Sabtu, 29 November 2025

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

 


Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyarakat di Kampung Para Lele, Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Sangihe.  

Secara singkat, rangkaian kegiatan ini meliputi:

Tujuan: Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang melimpah, sekaligus permohonan keselamatan dan keberuntungan bagi para nelayan. Upacara ini juga menanamkan nilai-nilai persaudaraan dan kearifan lokal tentang menjaga kelestarian ekosistem laut.  

Waktu Pelaksanaan: Seke Maneke biasanya digelar satu kali dalam setahun pada waktu tertentu yang disepakati bersama oleh tokoh adat dan masyarakat setempat, seringkali bertepatan dengan puncak surut air laut atau akhir dari masa eha (masa larangan penangkapan ikan di wilayah adat tertentu). 

Alat dan Prosesi: Prosesi utamanya adalah kegiatan menggiring ikan dari tengah laut menuju tepian pantai menggunakan alat tradisional yang disebut "Seke", yaitu jaring yang terbuat dari bahan alami seperti akar kayu dan janur atau daun kelapa yang disimpul. Masyarakat secara bergotong royong terlibat dalam prosesi ini. 

Filosofi: Yang unik dari tradisi ini adalah ribuan ikan seolah terpikat dan secara alami mengikuti jaring ke arah pantai, menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Masyarakat percaya bahwa jika tradisi dan aturan adat ditaati, hasil tangkapan akan melimpah, namun jika tidak, hasil yang didapat bisa sedikit, menunjukkan makna spiritual yang kuat di baliknya.  

Seke Maneke, sebuah tradisi megah menggiring ikan dari laut ke darat dengan alat tradisional warisan nenek moyang. Tradisi ini melibatkan penangkapan ikan. Secara tradisional menggunakan alat yang disebut seke yang terbuat dari bambu, kayu nibu, rotan, budaya, kearifan lokal, gotong royong, dan pelestarian lingkungan skemaneke adalah simbol harmonisasi antara manusia dan laut.

Tradisi ini melibatkan kerja sama dan gotong royong seluruh masyarakat dalam mempersiapkan alat menangkap ikan dan membagikan hasil tangkapan. Dengan anyaman bambu, sorak komando, dan gerakan terkoordinasi, masyarakat setempat menggiring kawanan ikan menuju pantai.

Seke maneke dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah dan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan antar warga dan cinta pada alam laut. Tradisi ini juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bawah laut. Karena alat seke tergolong ramah lingkungan.

Seke Maneke adalah warisan budaya yang perlu dilestarikan sebagai identitas dan kearifan lokal masyarakat Sangihe. 

Pada intinya, Seke Maneke bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan sebuah perayaan budaya yang sarat makna spiritual, sosial (gotong royong), dan ekologis (konservasi alam). 


Kata Kunci : 

 

#prosesisekemaneke

#budayatangkapikan

#desawisata

#paralele

#sekemaneke

#rritahunavlog

#exploreparalele

#exploresangihe

#universitasterbuka

#mkpenulisankontenmediabaru

 

Link :


https://youtu.be/YI9jxbItr74?si=b279bVmMkLKvN2mg

VLOG EXPLORE PARA ISLAND - ECHOES OF 

SEKE MANEKE

 

https://youtu.be/QjkMfd7N9nY?si=_GYccTQKDhJOseNe 

RRI VLOG EXPLORE PARA ISLAND 

 





 

Sabtu, 08 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Hardnews

 

KARNAVAL BUDAYA RAMAIKAN PEMBUKAAN FSBS 2025

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   8 Nov 2025 -  07:30  Tahuna


II Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari membuka Festival Seni Budaya Sangihe (FSBS) tahun 2025, Jumat (07/11/2025) di Pendopo Rudis Bupati Sangihe / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe) 

KBRN, Tahuna;  Festival Budaya Sangihe (FBS) 2025 resmi digelar pada Jumat, 7 November 2025, dengan pembukaan yang berlangsung meriah di Boulevard Pelabuhan Tua, Tahuna. Event tahunan ini diawali dengan karnaval budaya yang mengambil start dari Lapangan Gelora Santiago, Rumah Jabatan Bupati.

Karnaval dilepas langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, SE., MM, yang juga turut berjalan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

FBS 2025 dijadwalkan berlangsung selama 7–15 November 2025, menghadirkan rangkaian kegiatan seni seperti pentas budaya, musik bambu, lomba masamper, hadrah, pameran seni–fotografi, hingga pesta rakyat.

 II Karnaval Budaya, start dari Lapangan Gelora Santiago, Rumah Jabatan Bupati,
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe)

Dalam sambutannya, Bupati Thungari menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

“Kegiatan hari ini bukan sekadar hiburan, tetapi upaya mempertahankan dan menghidupkan budaya daerah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya transformasi budaya ke ruang digital tanpa menghilangkan akar tradisinya.

 II Karnaval Budaya, menuju ke arah Boulevard Pelabuhan Tua, Pusat Kota Tahuna,
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe)

“Digitalisasi bukan untuk meninggalkan budaya, tetapi menjadi jembatan agar budaya kita dikenal lebih luas. Tarian, musik, hingga ritual adat kini bisa dinikmati dunia melalui platform digital,” tambahnya. 

Menurut bupati, FBS 2025 menjadi momentum membangkitkan kesadaran generasi muda agar bangga dan aktif melestarikan identitas budaya Sangihe.

Dengan perpaduan seni tradisional, teknologi, dan partisipasi masyarakat, festival ini tidak hanya menampilkan keindahan budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas warga kepulauan di ujung utara Indonesia.(MS)

 

Kata Kunci:

Karnaval Budaya Sangihe, FBS 2025, Tahuna, Pelestarian Budaya 

Jumat, 07 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Edukasi

 

GENERASI MUDA SANGIHE JADI GARDA TERDEPAN

PELESTARIAN BUDAYA

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   7 Nov 2025 -  12:00  Tahuna

Upaya pelestarian budaya Sangihe kini digerakkan sejak usia dini melalui dunia pendidikan. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap identitas budaya daerah.

II Sekretaris Panitia Festival Seni Budaya Sangihe 2025, Julien Manangkalangi, S.
(Narasumber Di program TahunaPagi Ini, Pro1),
Jumat (07/11/2025) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe) 

KBRN, Tahuna; Festival Seni Budaya Sangihe (FBS) 2025 tak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan kuat tentang regenerasi budaya. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Panitia FBS 2025, Julien Manangkalangi, S.Pd, dalam wawancara bersama RRI baru-baru ini.

Menurutnya, kekayaan budaya Sangihe seperti tari Masamper, Ampat Wayer, dan Hadrah Manggut, kini mulai diperkenalkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, SD, hingga SMP sebagai bagian dari penguatan identitas lokal.

“Sekarang di sekolah-sekolah, siswa sudah mulai memilih ekstrakurikuler seperti Masamper atau tari Gunde. Ini langkah awal memperkenalkan budaya kepada generasi penerus,” ujar Julien.

Langkah ini dinilai strategis karena budaya bukan hanya warisan, tetapi juga tanggung jawab bersama yang harus dirawat oleh generasi berikutnya.

Menurutnya, karakteristik Kabupaten Kepulauan Sangihe yang kaya akan adat istiadat memiliki potensi besar untuk terus dijaga, dikembangkan, dan dihidupkan kembali dalam keseharian masyarakat.

“Merekalah penerusnya. Di tangan generasi mudalah nilai budaya ini bisa terus hidup di masa depan,” tambahnya.

Dengan masuknya budaya lokal ke dalam sistem pendidikan formal dan kegiatan sekolah, pemerintah dan komunitas budaya berharap kecintaan terhadap tradisi dapat tumbuh secara organik, tidak hanya sebagai tontonan festival, namun juga sebagai jati diri yang membumi dalam keseharian anak muda Sangihe. (MS)

Kata Kunci : Pelestarian budaya Sangihe, Mulai dari bangku sekolah



Kamis, 06 November 2025

TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / Liputan Softnews

 

TAS RAJUT HANDMADE, DARI HOBBY 

JADI PELUANG USAHA

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   6 Nov 2025 -  08:30  Tahuna

Berawal dari hobby merajut untuk dipakai sendiri, Inggrit Mocodompis kini sukses mengubah benang dan jarum menjadi peluang usaha. Karyanya bahkan mulai menarik perhatian pembeli mancanegara.

 

II Inggrit Mocodompis menunjukkan koleksi tas rajut handmade karyanya yang kini diminati hingga wisatawan mancanegara di Tahuna, Sangihe (Foto: Dokumentasi pribadi)

KBRN, Tahuna; Siapa sangka, kebiasaan merajut yang awalnya hanya dilakukan untuk keperluan pribadi, kini berubah menjadi bisnis kreatif yang menjanjikan. Inggrit Mocodompis, perajin muda asal Kampung Laine, mulai menjual tas rajut handmade sejak Juli 2025, setelah satu tahun melewati proses trial and error. 

Ia mengaku, perjalanan awal belajar merajut bukan hal mudah. Berawal dari ilmu yang diwariskan oleh sang tante, yang sebelumnya diajarkan oleh almarhumah nenek, Inggrit mulai menekuni seni merajut secara serius. 

“Pegang jarum rajut itu beda dengan jarum jahit. Ada teknik khusus yang harus dikuasai,” ungkap Inggrit saat diwawancarai. 

Bahan benang diperolehnya melalui toko online, sebagian dipesan dari Manado dan dikirim melalui kapal laut, kemudian ia jemput langsung di Pelabuhan Tahuna. 

Strategi pemasaran yang ia gunakan pun memadukan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut. Dari awalnya hanya diminati warga Kampung Laine, kini produknya semakin dikenal hingga ke kecamatan, masuk ke pasar Tahuna, bahkan mulai menarik minat pengunjung luar negeri. 

“Hari ini ada orderan dari pengunjung asal Prancis yang sedang berada di Tahuna,” katanya bangga. 

Selain mengejar penjualan, Inggrit juga menyampaikan pesan inspiratif bagi siapapun yang ingin mulai berkarya.

“Jangan takut mulai dari nol. Rajutan awal mungkin belum sempurna, tapi itu langkah pertama menuju karya yang indah,” tutupnya.

Kisah Inggrit membuktikan bahwa kreativitas lokal, jika digarap dengan konsisten, mampu menembus batas geografis dan berkembang menjadi peluang ekonomi yang berdaya saing.(MS)

Kata Kunci:

Tas Rajut, Tas Rajut Handmade, Merajut,UMKM


TUGAS.2 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru

 

UMKM LUAR DAERAH RAMAIKAN FSBS 2025

Oleh: Missel Sahambe   Editor: James Awaeh   6 Nov 2025 -  07:30  Tahuna


II    Sejumlah Perlengkapan UMKM Dari Luar daerah tiba di Pelabuhan Nusantara Tahuna,
Kamis (6.11.2005) / (Foto : RRI Tahuna / Missel Sahambe).

KBRN, Tahuna: KBRN, Tahuna; Suasana menjelang Festival Budaya Sangihe (FBS) 2025 kian semarak. Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari luar daerah tiba di Pelabuhan Nusantara Tahuna, pada Kamis pagi (6/11/2025), menggunakan kapal laut dari Manado.

Salah satu pelaku UMKM, Risma, mengaku kehadirannya di Tahuna didorong oleh informasi yang mereka dapat dari panitia penyelenggara FBS 2025.

“Kami datang setelah melihat informasi dari panitia festival. Kami ingin ikut berpartisipasi menyukseskan acara ini lewat produk yang kami bawa,” ujarnya saat diwawancarai di pelabuhan.

Dari pantauan di lokasi, barang yang dibawa para pelaku UMKM cukup beragam, mulai dari makanan ringan, minuman kemasan, hingga permainan anak-anak.

Mereka menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar berjualan, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap kemeriahan festival budaya terbesar di Kepulauan Sangihe.

FBS 2025 sendiri dijadwalkan resmi dibuka pada Jumat, 7 November 2025, dengan lokasi kegiatan dipusatkan di sepanjang Boulevard Tanah Abang, Tahuna.

Kehadiran UMKM luar daerah ini diharapkan tidak hanya memeriahkan festival, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal dan memperluas jejaring pelaku usaha antarwilayah di Sulawesi Utara. (MS)

Kata Kunci:

Ramaikan Festival Seni budaya Sangihe

UMKM luar daerah


TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...