Setiap tempat baik kampung maupun pusat pemerintahan
secara adat melalui kearifan lokal mempunyai sebutan dalam nomenklatur informal
yang berbeda. Demikian pula keunikan masyarakat Sangihe dimana para laluhur
dapat menciptakan penamaan bisa membedakan latar belakang baik historis maupun
langgam sosial yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penetapan nomenklatur
penamaan, diikat oleh hikmat sehingga kejelasan sampai penamaan itu
mempengaruhi tatanan hidup masyarakat turun-temurun.
Ketika daerah Sangihe dijajah oleh bangsa Belanda, sasaran utama dilumpuhkan oleh kaum penjajah adalah daya pikir orang Sangihe. Contoh yang jelas terhadap penghambatan daya pikir orang Sangihe adalah ketika mereka melakukan tradisi Pantun Sasambo. Meskipun tiga hari tiga malam hikmat menyanyikan sasambo tidak pupus. Untuk melumpuhkan hal itu, oleh kaum penjajah diisukan tradisi Sasambo diiringi Tagonggong adalah suatu tradisi penyembahan berhala. Maka lambat laun tradisi Tagonggong mulai dibatasi. Padahal kekuatan Suku Sangihe ada dalam tradisi memiliki konsep hikmah spiritualitas yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan dan alasan apapun. Hal tersebut membuka penemuan alasan penamaan serta latar belakang Negeri Tahuna, Tahuena atau Malahasa sebagaimana dituangkan dalam buku Sasahara karangan Pdt. Ambrosius Makasar,M.Th.
Kehadiran Tahuna menjadi suatu negeri tempat pemukiman sampai sekarang ini terjadi bukan secara kebetulan, tetapi mempunyai proses yang dimotivasi oleh kekuatan hikmat kearifan lokal. Tahuna rujukan dari kata Tahuena kepihakan dari seorang pemimpin kharismatik Raja Tatehe Woba bukan saja berjasa dapat memindahkan pusat kerajaan dari Negeri Kolongan ke Tahuna, tetapi Tatehe Woba dapat mengeringkan genangan air laut menjadi daratan tempat pemukiman yang hingga kini dikenal dengan Negeri Tahuna.
Menurut Alm.Paul Utje Pulu, Malahasa Tahuna yang sekarang ini dikenal
sebagai ibukota Kepulauan Sangihe, dahulu kala penduduknya tinggal dilembah - lembah
perbukitan karena Kota Tahuna ini masih berupa rawa dan pohon- pohon ditepi pantai
seperti mangrove dan sebagainya. Waktu Pemerintahan Raja Tatehe dengan kearifan
lokal sebagai seorang raja yang punya hikmat, punya karunia, punya kesaktian, ia
memukul daerah rawa - rawa dengan senjata ampuhnya dan rawa - rawa serta pohon -
pohon mangrove itu menjadi daratan yang kering, sehingga sangat ideal untuk
pemukiman. Sehingga Rajanya dinamakan Raja Tatehe, artinya yang mengeringkan
laut jadi sebuah daratan dan menjadi ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Karena itu Tahuena marujuk kepada Sang Raja yang memiliki hikmat sehingga secara bijak ia dapat mengupayakan tempat pemukiman yakni Tahuna. Peristiwa keringnya genangan air laut adalah simbol pemberian judul penamaan terhadap Raja Tahuna dari nama Ansa Awuwo menjadi Tatehe Woba. Tatehe Woba artinya pengering laut. Setelah negeri Tahuna menjadi daratan lambat laun Kerajaan dipindahkan dari Negeri Kolongan sekaligus Tatehe Woba menjadi raja menggantikan Raja Pontoralage. Tatehe Woba memerintah Tahun 1580 hingga 1625 karena itu Raja Tatehe Woba adalah seorang kharismatik sekaligus Raja hikmat Suku Sangihe. Dikisahkan bahwa orang yang hidup dan tinggal di Tahuna adalah orang yang bijak memiliki hikmat untuk terus memperjuangkan Tahuna menjadi tempat damai dan persatuan dapat dipelihara. Tahuena bijak memiliki akal sehat membangun Tahuna lebih baik dari hari kemarin.



.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar