Foto ; Kain Tenun Koffo /
Sumber; weblog cofoindonesia
Indonesia memiliki
banyak kekayaan serta kearifan lokal. Seperti halnya dengan provinsi Sulawesi
Utara yang terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya yang memanjakan lidah.
Selain itu, Sulawesi Utara juga memiliki kain tradisional yang tak kalah
menarik dari yang ada pada daerah lainnya di Indonesia.
Sebagai warisan budaya
yang harus dilestarikan, kain koffo bisa dibilang sebagai kain tradisional yang
memiliki makna sangat sakral. Baik dalam proses pembuatannya, ragam hiasnya,
alat – alat tenunnya, warna, bahkan dalam penggunaannya. Berikut adalah
penjelasan terkait makna filosofi dibalik kain tenun koffo.
Pertama adalah ; Makna
dalam proses pembuatan kain Koffo. Selama proses berlangsungnya pembuatan kain
koffo, para pengrajin biasanya menyanyikan lagu irama sasambo saling berbalasan
yang mengandung makna untuk semua orang, agar selalu bekerja keras dan menjaga
kerukunan serta saling membantu.
Kedua adalah ; Makna
dalam penggunaan kain koffo. Yaitu ritual adat, misalnya pada upacara kematian
dan upacara keagamaan lainnya, dimana penggunaan koffo dipercaya akan
meningkatkan kekhusyukan proses ritual tersebut. Maka tidaklah heran dalam
ritual adat, kain koffo biasa dipakai dengan maksud penghayatan akan ritual
dirasakan mendalam.
Selanjutnya adalah
penutup kepala atau paporong, yang memberikan batas pada kedudukan
Masyarakat Sangihe, tergambarkan pada penggunaan dan bentuk paporong. Untuk
laki – laki disebut paporong lingkaheng. Sementara untuk keturunan
bangsawan disebut paporong kawawantuge.
Makna lainnya pada
penggunaan kain koffo adalah pengikat pinggang dalam bentuk popehe yang biasa diikat pada pinggang pengantin
pria, bermakna membangkitkan semangat dalam melaksanakan tugas atau-pun
mengatasi rintangan. Ketiga adalah ; Makna dalam warna. Dimana masing – masing
kain koffo memiliki maknanya sendiri.
Beberapa warna khas
yang sering digunakan Masyarakat Sangihe yaitu ; kuning (marlrihe)
melambangkan kesucian dan keagungan, ungu (kamumu) melambangkan
kesetiaan, merah (mahamu) melambangkan keberanian, putih (ledo)
melambangkan kesucian, serta hijau (ido) melambangkan ketenangan dan
kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Keempat adalah ; Makna
dalam ragam hias, dimana selalu berlatar belakang alam dan budaya Masyarakat
sangihe. Ragam hias ini memunculkan berbagai corak yang masing – masing
memiliki pemaknaannya sendiri. Seperti ; ragam hias isin kemboleng,
artinya ; gigi hiu sebagai lambing kekuatan dan keberanian.
Kemudian ragam hias
kui yang tercipta dari bentuk alat pemintal ijuk pohon enau yang banyak
tumbuh di daerah ini. Ragam hias nalangu anging, artinya ; empat mata
angin tercipta dari bentuk mainan anak, terbuat dari daun kelapa yang berputar
apabila di perhadapkan pada arah angin bertiup.
Berikut adalah ragam
hias niabe nalangu anging, artinya bintang tujuh bervariasi, dan Ragam
hias dalombo artinya jala ikan. Terdapat juga ragam hias berbentuk kue
tamo (kue adat), berbentuk perahu, dan tagonggong (alat music Sangihe). Kain
Koffo tidak hanya memiliki tampilan yang cantik, tetapi juga memiliki makna
filosofi sangat mendalam terkait nilai kehidupan Masyarakat Sangihe.
Link Berita :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar