Jumat, 29 Juli 2022

KUE ADAT TAMO SIMBOL KEMAKMURAN WARGA SANGIHE

 


NILAI FILOSOFI PADA KUE TAMO

Kue Tamo adalah kue dodol berbentuk kerucut, diletakkan dalam baki di atas meja sajian makanan dalam berbagai acara. “Tamo” berasal dari kata Tamolo atau Tamonde yang artinya disanjung–sanjung. Tamo, pertama kali dikenal dalam satu pesta perkawinan putri seorang raja dikerajaan Tabukan Tua. Pesta perkawinan itu terjadi sesudah berdirinya Kerajaan Tampungang Lawo, 400 tahun silam atau sesudah keruntuhan Majapahit. Pada masa lalu Tamo memiliki dua spesifikasi dari bentuk dan kegunaannya, yaitu Tamo Boki berwarna putih dan Tamo Coklat seperti yang masih dibuat sampai saat ini.

Berdasarkan cerita lisan, perkawinan Mangulundagho dengan Bangsang peliang di Bongko lumenehe (Kampung dagho sekarang) tamo semacam makanan yang kemudian disebut Golopung. Kue Tamo yang menjulang di atas meja itu adalah Datung Kaeng artinya Raja Makanan, yang bermakna/memberi simbol persatuan dan kesatuan serta kekompakan inter/antar anggota masyarakat disegala lapisan. Itulah sebabnya, sehingga Kue Tamo juga disebut sebagai Kue adat. Tamo memiliki unsur utama yaitu badan tamo, ditambah asesoris pada badan tamo berupa udang (dimasa lalu) dibagian dasar diletakan bermacam–macam makanan khas sangihe.

Pada mulanya dibagian pucuk tamo diletakan telur yang melambangkan kehidupan baru (sesuai dengan cerita manusia mula-mula dalam cerita gumansalangi). Sesudah perang kemerdekaan maka symbol telur diganti dengan bendera negara merah putih. Namun pada tahun 2006 tidak lagi menggunakan bendera pada pucuk tetapi bunga atau telur. Dengan latar belakang sejarah, tamo merupakan makanan yang sangat berwibawa, sebab pertama dibuat dalam pernikahan atau perkawinan leluhur Sangihe, Mangulun Dagho serta Bangsang Peliang, yaitu pada abad ke 13 tahun 1311. Kedua, diberlakukan lagi oleh leluhur masyarakat Sangihe yaitu Makaampo pada tahun 1425 untuk versi Tabukan.

Tamo memiliki makna yang sangat ritual disamping pemaknaan tinggi yang terkandung dalam Tamo sebagai kue adat, mampu merampung dan mempersekutukan manusia pemerhati adat.  Pertama, tamo ini adalah kue adat yang mampu merampung, mempersekutukan orang–orang atau manusia pemerhati adat. Kedua, di dalam tamo ini ada pemaknaan yang sangat religi. Karena membuat Tamo ini harus di tempat yang strategis, ditempat aman, ditempat nyaman yang tidak bisa diganggu. Menurut kebiasaan, harus satu dua orang saja yang melakukan ini, yang membuat ini, jangan diganggu oleh orang lain. Karena ketika diganggu ini, pengolahan ini tidak bisa jadi. Karena menurut pemahaman tradisi dari para leluhur kita, bahwa penggangu–pengganggu dari ritualisasi pembuatan tamo ini adalah mahluk–mahluk halus. Sehingga pembuatan tamo ini harus benar–benar diyakinkan kepada seorang penguasa yaitu Genggona Langi’. Berikut, dari latar belakang sejarah, tamo ini adalah makanan yang sangat berwibawa, sebab pertama dibuat dalam pernikahan atau perkawinan leluhur kita, Mangulun Dagho serta Basa Peliang, yaitu pada abad ke 13 tahun 1311. Kedua, diberlakukan lagi oleh leluhur kita yaitu Makaampo yaitu pada tahun 1425, dan ini untuk versi Tabukan.


Resep tamo tua adalah campuran dari beras, umbi - umbian,gula, minyak kelapa, tetapi resep ini tidak bertahan lama karena mudah basi. Pada saat ini resep tamo terdiri dari beras, gula, dan minyak kelapa. Untuk membuat tamo harus melewati beberapa ketentuan adat diantaranya, orang yang akan memasak tidak sedang dalam keadaan bertengkar sebelum sampai ke dapur, tempat untuk meletakan kuwali harus menggunakan 3 batu sebagai tungku. Karena sakralnya kue ini sehingga minyak yang menetes dari cetakan tamo selalu disimpan sebagai minyak yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Pembuatan Tamo yang baik disetiap tempat, itu ada oknum atau keluarga dengan kerabatnya tertentu yang dari dulunya sudah menjadi juru pembuat kue Tamo. Adapun kalangan yang boleh berkesanggupan buat kue tamo ini  memang tidak semua masyarakat boleh mengadakannya. Ini dalam suatu persekutuan, dalam suatu kekerabatan, atau dalam satu kampung, apabila mengadakan suatu kenduri atau suatu acara syukuran, itu biasanya mereka membuat kue tamo.  Kecuali pada waktu dulu, para raja raja kerajaan kerajaan para jogugu itu setiap ada acara upacara, mereka membuat kue tamo. Sampai saat ini diketahui orang banyak, tetapi yang boleh membuat dan yang boleh melakukan itu adalah kalangan terbatas. Karena selain rumitnya pembuatannya, juga diperlukan biaya yang tidak sedikit. 

Ada dua versi tamo yang dikenal yaitu tamo banua dan tamo kawanua. Keduanya mengandung makna mendalam. Tamo Banua adalah dibuat dalam suatu upacara ritual dulu dalam kerajaan. Sehingga tamo itu Cuma satu, yaitu tamo yang mempersekutukan. Dari tingkat kerajaan itu, dan masyarakat adat. Misalnya, Tamo Banua selalu dilakukan pada setiap upacara tulude’. Kedua adalah Tamo Kawanua. Tamo Kawanua ini memiliki makna bahwa setiap upacara ritual yang sifatnya tradisi, itu boleh membuat tamo. Misalnya dalam meluncurkan perahu, naik rumah baru, panen, pernikahan.

Bagian terpenting dalam pembuatan tamo adalah ritual “memoto tamo” (memotong tamo). Sebelum memotong tamo, orang yang ditugaskan untuk memotong tamo harus menyampaikan sasalamate’ yang dinamakan sasalamate tamo. Isi dari sasalamate tamo adalah berkisah tentang tamo itu sendiri dan pesan atau nasehat tentang kebaikan kepada banyak orang. Sebagai sebuah makanan yang istimewa, maka dimasa lalu tamo harus dibungkus dan tidak terlihat.



Filosofi terpenting dari Tamo adalah Mengundang masyarakat banyak untuk datang dalam satu pertemuan. Masyarakat dari kalangan manapun boleh datang dalam satu hajatan atau acara syukuran tanpa diundang apabila didalam acara tersebut sudah terlihat Tamo.

Seiring perkembangan zaman masa kini, telah diupayakan pelestarian kue adat tradisional ini dalam muatan lokal disekolah–sekolah, agar keberadaan kue tamo tetap bertahan. Untuk generasi sekarang, di MULOK [muatan local] di sekolah sekolah sudah diajarkan bagaimana resep membuat tamo, bagaimana sastra pemotongan kue tamo ini, sehingga sudah banyak kali dilombakan. Malahan anak anak kecil dari SD, SMP itu sudah sangat pintar membawakan sastra menuwang tamo.

Tamo bukanlah status sosial tetapi pada akhirnya Tamo berubah kedudukan dan penggunaannya dalam acara atau syukuran. Dikemudian hari Tamo menjadi bagian sosial masyarakat. Hal ini terbukti dengan ditempatkannya Tamo pada acara-acara yang sangat khusus seperti acara diadakan oleh pimpinan daerah atau acara khusus seperti pesta pernikahan adat dan modern.


Begitu sakralnya kue adat Tamo sehingga terungkap satu pernyataan lain yang mengatakan bahwa kue adat Tamo harus dibungkus dengan penutup yang tidak tembus pandang, karena berdasarkan kebiasaan bahwa kue Tamo itu Laksana seorang wanita cantik yang sangat terhormat.

Tamo dalam pesta adat memperoleh penghormatan tertinggi , dinyatakan dalam bentuk antara lain Tamo memasuki ruang pesta terakhir setelah semua tamu termasuk para petinggi sudah hadir dan wajib berdiri sebagai penghormatan. Selanjutnya Tamo diusung dan diiringi satu barisan Adat yang terdiri dari unsur Bobato dan diletakkan di meja khusus depan tamu kehormatan. Wajarlah demikian mengingat secara filosof, Tamo bukan saja berlambang Persatuan dan Kesatuan, Keberhasilan dan Kesuksesan tetapi juga Tamo mengisyaratkan kriteria yang harus dimiliki oleh Pemimpin yang ideal.

Masyarakat Sangihe yang dahulu masih menyatu dengan Talaud mempercayai untuk memulai suatu pekerjaan seperti mendirikan rumah, menebang kayu, turun ke laut haruslah memperhatikan waktu dan cuaca sebagaimana diartikan pada hiasan – hiasan Tamo dan meskipun demikian sangat diyakini saat itu Genghona Langi diatas segalanya dan dapat menghindarkan bebagai jenis ancaman atau bahaya.

Pembuatan hingga pemotongan serta rasa Kue Adat Tamo, memiliki keunikan tersendiri. Anggapan dimana hadirnya roh – roh halus termasuk arwah nenek moyang, jika terjadi unsur kesengajaan dalam pemotongan Kue Tamo akan menimbulkan suasana tidak nyaman atau dikenal istilah Menengkule. Oleh karena itu selain kata – kata adat, pemotongan Tamo perlu adanya Mangenpaluhe dan Manangpuha menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. 

Kue Adat Tamo mengabadikan sejarah asal usul nenekmoyang Raja Tampunganglawo Medellu dan Mekila. Selain itu pula mengabadikan syarat yang berhasil ditempuh dengan kesaktian seroang Raja yang dilakukan dewata melaui Kondoati atau Sangiang kondah terhadap Gumansalangi yakni ujian Kemanuasiaan, Moral dan Kesaktian.


TULUDE' BENTENG KEKUATAN NKRI

 


Upacara adat Tulude terbentuk dari latar belakang kepercayaan para leluhur masyarakat Sangihe, dalam rangka membina kehidupan yang sehat-sejahtera dan berkesinambungan. Tulude identik dengan kata “Suhude”, artinya menolak bala atau mendorong  yang bermakna melepaskan tahun yang lalu dengan segala syukuran, tentang apa yang telah dialami dan dinikmati, serta mendoakan kehidupan yang akan dilanjutkan dan dijalani di tahun baru. Pelepasan dengan syukuran akan tahun yang telah silam serta doa berkat dan anugerah bagi tahun yang baru dan sedang dijalani itu, ditujukan kepada Genggonalangi, yaitu Tuhan yang Maha Kuasa dan bertahta di sorga, di atas segala langit. Tulude’ atau Menulude’, adalah sebuah perlakuan adat, yang artinya adalah upacara yang sifatnya ritual yaitu menata sesuatu atau membuat sesuatu menjadi baik.


Semasa Hidupnya, Alm. Gideon Makamea pernah menuturkan bahwa,” Tulude’ atau Menulude’ ini adalah sebuah perlakuan adat, yang artinya adalah upacara yang sifatnya ritual, yaitu menata sesuatu atau membuat sesuatu itu agar supaya jadi baik. Sehingga didalam perlakuan upacara Tulude’ ini, disana ada dua hal yang perlu menjadi sasaran pembinaan secara tradisi. Yaitu yang pertama adalah pembinaan mental–spiritual atau kebatinan–kerohanian. Berikut yang kedua adalah pembinaan fisik–material atau jasmani dari pada pelaku–pelaku adat dan masyarakat adat itu sendiri. Perubahan ataupun pergeseran itu tetap ada, tetapi adat–budaya harus tetap dipertahankan dari sisi nilai tradisionalnya. Karena dari sisi nilai tradisionalnya ini, banyak yang diwariskan. Hal–hal yang positif, yang harus dimaknai oleh temurun kita pada saat sekarang ini.

Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu. Apapun bentuk pelaksanaannya, hakikat dari Tulude itu sendiri tetap menjadi dasar bagi pelaksanaannya setiap tahun. Menurut Gideon Makamea, salah seorang tokoh adat Sangihe,  Perubahan ataupun pergeseran tetap ada,  tetapi adat–budaya harus dipertahankan dari sisi nilai tradisionalnya.


Sementara itu, salah satu tokoh adat Sangihe, Niklas Mehare menambahkan bahwa,” Adat selalu mengalami penyesuaian, tetapi nilai–nilai luhur daripada adat itu sendiri tidak pernah luntur, selalu relevan didalam perlakuannya. Adat itu tidak statis, tetapi dinamis tanpa meninggalkan nilai–nilai luhurnya daripada acara itu sendiri. Ada beberapa hal yang penting di dalam upacara Tulude’. Yang pertama, sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas penyertaanNya kepada kita setahun yang lalu. Jadi manusia itu, yang ada di kepulauan Sangihe ini, tetap merasakan sejak dulu bahwa hidup ini tetap dituntun, dipelihara oleh Sang Pencipta, pemelihara kehidupan, dalam hal ini adalah Genggona Langi’. Yang kedua adalah pengakuan atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh manusia pada setahun yang lalu atau yang telah silam. Mengapa? Karena kehidupan manusia di tempat ini, kedekatannya sangat luar biasa dengan alam. Jadi ketika ada sesuatu yang terjadi, umpamanya bencana alam maka pemahaman mereka, siapa lagi kalau bukan manusia yang berbuat salah. Jadi ketika dilakukan itu upacara adat Tulude’, maka disadari, dipahami bahwa karena usia manusialah terjadi sesuatu, sehingga pada tempatnyalah ada pengakuan dihadapan Tuhan sekaligus mohon ampun atas perbuatan yang sudah keliru. Yang ketiga, doa. Disamping pengakuan, harapan ada doa. Dimohon kepada Genggona Langi’, kiranya Tuhan akan melimpahkan berkatNya, rahmatNya kepada kehidupan kepada manusia, sehingga pada tahun yang dijalani ini, awal sampai akhirnya kiranya berkat Tuhan selalu melimpah.”

Adapun beberapa perlakuan dalam upacara adat Tulude ini yang paling utama adalah Kakumbaedê, Mêhiwu SaÍa, Menahulênding, lalu masuk pada yang akhir adalah Memoto’ Tamo. Kakumbaede tadi adalah pemaknaan terhadap sebuah adat atau terhadap sebuah budaya. Yang istilah sekarang kalau Kakumbaedê diterjemahkan secara adat adalah Nazam kiasan. Namun dalam pemahaman, Kakumbaedê ini sepertinya hubungan kebatinan dengan kerohanian adalah adat yang bersafaat. Lalu dalam tahapan Kakumbaedê sepertinya itu, pertama adalah Lahagotang, yaitu ungkapan isi hati. Kedua adalah Lahakane, kepasrahan. Yang ketiga adalah LaÍa’e, yaitu keyakinan secara batin, keyakinan secara rohani. Bahwa segala sesuatu ini adalah berdasarkan kuasa atau penciptaan Allah. Sehingga dalam segala sesuatu semuanya dari Genggona Langi’ Ruata Saluruang. Yang keempat adalah Lansuhe yaitu Harapan. Jadi sesuatu yang diharapkan dari rahmat Genggona Langi’. Yang terakhir adalah Akane, yaitu kesungguhan. Dengan sungguh–sungguh memberlakukan upacara tulude’ itu, bahwa itu sangat religi dan mempunyai dampak apabila dilalaikan.

Upacara adat Tulude’ bukan hanya sekedar seremonial atau pelaksanaan maupun digelarnya tanpa makna. Sesungguhnya pada Tulude’ terkandung nilai budaya yang sangat tinggi dan filosofis yang dalam, juga nilai–nilai adat istiadat yang mengikat. Wujud persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan, rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur dalam nilai–nilai agama yang ada, sebagaimana diungkapakan Niklas Mêharê, salah satu Tokoh Adat Masyarakat Sangihe. “ Nilai–nilai adat istiadat yang mengikat, wujud persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan, rasa tanggung jawab terhadap kelestarian alam yang disalur dalam nilai–nilai agama yang ada, itu nilai yang pertama. Yang kedua, menumbuhkan motivasi dan semangat gotong royong masyarakat, yang dapat dimanifestasikan dalam pelaksanaan tugas atau kerja dan tanggung jawab selama setahun ke depan.

Upacara adat Tulude’ suatu saat nanti, bukan tidak mungkin dapat hilang ditelan waktu apabila tidak dilanjutkan dan dilestarikan oleh generasi sekarang. Ini perlu diwariskan, karena dari sisi religinya ini memang mempunyai hubungan erat budaya dengan agama. Dalam sebuah anutan kepercayaan, sebab tulude ini bukan dimiliki saja oleh salah satu organisasi penganut sebuah agama, tetapi Tulude’ adalah budaya masyarakat tradisi Sangihe sehingga Tulude’, perlu dipertahankan.


Kamis, 28 Juli 2022

MASAMPER MATA RANTAI KEKELUARGAAN SANGIHE


Tradisi menyanyi masyarakat suku Sangihe Talaud telah ada jauh sebelum masuknya Agama Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Konon diwaktu yang lampau masyarakat suku Sangihe Talaud menganut Kepercayaan Aninisme maka peranan musik etnis primitf pada upacara pemujaan terhadap yang didewakan mendapat tempat utama dimana musik erat kaitannya dengan magic. Terkait dengan artikulasi bahasa Indonesia, balas atau baku balas telah menjadi ciri khas utama dari proses penyajian lagu – lagu etnis bahkan menjadi sebagian aktivitas seni vokal.

Sejak 1938 masyarakat suku Sangihe Talaud sudah gemar bernyanyi berbalas – balasan menggantikan nyanyian rakyat dahulu kala seperti Sasambo yang dilantumkan bebalasan dengan tema rohani dengan nyanyian sekuler yang kesemuanya menjadi bagian dari sub tema Lagu Masamper atau Mebawalase yang berkembang dewasa ini.

Pemerhati Budaya Sangihe, Martinus Makitulung menuturkan,” Masamper itu adalah kesenian Rakyat dari Kabupaten Sangihe yang sebelumnya disebut Mebawalase artinya berbalas – balasan lagu karena setelah perkembangan zaman maka masamper ini sudah merakyat sampai ke tingkat-tingkat anak sekolah dan masamper ini tidak juga dilombakan tapi juga ada di acara – acara perkawinan, acara keluarga dilaksanakan juga di acara pemakaman untuk penghiburan bagi keluarga berduka. Jadi masamper sudah merakyat dan kita Warga Sangihe, hampir semua kecamatan dan desa memiliki kelompok masamper digantikan dengan jenis – jenis lagu, ada lagu pertemuan.”


Lagu yang diangkat pada setiap pergantian tema sub tema statusnya bersifat dialog. Sementara lagu balasannya bersatus sebagai jawaban atau respon terhadap lagu awal. Disinilah terjadi proses komunikasi yang bersifat teater sedangkan gerakan tubuh dalam penyajian bukanlah gerakan yang distilir seperti gerakan tari namun dalam satu barisan yang rapi dan dalam nyanyian memiliki tempo serta tingkat kecepatan sebagai gerakan pengganti meterium atau birama. Jenis tema dan sub tema nyanyian masamper meliputi tema religius, sosial, cinta bangsa dan tanah air serta sastra daerah. Tema religius mengandung nilai ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam pujian rohani, kelahiran, kematian, kebangkitn, peperangan rohani, pengeluhan dan ratapan.

Selain itu pula kenangan bagi ayah bunda dan pujian pernikahan. Untuk tema sosial terkandung nilai kebersamaan, kegotong –royongan, moral dan etika yang mewarnai hubungan antar masyarakat berbangsa dan bernegara. Tema sosial ini sangat erat hubungannya dengan lagu pertemuan, perpisahan, budi baik dan rasa cinta antar dua insan laki-laki dan perempuan serta cinta terhadap tanah air yang menyangkut perjuangan, ketahanan nasional, dan pembangunan. Sedangkan untuk tema sastra digolongkan dalam tiga tingkatan yaitu bahasa halus yang digunakan kalangan kerajaan, bahasa pelaut atau sasahara sasalili yang berfungsi sebagai bahasa rahasia dalam alam dan bahasa biasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.


Teknik Mebawalase atau berbalasan yang menonjol pada Seni Budaya ini, dapat diklasifikasikan yaitu Tumole yang artinya mengikuti atau bergiriran, Metoka Mesomahe (bertentangan berlawanan), Menentiro (menegur dan menasehati),  Menoali yang artinya sindiran sedangkan Menangka (menyatakan kesalahan). Hampir disetiap kegiatan organisasi keagamaan dan perayaan-perayaan hari besar maupun ucapan syukur, hingga kini masamper menjadi pilhan utama mengisi berbagai kegiatan di Sangihe. Tentunya hal ini perlu mendapat perhatian Pemerintah agar Masamper tidak punah ditelan waktu atau bergeser dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Masamper merupakan salah satu kekayaan Budaya Sangihe yang perlu dihargai, dikembangkan dan dilestarikan dimana pada setiap pementasan memerlukan nalar, analisis agar dapat dimaknai maksud dari setiap isi yang disalurkan atau dinyanyikan.

LEGENDA BULUDE AWU [GUNUNG AWU]



Gunung Awu (Buludu Awu) di Pulau Sangihe

Peristiwa terjadinya Gunung Awu (Buludu Awu) di Pulau Sangihe tidak memiliki data akurat, namun menjadi cerita rakyat karena masih hidup dan diceritakan secara lisan dari mulut kemulut.

    Gunung Awu berada dibelakang atas pusat kota Tahuna dengan ketinggian 1.320 meter dari atas permukaan laut, atau lebih kurang dari 3.300 meter dari dasar laut sekitarnya, dan memiliki luas kurang lebih 135 km2, terletak di dua kecamatan yakni Kecamatan Tahuna Barat dan Kendahe. Sekalipun keberadaannya dianggap sebagai sesuatu yang kadang – kadang menjadi ancaman hidup manusia, tetapi dipihak lain merupakan salah satu “ keajaiban “ yang membanggakan di daerah Kepulauan Sangihe.

Kehadiran Gunung Awu menjadi symbol dari kesantunan masyarakat Sangihe yang memiliki serta menyimpan banyak kekayaan dan ada hubungannya dengan sumber hidup manusia. Karena itu, bila terjadi gesekan dalam kenyamanan masyarakat dengan hadirnya peristiwa musibah, bencana alam, semuanya mengarahkan pada pemahaman bahwa harus ada keseimbangan manusia dengan lingkungan dimana kehidupan ini berlangsung.

Sekitar akhir abad ke 14, hiduplah dua orang raksasa sebagai suami isteri. Raksasa Laki – laki tidak diketahui namanya, sedangkan yang perempuan bernama Bakeng. Untuk memenuhi kebutuhan hidup makan sehari – hari, mereka berkebun dan berburu manusia. Ketika ada manusia yang tertangkap, di bawa hidup – hidup kemudian dikurung di bawah kolong rumah, dipelihara sampai tiba waktunya untuk disembelih menjadi ikan mereka.

Di pedalaman Meti, wilayah Kerajaan Kendahe dahulu berdiam tiga bersaudara. Sulung bernama Manggaia, yang kedua bernama Panggelawang dan yang bungsu seorang wanita bernama Nangin Bulaeng. Pekerjaan Manggaia dan Panggelawang mencari nafkah setiap hari sedangkan adik perempuan mereka memasak dan menenun kain kofo untuk pakaian mereka bertiga.

Pada suatu hari Manggaia dan Panggelawang pergi mencari makanan sementara adiknya perempuan menyambung serat kain kofo untuk bahan tenunan. Tiba-tiba Nangin Bulaeng disergap oleh raksasa dan dibawanya untuk dimangsa. Beruntung, Nangin Bulaeng sebelum dibawa pergi oleh raksasa, sempat memegang ujung serat kofo yang sudah disambungnya tanpa sepengetahuan raksasa.

Bertepat dengan pulangnya Manggaia dan Panggelawang, keduanya menemukan ujung serat kofo diujung tangga, bergerak seiring dengan langkah raksasa yang memanggul Nangin Bulaeng. Melihat ujung benang yang bergerak seiring menjauhi tangga dan setelah menyadari bahwa adik bungsunya sudah tidaka ada ditempat biasa ia menenun. Keduanya sudah dapat menerka, siapa lagi yang membawa adiknya kalau bukan si Bakeng Raksasa yang ganas. Lalu mereka beristirahat sejenak sambil berpikir mencari siasat bagaimana caranya mendekati rumah raksasa dan membebaskan adiknya. 

Dengan kesaktian yang mereka miliki, berhasillah keduanya mendatangi rumah raksasa itu. Namun, baru saja keduanya memasuki pekarangan rumahnya, si raksasa Bakeng sudah dapat membauinya dan berkata : “O! kai pia darurung kalu tamata” (Oh! Ada bau manusia biasa). Belum sempat raksasa keluar dari rumahnya, dengan suara gamblang Panggelawang menyahut katanya : “I Kandua tahatuari kainakaringihe. Kuade I upungkai mangundanging nebaele kere eng kasariane. I kadini nanamahi sorong anung I upung metulung I upung, mani eng medalapuhang” (Kami berdua mendengar bahwa kakek sedang menghadapi pekerjaan yang besar, maka kami berdua datang untuk membantu, setidak-tidaknya kami bisa memasak makanan untuk kakek berdua) 

Dijawab oleh raksasa katanya : “Baiklah jika demikian. Marilah naik ke dalam rumah”. Tapi dijawab oleh panggelawang kembali katanya : “Biarlah kakek, kami berdua di dapur saja”. Keesokan harinya meskipun sebenarnya semalam suntuk keduanya tetap berjaga. Raksasa Bakeng turun dari rumah dan berkata : “Kami suami istri akan pergi dan tumbuklah padi yang tersimpan dalam bambu sedangkan untuk lauknya sembelilah salah seorang yang paling gemuk di dalam kandang.” Sesudah berkata demikian, pergilah kedua raksasa itu.

Setelah Manggaia dan Panggelawang menumbuk padi, pergilah Panggelawang ke kandang dimana terkurung manusia yang ditangkap oleh kedua raksasa itu. Melihat adik bungsunya yang berada dikandang, sesegeranya kandang yang kokoh itu dirombak oleh Panggelawang. Semua orang yang ada didalam kurungan segera dibebaskan dan mereka disuruh oleh Panggelawang untuk menunggu diujung jembatan kayu melintasi tebing yang sangat dalam yang dibangun kedua kakak beradik ini.

Adapun kedua raksasa ini mempunyai seorang anak perempuan bernama Batairo. Pekerjaannya hanyalah memerahkan kukunya dengan sejenis tumbuhan yang biji buahnya berwarna merah. Lalu naiklah Panggelawang ke rumah raksasa itu dan bersama Manggaia menyembelih Batairo. Badan Batairo diturunkan ke dapur sedangkan kepalanya disandarkan dekat jendela, supaya orang tuanya dapat melihat rambut anaknya terurai dari jendela. Tubuh Batairo lalu dicincang dan direbus dalam kuali yang amat besar. Lalu keduanya memasak lauk yang tidak lain adalah tubuh Batairo. Ada satu kelengahan yang dibuat oleh kedua kakak beradik ini, yakni turut memasukkan jari-jarinya dengan kuku yang berwarna merah.

Waktu matahari mulai condong ke barat, terdengarlah oleh keduanya kayu-kayu di hutan berderak-derak, pertanda kedua raksasa itu sedang dalam perjalanan kembali kerumahnya. Karena kedua raksasa sudah sangat lapar, maka mereka mengambil sendiri makanan dari dalam belanga dan lauknya dari kuali. Sementara kedua raksasa itu menikmati makan siangnya, tiba-tiba seekor burung Kalawo berbulu kuning hinggap diatas bubungan rumah si raksasa dan berkata : “Pirua i Bakeng nepulu ne pangsong kinumina ana’e, talimedong ana’e mahamu eng kalaruga” (Kasihan si Bakeng, ia menyantap anaknya sendiri, jari-jemarinya yang merah karena warna kayu karaluga). Tapi kedua raksasa itu tidak menghiraukannya. Keduanya terus menikmati makan siangnya. Manggaia dan Panggalawang semakin berhati-hati setelah mendengar teriakan burung. Keduanya lalu keluar dari dapur rumah raksasa dan duduk-duduk di atas batu dipekarangan. Bertepatan si raksasa Bakeng mengambil lauk dari kuali dan menemukan jari-jemari dengan kuku berwarnah merah. Ia berhenti makan dan naik ketempat anaknya sambil memanggil Batairo. Setelah sampai ditempat anaknya dan melihat anaknya sudah disembelih dan tinggal kepalanya yang tersandar disamping jendela, si Bakeng dengan istrinya melompat turun dari rumah dan mengejar kedua kakak beradik itu. Tapi Manggaia dan Panggelawang sudah lebih dahulu melarikan diri bagaikan anak panah yang melesat lepas dari busurnya.

Setibanya kedua kakak beradik itu diujung jembatan diseberang tebing, tibalah pula raksasa suami istri itu pada sisi tebing yang lain. Kedua raksasa itu tidak menyadari bahwa jembatan yang melintas tebing yang dalam itu sudah ditetak bagian bawahnya. Tepat kedua raksasa berada di bagian tengah jembatan maka patahlah kayunya dan ambruk pula jembatan itu bersama kedua raksasa ke dalam jurang yang menganga. Sebelum raksasa suami istri itu menghembuskan napasnya, Si Bakeng Berkata : “Lembah jurang tempat kami berdua jatuh akan menjadi mata gunung api. Daging kami menjadi belerang, darah dan mata hancur menjadi air danau, serta tulang-tulang kami tumbuh menjadi tpulau ditengah danau, yang kelak akan meletus mengeluarkan atau menyemburkan api, belerang, lahar dan abu menyelubungi pulau ini. Membinasakan kamu dan keturunan-mu turun temurun sepanjang hayat”. Tapi perkataan ini dijawab oleh Panggelawang katanya : “Jika kamu menjadi puncak gunung api yang membinasakan kami sampai keturunan kami, maka kami berdua akan bermukim di pihak masrik”.


Maka tamatlah riwayat si Bakeng Raksasa itu. Namun pesannya masih hidup sampai sekarang, yang tertuang dalam kearifan ungkapan leluhur Sangihe,” Mesulungu I Bakeng Kimina Anae”.  Ungkapan ini bisa ditujukan kepada orangtua yang terlalu keras perlakuannya dalam mendidik anak dengan perkataan ironis,” Kai Makoa I Bakeng Kai Kumina Anae! ”. Seperti Bakeng makan anaknya sendiri.

Akhirnya, tumbuhlah sebuah Gunung Awu dari tempat si Bakeng raksasa itu jatuh tenggelam. Berdasarkan ucapan si Bakeng raksasa itu, dibalas oleh Panggelawang dan Wanggaia, itu menjadi moral orang Sangihe… dimana setiap Gunung Awu meletus dengan menegeluarkan material berupa pecahan batu-batuan, abu dan awan panas, maka banyak orang di masa itu selalu memanggil nama Panggelawan dan Wanggaia untuk menolong. Sehingga bertiuplah angin timur dengan kencang, untuk mengalihkan awan panas, semburan batu dan abu yang membahayakan, beralih ke barat. Maka selamatlah orang – orang di bawah lereng Gunung Api Awu. 

Demikianlah kisah Legenda Gunung Api Menakanusa atau sekarang dikenal Gunung Awu, karena setiap meletus gunung ini banyak menyemburkan abu (awu) panas atau lahar, sehingga gunung menakanusa oleh orang - orang tua dahulu menyebutnya sebagai Gunung Awu.


Jumat, 22 Juli 2022

TANE' OLEN : THE GREEN CARPET OF UNIVERSE

 

Menjaga Harmoni Kehidupan di Desa Setulang

Desa Setulang, yang terletak di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana komunitas lokal berjuang menjaga lingkungan mereka. Desa ini tidak hanya dikenal sebagai permukiman yang penuh harapan, tetapi juga sebagai benteng kokoh pelestarian budaya dan alam. Proses panjang dan penuh tantangan telah ditempuh oleh masyarakat untuk menjadikan desa ini layak dihuni dan tetap selaras dengan alam sekitarnya. Sedikit demi sedikit, impian itu menjadi kenyataan.


Yang membuat Desa Setulang semakin istimewa adalah bagaimana masyarakatnya, terutama para leluhur, dengan tekun melestarikan tradisi dan warisan budaya. Seni tari, musik, dan keterampilan seperti menganyam rotan dan pandan diwariskan secara turun-temurun. Tak hanya itu, kehidupan masyarakat Desa Setulang juga erat kaitannya dengan sungai, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.


Namun, daya tarik utama desa ini terletak pada Tane’ Olen, sebuah kawasan hutan adat seluas lebih dari 5.000 hektare yang dihiasi pohon-pohon besar berumur ratusan tahun. Tane’ Olen, yang dalam bahasa setempat berarti "hutan terlarang," menjadi lambang dedikasi masyarakat Desa Setulang untuk menjaga keutuhan ekosistem alam mereka. Hutan ini sering diibaratkan sebagai "karpet hijau alam semesta" karena kemegahan dan keindahannya yang memikat.


Upaya Menjaga Hutan di Tengah Ancaman Modernisasi

Di tengah arus pembukaan lahan baru yang masif, masyarakat suku Uma’ Lung, sebagai penduduk mayoritas Desa Setulang, tetap teguh mempertahankan kelestarian Tane’ Olen. Mereka mengandalkan hutan ini sebagai sumber kehidupan sekaligus bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka. Jakson, Ketua Pengelola Tane’ Olen, menjelaskan bahwa masyarakat Desa Setulang sangat mencintai hutan mereka. "Hutan ini adalah hidup kita bersama. Kita tidak bisa memisahkan diri darinya," ujarnya.

Keberadaan Tane’ Olen bahkan telah diakui sebagai bagian dari Heart of Borneo, wilayah hutan tropis yang menjadi jantung kehidupan di Pulau Kalimantan. Kawasan ini dilindungi tidak hanya oleh hukum adat masyarakat setempat tetapi juga oleh kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan alam. Hutan adat ini memainkan peran krusial dalam melestarikan keanekaragaman hayati sekaligus menyediakan sumber daya yang penting bagi masyarakat.


Hukum Adat sebagai Pilar Pelestarian

Masyarakat suku Uma’ Lung memberlakukan aturan ketat dalam menjaga hutan adat mereka. Salah satu aturan adat yang paling menonjol adalah larangan menebang pohon sembarangan. Bahkan untuk menebang sebatang pohon pun, harus ada izin khusus dari tetua adat. Aturan ini telah membantu menjaga hutan tetap lestari hingga saat ini. Menurut Jakson, hal ini tidak hanya soal menjaga lingkungan tetapi juga memastikan generasi mendatang dapat mengenal dan menikmati kekayaan alam yang sama seperti yang mereka warisi dari para leluhur.


"Kalau kita kehilangan hutan, kita kehilangan segalanya," tambah Jakson. Ia mengilustrasikan bahwa hutan memberikan banyak manfaat, mulai dari kayu untuk bahan bangunan hingga hasil hutan non-kayu seperti damar dan madu. Tanpa hutan, masyarakat harus membeli bahan-bahan yang sebelumnya bisa mereka peroleh dengan mudah. "Hutan meminimalkan pengeluaran kita. Itu sebabnya kami sangat bergantung padanya," tegasnya.


Budaya dan Hutan: Harmoni yang Terjaga

Bagi masyarakat Desa Setulang, hutan tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian dari identitas budaya. Sebagai contoh, hutan adat Tane’ Olen sering menjadi inspirasi dalam seni dan tradisi lokal. Tari-tarian yang dilakukan oleh masyarakat, misalnya, sering kali menceritakan hubungan antara manusia dan alam. Demikian pula dengan musik tradisional yang mengiringinya, mencerminkan keharmonisan antara kehidupan manusia dan ekosistem.


Budaya menjaga hutan ini diwariskan secara turun-temurun, bahkan kepada anak-anak. Masyarakat Desa Setulang memastikan generasi muda memahami pentingnya mengenal jenis-jenis pohon dan tumbuhan di hutan. Dengan cara ini, pengetahuan tentang ekosistem tetap terpelihara dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. "Anak-anak di sini sudah tahu jenis-jenis pohon seperti meranti atau kapu sejak kecil," jelas Jakson.


Tane’ Olen sebagai Inspirasi Global

Hutan adat Tane’ Olen telah diakui sebagai model pelestarian alam berbasis kearifan lokal. Usaha masyarakat Desa Setulang dalam menjaga kelestarian hutan mereka bahkan mendapat pengakuan nasional melalui penghargaan Kalpataru. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan tradisional yang didasarkan pada kearifan lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan modernisasi.


Namun, tantangan tetap ada. Perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terjadi di sekitar Desa Setulang dapat memengaruhi keberlanjutan kearifan lokal ini. Misalnya, tekanan untuk membuka lahan baru atau eksploitasi sumber daya alam dapat menjadi ancaman bagi Tane’ Olen. Oleh karena itu, perlu ada kolaborasi antara masyarakat lokal, pemerintah, dan pihak lain untuk memastikan hutan ini tetap terjaga.



Harapan untuk Masa Depan

Jakson, sebagai Ketua Pengelola Hutan Desa Setulang, merasa optimis bahwa Tane’ Olen akan tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat. "Hutan ini bukan hanya untuk Desa Setulang, tetapi juga untuk Indonesia dan dunia," katanya. Ia berharap bahwa hutan ini dapat terus memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga sebagai sumber inspirasi global tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.


Hutan adat seperti Tane’ Olen membuktikan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu memerlukan teknologi canggih atau investasi besar. Kadang, solusinya justru terletak pada kebijaksanaan nenek moyang yang telah lama memahami bagaimana hidup berdampingan dengan alam. Bagi masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung, hutan adalah kehidupan. Mereka tidak hanya melihat hutan sebagai tempat untuk mencari nafkah tetapi juga sebagai warisan tak ternilai yang harus dijaga.


Hutan adalah Kehidupan

Hutan adat Tane’ Olen di Desa Setulang adalah simbol bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam. Melalui kearifan lokal, masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak hanya mungkin tetapi juga esensial untuk keberlanjutan kehidupan. Di tengah maraknya eksploitasi alam, Tane’ Olen berdiri sebagai pengingat bahwa hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik.










Jumat, 15 Juli 2022

BERTARUH NYAWA DEMI BISA SEKOLAH


Gambar Ilustrasi : Perjuangan Anak - anak Pedalaman “ Bertaruh Nyawa Demi Bisa Sekolah “

                                             Berlayar Menuju Cahaya Pendidikan

Mencari ilmu merupakan hak mendasar bagi setiap individu di negeri ini, termasuk anak-anak yang tumbuh di wilayah terpencil seperti Desa Setarap, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Kalimantan Utara. Meski pemerintah telah berupaya memperluas akses pendidikan hingga ke pelosok, kenyataan menunjukkan bahwa sejumlah hambatan masih membayangi, terutama dalam hal sarana pendukung. Di sudut negeri ini, anak-anak bertaruh nyawa demi menuntut ilmu, menunjukkan betapa besar tekad mereka untuk mencicipi masa depan yang lebih baik.

Perjuangan Menembus Rintangan Alam

Di pedalaman Kalimantan Utara, anak-anak menghadapi perjalanan berat menuju sekolah. Mengarungi sungai dengan ketinting—sejenis perahu kayu kecil—adalah rutinitas yang tak bisa dihindari. Meski tampak sederhana, perjalanan ini penuh risiko. Sungai yang mereka lalui sering kali tidak bersahabat, terutama saat cuaca buruk. Angin kencang dan arus deras kerap kali membuat perahu oleng, memunculkan kekhawatiran mendalam di hati para orang tua.

Jamie Luther, Kepala Desa Setarap, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca menjadi tantangan utama. Ketika hujan deras atau banjir melanda, sungai berubah menjadi ancaman yang nyata. “Kalau banjir, gelombangnya tinggi. Kami tidak berani melepaskan anak-anak pergi,” ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan. Namun, meski demikian, semangat belajar anak-anak tetap menyala. Mereka memahami bahwa pendidikan adalah jembatan menuju impian mereka.


Ketinting dan Tekad yang Mengarungi Sungai

Salah satu kisah perjuangan datang dari Zio Jalung, siswa SMA Negeri 15 di Punan Setarap. Setiap pagi, ia bersama teman-temannya menaiki ketinting, menyusuri sungai yang memisahkan Desa Setarap dan Desa Punan Setarap. Perjalanan ini, yang dilakukan hampir setiap hari, tak jarang membawa mereka berhadapan dengan maut. Namun, demi mendapatkan ilmu, mereka memilih untuk tetap melanjutkan.

Hujan yang turun di suatu pagi tak menyurutkan langkah Zio. Ia dan teman-temannya tetap memutuskan berangkat ke sekolah, meski arus sungai tampak lebih deras dari biasanya. Ketika tiba di sekolah, waktu sudah menunjukkan pukul 9.30—terlambat lebih dari satu jam dari jadwal masuk. Namun sayangnya, para guru yang juga menghadapi tantangan perjalanan serupa belum ada di tempat. Setelah menunggu selama 30 menit, mereka akhirnya memutuskan kembali ke rumah.

Menurut Zio, perjalanan dengan ketinting penuh dengan risiko. “Kadang - kadang perahu tenggelam atau rusak kalau cuacanya buruk,” katanya. Namun, ia tidak menyerah. Bagi Zio dan teman - temannya, pendidikan adalah pintu menuju masa depan, dan mereka rela menghadapi segala rintangan demi melewati pintu tersebut.


Harapan dan Realitas Infrastruktur

Kondisi jalan yang menghubungkan Desa Setarap dengan desa-desa lain juga menjadi hambatan besar. Jalan yang belum diaspal, berlumpur, dan sulit dilalui membuat perjalanan semakin menantang. Bahkan, untuk mencapai Kecamatan Malinau Selatan Hilir, diperlukan waktu dua jam dengan kendaraan bak terbuka yang harus melewati hutan lebat dan medan berat.


Sejak tahun 2012, Kepala Desa Setarap telah mengajukan pembangunan jembatan yang dapat menghubungkan Desa Setarap dan Desa Punan Setarap. Namun, hingga saat ini, permohonan tersebut belum terealisasi. “Kalau bisa, jembatan itu dibangun dengan rangka baja agar kokoh. Kalau tidak memungkinkan, setidaknya jembatan gantung yang bisa dilalui sepeda motor,” harap Jamie Luther.

Camat Malinau Selatan Hilir, Eka Setiawan, menambahkan bahwa pihaknya bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan Umum Malinau telah melakukan survei di kawasan tersebut. Dari hasil survei itu, muncul rencana pembangunan jembatan sepanjang 120 meter yang akan menghubungkan kedua desa.

Demi Pendidikan yang Setara

Sistem pendidikan nasional mengamanatkan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan, tanpa terkecuali. Dalam undang-undang tersebut, disebutkan bahwa warga negara yang tinggal di wilayah terpencil atau terbelakang harus memperoleh layanan pendidikan khusus. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjuangan masih panjang untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Malinau, Tomy Labo, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah mengusulkan pembangunan jembatan gantung sebagai solusi bagi Desa Setarap. “Tahun ini ada lima titik jembatan gantung yang akan dibangun di Malinau, dan salah satunya adalah jembatan Setarap-Punan Setarap,” katanya.

Namun, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Peran serta masyarakat dalam mendukung pendidikan juga sangat penting. Sebab, tanpa kerja sama yang baik, perjuangan anak-anak seperti Zio mungkin akan terus berlanjut tanpa ada solusi nyata.


Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan

Anak-anak dari pelosok seperti Zio adalah cerminan generasi muda Indonesia yang pantang menyerah. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang akan membawa perubahan bagi bangsa. Namun, jika akses pendidikan tetap menjadi hambatan, potensi mereka bisa terbuang sia-sia.

Di tengah segala keterbatasan, semangat anak - anak Desa Setarap untuk belajar adalah inspirasi bagi kita semua. Mereka menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Mereka terus melangkah, meski jalan yang mereka tempuh penuh dengan rintangan.


Mengatasi Tantangan dengan Solusi Bersama

Mewujudkan pendidikan yang merata membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan adalah langkah awal yang sangat penting. Selain itu, perlu ada perhatian khusus pada penyediaan guru yang tinggal di dekat lokasi sekolah, sehingga proses belajar mengajar tidak terganggu.

Masyarakat juga dapat berperan dengan memberikan dukungan moral dan material kepada anak - anak yang berjuang untuk sekolah. Program beasiswa, donasi buku, dan fasilitas pendukung lainnya dapat menjadi solusi jangka pendek untuk meringankan beban mereka.


Semangat yang Tak Pernah Padam

Meski penuh tantangan, semangat anak-anak Desa Setarap untuk bersekolah adalah bukti nyata bahwa pendidikan memiliki daya tarik yang luar biasa. Mereka memahami bahwa hanya melalui pendidikanlah mereka bisa mengubah nasib dan mencapai cita-cita.

Perjuangan ini bukan hanya milik mereka, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai sesama warga negara. Mari bersama-sama berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia, tanpa terkecuali. Karena pendidikan adalah hak, bukan kemewahan.

Kiprah Indonesia || Peduli Perbatasan & Kawasan Daerah 3t || Bertaruh Nyawa Demi Bisa Sekolah || https://youtu.be/aZBGig1NJD0?si=iNnZP_D2t_UGHgeG




TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...