Nusa Utara merupakan sebutan untuk gugusan kepulauan di perairan perbatasan Indonesia dan Filipina. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Kepulauan Nusa Utara dahulunya merupakan jalur pelayaran Internasional yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Samudera Pasifik.
Sejak ribuan tahun silam, kepulauan Sangihe menjadi jalur migrasi budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia. Selain itu, Sangihe juga diketahui menyimpan beragam peninggalan, potensi alam dan budaya yang perlu diketahui lebih luas, termasuk di dalamnya masalah sosial, ekonomi, politik yang pelik dan membutuhkan perhatian.
Dari laut, penduduk Kepulauan Sangihe belajar tentang filsafat kehidupan. Ada begitu banyak pepatah dan prinsip hidup masyarakat Sangihe yang diambil dari fenomena di laut. Seperti : "Pantuhu makasalentiho, somahe kaikehage." Artinya : Karena meluncur dibawa arus, jadi gemar menantang badai. Makna yang terkandung di dalamnya adalah kejelian memantau sesuatu yang mudah, akan menjadi modal untuk menghadapi kesulitan.
Bukan hanya pepatah tentang laut, Masyarakat Sangihe bahkan memiliki sasahara, yaitu bahasa khusus yang hanya digunakan untuk berkomunikasi ketika berada di laut. "Sasahara merupakan bahasa simbolis kebaharian yang dominan dipakai para nelayan ketika sedang melaut," kata A. Makasar. Menurut budayawan Sangihe, Niklas Mehare,"Bahasa ini muncul karena mereka ingin menghormati penguasa laut. Harus bertutur halus di hadapan mereka".
Nusa Utara merupakan sebutan untuk gugusan
kepulauan di perairan perbatasan Indonesia dan Filipina. Dari catatan sejarah
diketahui bahwa Kepulauan Nusa Utara dahulunya merupakan jalur pelayaran
Internasional yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Samudera Pasifik.
Sejak ribuan tahun silam, kepulauan Sangihe menjadi jalur migrasi budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia. Selain itu, Sangihe juga diketahui menyimpan beragam peninggalan, potensi alam dan budaya yang perlu diketahui lebih luas, termasuk di dalamnya masalah sosial, ekonomi, politik yang pelik dan membutuhkan perhatian.
Dari laut, penduduk Kepulauan Sangihe belajar tentang filsafat kehidupan. Ada begitu banyak pepatah dan prinsip hidup masyarakat Sangihe yang diambil dari fenomena di laut. Seperti : "Pantuhu makasalentiho, somahe kaikehage." Artinya : Karena meluncur dibawa arus, jadi gemar menantang badai. Makna yang terkandung di dalamnya adalah kejelian memantau sesuatu yang mudah, akan menjadi modal untuk menghadapi kesulitan.
Bukan hanya pepatah tentang laut, Masyarakat
Sangihe bahkan memiliki sasahara, yaitu bahasa khusus yang
hanya digunakan untuk berkomunikasi ketika berada di laut. "Sasahara
merupakan bahasa simbolis kebaharian yang dominan dipakai para nelayan ketika
sedang melaut," kata A. Makasar. Menurut budayawan Sangihe, Niklas
Mehare,"Bahasa ini muncul karena mereka ingin menghormati penguasa laut.
Harus bertutur halus di hadapan mereka".
Masyarakat bahari Sangihe percaya bahwa laut dikuasai Mawendo, dimana ada dua hal yang harus dijaga dihadapannya. Yaitu : peli atau sesuatu yang tabu dan mateling (kesakralan laut). Sebagai bentuk upaya untuk menjaga keduanya adalah dengan cara memelihara budi bahasa. Misalnya, dalam bahasa Sangihe darat, utara disebut sawenahe, tapi di laut mereka menyebutnya mamenongkati. Perahu di darat dibilang sakaeng, tapi saat di laut mereka menyebutnya pato. Sedangkan cadik di masyarakat umum dikenal dengan sema - sema, tapi di laut mereka menyebutnya sahemang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar