Sabtu, 20 Juli 2024

Vakum 14 Tahun, Turnamen Bola Voli Kembali Digelar

 

Rapat Pembentukan Panitia Hari Radio Bakti Ke – 79 (Foto: Dokumntasi
/ Tim PPID RRI Tahuna)


KBRN, Tahuna : Setelah 14 tahun vakum  (2010-2024), akhirnya RRI Tahuna kembali menyelenggarakan event turnamen bola voli. Sebelumnya, selama beberapa tahun berturut-turut RRI Tahuna pernah menggelar turnamen bola voli antar club tingkat provinsi Sulawesi Utara. 

Namun turnamen bola voli tahun ini, secara khusus digelar untuk tingkat pelajar SMP, SMA, dan Usia 16 hingga 25 tahun kategori Putra dan Putri.

Dalam rapat pembentukan panitia hari Bakti Radio ke 79, Jum’at (19/7/2024), Kepala Satuan Kerja LPP RRI Tahuna, Achmad Yani Nyanggu, S.Sos menyampaikan Event Volley Ball Tournament akan memperebutkan piala bergilir RRI Tahuna Cup.

Lebih lanjut Acmad Yani, PBVSI Kabupaten Kepulauan Sangihe turut ambil bagian dalam mensuport event ini, agar generasi muda di Sangihe berkesempatan mengasah kemampuannya dalam cabang olah raga Bola Voli.

“Turnamen Bola Voli RRI Tahuna Cup, rencananya akan digelar pada bulan Agustus mendatang. Diperkirakan minimal ada 34 tim yang akan turut ambil di dalamnya,” ucap Koordinator Seksi Lomba, Amir Yusuf. (MS)

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/837846/vakum-14-tahun-turnamen-bola-voli-kembali-digelar

 

 


Pertahanan Nasional di Wilayah Perbatasan Gerbang Utara Nusantara

 

Batas ZEE antara Indonesia-Filipina di Laut Sulawesi pada Peta NKRI (Foto: Dokumentasi/ https://asset-2.tstatic.net)

KBRN, Tahuna : Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang berbatasan dengan beberapa negara, baik darat maupun laut, dan perbatasan darat mudah ditandai. 

Lain halnya dengan perbatasan laut. Indonesia masih menghadapi persoalan dengan beberapa negara terkait dengan perbatasan laut.

Masalah perbatasan jadi bagian penting bagi suatu ketahanan negara. Oleh sebab itu, setiap negara mempunyai kewenangan dalam penentuan batas wilayah. 

Secara umum daerah perbatasan dipahami berkaitan dengan batas-batas pemisah negara, berkaitan dengan sebuah negara atau state’s border yang muncul bersamaan lahirnya suatu negara.

Kondisi perbatasan di Indonesia berbeda satu dengan yang lainnya. Baik antara kawasan perbatasan kontinen dan laut, maupun perbatasan di wilayah daratnya sendiri, sehingga diperlukan kebijakan khusus dan strategi serta pendekatan yang berbeda. Namun demikian, dibutuhkan suatu kebijakan dasar yang dapat mengayomi seluruh kebijakan dan strategi yang berlaku secara nasional untuk seluruh kawasan perbatasan.

Hingga kini, Indonesia masih memiliki banyak persoalan terkait wilayah perbatasan. Salah satunya adalah persoalan perbatasan antara Indonesia dengan Filipina, yang terletak di antara Pulau Marore dengan Filipina Selatan. Suatu daerah yang berbatasan dengan negara lain berhubungan langsung dengan keimigrasian, yang termasuk didalamnya ialah tentang pengawasan daerah kedaulatan.

Kabupaten kepulauan Sangihe adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia dengan Ibu kota Tahuna. Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao, (Filipina) serta berada di bibir samudera pasifik. 

Wilayah kabupaten ini memiliki 3 klaster, yaitu klaster Tatoareng, Klaster Sangihe, dan klaster perbatasan, yang memiliki batas perairan internasional dengan provinsi Davao Del Sur (Filipina).

Kecamatan Kepulauan Marore di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara, terletak di ujung utara Indonesia, berhadapan langsung dengan Pulau Balut dan Pulau Sarangani (Republik Filipina). Hubungan lintas batas antara Indonesia dan Philipina (Kabupaten Kepulauan Sangihe) dengan penduduk Filipina Selatan, sudah berlangsung semenjak puluhan tahun lampau.

Batas Laut RI–Filipina Indonesia memiliki ZEE yang berbatasan dengan Negara Filipina di Laut Sulawesi, namun hingga saat ini belum dapat didelimitasi batasan antar kedua negara. Problema dasarnya adalah disamping secara geografis jauh dari pusat kekuasaan baik secara ekonomi, politik maupun keamanan, daya tarik dan atensi ke daerah perbatasan lazimnya juga minim.

Pada awalnya, permasalahan pengelolaan kawasan perbatasan negara hanya merupakan salah satu isu sensitif berdimensi politik dan pertahanan, terutama berkenaan dengan keberlangsungan kerja sama atau ketegangan bilateral antara dua negara yang memiliki kawasan perbatasan yang langsung bersinggungan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sensitivitas isu pengelolaan kawasan perbatasan negara dapat berkembang menjadi permasalahan multilateral, bahkan internasional.

Tidak berkembangnya pulau - pulau terluar di perbatasan Indonesia, dapat menyebabkan lunturnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme masyarakat setempat, terancamnya kedaulatan negara karena hilangnya garis batas negara akibat abrasi atau pengerukan pasir laut, terjadinya penyelundupan barang - barang ilegal, pencurian ikan oleh nelayan asing, adanya imigran gelap dan pelarian dari negara tetangga, hingga ancaman okupasi oleh negara asing.

Beberapa masalah yang sering terjadi di perbatasan antara kedua negara khususnya di antara pulau Marore dengan Filipina Selatan yaitu pelintas batas tanpa dokumen (imigran gelap), pencurian ikan (illegal fishing), dan penyeludupan barang - barang tanpa melalui beacukai.

Berdasarkan informasi dari Kantor Imigrasi kelas II Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe, masih terdapat WNA melintas di Kabupaten Kepulauan Sangihe (Nusa Tabukan, Pulau Marore) dan bahkan ada juga yang sudah bertahun - tahun menetap namun tidak memiliki dokumen kependudukan. Sebaliknya di Filipina, tidak sedikit juga orang Indonesia  berdomisili tanpa izin atau tidak memiliki dokumen keimigrasian yang membuktikan kewarganegaraan mereka (Undocumented Citizens).

Warga dari kedua negara tersebut melakukan aktivitas mondar - mandir mengunjungi Filipina maupun Indonesia (Pulau Marore) tanpa izin atau dokumen - dokumen yang sudah disetujui dari negara masing - masing.Untuk mengatasi hal tersebut,  kedua negara telah membuat beberapa perjanjian serta kerjasama.

Melalui peraturan daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe terkait dengan masalah pelintas batas, pemerintah membentuk tim pengawasan orang asing untuk menjaga wilayah perbatasan yang melintasi di kawasan Pulau Marore guna keamanan dan pertahanan nasional kedua negara dalam mengatur lalu lintas perbatasan.

Meskipun sudah ada berbagai upaya bahkan aturan - aturan pelintas batas, tetap saja masih ditemukan adanya WNI maupun WNA yang melanggarnya. Kebanyakan penyebab atau tujuan keluar masuknya WNI maupun WNA (dari Indonesia ke Filipina maupun  sebaliknya) adalah untuk kunjungan kekerabatan (silaturahmi) pada saat hari raya.

Dari sekian banyak permasalahan di perbatasan, pemerintah Indonesia melakukan berbagai kebijakan terkait pengelolaan wilayah perbatasan, penguatan yuridiksi wilayah, memperkuat peran Badan Nasional Pengelola Perbatasan, memaksimalkan peran kementerian dan lembaga terkait, memperkuat peran TNI, serta memperkuat peran pemerintah daerah. (MS)

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/832854/pertahanan-nasional-di-wilayah-perbatasan-gerbang-utara-nusantara

 


Jumat, 19 Juli 2024

Atlet Jetski Aero : Galaxy Z Fold6 dan Z Flip6 Bikin Bebas Ekspresi

 

Atlet Jetski Indonesia Aero Aswar saat Usai Peluncuran Galaxy Z Fold6 dqn Z Flip6 (Foto : Dok/Novi RRI Jakarta)

KBRN, Tahuna : Animo pengguna usai peluncuran Galaxy Z Fold6 dqn Z Flip6 terus mendapat respons positif berkat berbagai kemudahan yang ditawarkan. 

Bagi atlet Jetski Indonesia seperti Aero Aswar, device ini tak hanya mendukung kesehariannya dalam berlatih tapi bisa benar-benar membuka banyak peluang baru, mulai dari membuat konten hingga menjadi device untuk mendukungnya bebas berekspresi.

Dengan semakin sering tampil di ajang internasional tentunya membuat para atlet tidak hanya boleh berfokus mengembangkan skillnya di cabang olahraga mereka masing-masing saja. 

Kemampuan device ini yang sangat nyaman dan praktis dibawa kemana-mana karena memiliki form factor yang nyaman untuk berproduktivitas layar besar saat dibuka dan digunakan dengan tangan saat dilipat.

Kemampuan Galaxy AI yang sangat mengesankan Aero Aswar.  Galaxy Z Fold6 membuka banyak cara baru untuk Aero menyelesaikan berbagai hal di kesehariannya saat ini.

“Selain menjalani passion saya di dunia olahraga, ada banyak hal lain yang ingin saya explore all at once. Setelah mencoba menggunakan Galaxy Z Fold6 ternyata saya benar-benar bisa melakukan berbagai hal mulai dari berkomunikasi hingga membuat konten yang selama ini terasa sulit dilakukan dengan cara-cara yang baru,” ujarnya di Jakarta, Kamis (17/7/2024).

Dicontohkan Aero,  misalnya saat mengikuti pertandingan internasional dirinya bisa lebih mudah terkoneksi dengan atlet lain ataupun fans tanpa language barrier lagi karena device saya sekarang ini punya Hands-free Interpreter yang bisa menerjemahkan secara face-to-face. 

Aero memgaku dengan menggunakan Galaxy Z Fold6 dia bisa punya cara baru untuk berkomunikasi saat bertanding di luar negeri. Dia bisa memanfaatkan fitur Hands-free Interpreter untuk ngobrol bersama atlet-atlet lain secara face-to-face tanpa takut terhalang bahasa. 

“Komunikasi saya menjadi lebih seamless karena fitur baru Interpreter yang eksklusif baru ada pada seri Galaxy Z generasi keenam ini membuat terjemahan oleh AI tak hanya melalui audio tetapi ditampilkan secara real-time melalui Cover Screen smartphone lipatnya,” ujarnya.

Menurut Aero, device ini benar-benar membawa kemudahan dalam berkomunikasi lewat cara yang praktis. Bayangkan jika tidak ada device ini, Aero biasanya akan kesulitan memahami percakapan saat sedang ngobrol dengan atlet dari negara lain. Karena device ini juga menampilkan percakapan via teks di Cover Screen, membuat komunikasi bisa terjalin di setiap kondisi. 

Selama ini Aero selalu menganggap koneksi antar atlet menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, sehingga dunia olahraga bisa menjadi komunitas yang baik dan menjadi kompetisi yang sehat.

Sekadar informasi, Galaxy Z Fold6 akan tersedia dalam 3 varian yaitu 12GB/256GB dengan harga 26.499.000, 12GB/512GB dengan harga Rp28.499.000 dan 12 GB/1TB dengan harga Rp 31.999.000. Selama masa pre-order, kamu bisa mendapatkan benefit hingga total Rp8,3 juta dengan ragam promo eksklusif yang menguntungkan. (SR) 

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/iptek/837628/atlet-jetski-aero-galaxy-z-fold6-dan-z-flip6-bikin-bebas-ekspresi

 


Kamis, 18 Juli 2024

Mengapa Status Level III Gunung Awu Belum Diturunkan?

 

Gunung Api Awu dari CCTV Stasiun Pengamatan Gunung Awu (foto: Dukmentasi/ https://magma.vsi.esdm.go.id/img/ga/AWU/AWU202407170600.png)

KBRN, Tahuna : Gunung Api Awu terletak di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan posisi geografis di Latitude 3.682846°LU, Longitude 125.45598°BT dan memiliki ketinggian 1320 mdpl.

Terkait aktivitas Gunung Api Awu di Sangihe yang dilansir dari Magma Indonesia, Rabu (17/7/2024), pada laporan meterologi menunjukan bahwa Cuaca berawan dan mendung. Angin bertiup lemah ke arah utara. Suhu udara 26-30 °C dan kelembaban udara 60-70 %. Pengamatan visual Gunung , kabut 0-II hingga kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati.

Sementara itu, terkait kegempaan di laporkan bahwa gempa vulkanik dangkal tercatat sejumlah 11 kali, Amplitudo : 3-22 mm, Durasi : 6-19 detik, dan gempa tektonik jauh sejumlah : 6 kali, Amplitudo : 3-48 mm, S-P : 15-22 detik, Durasi : 46-384 detik.

Sejak, Selasa (16/4/2024), status Gunung Api Awu di Sangihe dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga), dan sampai hari ini statusnya belum berubah. 

Tommy Luhut Marbun, A.Md, dari Pos Pengamatan Gunung Api Awu, menjelaskan bahwa hal ini disebabkan adanya peningkatan gempa vulkanik dangkal yang terjadi tiba-tiba.

Lebih lanjut Tommy menjelaskan, dengan adanya peningkatan gempa vulkanik dangkal dikhawatirkan akan berlanjut ke arah erupsi, karena kedalaman sumber gempa sudah dangkal. Kemungkinan terburuknya bisa terjadi erupsi freatik yang berlanjut ke arah erupsi yang besar.

Terkait adanya kemungkinan penurununan status gunung api Awu, ucap Tommy penurunan status juga bisa dimungkinkan jika kejadian gempa dangkal tersebut sudah berkurang atau bahkan hilang. Namun sampai hari ini status Awu masih level 3 (Siaga).

Tommy menghimbau, agar masyarakat dan pengunjung atau wisatawan tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 5 kilometer dari kawah puncak Gunung Awu. 

Sebaliknya, masyarakat di sekitar dimintah tetap tenang dan tidak terpancing dengan isu-isu mengenai aktivitas gunung Awu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Masyarakat mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe," katanya.

Masyarakat maupun Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya juga dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi gunung Awu melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi android MAGMA Indonesia. (MS)

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/832729/mengapa-status-level-iii-gunung-awu-belum-diturunkan

 


Sasahara, Bahasa Simbolis Kebaharian di Sangihe

 



Nusa Utara merupakan sebutan untuk gugusan kepulauan di perairan perbatasan Indonesia dan Filipina. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Kepulauan Nusa Utara dahulunya merupakan jalur pelayaran Internasional yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Samudera Pasifik. 

Sejak ribuan tahun silam, kepulauan Sangihe menjadi jalur migrasi budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia. Selain itu, Sangihe juga diketahui menyimpan beragam peninggalan, potensi alam dan budaya yang perlu diketahui lebih luas, termasuk di dalamnya masalah sosial, ekonomi, politik yang pelik dan membutuhkan perhatian.

 Dari laut, penduduk Kepulauan Sangihe belajar tentang filsafat kehidupan. Ada begitu banyak pepatah dan prinsip hidup masyarakat Sangihe yang diambil dari fenomena di laut. Seperti : "Pantuhu makasalentiho, somahe kaikehage." Artinya : Karena meluncur dibawa arus, jadi gemar menantang badai. Makna yang terkandung di dalamnya adalah kejelian memantau sesuatu yang mudah, akan menjadi modal untuk menghadapi kesulitan.

Bukan hanya pepatah tentang laut, Masyarakat Sangihe bahkan memiliki sasahara, yaitu bahasa khusus yang hanya digunakan untuk berkomunikasi ketika berada di laut. "Sasahara  merupakan bahasa simbolis kebaharian yang dominan dipakai para nelayan ketika sedang melaut," kata A. Makasar. Menurut budayawan Sangihe, Niklas Mehare,"Bahasa ini muncul karena mereka ingin menghormati penguasa laut. Harus bertutur halus di hadapan mereka".

Nusa Utara merupakan sebutan untuk gugusan kepulauan di perairan perbatasan Indonesia dan Filipina. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Kepulauan Nusa Utara dahulunya merupakan jalur pelayaran Internasional yang menghubungkan kawasan Asia Timur dan Samudera Pasifik.

 Sejak ribuan tahun silam, kepulauan Sangihe menjadi jalur migrasi budaya dari Asia Tenggara ke wilayah Melanesia dan Mikronesia. Selain itu, Sangihe juga diketahui menyimpan beragam peninggalan, potensi alam dan budaya yang perlu diketahui lebih luas, termasuk di dalamnya masalah sosial, ekonomi, politik yang pelik dan membutuhkan perhatian.

 Dari laut, penduduk Kepulauan Sangihe belajar tentang filsafat kehidupan. Ada begitu banyak pepatah dan prinsip hidup masyarakat Sangihe yang diambil dari fenomena di laut. Seperti : "Pantuhu makasalentiho, somahe kaikehage." Artinya : Karena meluncur dibawa arus, jadi gemar menantang badai. Makna yang terkandung di dalamnya adalah kejelian memantau sesuatu yang mudah, akan menjadi modal untuk menghadapi kesulitan.

Bukan hanya pepatah tentang laut, Masyarakat Sangihe bahkan memiliki sasahara, yaitu bahasa khusus yang hanya digunakan untuk berkomunikasi ketika berada di laut. "Sasahara  merupakan bahasa simbolis kebaharian yang dominan dipakai para nelayan ketika sedang melaut," kata A. Makasar. Menurut budayawan Sangihe, Niklas Mehare,"Bahasa ini muncul karena mereka ingin menghormati penguasa laut. Harus bertutur halus di hadapan mereka".

 Masyarakat bahari Sangihe percaya bahwa laut dikuasai Mawendo, dimana ada dua hal yang harus dijaga dihadapannya. Yaitu : peli atau sesuatu yang tabu dan mateling (kesakralan laut). Sebagai bentuk upaya untuk menjaga keduanya adalah dengan cara memelihara budi bahasa. Misalnya, dalam bahasa Sangihe darat, utara disebut sawenahe, tapi di laut mereka menyebutnya mamenongkati. Perahu di darat dibilang sakaeng, tapi saat di laut mereka menyebutnya pato. Sedangkan cadik di masyarakat umum dikenal dengan sema - sema, tapi di laut mereka menyebutnya sahemang

 


TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...