Kamis, 08 Agustus 2024

Nyaris Punah, Kini Kain Koffo Dapat Dinikmati Dunia

Foto ; Kain Tenun Koffo / Sumber foto; weblog cofoindonesia

 Kain etnik dengan bahan baku katun (kapas) atau kulit kayu memang bisa ditemukan di banyak tempat di Nusantara. Tapi kain dengan bahan baku serat batang pisang cuma ada di Kepulauan Sangihe. Namanya Kain Koffo.

Kain Koffo merupakan kain unik karena terbuat dari serat batang pisang, yaitu pisang abaka (Musa textilis). Pisang ini merupakan tumbuhan asli Filipina. Melihat lokasi Sangihe yang dekat dengan Filipina, tidak heran kalau pisang dengan nama lain pisang manila atau pisang serat ini banyak ditemukan di Sangihe.

Kalo dibandingkan dengan kapas, serat pisang abaka memiliki kekuatan yang lebih tinggi. Daya serapnya juga lebih baik. Sehingga tidak heran kalau masyarakat Sangihe sudah menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan baku pakaian sejak tahun 1500-an. Selain untuk membuat pakaian, serat pisang ini juga digunakan sebagai komponen rumah adat di Sangihe juga untuk membuat uang kertas.

Di masa lalu, Kain Koffo biasanya ditenun oleh putra dan putri Raja Sangihe - Talaud. Seiring perkembangan zaman, masyarakat biasa pun mulai menenun kain ini, sehingga Kain Koffo makin dikenal luas di Sangihe. Kain yang digunakan dalam ritual - ritual adat ini biasanya dijadikan sebagai penutup kepala pria, baju terusan, sarung (kahiwu), hingga selendang.

Sayangnya sekitar tahun 1800-an, kegiatan tenun ini mulai mengalami penurunan. Ini disebabkan pemerintah Kolonial Belanda melarang budidaya pisang abaka. Saat itu, Kolonial Belanda mengeluarkan perintah untuk menebang seluruh pisang abaka dan menggantikannya dengan tanaman kapas, kopi, dan tebu yang dianggap memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

padahal dahulunya kain tenun ini pernah menjadi primadona etnik sangihe untuk keperluan sehari - hari dan keagamaan bahkan diperjualbelikan didaerah sekitarnya. Kain koffo sendiri merupakan kain tradisional yang sarat akan makna filosofis didalamnya

Kain Kofo pertama kali dipresentasikan pada tahun 1927 oleh Kerajaan Tabukan di Istana Sultan Surakarta dan menerima Eradiploma dari Kolonial Belanda. Kain Kofo dari Sangihe (Provinsi Sulawesi Utara), secara resmi dinvatakan sebagai warisan non-material yang harus dilestarikan dan dilindungi, di antara 33 tekstil tradisional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017. 

Ragam Hias Tenun Koffo Sangihe dibentuk menurut contoh anyaman dan dengan menggunakan teknik tenun pewarna alami dari desa - desa setempat dan menghasilkan motif dekoratif berdasarkan bentuk serta simbol tradisional. Selain itu, bentuknya juga tidak hanya berupa sarung sebagai cinderamata khas daerah ini. Sebagai bentuk inovasi dan kreatifitas kain ini disulap menjadi berbagai benda mulai dari baju, scarf, pouch, hingga masker. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...