Senin, 26 Agustus 2024

Samsung Galaxy Z Fold6 Optimalkan Produktivitas Milenial dan Gen Z

 

Generasi Muda antusias gunakan Galaxy Z Fold6 (Foto : Dok Samsung Indonesia)

KBRN, Tahuna : Samsung Electronics Indonesia memperkenalkan Galaxy Z Fold6 sebagai perangkat harian yang cocok untuk generasi cerdas dan aktif seperti Milenial dan Generasi Z (Gen Z).

Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Indonesia, mengungkapkan bahwa Galaxy Z Fold6 didesain untuk mendukung multitasking dan produktivitas optimal.

 "Kami memahami kebutuhan Gen Z dan Milenial yang ingin bekerja lebih efisien dan tetap terhubung di era digital," ujar Ilham di Jakarta, (15/8/2024). 

Fitur unggulan Galaxy Z Fold6 adalah AI Composer yang dirancang untuk memudahkan berbagai aktivitas, termasuk pembuatan konten media sosial. 

"AI Composer sangat membantu dalam merangkai script atau caption, sehingga pengguna bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan," kata content creator gaming Afif Yulisitian (Apiipp).

(Tampilan fitur Galaxy Z Fold6)

Apiipp menambahkan bahwa Galaxy Z Fold6 menghemat waktunya dalam merencanakan dan membuat konten. 

"Proses perencanaan hingga pembuatan caption jadi lebih cepat berkat teknologi AI yang disediakan," ungkapnya.

Selain itu, layar fleksibel Galaxy Z Fold6 memberikan pengalaman multitasking yang lebih nyaman. Layar cover yang lebih kecil membantu saat pengguna sedang mobile, sementara layar utama yang besar memaksimalkan produktivitas dalam berbagai tugas.

Apiipp mengakui bahwa ukuran layar Galaxy Z Fold6 membuatnya lebih mudah dalam menyusun konten. 

"Narrow View membuat scrolling lebih nyaman dan aku bisa lebih produktif dalam mencari inspirasi serta mengatur jadwal pengambilan konten," ujarnya. (HT).

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/iptek/930770/samsung-galaxy-z-fold6-optimalkan-produktivitas-milenial-dan-gen-z

 

 


Jumat, 09 Agustus 2024

GMS Tahuna, Suarakan Kebenaran dan Berdampak Bagi Dunia

Ibadah Raya (Umum) dan Ibadah Gereja Anak (Eagle Kidz) (Foto : Dokumentasi Tim Multimedia GMS Tahuna)

KBRN, Tahuna : Gereja Mawar Sharon (GMS), sebuah sinode gereja yang berbasis di Surabaya dan bergerak dalam aliran Teologi Kharismatik Pentakosta, terus menunjukkan pertumbuhan pesatnya di berbagai wilayah, termasuk di Tahuna. 

GMS, yang didirikan pada tahun 1984 sebagai persekutuan doa, kini memiliki visi untuk mendirikan 1.000 gereja lokal yang kuat dan membentuk 1 juta murid Kristus di seluruh dunia. Di bawah kepemimpinan Gembala Sidang Pastor Philip Mantofa, GMS telah berkembang hingga ke Asia, Australia, Eropa, dan Amerika.

Riovaldy Bindura Lahengke, Leader Connect Group (CG) Family Fruitfully di GMS Tahuna, menjelaskan bahwa berdirinya GMS di Tahuna diawali dengan sebuah persekutuan doa yang beranggotakan sekitar 10 orang. 

"Awalnya, mereka adalah jemaat pemuda dari GMS Manado yang memulai kelompok kecil bernama Connect Group (CG), sebuah komunitas di mana setiap anggota saling membangun dan memuridkan satu sama lain untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus," Jelas Rio Bindura

CG sendiri adalah kelompok sel yang terdiri dari 5 hingga 15 orang yang berkumpul seminggu sekali untuk berbagi persahabatan, doa, dan firman Tuhan. Menurut Rio, CG GMS adalah "rumah rohani" di mana setiap hati yang lemah dikuatkan dan iman yang goyah dibaharui. 

"Melalui komunitas ini, setiap individu dihargai dan diharapkan untuk mengalami transformasi dan peningkatan dalam semua aspek kehidupan," ujarnya. 

Pada tahun 2021, pandemi memaksa GMS Tahuna untuk melaksanakan semua kegiatan persekutuan, termasuk CG dan ibadah minggu, secara daring. Namun, pada September 2022, Sinode GMS memutuskan untuk membuka kembali ibadah Minggu secara langsung dengan menyewa lokasi sebagai tempat ibadah rutin. GMS Tahuna kemudian berkembang menjadi 8 Connect Group dengan jumlah jemaat mencapai 50 orang.

Kini, pada Januari 2024, GMS Tahuna telah mendapatkan lokasi baru di Ruang Praise And Worship I Tahuna Mall, dan terus bertumbuh dengan jumlah jemaat sekitar 100 orang. 

GMS Tahuna digembalakan oleh dr. Jeffry Hamonangan Hinonaung bersama istrinya, Rayzah Tindagi, SE, serta para Leaders CG. Menurut Chan, salah satu pemimpin CG, hidup yang diubahkan oleh Kristus merupakan kesaksian yang dapat memberkati banyak orang, dan bergabung dalam CG adalah langkah awal untuk belajar bersaksi tentang Yesus. (MS) 

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/876282/gms-tahuna-suarakan-kebenaran-dan-berdampak-bagi-dunia

  

Kamis, 08 Agustus 2024

Hidup Bagi Visi Tuhan; Level Tertinggi Hidup Manusia

 

Foto. Ilustrasi “ Seperti Anak Panah di tangan pahlawan “ (Mazmur 127 : 4). 

 KBRN, Tahuna: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda,” – Mazmur 127:4. Ayat ini bukan hanya diperuntukkan bagi anak muda, tetapi juga bagi jemaat dewasa, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Zefanya 3:17, bahwa Tuhan adalah pahlawan yang memberi kemenangan.

Mazmur 127:4 menjadi dasar khotbah ibadah raya jemaat GMS Tahuna dengan tema "Jemaat Berhati Gembala". Khotbah tersebut disampaikan oleh Gembala Gereja Mawar Sharon (GMS) Tahuna, dr. Jeffry Hamonangan Hinonaung, yang menekankan pentingnya peran setiap jemaat sebagai "anak panah" Tuhan.

Jeffry menguraikan tiga tahap penting dalam proses menjadi anak panah yang efektif: pertama, pembentukan oleh Tuhan untuk menggenapi tujuan-Nya; kedua, mempertajam karunia, talenta, dan kemampuan kita; dan ketiga, diarahkan oleh tangan Tuhan untuk mencapai sasaran yang tepat.

Menurut Jeffry, untuk menjadi anak panah yang tajam dan efektif, kita harus mengasah kemampuan dan kepekaan kita serta memperkuat diri dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan menjadi panduan untuk hidup yang benar dan menjauhkan kita dari kesalahan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Anak panah yang telah dibentuk, dipertajam, dan diarahkan harus siap diluncurkan oleh Tuhan. Jeffry mengingatkan bahwa proses penantian dan tantangan yang dihadapi hanyalah bagian dari persiapan untuk mencapai level yang lebih tinggi dalam rencana Tuhan yang lebih besar.

Menutup khotbahnya, dr. Jeffry menekankan bahwa level tertinggi dalam hidup adalah ketika kita memilih untuk hidup bagi visi Tuhan. Dengan melatih kita untuk berperang dan mengarahkan kita dengan tangan-Nya, Tuhan menjadikan kita alat untuk memuliakan-Nya dan membawa banyak jiwa kepada-Nya.(MS)

Link Berita :

https://rri.co.id/tahuna/daerah/881788/hidup-bagi-visi-tuhan-level-tertinggi-hidup-manusia

 


Nyaris Punah, Kini Kain Koffo Dapat Dinikmati Dunia

Foto ; Kain Tenun Koffo / Sumber foto; weblog cofoindonesia

 Kain etnik dengan bahan baku katun (kapas) atau kulit kayu memang bisa ditemukan di banyak tempat di Nusantara. Tapi kain dengan bahan baku serat batang pisang cuma ada di Kepulauan Sangihe. Namanya Kain Koffo.

Kain Koffo merupakan kain unik karena terbuat dari serat batang pisang, yaitu pisang abaka (Musa textilis). Pisang ini merupakan tumbuhan asli Filipina. Melihat lokasi Sangihe yang dekat dengan Filipina, tidak heran kalau pisang dengan nama lain pisang manila atau pisang serat ini banyak ditemukan di Sangihe.

Kalo dibandingkan dengan kapas, serat pisang abaka memiliki kekuatan yang lebih tinggi. Daya serapnya juga lebih baik. Sehingga tidak heran kalau masyarakat Sangihe sudah menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan baku pakaian sejak tahun 1500-an. Selain untuk membuat pakaian, serat pisang ini juga digunakan sebagai komponen rumah adat di Sangihe juga untuk membuat uang kertas.

Di masa lalu, Kain Koffo biasanya ditenun oleh putra dan putri Raja Sangihe - Talaud. Seiring perkembangan zaman, masyarakat biasa pun mulai menenun kain ini, sehingga Kain Koffo makin dikenal luas di Sangihe. Kain yang digunakan dalam ritual - ritual adat ini biasanya dijadikan sebagai penutup kepala pria, baju terusan, sarung (kahiwu), hingga selendang.

Sayangnya sekitar tahun 1800-an, kegiatan tenun ini mulai mengalami penurunan. Ini disebabkan pemerintah Kolonial Belanda melarang budidaya pisang abaka. Saat itu, Kolonial Belanda mengeluarkan perintah untuk menebang seluruh pisang abaka dan menggantikannya dengan tanaman kapas, kopi, dan tebu yang dianggap memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

padahal dahulunya kain tenun ini pernah menjadi primadona etnik sangihe untuk keperluan sehari - hari dan keagamaan bahkan diperjualbelikan didaerah sekitarnya. Kain koffo sendiri merupakan kain tradisional yang sarat akan makna filosofis didalamnya

Kain Kofo pertama kali dipresentasikan pada tahun 1927 oleh Kerajaan Tabukan di Istana Sultan Surakarta dan menerima Eradiploma dari Kolonial Belanda. Kain Kofo dari Sangihe (Provinsi Sulawesi Utara), secara resmi dinvatakan sebagai warisan non-material yang harus dilestarikan dan dilindungi, di antara 33 tekstil tradisional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017. 

Ragam Hias Tenun Koffo Sangihe dibentuk menurut contoh anyaman dan dengan menggunakan teknik tenun pewarna alami dari desa - desa setempat dan menghasilkan motif dekoratif berdasarkan bentuk serta simbol tradisional. Selain itu, bentuknya juga tidak hanya berupa sarung sebagai cinderamata khas daerah ini. Sebagai bentuk inovasi dan kreatifitas kain ini disulap menjadi berbagai benda mulai dari baju, scarf, pouch, hingga masker. 

Makna Filosofis Dalam Proses Pembuatan Kain Tenun Koffo


Foto ; Kain Tenun Koffo / Sumber; weblog cofoindonesia

Indonesia memiliki banyak kekayaan serta kearifan lokal. Seperti halnya dengan provinsi Sulawesi Utara yang terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya yang memanjakan lidah. Selain itu, Sulawesi Utara juga memiliki kain tradisional yang tak kalah menarik dari yang ada pada daerah lainnya di Indonesia. 
Sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, kain koffo bisa dibilang sebagai kain tradisional yang memiliki makna sangat sakral. Baik dalam proses pembuatannya, ragam hiasnya, alat – alat tenunnya, warna, bahkan dalam penggunaannya. Berikut adalah penjelasan terkait makna filosofi dibalik kain tenun koffo. 
Pertama adalah ; Makna dalam proses pembuatan kain Koffo. Selama proses berlangsungnya pembuatan kain koffo, para pengrajin biasanya menyanyikan lagu irama sasambo saling berbalasan yang mengandung makna untuk semua orang, agar selalu bekerja keras dan menjaga kerukunan serta saling membantu. 
Kedua adalah ; Makna dalam penggunaan kain koffo. Yaitu ritual adat, misalnya pada upacara kematian dan upacara keagamaan lainnya, dimana penggunaan koffo dipercaya akan meningkatkan kekhusyukan proses ritual tersebut. Maka tidaklah heran dalam ritual adat, kain koffo biasa dipakai dengan maksud penghayatan akan ritual dirasakan mendalam. 
Selanjutnya adalah penutup kepala atau paporong, yang memberikan batas pada kedudukan Masyarakat Sangihe, tergambarkan pada penggunaan dan bentuk paporong. Untuk laki – laki disebut paporong lingkaheng. Sementara untuk keturunan bangsawan disebut paporong kawawantuge
Makna lainnya pada penggunaan kain koffo adalah pengikat pinggang dalam bentuk popehe  yang biasa diikat pada pinggang pengantin pria, bermakna membangkitkan semangat dalam melaksanakan tugas atau-pun mengatasi rintangan. Ketiga adalah ; Makna dalam warna. Dimana masing – masing kain koffo memiliki maknanya sendiri. 
Beberapa warna khas yang sering digunakan Masyarakat Sangihe yaitu ; kuning (marlrihe) melambangkan kesucian dan keagungan, ungu (kamumu) melambangkan kesetiaan, merah (mahamu) melambangkan keberanian, putih (ledo) melambangkan kesucian, serta hijau (ido) melambangkan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. 
Keempat adalah ; Makna dalam ragam hias, dimana selalu berlatar belakang alam dan budaya Masyarakat sangihe. Ragam hias ini memunculkan berbagai corak yang masing – masing memiliki pemaknaannya sendiri. Seperti ; ragam hias isin kemboleng, artinya ; gigi hiu sebagai lambing kekuatan dan keberanian. 
Kemudian ragam hias kui yang tercipta dari bentuk alat pemintal ijuk pohon enau yang banyak tumbuh di daerah ini. Ragam hias nalangu anging, artinya ; empat mata angin tercipta dari bentuk mainan anak, terbuat dari daun kelapa yang berputar apabila di perhadapkan pada arah angin bertiup.  

Berikut adalah ragam hias niabe nalangu anging, artinya bintang tujuh bervariasi, dan Ragam hias dalombo artinya jala ikan. Terdapat juga ragam hias berbentuk kue tamo (kue adat), berbentuk perahu, dan  tagonggong (alat music Sangihe). Kain Koffo tidak hanya memiliki tampilan yang cantik, tetapi juga memiliki makna filosofi sangat mendalam terkait nilai kehidupan Masyarakat Sangihe.


Link Berita : 

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...