Jumat, 28 Oktober 2022

INDONESIA : BANGSA YANG MENOLAK BAHASA PENJAJAH

 

Ketika kita menjelajahi dunia, terutama kawasan Amerika Latin seperti Meksiko atau Venezuela, kita akan segera menyadari bahwa penduduk setempat berbicara dengan fasih dalam bahasa Spanyol. Hal ini bukanlah kebetulan, melainkan warisan langsung dari masa penjajahan Spanyol di wilayah tersebut. Begitu pula dengan negara-negara Afrika Utara seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko, yang hingga kini menggunakan bahasa Prancis—bahasa para penjajah mereka—sebagai bahasa resmi dalam pemerintahan, pendidikan, hingga kehidupan sehari-hari.

Namun, Indonesia memiliki kisah yang sangat berbeda. Setelah lebih dari tiga abad berada di bawah penjajahan Belanda, bangsa ini memilih jalan unik yang penuh dengan semangat kebangsaan. Alih-alih mengadopsi bahasa Belanda sebagai bahasa nasional seperti negara-negara lain yang menjadikan bahasa penjajahnya sebagai simbol modernitas, Indonesia dengan tegas menolak melakukannya. Bahasa Belanda yang sempat mendominasi sebagian kecil kalangan elit justru terlupakan dan tidak diwariskan secara luas.

Keberanian bangsa Indonesia untuk menentukan arah bahasanya sendiri telah terukir dalam sejarah melalui sebuah momen monumental. Pada tahun 1928, saat Kongres Pemuda II berlangsung, para pemuda Indonesia bersatu untuk menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan nasional. Dalam Sumpah Pemuda, mereka secara sadar memilih bahasa yang berasal dari akar budaya sendiri, yakni bahasa Melayu yang dimodifikasi, sebagai simbol identitas bersama.

Yang lebih menarik lagi, dalam momen tersebut, terdapat beberapa pemuda yang merasa malu karena hanya mampu berbicara dalam bahasa Belanda atau bahasa daerah masing-masing. Mereka bahkan meminta maaf kepada peserta lain karena keterbatasan tersebut. Namun, kejadian itu justru semakin mempertegas kebesaran hati dan semangat juang bangsa ini untuk memprioritaskan identitas asli mereka.

Keputusan ini bukanlah hal kecil. Ia mencerminkan keberanian bangsa Indonesia untuk menegaskan harga diri mereka sebagai bangsa merdeka yang tidak tunduk pada warisan penjajahan. Dengan menolak bahasa Belanda sebagai bahasa nasional, Indonesia tidak hanya menegaskan kebebasannya secara politik tetapi juga secara budaya dan intelektual. Ini adalah bukti nyata dari semangat kemandirian yang telah menjadi ciri khas bangsa ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...