Kamis, 08 Agustus 2024

Makna Filosofis Dalam Proses Pembuatan Kain Tenun Koffo


Foto ; Kain Tenun Koffo / Sumber; weblog cofoindonesia

Indonesia memiliki banyak kekayaan serta kearifan lokal. Seperti halnya dengan provinsi Sulawesi Utara yang terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya yang memanjakan lidah. Selain itu, Sulawesi Utara juga memiliki kain tradisional yang tak kalah menarik dari yang ada pada daerah lainnya di Indonesia. 
Sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, kain koffo bisa dibilang sebagai kain tradisional yang memiliki makna sangat sakral. Baik dalam proses pembuatannya, ragam hiasnya, alat – alat tenunnya, warna, bahkan dalam penggunaannya. Berikut adalah penjelasan terkait makna filosofi dibalik kain tenun koffo. 
Pertama adalah ; Makna dalam proses pembuatan kain Koffo. Selama proses berlangsungnya pembuatan kain koffo, para pengrajin biasanya menyanyikan lagu irama sasambo saling berbalasan yang mengandung makna untuk semua orang, agar selalu bekerja keras dan menjaga kerukunan serta saling membantu. 
Kedua adalah ; Makna dalam penggunaan kain koffo. Yaitu ritual adat, misalnya pada upacara kematian dan upacara keagamaan lainnya, dimana penggunaan koffo dipercaya akan meningkatkan kekhusyukan proses ritual tersebut. Maka tidaklah heran dalam ritual adat, kain koffo biasa dipakai dengan maksud penghayatan akan ritual dirasakan mendalam. 
Selanjutnya adalah penutup kepala atau paporong, yang memberikan batas pada kedudukan Masyarakat Sangihe, tergambarkan pada penggunaan dan bentuk paporong. Untuk laki – laki disebut paporong lingkaheng. Sementara untuk keturunan bangsawan disebut paporong kawawantuge
Makna lainnya pada penggunaan kain koffo adalah pengikat pinggang dalam bentuk popehe  yang biasa diikat pada pinggang pengantin pria, bermakna membangkitkan semangat dalam melaksanakan tugas atau-pun mengatasi rintangan. Ketiga adalah ; Makna dalam warna. Dimana masing – masing kain koffo memiliki maknanya sendiri. 
Beberapa warna khas yang sering digunakan Masyarakat Sangihe yaitu ; kuning (marlrihe) melambangkan kesucian dan keagungan, ungu (kamumu) melambangkan kesetiaan, merah (mahamu) melambangkan keberanian, putih (ledo) melambangkan kesucian, serta hijau (ido) melambangkan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. 
Keempat adalah ; Makna dalam ragam hias, dimana selalu berlatar belakang alam dan budaya Masyarakat sangihe. Ragam hias ini memunculkan berbagai corak yang masing – masing memiliki pemaknaannya sendiri. Seperti ; ragam hias isin kemboleng, artinya ; gigi hiu sebagai lambing kekuatan dan keberanian. 
Kemudian ragam hias kui yang tercipta dari bentuk alat pemintal ijuk pohon enau yang banyak tumbuh di daerah ini. Ragam hias nalangu anging, artinya ; empat mata angin tercipta dari bentuk mainan anak, terbuat dari daun kelapa yang berputar apabila di perhadapkan pada arah angin bertiup.  

Berikut adalah ragam hias niabe nalangu anging, artinya bintang tujuh bervariasi, dan Ragam hias dalombo artinya jala ikan. Terdapat juga ragam hias berbentuk kue tamo (kue adat), berbentuk perahu, dan  tagonggong (alat music Sangihe). Kain Koffo tidak hanya memiliki tampilan yang cantik, tetapi juga memiliki makna filosofi sangat mendalam terkait nilai kehidupan Masyarakat Sangihe.


Link Berita : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...