapat tumbuh secara organik, tidak hanya sebagai tontonan festival, namun juga sebagai jati diri yang membumi dalam keseharian anak muda Sangihe. (MS)

Kata Kunci : Pelestarian budaya Sangihe, Mulai dari bangku sekolah



Kamis, 06 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Softnews

 

TAS RAJUT HANDMADE, DARI HOBBY 

JADI PELUANG USAHA

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   6 Nov 2025 -  08:30  Tahuna

Berawal dari hobby merajut untuk dipakai sendiri, Inggrit Mocodompis kini sukses mengubah benang dan jarum menjadi peluang usaha. Karyanya bahkan mulai menarik perhatian pembeli mancanegara.

 

II Inggrit Mocodompis menunjukkan koleksi tas rajut handmade karyanya yang kini diminati hingga wisatawan mancanegara di Tahuna, Sangihe (Foto: Dokumentasi pribadi)

KBRN, Tahuna; Siapa sangka, kebiasaan merajut yang awalnya hanya dilakukan untuk keperluan pribadi, kini berubah menjadi bisnis kreatif yang menjanjikan. Inggrit Mocodompis, perajin muda asal Kampung Laine, mulai menjual tas rajut handmade sejak Juli 2025, setelah satu tahun melewati proses trial and error. 

Ia mengaku, perjalanan awal belajar merajut bukan hal mudah. Berawal dari ilmu yang diwariskan oleh sang tante, yang sebelumnya diajarkan oleh almarhumah nenek, Inggrit mulai menekuni seni merajut secara serius. 

“Pegang jarum rajut itu beda dengan jarum jahit. Ada teknik khusus yang harus dikuasai,” ungkap Inggrit saat diwawancarai. 

Bahan benang diperolehnya melalui toko online, sebagian dipesan dari Manado dan dikirim melalui kapal laut, kemudian ia jemput langsung di Pelabuhan Tahuna. 

Strategi pemasaran yang ia gunakan pun memadukan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut. Dari awalnya hanya diminati warga Kampung Laine, kini produknya semakin dikenal hingga ke kecamatan, masuk ke pasar Tahuna, bahkan mulai menarik minat pengunjung luar negeri. 

“Hari ini ada orderan dari pengunjung asal Prancis yang sedang berada di Tahuna,” katanya bangga. 

Selain mengejar penjualan, Inggrit juga menyampaikan pesan inspiratif bagi siapapun yang ingin mulai berkarya.

“Jangan takut mulai dari nol. Rajutan awal mungkin belum sempurna, tapi itu langkah pertama menuju karya yang indah,” tutupnya.

Kisah Inggrit membuktikan bahwa kreativitas lokal, jika digarap dengan konsisten, mampu menembus batas geografis dan berkembang menjadi peluang ekonomi yang berdaya saing.(MS)

Kata Kunci:

Tas Rajut, Tas Rajut Handmade, Merajut,UMKM


TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru

 

UMKM LUAR DAERAH RAMAIKAN FSBS 2025

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   6 Nov 2025 -  07:30  Tahuna


II    Sejumlah Perlengkapan UMKM Dari Luar daerah tiba di Pelabuhan Nusantara Tahuna,
Kamis (6.11.2005) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe).

KBRN, Tahuna: KBRN, Tahuna; Suasana menjelang Festival Budaya Sangihe (FBS) 2025 kian semarak. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari luar daerah tiba di Pelabuhan Nusantara Tahuna, pada Kamis pagi (6/11/2025), menggunakan kapal laut dari Manado.

Salah satu pelaku UMKM, Risma, mengaku kehadirannya di Tahuna didorong oleh informasi yang mereka dapat dari panitia penyelenggara FBS 2025.

“Kami datang setelah melihat informasi dari panitia festival. Kami ingin ikut berpartisipasi menyukseskan acara ini lewat produk yang kami bawa,” ujarnya saat diwawancarai di pelabuhan.

Dari pantauan di lokasi, barang yang dibawa para pelaku UMKM cukup beragam, mulai dari makanan ringan, minuman kemasan, hingga permainan anak-anak.

Mereka menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar berjualan, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap kemeriahan festival budaya terbesar di Kepulauan Sangihe.

FBS 2025 sendiri dijadwalkan resmi dibuka pada Jumat, 7 November 2025, dengan lokasi kegiatan dipusatkan di sepanjang Boulevard Tanah Abang, Tahuna.

Kehadiran UMKM luar daerah ini diharapkan tidak hanya memeriahkan festival, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal dan memperluas jejaring pelaku usaha antarwilayah di Sulawesi Utara. (MS)

Kata Kunci:

Ramaikan Festival Seni budaya Sangihe

UMKM luar daerah


Senin, 20 Oktober 2025

TUGAS.1 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru

 

Gotong Royong Pulihkan Boulevard Tidore dari Sampah Laut

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   20 Oct 2025 -  07:59  Tahuna



II Anggota TNI dan warga Kelurahan Tidore bergotong royong membersihkan tumpukan sampah yang terbawa ombak di Boulevard Tidore, Tahuna (20/10/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe).

KBRN,Tahuna: Cuaca buruk yang melanda wilayah Tahuna beberapa hari terakhir membuat ombak besar membawa tumpukan sampah laut ke kawasan Boulevard Tidore. Hari ini, Senin (20/10/2025), Pemerintah Kelurahan Tidore bersama aparat TNI dan warga sekitar turun langsung membersihkan area tersebut. Dipimpin oleh Lurah Rofia Muthalib, kegiatan kerja bakti ini menjadi wujud nyata kepedulian bersama terhadap lingkungan pesisir. Dengan semangat gotong royong, warga dan aparat memungut sampah plastik, kayu, dan bambu yang berserakan, mengembalikan keindahan boulevard yang sempat tertutup kotoran laut. Aksi sederhana ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga cerminan kebersamaan masyarakat Tidore menjaga ruang hidupnya. (MS)

Kata Kunci: 

 #BeritaHariIni #GotongRoyong #SampahLaut #BoulevardTidore #WargadanaparatTNI 


Rabu, 23 April 2025

Tradisi Halal Bi Halal: Merajut Kembali Silaturahmi setelah Ramadhan

 

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai

Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Muslim di Indonesia menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh suka cita. Salah satu tradisi yang melekat erat dengan perayaan tersebut adalah Halal Bi Halal. Meskipun tidak diatur secara khusus dalam syariat Islam, tradisi ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Halal Bi Halal adalah momentum untuk saling memaafkan, merajut kembali hubungan yang sempat terputus, dan mempererat tali persaudaraan.

Secara harfiah, "halal bi halal" berarti saling menghalalkan atau memberi maaf. Biasanya, tradisi ini dilakukan dengan saling mengunjungi kerabat, teman, atau rekan kerja, dan menyampaikan permohonan maaf atas segala salah dan khilaf. Dalam prosesnya, Halal Bi Halal menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan sosial yang sempat renggang, baik itu karena kesalahpahaman maupun jarak waktu yang terlalu lama.

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai

Selain sebagai momen refleksi dan rekonsiliasi, Halal Bi Halal juga sering kali dimanfaatkan sebagai ajang untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan. Orang-orang dari berbagai kalangan dan usia saling bertemu dalam suasana yang penuh sukacita dan kebahagiaan. Di tengah suasana lebaran yang hangat, tradisi ini mengingatkan kembali akan pentingnya kebersamaan, saling menghargai, dan membangun hubungan yang lebih harmonis antar sesama.

Dalam konteks sosial, Halal Bi Halal juga menjadi media penting dalam memperkuat ikatan kekeluargaan, baik dalam lingkup keluarga besar maupun antar tetangga. Banyak yang mengatakan bahwa tradisi ini memiliki dampak yang sangat besar dalam menjaga kerukunan antar umat manusia. Terlebih lagi, di era digital ini, Halal Bi Halal memberi kesempatan untuk bertemu secara langsung dan mempererat hubungan yang selama ini hanya terjalin melalui dunia maya. (Anzefka)

Refleksi Galungan, Menguatkan Ikatan Kehidupan

 


Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai (ilustrator : Ananta)

Hari Raya Galungan merupakan perayaan besar umat Hindu yang menandai kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kejahatan). Dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Saka Bali, Galungan membawa pesan mendalam tentang keseimbangan spiritual, kemenangan batin, serta keharmonisan dengan alam dan sesama. Di tahun 2025, Galungan pertama jatuh pada Rabu, 23 April, dan akan diikuti dengan Umanis Galungan pada 24 April, sebagai momen penuh kehangatan untuk berkumpul bersama keluarga.

Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Kuningan pada Sabtu, 3 Mei 2025. Kuningan menjadi puncak penutupan rangkaian ini, dengan Penampahan Kuningan dilakukan sehari sebelumnya. Perayaan ini diyakini sebagai waktu kembalinya roh leluhur ke alamnya, setelah berkunjung ke dunia. Karena itu, persembahan dan doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan serta ungkapan syukur.

Galungan dan Kuningan tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga ruang untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Umat Hindu diajak untuk memperdalam refleksi diri, mengendalikan ego, serta menjaga harmoni dengan keluarga dan lingkungan. Penjor yang berdiri tegak di depan rumah, menjadi simbol syukur atas ciptaan Tuhan dan kemenangan batin manusia atas hawa nafsu duniawi.

Rangkaian Galungan kedua di tahun ini akan berlangsung pada 19 November 2025, disusul Umanis Galungan pada 20 November, dan Hari Raya Kuningan pada 29 November. Di setiap perayaan, tersimpan harapan untuk kehidupan yang lebih damai, bersih dari kebencian, dan penuh kasih. Sebab Galungan bukan hanya seremoni, melainkan panggilan untuk hidup dalam kebaikan. (Anzefka)

Galungan: Menyulam Tradisi, Menjaga Identitas

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai (ilustrator : Rico / RRI Tahuna)

—Menyusuri Jejak Dharma dalam Kehidupan Bali yang Tak Pernah Henti Berdialog dengan Roh Leluhur

Di pagi yang lembut, langit Bali berwarna biru susu dengan awan tipis menggantung malu. Angin membawa wangi dupa dan bunga kamboja dari setiap halaman rumah. Di jalan-jalan kecil desa, penjor—bambu melengkung yang dihias janur, buah, dan kue tradisional—berderet seperti pelangi yang membumi. Hari itu adalah Galungan, saat yang dipercaya sebagai momentum kemenangan dharma atas adharma. Namun Galungan bukan hanya urusan keyakinan, ia adalah napas kehidupan masyarakat Bali yang menyatu dengan alam, budaya, dan ritus yang diwariskan selama berabad-abad.

Sebagai perayaan spiritual, Galungan bukanlah pertunjukan keagamaan semata. Ia adalah pengingat yang hidup: bahwa dalam keseharian yang keras dan kadang melupakan makna, manusia perlu ruang untuk kembali—pulang ke hati yang jernih. Dalam narasi antropologisnya, Galungan merepresentasikan dualitas yang tak bisa dihindari dalam hidup: terang dan gelap, dharma dan adharma, keteraturan dan kekacauan. Dan dari sanalah muncul kekuatan besar: keinginan kolektif untuk menjaga keharmonisan hidup, bukan hanya dengan Tuhan, tapi juga dengan leluhur dan sesama makhluk.

Tak banyak yang tahu, bahwa di balik perayaan ini, ada kerinduan mendalam masyarakat Bali untuk menjaga hubungan dengan para pitra roh leluhur. Bagi mereka, Galungan adalah waktu ketika dunia niskala menyentuh dunia sekala, dan manusia menjadi perantara yang menjaga keterhubungan itu. Di balik senyum para ibu yang menata canang sari, di balik tangan anak-anak yang membakar dupa dengan hati-hati, ada pesan tak terucap: bahwa hidup adalah siklus pengabdian yang dimulai dari keluarga, dipelihara oleh tradisi, dan ditopang oleh nilai-nilai warisan yang tak tergantikan.

Galungan di Persimpangan Zaman

Pulau Bali, yang dulu tersembunyi dalam peta pariwisata dunia, kini menjelma jadi etalase global. Hotel megah, kafe berkonsep Instagramable, hingga vila-vila dengan pemandangan sawah yang diburu wisatawan, telah mengubah wajah banyak desa. Namun, di balik citra eksotik yang dikemas untuk pasar internasional, denyut tradisi tetap bertahan dengan satu syarat : harus diperjuangkan. Dan Galungan adalah medan perjuangan itu.

Di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, misalnya, perayaan Galungan dilakukan dengan sangat hati-hati, menjaga setiap detail agar tetap sesuai dengan aturan awig-awig (hukum adat). Para tetua desa berperan sebagai penjaga nilai, sekaligus fasilitator dialog antara generasi tua dan muda. Tak sedikit anak muda yang kini mulai merekam prosesi Galungan dalam format vlog atau dokumenter pendek, bukan untuk mencari ketenaran, melainkan sebagai arsip budaya. "Kami tahu dunia berubah, tapi kami ingin perubahan itu tetap memuat suara kami," ujar Ni Komang Indrawati, seorang pegiat dokumentasi budaya di Karangasem.

Kini, Galungan tak lagi hanya dimaknai sebagai momen religi. Ia menjadi simbol keberanian menjaga identitas di tengah arus keseragaman. Ia hadir sebagai bentuk perlawanan paling sunyi terhadap pelupaan. Masyarakat Bali telah menunjukkan kepada dunia, bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan akar. Bahwa tradisi bukan beban, tapi penuntun. Dan bahwa dalam setiap dupa yang dibakar, ada doa panjang yang tak terlihat: semoga manusia tak pernah lupa siapa dirinya, dan kepada siapa ia mesti pulang.

Penjor,  Lengkung Doa yang Mengakar ke Tanah

Penjor bukan sekadar hiasan jalanan kala Galungan tiba. Ia adalah representasi dari Gunung Agung, gunung suci tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur. Bentuknya yang melengkung adalah lambang kesuburan dan kerendahan hati, sementara hiasannya seperti padi, kelapa, pisang, dan janur yang melambangkan syukur atas anugerah alam. Dalam masyarakat agraris Bali, penjor menjadi media spiritual sekaligus pengingat bahwa keseimbangan dengan alam adalah kunci kehidupan yang berkelanjutan.

Banten, Persembahan Cinta  Antara Dunia Manusia dan Para Leluhur

Banten atau sesajen adalah jembatan antara dunia manusia dan para leluhur. Setiap unsur di dalamnya—bunga, makanan, daun, dupa, dipilih dan disusun dengan teliti. Tapi lebih dari sekadar materi, yang dihaturkan dalam banten adalah niat, ketulusan, dan kesadaran. Di balik tumpukan bunga dan kue tradisional, ada filosofi mendalam: bahwa hidup adalah tentang memberi, bukan menuntut. Dan bahwa yang spiritual bukan hanya sembahyang, tapi juga cara seseorang memperlakukan dunia sekitarnya.

Galungan dan Ekonomi Komunal Bali

Di balik kesakralannya, Galungan juga menjadi denyut ekonomi lokal. Pasar-pasar tradisional menggeliat sejak minggu tenang (hari-hari persiapan sebelum Galungan). Petani janur, perajin penjor, pedagang kue khas, hingga pembuat banten rumahan mendadak mengalami lonjakan permintaan. Ekonomi rakyat bergerak dalam irama budaya. Galungan bukan saja mendekatkan manusia kepada Tuhan dan leluhur, tapi juga menghidupkan solidaritas antarwarga dalam bentuk gotong royong ekonomi. (Anzefka)

Selasa, 22 April 2025

Kartini Modern Bicara Solusi, Bukan Hanya Inspirasi

 

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai (ilustrator : Rico / RRI Tahuna)

KBRN, Tahuna; Di tengah kompleksitas zaman yang kian menantang, perempuan Indonesia masa kini tidak lagi sekadar menjadi simbol inspirasi. Mereka bergerak nyata sebagai penyelesai masalah, pengambil keputusan, dan pemimpin perubahan. Semangat Kartini tak lagi terpatri dalam kutipan manis semata, tapi hidup dalam tindakan nyata: mengelola krisis iklim, mendobrak bias gender di tempat kerja, hingga merancang teknologi inklusif yang menjawab kebutuhan banyak orang.

Kartini hari ini bisa saja hadir dalam sosok ilmuwan perempuan di laboratorium, ibu rumah tangga yang membangun komunitas pemberdayaan, atau pengusaha muda yang menciptakan lapangan kerja di daerah tertinggal. Mereka tidak hanya bersuara, tapi bertindak dengan data, strategi, dan keberanian untuk melampaui batas. Dalam dunia yang masih menyimpan ketimpangan, perempuan tak lagi menunggu ruang diberikan, mereka menciptakan ruang itu sendiri.

Memperingati Hari Kartini seharusnya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan merumuskan masa depan. Karena perempuan tak hanya ingin didengar, tapi dipercaya. Dan kepercayaan itu tumbuh dari konsistensi dalam memberikan solusi, bukan sekadar narasi inspirasi. Kartini zaman ini hadir bukan dalam kerangka nostalgia, tapi dalam wujud perempuan masa kini yang tak pernah lelah mengubah keadaan. (Rico)

 Link : https://rri.co.id/tahuna/daerah/1464758/kartini-modern-bicara-solusi-bukan-hanya-inspirasi


Kartini Tak Hanya Dikenang, Tapi Diteladani

 

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai

KBRN, Tahuna; Setiap 21 April, bangsa ini kembali menoleh pada semangat yang pernah membara dalam diri seorang perempuan muda dari Jepara. Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol, melainkan suara yang menggugat sunyi, memperjuangkan hak perempuan untuk berpikir bebas, mengenyam pendidikan, dan memilih jalan hidupnya sendiri. Di balik parade kebaya dan unggahan media sosial, Hari Kartini adalah panggilan untuk kembali menyalakan obor perjuangan. Bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai keberlanjutan.

Menurut Emeliza Kondangduata, Kartini adalah sosok yang berani melawan penjajahan kemerdekaan kaumnya. “Ia perempuan yang ingin maju dan berkarya, tapi dihalangi tata krama dan norma zamannya. Namun ia tidak tunduk, justru menciptakan terobosan dalam pendidikan dan keterampilan, yang memberdayakan sesamanya,” tuturnya. Kartini, katanya, tidak sekadar melawan batas, tapi menciptakan ruang baru yang terus tumbuh menjadi sejarah bagi perempuan masa kini.

Jefry Hinonaung, memandang perjuangan Kartini yang mewakili sudut pandang kaum pria. Baginya, Kartini adalah lambang keberanian dan daya ubah. “Kartini dulu memperjuangkan hak. Kartini sekarang bisa menjadi pahlawan bagi generasinya sendiri, membawa bangsa ini melangkah ke arah kemajuan,” ujarnya. Senada dengannya, Nolfi Yandri Pontoh menyebut perempuan hari ini sebagai gema dari api perjuangan Kartini yang tidak pernah padam.

Sementara itu, Mariane Barik menegaskan bahwa perjuangan belum usai. “Kami, perempuan masa kini, sedang menikmati hasil perjuangan Kartini, sekaligus melanjutkannya. Kini kami bebas berkarya di segala bidang, tapi tantangan juga semakin kompleks,” ungkapnya. 

Penetapan 21 April sebagai Hari Kartini lewat Keppres No. 108 Tahun 1964 adalah pengakuan atas pengaruh luar biasa seorang perempuan muda terhadap arah sejarah bangsa. Kartini tidak hanya hidup dalam kenangan—tapi dalam langkah perempuan yang terus memilih untuk berani. (Rico)

 Link : https://rri.co.id/tahuna/daerah/1464780/kartini-tak-hanya-dikenang-tapi-diteladani



Hari Bumi Internasional : Bangkitkan Kesadaran Menjaga Alam

 


Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai

KBRN, Tahuna; Setiap tanggal 22 April, dunia merayakan Hari Bumi sebagai momen untuk merenung dan bertindak demi keberlangsungan planet yang menjadi rumah bagi seluruh kehidupan. Gagasan ini pertama kali digagas oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970, sebagai bentuk protes terhadap kerusakan lingkungan yang kian memburuk. Sejak itu, Hari Bumi menjadi simbol perjuangan kolektif demi menyelamatkan bumi dari dampak krisis iklim, polusi, dan eksploitasi yang berlebihan. Meski ada perbedaan tanggal peringatan, beberapa memilih Ekuinoks Maret sebagai penanda Hari Bumi versi PBB. Esensinya tetap satu: membangkitkan kesadaran untuk menjaga alam.

Sayangnya, di Indonesia, gaung Hari Bumi belum sekuat Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Padahal, keduanya memiliki semangat yang sama dalam menggerakkan kepedulian terhadap lingkungan. Perbedaan utama hanya terletak pada sejarahnya. Hari Bumi lahir dari inisiatif akar rumput dan aktivis, sedangkan Hari Lingkungan Hidup dicanangkan melalui konferensi resmi PBB. Meskipun begitu, keduanya memanggil kita untuk merefleksikan gaya hidup kita dan dampaknya terhadap alam sekitar.

Merayakan Hari Bumi seharusnya tak hanya berhenti pada seremoni atau kampanye sesaat. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga bumi, sekecil apa pun itu. Menanam pohon, mengurangi plastik, memilih transportasi ramah lingkungan, atau sekadar menghemat listrik adalah langkah-langkah kecil yang jika dilakukan bersama-sama, bisa menciptakan perubahan besar. Mari jadikan Hari Bumi bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi sebagai panggilan hati untuk hidup lebih selaras dengan alam, hari ini, esok, dan seterusnya. (Rico)

 Link : 

https://rri.co.id/tahuna/daerah/1464801/hari-bumi-internasional-bangkitkan-kesadaran-menjaga-alam

 


Senin, 21 April 2025

Kartini Modern : Berani beda dan Berdampak

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai (ilustrator : Rico / RRI Tahuna)

Di tengah derasnya arus zaman, lahirlah Kartini-Kartini baru yang tak lagi hanya bicara tentang kesetaraan, tapi juga keberanian untuk berbeda. Mereka hadir di berbagai lini kehidupan—menggagas perubahan di akar rumput, memimpin di ruang-ruang digital, hingga menyalakan harapan lewat karya seni, teknologi, dan pendidikan. Tak selalu bersuara lantang, namun langkah mereka menggema hingga ke sudut-sudut yang selama ini sunyi.

Perempuan masa kini tak lagi dibatasi oleh definisi lama. Mereka menolak dibingkai oleh ekspektasi, dan justru menuliskan narasinya sendiri. Ada yang memilih menjadi petani organik di tengah kota, ada pula yang mendobrak tabu sebagai pemimpin komunitas inklusi gender di desa terpencil. Mereka tak menunggu ruang diberikan, tapi menciptakan ruang itu sendiri—dan mengisinya dengan keberanian yang berakar pada kasih dan kepedulian.

Menjadi Kartini modern bukan soal gelar atau sorotan, melainkan keberanian untuk berdampak nyata. Dalam hal kecil maupun besar, para perempuan ini menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama. Di era yang kadang sunyi oleh empati, suara dan aksi mereka menjadi nyala yang menghangatkan, menerangi, dan menginspirasi. (Anzefka)



Sabtu, 19 April 2025

Bagaimana Nubuat Yesaya 53 Akan Diinterpretasikan, Jika Yesus Tidak Mati Di Salibkann?

 

ilustrasi : Nubuatan Nabi Yesaya 53 (ilustrator : Anzefka)

Yesaya 53, yang juga dikenal sebagai Nubuat Hamba yang Menderita, telah secara tradisional diinterpretasikan oleh umat Kristen sebagai ramalan tentang kematian dan kebangkitan Yesus.

Efek : Perubahan dalam Sejarah Dunia

Ketika merenungkan perubahan signifikan dalam sejarah dunia, mustahil untuk tidak mempertanyakan pertanyaan abadi: bagaimana jika Yesus tidak mati di salib? Ini adalah pertanyaan yang menggugah semangat para ilmuwan, pemikir spiritual, dan sejarawan. Dengan melakukannya, kita menemukan diri kita sedang memeriksa sebuah jalur sejarah manusia yang hipotetis – dunia paralel yang berkembang dengan hasil-hasil yang belum terpetakan. Secara khusus, penyebaran awal Kekristenan mungkin akan mengambil arah yang berbeda. Bisikan bisu tentang kebangkitan tidak akan terdengar dalam pertemuan rahasia di bawah selubung kegelapan. Sebaliknya, kita mungkin membayangkan sebuah Alfa dan Omega, kehadiran fisik Yesus yang abadi, sebagai fakta yang tak terbantahkan dan diakui secara publik.

Namun, tanpa landasan pengorbanan dan kematian Yesus, apakah pesan inti-Nya tentang cinta dan pengampunan masih akan bergema dengan kerumunan yang begitu besar? Apakah itu masih akan menyalakan api revolusi Kristen awal? Pertanyaan yang belum terjawab menyapu kanvas dunia teoretis ini. Sebuah pandangan percaya, bagaimanapun, menyarankan bahwa pertemuan lebih awal dari iman Kristen dengan peradaban maju lainnya pada masa itu, seperti Dinasti Han di Tiongkok, bisa lebih mungkin terjadi. Kita harus bertanya-tanya apakah interaksi ini akan mendorong pencampuran ide-ide filosofis, yang kemudian mengarah pada revolusi spiritual dan budaya?

Susunan peristiwa dalam sejarah kita sangat bergantung pada peristiwa penyaliban. Momen tunggal dalam waktu ini bergema melalui berabad-abad seni, sastra, dan budaya, membentuknya menjadi pandangan dunia kita yang ada saat ini. Tanpa kematian dan kebangkitan Yesus, narasinya bergeser, yang berpotensi mengubah jalannya perang dunia dan kekuatan dominan pada masa itu. Lebih jauh lagi, mari kita merenungkan pentingnya Kristus Yesus sebagai simbol Batu Penjuru. Penafsiran nubuat-nubuat seperti Yesaya 53 akan terguncang karena absennya narasi pengorbanan. Peran Yesus sebagai Juruselamat akan mengambil bentuk lain – yang tidak bergantung pada kebangkitan-Nya sebagai pemberita keselamatan. Tak perlu dikatakan, efek riak yang dibawa oleh perubahan peristiwa penyaliban akan sangat luas, mengirimkan serangkaian perubahan dalam teologi, sejarah, dan budaya yang hanya bisa kita spekulasikan hari ini. Memang, merenungkan kemungkinan bahwa Yesus tidak mati adalah eksplorasi abadi ke dalam batas-batas tak terbatas dari "bagaimana jika".

Ringkasan: Penyebaran Kekristenan mungkin akan berbeda, berpotensi berinteraksi dengan peradaban seperti Dinasti Han lebih awal. Narasi Sejarah Dunia, termasuk peristiwa besar seperti perang dunia, berpotensi berubah. Tanpa kematian dan kebangkitan Yesus, pesan dan citra-Nya dalam bentuk Batu Penjuru dan Juruselamat akan berubah. Penafsiran nubuat-nubuat Alkitab seperti Yesaya 53 akan berubah secara dramatis. Seni, budaya, dan sastra selama berabad-abad akan membawa tema dan narasi yang berbeda.

Fakta & Statistik:

  • Penyaliban Yesus adalah doktrin sentral dalam Kekristenan, diyakini oleh 70% umat Kristen.
  • Narasi Penderitaan, yang mencakup penyaliban, adalah bagian yang paling sering digambarkan dalam seni Kristen di Alkitab.
  • Sekitar 22% umat Kristen mengidentifikasi diri sebagai Katolik, sebuah denominasi yang sangat menekankan pada penyaliban.
  • Sekitar 30% umat Kristen percaya pada interpretasi metaforis dari Alkitab, yang mungkin mengakomodasi narasi alternatif tentang takdir Yesus.

Referensi:

  • Yohanes 2:2
  • Yohanes 3:16
(MS)

Apakah Peran Yudas Iskariot Akan Berbeda Jika Yesus Tidak Disalibkan?

 

ilustrasi : Ciuman penghianatan Yudas yang telah menjual Yesus dengan 30 keping perak 
(ilustratot : Anzefka)

Saat kita menggali lebih dalam dalam spekulasi ini, mari kita periksa makna peran Yudas Iskariot jika Yesus tidak disalibkan. Sejujurnya, peran Yudas dalam narasi kehidupan dan kematian Kristus akan mengambil bentuk yang sangat berbeda. Yudas, yang selamanya dikenal karena pengkhianatannya, mungkin tidak akan membawa keterangan yang sama jika Yesus tidak disalibkan. Ia akan tetap menjadi murid lain, saksi dari mujizat-mujizat, dan peserta dalam banyak perumpamaan Yesus. Simbiosis dari tiga puluh keping perak untuk harga pengkhianatan yang dipegang olehnya, akan kehilangan makna pahitnya.


ilustrasi : 30 keping perak, upah Yudas mengkhianati Yesus (ilustrator : Anzefka)

Pertimbangan penting di sini adalah ketiadaan yang saya sebut sebagai ‘cermin Yudas’. Cermin yang tidak menyenangkan ini adalah tempat di mana umat manusia sering melihat momen terlemahnya—dalam pengkhianatan yang dilakukan demi perak yang menggoda. Tanpa Yudas melaksanakan tindakan terkenal ini, mungkin sebuah perumpamaan penting tentang ketidaksempurnaan manusia dan potensi untuk mencari penebusan akan hilang.

Kita juga harus mempertimbangkan secara singkat aspek teknis menurut Hukum Yahudi. Tanpa pengkhianatan yang mengarah pada pengadilan Sanhedrin, tidak akan ada alasan untuk melibatkan Pontius Pilatus dalam narasi alternatif ini. Oleh karena itu, Yudas menjadi katalis gelap yang memicu serangkaian peristiwa yang mengarah pada penyaliban Yesus.


ilustrasi :  Yudas Iskariot menyesal telah mengkhianati Yesus (ilustrator : Anzefka)

Ketiadaan pengkhianatan Yudas dan dengan demikian penyaliban, akan secara dramatis mengubah busur narasi kehidupan Yesus. Sebagai murid dan pelajar Kristus, Yudas mungkin akan dikenang dengan cara yang berbeda—bukan dihiasi dengan pengkhianatan, melainkan diperkaya dengan ajaran-ajaran, jauh berbeda dari sosok terkenal yang dikenal hari ini.

Apa Makna Perjamuan Terakhir Jika Yesus Tidak Mati di Salib?

ilustrasi : perjamuan terakhir

Perjamuan Terakhir memiliki kedalaman makna yang mendalam. Seperti yang ada sekarang, peristiwa ini melambangkan pengorbanan yang akan dilakukan Yesus Kristus di salib untuk dosa umat manusia. Tapi bagaimana jika pengorbanan itu di salib tidak pernah terjadi? Mari kita menyelami spekulasi ini, menjelajahi bayangan sejarah hipotetis.

Bahkan jika tidak ada penyaliban, Perjamuan Terakhir tetap akan memiliki makna yang mendalam, karena itu mewakili persekutuan terakhir Yesus dengan para murid-Nya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa ini sebagian besar dipengaruhi oleh jalan yang harus dilalui Yesus. Roti dan anggur, yang saat ini dipandang sebagai simbol tubuh dan darah-Nya yang dikorbankan, mungkin akan ditafsirkan secara berbeda jika Ia tidak mati di salib. Tanpa penyaliban, roti mungkin hanya dilihat sebagai simbol makanan dan persekutuan, makan bersama di antara orang percaya, yang menandakan kesatuan dan persekutuan mereka, berakar dalam iman bersama mereka kepada Yesus Kristus. Tidak jauh berbeda dengan saat ini, tapi mungkin dengan simbolisme yang lebih ringan.

Sementara itu, anggur mungkin tidak akan melambangkan darah Yesus yang tercurah untuk penebusan umat manusia, tetapi bisa tetap menjadi simbol perjanjian baru. Kita harus ingat bahwa Yesus berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku, yang dicurahkan untuk kamu" (Lukas 22:20). Meskipun tanpa penyaliban-Nya, ajaran dan kehidupan Yesus telah menandai perubahan dalam pemikiran agama dan mendirikan perjanjian baru antara Tuhan dan umat manusia. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa metafora anggur mungkin tidak berubah secara drastis. Namun, dampak yang mencolok adalah bagaimana orang Kristen memperingati peristiwa ini. Tradisi Ekaristi atau Perjamuan Tuhan, yang mengingat pengorbanan Yesus, mungkin tidak ada karena tidak ada kematian yang bisa diingat. Sebagai gantinya, itu bisa menjadi acara yang sederhana dan berulang, menandakan kesatuan jemaat dan komitmen mereka terhadap ajaran Yesus.

Jika Yesus tidak mati di salib, Perjamuan Terakhir tetap akan memiliki makna sebagai persekutuan terakhir dengan para murid-Nya, namun akan memiliki arti simbolis yang berbeda. Roti, meskipun tetap simbol makanan dan persekutuan, akan memiliki simbolisme yang lebih ringan karena tidak terkait dengan tubuh Yesus yang dikorbankan di salib. Anggur mungkin tetap mewakili perjanjian baru yang Yesus bawa karena kehidupan dan ajaran-Nya mengubah pemikiran agama, meskipun tanpa penyaliban-Nya. Tradisi Kristen mengenai Ekaristi mungkin tidak ada karena tidak ada pengorbanan yang bisa diingat. Mungkin itu akan menjadi ritual yang sering dilakukan untuk menandakan kesatuan orang percaya dan dedikasi mereka terhadap ajaran Yesus. (MS)

Apakah Ajaran Yesus Akan Dipersepsikan Secara Berbeda Jika Ia Tidak Disalib?

 

ilustrasi Jam Kehidupan (ilustrator : Anzefka)

Memang, penyaliban Yesus berfungsi sebagai poros utama dalam memahami dan menafsirkan ajaran-Nya dalam kerangka Kristen. Jika kita menganggap penyaliban tidak ada, ajaran-ajaran Kristus kemungkinan besar akan mendapat warna interpretasi yang berbeda, mungkin tanpa kedalaman dan kepedihan yang ditemukan dalam eksplorasi pengorbanan, kasih, pengampunan, dan penebusan. Dalam dunia yang bebas dari penyaliban Yesus, bagian esensial dari narasi yang menghubungkan ajaran-Nya dengan konsep pengorbanan tertinggi akan hilang. Kesediaan Yesus untuk menghadapi kematian demi keselamatan umat manusia menerangi ajaran-Nya tentang kasih, pengorbanan, dan pengampunan. Tindakan cinta tertinggi ini, yang terkandung dalam kematian-Nya di salib, telah memberikan ajaran-Nya relevansi yang abadi dan resonansi yang mendalam selama berabad-abad.

Dengan menghilangkan penyaliban dari persamaan ini, ajaran tersebut bisa kehilangan dampaknya, dan interpretasinya mungkin akan kesulitan mencapai kedalaman pemahaman atau respons emosional yang sama. Selain itu, tanpa penyaliban, aspek nubuat dalam ajaran Yesus mungkin akan tereduksi. Sepanjang Injil, Ia meramalkan kematian dan kebangkitan-Nya yang mendatang, yang lebih menguatkan klaim keilahian-Nya dan memberikan kredibilitas pada ajaran-Nya. Menghilangkan pemenuhan nubuat-nubuat ini akan mengubah persepsi terhadap ajaran-Nya dan berpotensi mereduksi kredibilitas mereka. Akhirnya, penyaliban Yesus memberikan kerangka interpretatif di mana para pengikut-Nya memahami perintah-Nya tentang kasih. Untuk "memikul salib" dan mati bagi diri sendiri, seperti yang dijelaskan dalam Lukas 14:27, adalah metafora yang mendapatkan maknanya dari pengorbanan Yesus.


ilustrasi " Ajakan Yesus Kristus bagi kita  untuk mengikuti-Nya (ilustrator : Anzefka)

Perubahan Representasi Yesus dan Dampaknya terhadap Kekristenan

Perubahan dalam representasi ini akan mempengaruhi bagaimana orang percaya dan non-pemercaya memandang Kekristenan dan Yesus itu sendiri. Penggambaran Yesus dalam seni akan beralih dari martir yang disalibkan menjadi seorang bijaksana yang penuh dengan kebijaksanaan mendalam dan kekuatan yang tenang. Salib yang dihormati mungkin tidak akan muncul sebagai simbol utama Kristen, melainkan digantikan oleh simbol lain yang terkait dengan kehidupan dan ajaran Yesus. Persepsi terhadap Yesus mungkin lebih condong pada seorang filsuf, seorang guru bijaksana, daripada Sang Juru Selamat yang menanggung dosa umat manusia. Ketidakhadiran penyaliban Yesus akan berdampak signifikan pada ikonografi dan tradisi Kristen, yang pada akhirnya mempengaruhi bagaimana orang memandang Kekristenan dan Yesus itu sendiri.

Bagaimana Keyakinan akan Kebangkitan Akan Berubah Jika Yesus Tidak Pernah Mati?

Keyakinan akan kebangkitan adalah inti dari teologi Kristen, yang sebagian besar didasarkan pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Jika Kristus tidak melewati ujian kematian, konsep kebangkitan, sebagaimana dipahami oleh umat Kristen hari ini, kemungkinan besar akan mengambil bentuk yang sangat berbeda. Tanpa prisma kebangkitan, yang dicontohkan oleh kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, memahami keyakinan akan kehidupan setelah mati akan memerlukan perspektif teologis yang belum pernah dijelajahi. Kebangkitan Yesus, yang tercatat dalam keempat Injil, menegaskan kemenangan-Nya atas kematian dan sifat ketuhanan-Nya. Namun, jika Ia tidak mati, peristiwa yang menggerakkan iman dari kebangkitan-Nya tidak akan ada. Pengumuman, "Dia telah bangkit!", yang menjadi pusat perayaan Paskah, tidak akan memiliki makna.


ilustrasi  : Yesus Kristus memikul beban dosa dunia, suatu alasan mengapa Ia harus menebusnya dengan mengorbankan diri-Nya sendiri, mati di atas kayu salib (ilustrator : Anzefka) 

Apakah umat Kristen akan memahami kebangkitan hanya melalui mujizat Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus? Atau akankah konsep kebangkitan menjadi kurang kuat, tanpa contoh utama kemenangan Kristus atas kematian? Perlu diingat bahwa unsur kebangkitan melampaui hanya lingkup teologis. Kebangkitan memainkan peran penting dalam nuansa etos manusia. Dalam banyak cara, ia berfungsi sebagai cahaya, memberikan harapan akan kehidupan setelah kematian, yang terhubung erat dengan iman. Tanpa narasi kebangkitan Yesus, cahaya ini mungkin tidak bersinar secerah sebelumnya, meninggalkan orang percaya untuk menavigasi jalan yang kurang diterangi menuju pemahaman kehidupan setelah kematian.

Namun, saya merasa penting untuk menyebutkan bahwa keyakinan akan kehidupan setelah mati, kehidupan di luar batas kematian, sangat kuat dalam berbagai agama, tidak hanya Kristen. Misalnya, Islam meyakini bahwa Yesus tidak mengalami kematian duniawi, melainkan diangkat ke surga dalam bentuk tubuh. Kontradiksi dalam narasi ini menekankan kompleksitas interpretasi agama dan dampak mendalam yang dapat dimilikinya terhadap sistem keyakinan, termasuk kebangkitan.

ilustrasi : Kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, tempat segala kutuk dan dosa dunia ditebus dengan darah dan nyawa-Nya. Kebangkitannya mengalah kutuk dan maut, menyediakan jalan kemerdekaan dari dosa kepada dunia. Iblis ditaklukkan, maut dikalahkan (ilustrator : Anzefka)

Skenario di mana Yesus tidak mengalami kematian dan karena itu tidak dibangkitkan, akan sangat mempengaruhi pemahaman Kristen tentang kebangkitan, berpotensi membalikkan narasi iman dan membentuk kembali teologi Kristen. Tanpa archetype kebangkitan, gagasan iman tentang kehidupan setelah mati mungkin menempuh jalur unik yang sangat berbeda dari yang diikuti saat ini. (MS)

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...