Mersiah Dua Moong adalah seorang perempuan tangguh yang berhasil menjadikan keahliannya dalam menenun sebagai simbol cinta terhadap tradisi dan identitas budaya. Ibu satu anak asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini telah lama menjadikan Kota Tarakan sebagai tempat berkarya, membawa warisan leluhur ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan alat tenun sederhana yang dibuat sendiri bersama suaminya, Mersiah terus menghasilkan kain tenun ikat yang tidak hanya memikat secara estetika, tetapi juga sarat akan makna budaya.
Awal Perjalanan Sang Penenun
Sebelas tahun telah berlalu sejak Mersiah mulai menekuni seni tenun sebagai kegiatan utama dalam kesehariannya. Keputusan itu diambil setelah ia memutuskan berhenti bekerja, mencari cara untuk mengisi waktu luangnya. Namun, yang dimulai sebagai aktivitas sederhana lambat laun berkembang menjadi pengabdian mendalam terhadap tradisi leluhur. Mersiah tak menghadapi banyak kendala di awal, karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kegiatan menenun, sebuah bakat yang diwarisi dari keluarganya di Maumere, NTT.
“Awalnya saya hanya ingin sibuk saja di rumah, tapi ternyata kegiatan ini menjadi sangat berarti,” kenangnya. Ia mulai dengan menenun untuk kebutuhan keluarga, seperti kain untuk pernikahan atau upacara pemakaman, tanpa pernah berpikir untuk menjual karyanya.
Di komunitas NTT, kain tenun adalah barang yang wajib dimiliki setiap keluarga. Oleh sebab itu, tak jarang setiap rumah di sana memiliki alat tenun sendiri. “Di tempat asal saya, kain ini sangat penting untuk berbagai acara adat. Jadi, menenun sudah menjadi bagian dari kehidupan kami sejak dulu,” ujar Mersiah.
![]() |
| Mersiah Dua Moong |
Proses Panjang Penuh Ketelitian
Untuk menghasilkan selembar kain tenun ikat, Mersiah membutuhkan waktu hingga satu bulan. Proses ini dilakukan sepenuhnya secara manual, mulai dari pewarnaan benang hingga merangkainya menjadi kain. Setiap tahap pengerjaan membutuhkan kesabaran dan ketelitian luar biasa, karena sedikit saja kesalahan dapat mengubah pola dan motif kain. Hasilnya adalah kain dengan kualitas unggul yang tetap memegang teguh keaslian tradisional.
“Kadang kalau ada kesalahan kecil, harus diulang dari awal. Tapi saya tidak pernah menyerah, karena hasilnya akan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan,” kata Mersiah. Dalam proses menenun, ia dibantu oleh tantenya, sehingga dalam sebulan bisa menghasilkan dua kain tenun.
Inovasi Motif dan Pengakuan
Meski berasal dari Maumere, NTT, kecintaan Mersiah terhadap Tarakan mendorongnya untuk berinovasi. Ia mulai menciptakan motif tenun yang mencerminkan ciri khas Kota Tarakan. Salah satu motif hasil kreasinya adalah motif “Semandak,” sebuah motif unik yang merepresentasikan kekayaan budaya lokal.
“Biasanya saya membuat motif khas NTT, tapi saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Motif Semandak ini cukup rumit, tapi saya merasa senang bisa menciptakannya,” jelasnya. Inovasi ini membuat nama Mersiah semakin dikenal sebagai pengrajin tenun ikat di Tarakan. Bahkan, kain-kain hasil karyanya telah dibeli oleh beberapa istri pejabat setempat.
Harapan dan Impian
Karya-karya Mersiah dijual dengan harga Rp1,2 juta per lembar untuk ukuran dua meter. Harga ini mencerminkan kualitas tinggi dan kerja keras yang dituangkan ke dalam setiap helai kain. Meski begitu, Mersiah memiliki impian yang lebih besar. Ia berharap suatu saat bisa memiliki rumah produksi sendiri, tempat di mana ia dapat lebih banyak menghasilkan karya dan memberdayakan masyarakat sekitar.
“Saya ingin pemerintah kota Tarakan memberi perhatian lebih pada usaha kecil seperti ini. Dengan dukungan yang tepat, saya yakin tenun ikat bisa menjadi ikon budaya sekaligus ekonomi di kota ini,” ungkapnya penuh harap.
Harmoni Budaya di Tarakan
Keberagaman etnis di Tarakan menjadi ladang subur bagi akulturasi budaya, termasuk dalam seni menenun. Kain tenun khas NTT yang dipadukan dengan motif khas Tidung menciptakan perpaduan budaya yang harmonis dan indah. Hal ini tidak hanya memperkaya identitas budaya kota, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Mersiah adalah salah satu contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat tetap relevan di era modern. Ia tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menciptakan jembatan budaya antara NTT dan Tarakan melalui setiap helai kain yang ia tenun. Dengan tangan terampil dan semangat tak pernah padam, ia terus menganyam cerita, tradisi, dan harapan dalam sehelai kain yang penuh makna.
Karya yang Menyentuh Banyak Orang
Selain menghasilkan kain untuk keperluan keluarga dan pesanan, Mersiah juga menggunakan tenun sebagai medium untuk bercerita. Setiap motif yang ia buat menggambarkan sejarah, kehidupan, dan harapan masyarakat di dua daerah yang berbeda, NTT dan Kalimantan Utara. Dengan cara ini, ia tidak hanya menjadi seorang penenun, tetapi juga seorang penjaga budaya yang melestarikan cerita-cerita lama agar tetap hidup.
“Setiap benang yang saya tenun adalah bagian dari diri saya. Saya ingin karya saya bercerita tentang keindahan dan keragaman budaya kita,” katanya dengan senyum bangga.
Masa Depan Tenun Ikat
Tenun ikat adalah bukti bahwa tradisi bisa menjadi aset berharga, baik dari segi budaya maupun ekonomi. Dengan dukungan yang tepat, usaha kecil seperti yang ditekuni Mersiah dapat berkembang lebih besar dan membawa dampak positif bagi masyarakat. Tenun ikat khas Tarakan dan NTT bisa menjadi salah satu ikon budaya yang mengangkat nama kota ini di tingkat nasional bahkan internasional.
Mersiah Dua Moong, dengan dedikasinya yang tulus, mengajarkan kita bahwa seni tradisional bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang identitas, hubungan antarmanusia, dan warisan yang harus dijaga. Kain-kain tenunnya adalah perwujudan dari semangat tersebut, sebuah pengingat bahwa di balik setiap motif yang indah, terdapat cerita yang penuh makna dan perjuangan.
Di tangan Mersiah, tenun ikat bukan sekadar kain. Ia adalah medium untuk menyatukan budaya, menginspirasi orang lain, dan memperkaya kehidupan. Dengan alat tenun sederhana, ia menganyam bukan hanya benang, tetapi juga harapan dan cita-cita yang menjangkau masa depan. Semoga kisah dan karya-karya Mersiah dapat terus menginspirasi banyak orang untuk menghargai dan melestarikan warisan budaya kita.
Tenun
Ikat Nan Memikat : https://youtu.be/BcbsSZE8lb8?si=NrDJnOxM369vZpsl








.jpeg)
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar