Kyu Sakamoto, lahir dengan nama asli Hisashi Oshima pada 10 Desember 1941, adalah seorang penyanyi dan aktor Jepang yang dikenal luas karena lagu terkenalnya, Ue o Muite Arukō atau yang lebih dikenal di dunia internasional dengan judul Sukiyaki. Ia menjadi salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah Jepang, menduduki peringkat ke-18 dalam daftar 100 musisi Jepang paling berpengaruh menurut HMV Japan.
Masa Kecil dan Perjalanan Menuju Karier Musik
Sakamoto lahir di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara. Nama pemberiannya, Kyu (九), berarti "sembilan", melambangkan posisinya dalam keluarga. Kedua orang tuanya, Hiroshi Sakamoto dan Iku Sakamoto, bekerja di sebuah restoran untuk menghidupi keluarga mereka.
Sejak masa remaja, Sakamoto telah menunjukkan minat besar dalam dunia musik. Saat masih bersekolah di SMA, ia mulai menyanyi dan segera mendapatkan popularitas di klub-klub lokal. Pada tahun 1958, ia bergabung dengan grup musik pop Jepang The Drifters sebagai penyanyi. Karier musiknya semakin berkembang ketika ia menandatangani kontrak dengan Toshiba pada tahun 1959 dan merilis rekaman pertamanya setahun kemudian.
Kesuksesan Besar dengan Ue o Muite Arukō (Sukiyaki)
Puncak karier Sakamoto datang dengan perilisan lagunya yang paling terkenal, Ue o Muite Arukō, sebuah lagu tentang seorang pria yang berusaha menahan air matanya. Lagu ini diciptakan oleh pianis Hachidai Nakamura dengan lirik yang ditulis oleh Rokusuke Ei, yang terinspirasi dari kisah patah hati akibat hubungannya dengan aktris Meiko Nakamura.
![]() |
| Hachidai Nakamura |
![]() |
| Meiko Nakamura |
![]() |
| Rokusuke Ei |
Lagu ini menjadi hit besar di Jepang, terjual lebih dari 500.000 kopi. Kesuksesan ini menarik perhatian Louis Benjamin, kepala Pye Records di Inggris, yang membawa lagu tersebut ke negaranya. Ia kemudian meminta grup jazz Kenny Ball & The Jazzmen untuk meng-cover lagu ini dengan judul Sukiyaki, dinamai sesuai dengan makanan Jepang favoritnya.
![]() |
| Kyu Sakamoto and Yukiko Kashiwagi, Married 1971 |
Di Amerika Serikat, lagu ini mulai diputar di stasiun radio KORD di Washington oleh DJ Richard Osbourne. Popularitasnya meningkat pesat, hingga Capitol Records memutuskan untuk merilis versi asli Sakamoto dengan tetap menggunakan judul Sukiyaki. Hasilnya luar biasa—lagu ini mencapai peringkat #1 di Billboard Hot 100 selama tiga minggu dan terjual lebih dari satu juta kopi di AS.
Di negara-negara lain, termasuk Inggris dan Jerman, lagu ini juga menjadi hit besar. Bahkan hingga saat ini, Sukiyaki tetap menjadi salah satu lagu Jepang paling dikenal secara global.
![]() |
| Kyu Sakamoto, Yukiko Kashiwagi, Serta kedua putri mereka (Hanako dan Maiko) |
Pengaruh dan Warisan Musik Kyu Sakamoto
Keberhasilan Sukiyaki memicu berbagai versi rekaman oleh artis lain dalam berbagai genre, termasuk R&B, reggae, Latin, dan jazz. Beberapa musisi terkenal seperti Bob Dylan bahkan pernah menyanyikan lagu ini dalam konser mereka di Jepang.
Pada tahun 1981, duo soul Amerika A Taste of Honey mengaransemen ulang lagu ini dan berhasil masuk tangga lagu Billboard selama 24 minggu, mencapai posisi #3. Versi lain yang sukses adalah dari grup vokal 4PM pada tahun 1995 yang menempati posisi #8 di tangga lagu. Selain itu, penyanyi Latin terkenal, Selena, juga pernah merekam versinya sendiri.
Sakamoto sendiri terus berkarya dan melakukan tur dunia pada tahun 1963 hingga awal 1964. Ia tampil di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Swedia. Saat mengunjungi AS, ia sempat diundang ke acara The Tonight Show yang dipandu oleh Steve Allen, meskipun penampilannya di The Ed Sullivan Show harus dibatalkan karena ia sedang sibuk dengan proyek filmnya, Kyu-chan no Katana wo Uite.
Di luar dunia hiburan, Sakamoto juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia banyak bekerja untuk anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas di Jepang. Salah satu lagunya, Ashita Ga Aru Sa, bahkan menjadi lagu tema utama untuk Olimpiade Paralimpik Tokyo 1964.
Tragedi Kecelakaan Pesawat dan Akhir Hidupnya
Sayangnya, perjalanan hidup Kyu Sakamoto berakhir secara tragis. Pada 12 Agustus 1985, ia menjadi salah satu dari 520 korban dalam kecelakaan penerbangan Japan Airlines Flight 123. Pesawat Boeing 747 yang ia tumpangi mengalami kegagalan teknis pada bagian ekornya dan kehilangan kendali selama sekitar 30 menit sebelum akhirnya jatuh di pegunungan sekitar 60 mil di barat laut Tokyo.
Dalam momen - momen terakhirnya, Sakamoto sempat menulis surat perpisahan kepada istrinya, Yukiko Kashiwagi, yang dinikahinya sejak 1971. Mereka memiliki dua putri, Hanako dan Maiko.
Tragedi ini menjadi kecelakaan pesawat tunggal paling mematikan dalam sejarah Jepang dan salah satu yang terburuk dalam sejarah penerbangan dunia.
Warisan Abadi Kyu Sakamoto
Meskipun suaranya telah tiada, lagu-lagu Kyu Sakamoto terus hidup dan dicintai oleh banyak generasi, baik di Jepang maupun di seluruh dunia. Hingga saat ini, Sukiyaki tetap menjadi simbol dari keindahan musik Jepang yang mampu menembus batas budaya dan bahasa.
Jika Anda ingin mengenang Kyu Sakamoto, ada banyak rekaman video dan dokumentasi tentangnya yang dapat ditemukan, termasuk film Machikado no Uta (Kyu-chan’s Big Dream, 1967), yang menampilkan perjalanan dan impiannya sebagai seorang musisi.
Kyu Sakamoto mungkin telah tiada, tetapi warisan musiknya akan terus menginspirasi dan menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia.
KYU SAKAMOTO MEMORIAL MUSEUM
![]() |
| Kyu Sakamoto Memorial Museum |





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar