KBRN,
Tahuna; Setiap 21 April, bangsa ini kembali menoleh pada semangat yang pernah
membara dalam diri seorang perempuan muda dari Jepara. Raden Ajeng Kartini
bukan sekadar simbol, melainkan suara yang menggugat sunyi, memperjuangkan hak
perempuan untuk berpikir bebas, mengenyam pendidikan, dan memilih jalan
hidupnya sendiri. Di balik parade kebaya dan unggahan media sosial, Hari
Kartini adalah panggilan untuk kembali menyalakan obor perjuangan. Bukan
sebagai seremoni, melainkan sebagai keberlanjutan.
Menurut
Emeliza Kondangduata, Kartini adalah sosok yang berani melawan penjajahan
kemerdekaan kaumnya. “Ia perempuan yang ingin maju dan berkarya, tapi
dihalangi tata krama dan norma zamannya. Namun ia tidak tunduk, justru
menciptakan terobosan dalam pendidikan dan keterampilan, yang memberdayakan
sesamanya,” tuturnya. Kartini, katanya, tidak sekadar melawan batas, tapi
menciptakan ruang baru yang terus tumbuh menjadi sejarah bagi perempuan masa
kini.
Jefry
Hinonaung, memandang perjuangan Kartini yang mewakili sudut pandang kaum pria.
Baginya, Kartini adalah lambang keberanian dan daya ubah. “Kartini dulu
memperjuangkan hak. Kartini sekarang bisa menjadi pahlawan bagi generasinya
sendiri, membawa bangsa ini melangkah ke arah kemajuan,” ujarnya. Senada
dengannya, Nolfi Yandri Pontoh menyebut perempuan hari ini sebagai gema dari
api perjuangan Kartini yang tidak pernah padam.
Sementara
itu, Mariane Barik menegaskan bahwa perjuangan belum usai. “Kami, perempuan
masa kini, sedang menikmati hasil perjuangan Kartini, sekaligus melanjutkannya.
Kini kami bebas berkarya di segala bidang, tapi tantangan juga semakin
kompleks,” ungkapnya.
Penetapan
21 April sebagai Hari Kartini lewat Keppres No. 108 Tahun 1964 adalah pengakuan
atas pengaruh luar biasa seorang perempuan muda terhadap arah sejarah bangsa.
Kartini tidak hanya hidup dalam kenangan—tapi dalam langkah perempuan yang
terus memilih untuk berani. (Rico)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar