Selasa, 22 April 2025

Kartini Tak Hanya Dikenang, Tapi Diteladani

 

Ilustrasi digambar dan diproses oleh Ai

KBRN, Tahuna; Setiap 21 April, bangsa ini kembali menoleh pada semangat yang pernah membara dalam diri seorang perempuan muda dari Jepara. Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol, melainkan suara yang menggugat sunyi, memperjuangkan hak perempuan untuk berpikir bebas, mengenyam pendidikan, dan memilih jalan hidupnya sendiri. Di balik parade kebaya dan unggahan media sosial, Hari Kartini adalah panggilan untuk kembali menyalakan obor perjuangan. Bukan sebagai seremoni, melainkan sebagai keberlanjutan.

Menurut Emeliza Kondangduata, Kartini adalah sosok yang berani melawan penjajahan kemerdekaan kaumnya. “Ia perempuan yang ingin maju dan berkarya, tapi dihalangi tata krama dan norma zamannya. Namun ia tidak tunduk, justru menciptakan terobosan dalam pendidikan dan keterampilan, yang memberdayakan sesamanya,” tuturnya. Kartini, katanya, tidak sekadar melawan batas, tapi menciptakan ruang baru yang terus tumbuh menjadi sejarah bagi perempuan masa kini.

Jefry Hinonaung, memandang perjuangan Kartini yang mewakili sudut pandang kaum pria. Baginya, Kartini adalah lambang keberanian dan daya ubah. “Kartini dulu memperjuangkan hak. Kartini sekarang bisa menjadi pahlawan bagi generasinya sendiri, membawa bangsa ini melangkah ke arah kemajuan,” ujarnya. Senada dengannya, Nolfi Yandri Pontoh menyebut perempuan hari ini sebagai gema dari api perjuangan Kartini yang tidak pernah padam.

Sementara itu, Mariane Barik menegaskan bahwa perjuangan belum usai. “Kami, perempuan masa kini, sedang menikmati hasil perjuangan Kartini, sekaligus melanjutkannya. Kini kami bebas berkarya di segala bidang, tapi tantangan juga semakin kompleks,” ungkapnya. 

Penetapan 21 April sebagai Hari Kartini lewat Keppres No. 108 Tahun 1964 adalah pengakuan atas pengaruh luar biasa seorang perempuan muda terhadap arah sejarah bangsa. Kartini tidak hanya hidup dalam kenangan—tapi dalam langkah perempuan yang terus memilih untuk berani. (Rico)

 Link : https://rri.co.id/tahuna/daerah/1464780/kartini-tak-hanya-dikenang-tapi-diteladani



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...