Kamis, 22 September 2022

SAYONARA JEPANG : PERLAWANAN SENGIT JEPANG DI TARAKAN

Pulau Tarakan, sebuah wilayah kecil di timur laut Kalimantan, menyimpan kisah sejarah yang kaya dan kompleks tentang hubungan Indonesia dengan Jepang. Jejak kehadiran bangsa Jepang di pulau ini tak hanya tercatat dalam ingatan masyarakat, tetapi juga melalui berbagai peninggalan benda dan situs bersejarah yang masih bertahan hingga hari ini. Bagi para turis Jepang yang berkunjung ke Tarakan, situs-situs ini menjadi penghubung emosional dengan masa lalu.

Abd. Salam, SS., M.Hum, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Tarakan, memberikan penjelasan mendalam kepada tim dokumenter RRI Tarakan. Di hadapan Tugu Perabuan Jepang, ia mengungkapkan, “Tugu ini, berdasarkan inskripsi kanji yang tertera, didirikan pada 12 Desember 1933, jauh sebelum keberadaan militer Jepang di Tarakan pada tahun 1942.” Tugu ini bukan sekadar monumen peringatan bagi tentara Jepang yang gugur, melainkan juga lambang tradisi penghormatan terhadap leluhur oleh masyarakat Jepang yang pernah tinggal di Tarakan.

Kehadiran Awal Jepang di Tarakan

Sejak tahun 1930-an, Tarakan telah menjadi pusat administrasi yang strategis di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa itu, beberapa perusahaan Jepang mengajukan izin konsesi pertambangan di wilayah ini. Namun, permohonan mereka untuk mengeksploitasi sumber daya tambang ditolak oleh Belanda. Sebagai gantinya, mereka diberi izin untuk mengelola eksploitasi kayu. Dengan izin ini, sejumlah perusahaan Jepang mendirikan sawmill (penggergajian kayu) yang menghasilkan kayu bantalan berkualitas tinggi.

Dalam sensus tahun 1936, tercatat ada sekitar 10 kepala keluarga Jepang yang menetap di Tarakan, dengan total populasi sekitar 20 orang. Mereka tinggal di Tarakan bersama keluarga dan bekerja di sektor perkayuan. Kehidupan masyarakat Jepang di pulau ini berlangsung damai hingga memasuki era Perang Dunia II.

Tugu Perabuan Jepang: Simbol Tradisi dan Sejarah

Tugu Perabuan Jepang dibangun sebagai tempat untuk mengkremasi jenazah orang Jepang yang meninggal di Tarakan. Abu jenazah ditempatkan di tugu ini dalam upacara khusus. Tidak ada jasad yang dikuburkan di lokasi ini, sehingga tugu ini lebih berfungsi sebagai tempat penghormatan. Hingga kini, tempat ini masih sering digunakan oleh turis Jepang untuk bersembahyang dan mendoakan leluhur mereka.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian, pada tahun 2001 pemerintah Kota Tarakan memagari area tugu ini secara permanen. Selain menjadi objek wisata sejarah, Tugu Perabuan Jepang juga berfungsi sebagai media edukasi bagi generasi muda tentang hubungan Indonesia dan Jepang di masa lalu.

Jepang dan Eksploitasi Minyak di Tarakan

Sebelum Perang Dunia II, Jepang adalah salah satu konsumen utama minyak bumi Tarakan, yang saat itu dikelola oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Namun, kebutuhan Jepang akan minyak semakin meningkat pada tahun 1940. Permintaan Jepang untuk kuota minyak yang lebih besar ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini mendorong Jepang mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan minyaknya, termasuk melalui eksploitasi sumber daya alam di Tarakan.

Secara geografis, Tarakan memiliki posisi strategis sebagai jalur utama menuju Jepang dari wilayah selatan. Selain itu, keberadaan ladang minyak Tarakan menjadi salah satu alasan utama mengapa Jepang memfokuskan perhatian mereka pada wilayah ini.

Perang Dunia II: Tarakan dalam Cengkeraman Jepang

Pada Desember 1941, Letnan Kolonel Simon de Waal dari Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) ditugaskan untuk mempertahankan Tarakan dari serangan Jepang. Dengan pasukan yang terbatas, termasuk tiga kompi infanteri dan beberapa baterai artileri, de Waal berusaha melindungi pulau ini dari invasi Jepang.

Serangan Jepang dimulai dengan serangan udara pada 25 Desember 1941. Pada Januari 1942, pasukan Jepang yang dipimpin oleh Shizuo Sakaguchi mendarat di pantai timur Tarakan. Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, Jepang dengan mudah menguasai pulau ini. Pasukan KNIL yang tersisa ditangkap atau dibunuh, sementara instalasi minyak di Tarakan dihancurkan untuk mencegah Jepang menggunakannya.

Setelah berhasil menduduki Tarakan, Jepang memanfaatkan wilayah ini sebagai basis strategis untuk memperluas kekuasaan mereka di Asia Tenggara. Perekonomian Tarakan diubah untuk mendukung kebutuhan perang Jepang, dengan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alamnya.

Pelestarian Sejarah dan Budaya

Kini, situs-situs bersejarah di Tarakan, termasuk Tugu Perabuan Jepang, menjadi saksi bisu perjalanan panjang hubungan antara Jepang dan Indonesia. Pemerintah Kota Tarakan terus berupaya melestarikan peninggalan-peninggalan ini sebagai warisan budaya. Selain itu, lokasi-lokasi tersebut juga menjadi daya tarik wisata yang menarik wisatawan domestik maupun internasional.

Melalui berbagai inisiatif pelestarian, situs-situs ini tidak hanya menjadi pengingat masa lalu, tetapi juga simbol perdamaian dan rekonsiliasi antara dua bangsa. Sebagai bagian dari sejarah dunia, Tarakan memainkan peran penting dalam menghubungkan kisah perjuangan, eksploitasi, dan pertemuan budaya antara Jepang dan Indonesia.

Sejarah kehadiran Jepang di Tarakan adalah cerita tentang perjuangan, eksploitasi, dan warisan budaya yang bertahan hingga hari ini. Dengan melestarikan situs-situs bersejarah ini, kita tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga membuka pintu bagi generasi mendatang untuk memahami dan belajar dari sejarah tersebut. Tarakan adalah pengingat bahwa di balik setiap konflik, selalu ada peluang untuk memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang mendasari kehidupan manusia.

SAYONARA JEPANG : " PERLAWANAN SENGIT JEPANG DI TARAKAN "
https://youtu.be/24PQPhZusvo?si=KtLmJrGbFrVtdScV

 


Sabtu, 17 September 2022

TENUN IKAT NAN MEMIKAT

 

Mersiah Dua Moong adalah seorang perempuan tangguh yang berhasil menjadikan keahliannya dalam menenun sebagai simbol cinta terhadap tradisi dan identitas budaya. Ibu satu anak asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini telah lama menjadikan Kota Tarakan sebagai tempat berkarya, membawa warisan leluhur ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan alat tenun sederhana yang dibuat sendiri bersama suaminya, Mersiah terus menghasilkan kain tenun ikat yang tidak hanya memikat secara estetika, tetapi juga sarat akan makna budaya.

Awal Perjalanan Sang Penenun

Sebelas tahun telah berlalu sejak Mersiah mulai menekuni seni tenun sebagai kegiatan utama dalam kesehariannya. Keputusan itu diambil setelah ia memutuskan berhenti bekerja, mencari cara untuk mengisi waktu luangnya. Namun, yang dimulai sebagai aktivitas sederhana lambat laun berkembang menjadi pengabdian mendalam terhadap tradisi leluhur. Mersiah tak menghadapi banyak kendala di awal, karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kegiatan menenun, sebuah bakat yang diwarisi dari keluarganya di Maumere, NTT.

“Awalnya saya hanya ingin sibuk saja di rumah, tapi ternyata kegiatan ini menjadi sangat berarti,” kenangnya. Ia mulai dengan menenun untuk kebutuhan keluarga, seperti kain untuk pernikahan atau upacara pemakaman, tanpa pernah berpikir untuk menjual karyanya.

Di komunitas NTT, kain tenun adalah barang yang wajib dimiliki setiap keluarga. Oleh sebab itu, tak jarang setiap rumah di sana memiliki alat tenun sendiri. “Di tempat asal saya, kain ini sangat penting untuk berbagai acara adat. Jadi, menenun sudah menjadi bagian dari kehidupan kami sejak dulu,” ujar Mersiah.

Mersiah Dua Moong

Proses Panjang Penuh Ketelitian

Untuk menghasilkan selembar kain tenun ikat, Mersiah membutuhkan waktu hingga satu bulan. Proses ini dilakukan sepenuhnya secara manual, mulai dari pewarnaan benang hingga merangkainya menjadi kain. Setiap tahap pengerjaan membutuhkan kesabaran dan ketelitian luar biasa, karena sedikit saja kesalahan dapat mengubah pola dan motif kain. Hasilnya adalah kain dengan kualitas unggul yang tetap memegang teguh keaslian tradisional.

“Kadang kalau ada kesalahan kecil, harus diulang dari awal. Tapi saya tidak pernah menyerah, karena hasilnya akan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan,” kata Mersiah. Dalam proses menenun, ia dibantu oleh tantenya, sehingga dalam sebulan bisa menghasilkan dua kain tenun.

Inovasi Motif dan Pengakuan

Meski berasal dari Maumere, NTT, kecintaan Mersiah terhadap Tarakan mendorongnya untuk berinovasi. Ia mulai menciptakan motif tenun yang mencerminkan ciri khas Kota Tarakan. Salah satu motif hasil kreasinya adalah motif “Semandak,” sebuah motif unik yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal.

“Biasanya saya membuat motif khas NTT, tapi saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Motif Semandak ini cukup rumit, tapi saya merasa senang bisa menciptakannya,” jelasnya. Inovasi ini membuat nama Mersiah semakin dikenal sebagai pengrajin tenun ikat di Tarakan. Bahkan, kain-kain hasil karyanya telah dibeli oleh beberapa istri pejabat setempat.

Harapan dan Impian

Karya-karya Mersiah dijual dengan harga Rp1,2 juta per lembar untuk ukuran dua meter. Harga ini mencerminkan kualitas tinggi dan kerja keras yang dituangkan ke dalam setiap helai kain. Meski begitu, Mersiah memiliki impian yang lebih besar. Ia berharap suatu saat bisa memiliki rumah produksi sendiri, tempat di mana ia dapat lebih banyak menghasilkan karya dan memberdayakan masyarakat sekitar.

“Saya ingin pemerintah kota Tarakan memberi perhatian lebih pada usaha kecil seperti ini. Dengan dukungan yang tepat, saya yakin tenun ikat bisa menjadi ikon budaya sekaligus ekonomi di kota ini,” ungkapnya penuh harap.

Harmoni Budaya di Tarakan

Keberagaman etnis di Tarakan menjadi ladang subur bagi akulturasi budaya, termasuk dalam seni menenun. Kain tenun khas NTT yang dipadukan dengan motif khas Tidung menciptakan perpaduan budaya yang harmonis dan indah. Hal ini tidak hanya memperkaya identitas budaya kota, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Mersiah adalah salah satu contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat tetap relevan di era modern. Ia tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menciptakan jembatan budaya antara NTT dan Tarakan melalui setiap helai kain yang ia tenun. Dengan tangan terampil dan semangat tak pernah padam, ia terus menganyam cerita, tradisi, dan harapan dalam sehelai kain yang penuh makna.



Karya yang Menyentuh Banyak Orang

Selain menghasilkan kain untuk keperluan keluarga dan pesanan, Mersiah juga menggunakan tenun sebagai medium untuk bercerita. Setiap motif yang ia buat menggambarkan sejarah, kehidupan, dan harapan masyarakat di dua daerah yang berbeda, NTT dan Kalimantan Utara. Dengan cara ini, ia tidak hanya menjadi seorang penenun, tetapi juga seorang penjaga budaya yang melestarikan cerita-cerita lama agar tetap hidup.

“Setiap benang yang saya tenun adalah bagian dari diri saya. Saya ingin karya saya bercerita tentang keindahan dan keragaman budaya kita,” katanya dengan senyum bangga.

Masa Depan Tenun Ikat

Tenun ikat adalah bukti bahwa tradisi bisa menjadi aset berharga, baik dari segi budaya maupun ekonomi. Dengan dukungan yang tepat, usaha kecil seperti yang ditekuni Mersiah dapat berkembang lebih besar dan membawa dampak positif bagi masyarakat. Tenun ikat khas Tarakan dan NTT bisa menjadi salah satu ikon budaya yang mengangkat nama kota ini di tingkat nasional bahkan internasional.

Mersiah Dua Moong, dengan dedikasinya yang tulus, mengajarkan kita bahwa seni tradisional bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang identitas, hubungan antarmanusia, dan warisan yang harus dijaga. Kain-kain tenunnya adalah perwujudan dari semangat tersebut, sebuah pengingat bahwa di balik setiap motif yang indah, terdapat cerita yang penuh makna dan perjuangan.

Di tangan Mersiah, tenun ikat bukan sekadar kain. Ia adalah medium untuk menyatukan budaya, menginspirasi orang lain, dan memperkaya kehidupan. Dengan alat tenun sederhana, ia menganyam bukan hanya benang, tetapi juga harapan dan cita-cita yang menjangkau masa depan. Semoga kisah dan karya-karya Mersiah dapat terus menginspirasi banyak orang untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya kita.

Tenun Ikat Nan Memikat : https://youtu.be/BcbsSZE8lb8?si=NrDJnOxM369vZpsl

Senin, 12 September 2022

Sundeng : Jejak Spiritual Primitif Sangihe - Talaud

 


Sebelum kedatangan pengaruh agama-agama besar seperti Kristen dan Islam pada abad ke-16, masyarakat Sangihe Talaud hidup dalam suatu sistem kepercayaan yang disebut Sundeng. Kepercayaan ini merupakan bentuk penyembahan terhadap roh-roh leluhur dan kekuatan gaib yang diyakini menguasai alam semesta. Praktik ini mengajarkan pentingnya hubungan antara manusia dan kekuatan yang lebih tinggi, yang diwujudkan melalui berbagai ritual dan pengorbanan, termasuk pengorbanan manusia. Di dalam masyarakat Sangihe Talaud, kepercayaan ini telah ada sejak zaman purba dan bertahan selama berabad-abad, bahkan sampai era kolonialisme.

Leonardo Axsel Galatang, seorang budayawan dan dramawan asal Sangihe, mencatat pentingnya tradisi Sundeng dalam karyanya. Pada dekade 1980-an, Galatang menulis sebuah lakon berjudul Pangkunang, yang merupakan dramatisasi dari tradisi kepercayaan purba Sangihe Talaud, terutama dalam hal pengorbanan manusia. Lakon ini memberikan gambaran yang mendalam tentang bagaimana masyarakat Sangihe Talaud menjalankan ritus-ritus penyembahan mereka yang sarat dengan nilai spiritual dan budaya yang sangat erat kaitannya dengan alam dan kekuatan gaib.

Ritual Pengorbanan dan Penyembahan

Di dalam tradisi Sundeng, terdapat suatu upacara yang dikenal dengan nama Mepangkunang, yang merupakan inti dari penyembahan kepada roh dan kekuatan alam. Upacara ini dilakukan dengan cara membangun sebuah bangsal utama yang disebut sebagai altar Pangkunang. Di atas altar tersebut, terdapat tiang tempat mengikat seorang gadis perawan yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada penguasa alam yang mereka sebut Ghenggona. Penyembahan ini diyakini memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan roh-roh yang menguasai alam.

Para penganut Sundeng meyakini adanya kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan manusia biasa. Kekuatan ini diyakini berada di alam gaib dan berhubungan langsung dengan roh-roh yang menguasai langit, daratan, dan lautan. Dalam tradisi Sundeng, terdapat tiga kekuatan utama yang dikenal dengan nama Ghenggonalangi, Aditinggi, dan Mawendo. Ghenggonalangi adalah kekuatan yang diyakini menguasai seluruh bumi dan langit, Aditinggi menguasai wilayah perbukitan, sementara Mawendo menguasai lautan dan pesisir pantai.

Menurut pengamatan Zendeling Daniel Brilman, yang tiba di Sangihe pada tahun 1927, pada masa itu sangat sulit untuk memahami secara jelas kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Sangihe Talaud. Namun, dari hasil penelitiannya, Brilman mengungkapkan bahwa kepercayaan Sundeng ini erat kaitannya dengan pemahaman tentang kekuatan gaib yang ada di alam semesta. Dalam bukunya Onze zending velden De zending op de sangi-en Talaud – eilanden, Brilman menyebutkan bahwa kepercayaan Sundeng ini mirip dengan konsep Mana, sebuah istilah dalam bahasa Melanesia yang merujuk pada kekuatan sakti yang ada di seluruh alam.

Bagi masyarakat Sangihe Talaud, Mana ini bukan hanya sebuah konsep metafisik, tetapi juga merupakan kekuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kekuatan ini diyakini berada dalam segala hal di alam semesta, baik dalam manusia, binatang, tumbuhan, maupun fenomena alam lainnya yang dapat mendatangkan kebahagiaan atau bahkan bencana. Oleh karena itu, upacara pengorbanan dan penyembahan kepada kekuatan-kekuatan gaib ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.


Struktur Pemimpin Agama dan Ritual

Dalam menjalankan kegiatan spiritual mereka, para penganut Sundeng memiliki pemimpin agama yang disebut Ampuang. Ampuang adalah seorang figur yang sangat dihormati dalam masyarakat, karena ia dianggap sebagai perantara antara manusia dan kekuatan gaib. Ampuang dibantu oleh para Tatanging dan Bihing dalam melaksanakan berbagai ritus dan upacara. Proses pemilihan Ampuang dan posisi-posisi penting lainnya dalam komunitas Sundeng dilakukan melalui pemuridan atau bawihingang, yang mengajarkan ajaran-ajaran kepercayaan tersebut kepada generasi berikutnya.

Salah satu ritual yang paling penting dalam kepercayaan Sundeng adalah menala, yaitu memberikan persembahan kepada kekuatan gaib. Pada awalnya, persembahan ini berupa pengorbanan manusia, yaitu seorang gadis perawan yang diikat pada tiang altar untuk dikorbankan. Namun, seiring berjalannya waktu, korban manusia ini digantikan dengan hewan, seperti babi yang memiliki bulu putih. Di sekitar altar utama, juga dibangun bangsal-bangsal kecil untuk menyembah Ghenggona dari berbagai tempat yang berbeda.

Ritual Sundeng ini tidak dilaksanakan di sembarang tempat, melainkan hanya di pusat-pusat penyembahan yang disebut Penanaruang. Di Pulau Sangihe, beberapa tempat yang dikenal sebagai pusat penyembahan Sundeng adalah Manganitu, Pananaru, dan Mahumu. Di antara tempat-tempat tersebut, Pananaru dianggap sebagai pusat penyembahan terbesar.

Pada upacara menala, anggota komunitas duduk melingkar berdasarkan kedudukan dan peran mereka dalam ritual tersebut. Setelah korban yang telah dipersiapkan dengan seksama, petunjuk dari kekuatan alam diminta melalui doa dan mantra. Jika korban sudah disetujui oleh kekuatan gaib, maka ia akan disembelih dengan menggunakan senjata yang disebut kenang. Setelah korban meninggal, diyakini bahwa jiwa sang korban akan berpindah ke tempat lain, melewati prosesi budaya yang melibatkan tari lide, bunyi-bunyian dari alat musik tradisional oli, dan suara-suara dari Tagonggong dan Nanaungang yang menandakan bahwa ritual tersebut sedang berlangsung.

Pengaruh Agama Lain dan Akhir Kepercayaan Sundeng

Pada awal abad ke-20, ketika pengaruh agama Kristen dan Islam mulai masuk ke kepulauan Sangihe Talaud, banyak masyarakat yang beralih ke agama-agama tersebut, meninggalkan kepercayaan Sundeng yang dianggap sebagai agama primitif. Namun, meskipun agama-agama baru mulai mengakar, kepercayaan Sundeng tidak langsung punah. Berdasarkan catatan Brilman, pada tahun 1927 masih ada sebagian kecil masyarakat di Sangihe Talaud yang melaksanakan ritual Sundeng, meskipun dalam skala yang lebih kecil dan terbatas.

Pada tahun 1970-an, menurut Jolly Horonis, seorang penyair dan pemerhati budaya Sangihe, pemujaan Sundeng masih dilakukan di Pulau Siau. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rendy Saselah, yang mengatakan bahwa suara-suara Nanaungang masih terdengar hingga tahun 1970-an di Manganitu, menandakan bahwa ritual Sundeng masih berlangsung pada waktu itu.

Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan agama-agama baru dan pengaruh modernisasi, praktik-praktik keagamaan tradisional seperti Sundeng semakin berkurang dan hampir punah. Namun, kepercayaan Sundeng tetap meninggalkan jejak yang mendalam dalam budaya dan sejarah masyarakat Sangihe Talaud. Kepercayaan ini merupakan cermin dari cara pandang masyarakat Sangihe Talaud terhadap hubungan mereka dengan alam semesta dan kekuatan-kekuatan yang ada di dalamnya.

Sundeng adalah bagian penting dari sejarah kepercayaan masyarakat Sangihe - Talaud yang menggambarkan hubungan spiritual antara manusia dan kekuatan alam semesta yang lebih besar dari dirinya. Meskipun kepercayaan ini telah berkurang bahkan hampir punah setelah kedatangan agama-agama besar, jejak spiritual Sundeng masih dapat ditemukan dalam budaya dan tradisi masyarakat Sangihe - Talaud. Ritual-ritual pengorbanan dan penyembahan kepada roh-roh alam ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati dan menjaga keseimbangan dengan alam, sebuah nilai yang tetap relevan hingga saat ini.

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...