Sebagai negara kaya
raya akan sumber daya alam, Indonesia menjadi incaran bangsa barat sejak 4 abad lalu. Pengobatan yang
diakui bangsa barat adalah yang berasal dari dirinya, pengobatan selain dari bangsa
barat dikategorikan sebagai mistik dan irasional. Padahal dari pengobatan dari bangsa
timur memiliki local wisdom (kebijakan lokal) sendiri.
Salah satunya adalah pemanfaatan tumbuhan / tanaman di tanah ibu pertiwi, persada
nusantara.
Ketika obat - obatan
kimiawi modern tidak bisa memberi kepuasan pada penggunanya, maka mereka akan
mencari obat - obatan alternatif lainnya yang dianggap lebih manjur / mujarab. Pengobatan alternatif sebagai aksi
protes bangsa timur pada pengobatan bangsa barat lebih mengedepankan penggunaan
material alam dibanding kimiawi.
Bangsa Indonesia yang
masih mempraktekkan pengobatan dari tumbuhan dan tanaman antara lain Suku Sangihe.
Suku yang berada di ujung paling utara pulau Sulawesi ini, memiliki berlaksa
obat - obatan tradisional. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Suku Sangihe
yang tidak menggunakan obat - obatan kimiwi, karena dipandang lebih rentan akan
efek samping.
Pengobatan
dengan cara tradisional masyarakat Sangihe dikenal sebagai Boro (obat boro).
Boro adalah pengobatan menggunakan batang kayu yang dikeringkan, lalu direbus
dan diminum airnya untuk mengobati luka dalam ataupun luka luar. Salah satu
daerah yang terkenal dengan pengobatan boro adalah kampung Mahumu, kecamatan
Tamako, kabupaten kepulauan Sangihe, provinsi Sulawesi Utara.
Ibu
Norwince Serang merupakan salah seorang pembuat obat tradisional Boro di
kampung Mahumu. Obat boro racikan ibu Norwince cukup dikenal bukan saja di
daerah Sangihe dan Manado sekitarnya, tetapi hingga di Surabaya.
Setidaknya
ia telah membuat obat tersebut selama hampir 30 tahun. Bahan – bahan obat
dicarinya di hutan dalam jumlah banyak, disebabkan jarak yang harus ditempuhnya
(dari rumah ke hutan) cukup jauh. Menurutnya, pengobatan tradisional ini
diturunkan dan dipelajari dari orangtuanya, kemudian pengetahuan itu diteruskan
juga kepada anaknya. Sehingga dikemudian hari, jika ada pasien yang ingin
berobat dan dirinya tidak ada, anaknya juga sudah bisa mengobati.
Obat
boro merupakan batang / kayu dari pohon – pohonan yang sudah siap digunakan.
Kayu – kayuan dibungkus dengan kain bersih, kemudian di rebus dengan dua gelas
air hingga berwarna merah. Setelah mendidih, boro di minum selagi masih hangat
(boro masih dapat digunakan beberapa kali, sampai airnya tidak berwarna merah
lagi).
Sekalipun
obat boro telah dikenal di mana – mana, namun ibu Norwince tidak pernah berniat
untuk mengambil keuntungan. Ia juga tidak pernah mematok harga untuk obat
racikannya. Hidupnya juga terlihat cukup sederhana. Jika ada yang mesti
ditolong dan harus dibuatkan obat, dirinya biasa dibayar dengan bahan makanan. Ia
tetap menerimanya dengan Ikhlas.
Adapun
manfaat boro telah dirasakan sendiri oleh penulis. Selama 1 minggu mengkonsumsi
obat boro pasca operasi, sangat membantu pemulihan luka dalam dan luar. Luka
pasca operasi cepat kering dan tubuh dirasakan lebih bugar. Sangat baik
mengkonsumsi obat boro, baik untuk luka pasca operasi, ataupun luka akibat
tikaman. Hal senada juga diakui ibu Ika Rakinaung dan bapak Alfred. Pengalaman
lainnya dalam pengobatan tradisional boro, dituturkan Embo Iman kepada RRI.
Dirinya mengalami luka benturan keras di kepala dalam kecelakaan lalu lintas, dan
obat boro sangat membantu percepatan pemulihan luka di kepalanya.
Pengobatan
tradisional boro di Sangihe, berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakap pernyataan alam kepada manusia,
sebagaimana diungkapkan Martinus Makitulung selaku anggota Badan Adat Sangihe.
Pertama, itu merupakan pernyataan alam langsung kepada manusia dan yang kedua
merupakan kias banding.
Kias
banding biasanya bagi masyarakat Sangihe, kewabahan
yang sakit di katakan binire. Jadi memperbandingkan di Kabupaten
Kepulauan Sangihe, maka kepercayaan dan kepedulian terhadap sesama serta sifat
saling tolong menolong menjadi salah satu dasar dari pengobatan tradisional
ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar