Senin, 27 Mei 2019

Bahasa Tidung di Kalimantan Utara Terancam Punah

 

Baloy Adat Tidung

Bahasa Tidung, yang menjadi identitas kebanggaan suku Tidung di wilayah utara Kalimantan, kini berada di ambang kepunahan. Bahasa ini, yang pernah menjadi alat komunikasi utama di kota-kota seperti Tarakan, Nunukan, Malinau, Bulungan, hingga melintasi perbatasan ke wilayah Sabah di Malaysia, semakin tergerus oleh zaman. Masyarakat Tidung kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, sementara bahasa leluhur mereka semakin jarang terdengar di tengah percakapan.

Di kota Tarakan, misalnya, para pendatang dari berbagai suku seperti Jawa, Bugis, dan Banjar secara aktif mempertahankan bahasa ibu mereka masing-masing. Sebaliknya, bahasa Tidung perlahan-lahan tergeser dan kehilangan tempatnya di hati para penuturnya. Kondisi ini membuat banyak pihak merasa prihatin, termasuk penggiat budaya suku Tidung, Muhammad Arbain, yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan bahasa ini.

Muhammad Arbain,S.Pd.,M.Pd
Dosen muda, penulis buku dan penggiat Literasi Kaltara
(Ketua Satu Pena Kaltara)

Bahasa yang Terkikis di Kampung Halaman Sendiri

Arbain mencatat bahwa masyarakat Tidung mulai kehilangan kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa mereka sendiri, bahkan di antara sesama penutur asli. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, kerap menjadi pilihan utama, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di lingkungan sosial lainnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tarakan tetapi juga di daerah lain yang menjadi tempat tinggal utama suku Tidung.

Namun, ironisnya, di wilayah Sabah, Malaysia, bahasa Tidung justru masih hidup dan dipertahankan. Arbain menyebut bahwa orang-orang Tidung yang dahulu bermigrasi ke Sabah tetap melestarikan bahasa ibu mereka dan menggunakannya dalam keseharian. Hal ini mencerminkan bagaimana di tempat lain, identitas budaya Tidung tetap terpelihara, sementara di tanah kelahirannya sendiri, bahasa tersebut menghadapi ancaman kepunahan yang nyata.

Muhammad Arbain,S.Pd.,M.Pd
Narasumber Program Numpang Nampang di Pro2 RRI Tarakan

Upaya Penyelamatan: Harapan di Dunia Pendidikan

Untuk menjawab kekhawatiran ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan mengajukan langkah strategis: menjadikan bahasa Tidung sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, khususnya sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Usulan ini diharapkan dapat diterapkan pada tahun ajaran 2022-2023, meskipun membutuhkan persiapan yang matang sebelum dapat direalisasikan.

Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Jusuf Middu


Dinas Pendidikan Kota Tarakan menyambut baik usulan ini, meski dengan sejumlah catatan penting. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Budiono, menjelaskan bahwa untuk memasukkan bahasa Tidung ke dalam kurikulum, ada berbagai aspek yang harus dipertimbangkan, seperti ketersediaan tenaga pengajar, bahan ajar yang sesuai, dan konsultasi dengan tokoh adat suku Tidung. Semua ini perlu dipersiapkan dengan baik agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat yang maksimal bagi generasi muda.

"Bahasa Tidung akan diajarkan di tingkat SD dan SMP," ujar Budiono, "karena tingkat pendidikan ini adalah masa yang paling efektif untuk mengenalkan dan menanamkan pemahaman tentang bahasa dan budaya lokal." Harapannya, langkah ini dapat membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap bahasa Tidung, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Budiono

Penyebaran Bahasa Tidung di Kalimantan dan Sabah

Selain di Kalimantan Utara, bahasa Tidung juga dituturkan oleh masyarakat di beberapa wilayah lain, seperti Berau dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Bahasa ini memiliki beberapa variasi dialek, yang dikenal sebagai "Tideng" atau "Tidong," tergantung pada daerah penuturnya. Meski terdapat perbedaan dalam pengucapan dan beberapa istilah, inti dari bahasa ini tetap sama, yaitu mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat Tidung yang kaya akan sejarah.

Menurut Monografi Kabupaten Bulungan, suku Tidung berasal dari kawasan pegunungan di Manjelutung, yang kemudian bermigrasi ke wilayah pesisir. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa suku ini memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Dayak Murut yang tinggal di Sabah. Hubungan ini menunjukkan adanya keterkaitan historis yang erat antara masyarakat Tidung di kedua sisi perbatasan, sekaligus menambah alasan mengapa bahasa ini penting untuk dilestarikan.

Penggiat budaya Tidung, Muhammad Arbain

Reporter : Andrey Dwi Riantha 

Tantangan dan Langkah Nyata

Melestarikan bahasa Tidung bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat Tidung sendiri, agar mereka kembali bangga menggunakan bahasa ibu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga tokoh adat dan masyarakat, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa upaya pelestarian ini berjalan efektif.

Salah satu tantangan lainnya adalah bagaimana membuat generasi muda tertarik untuk mempelajari dan menggunakan bahasa Tidung. Dalam dunia yang semakin modern dan didominasi oleh teknologi, bahasa daerah seringkali dianggap kurang relevan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang kreatif, seperti mengintegrasikan teknologi dan media sosial dalam pembelajaran bahasa Tidung. Misalnya, membuat konten digital dalam bahasa Tidung atau mengadakan lomba-lomba kreatif berbasis budaya lokal.

Survey pengenalan Bahasa Tidung pada para pelajar di Kota Tarakan

Kameramen : Hery Susanto, Reporter : Virgo Eddie

Melestarikan Identitas Lewat Bahasa

Bahasa adalah cermin dari identitas sebuah komunitas. Ketika sebuah bahasa punah, yang hilang bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga cara berpikir, tradisi, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Bahasa Tidung bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga bagian dari sejarah panjang suku Tidung yang telah bertahan di tengah berbagai perubahan zaman.

Melalui langkah-langkah strategis seperti pengintegrasian dalam kurikulum pendidikan, promosi budaya melalui media, dan peningkatan kesadaran masyarakat, ada harapan bahwa bahasa Tidung dapat diselamatkan dari kepunahan. Upaya ini membutuhkan komitmen bersama, baik dari masyarakat Tidung sendiri maupun dari pihak-pihak lain yang peduli terhadap pelestarian budaya.

Bahasa Tidung adalah warisan yang tak ternilai harganya. Ia menyimpan cerita tentang masa lalu, identitas, dan kebanggaan suatu bangsa. Jangan biarkan bahasa ini hanya menjadi catatan sejarah. Saatnya bagi kita semua, terutama masyarakat Tidung, untuk bangkit dan memastikan bahwa bahasa ini tetap hidup di tengah tantangan zaman.

Gambar pakaian adat suku Tidung pada uang kertas Rp. 75 ribu, yang diterbitkan tahun 2020 lalu untuk memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke - 75, pernah disalah pahami sebagai pakaian adat Tionghoa dan oleh pengkritik di media sosial gambar itu dihebohkan sebagai bukti bahwa Cina sudah menguasai Indonesia.

Ilustrasi anak menggunakan pakaian adat Suku Tidung, Kalimantan Utara


Obrolan Budaya || Rri Tarakan || Bahasa Daerah Tidung Terancam Punah || 27 Mei 2019 II https://Youtu.Be/G8fq9v_Yh3y?Si=Zntmwsc3gd8qyvyt





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...