Senin, 30 Mei 2022

Jejak Abadi Cheng Ho di Tanah Dayak Tidung

 

Laksamana Cheng Ho

Dalam catatan sejarah yang panjang dan penuh warna, nama Laksamana Cheng Ho selalu hadir sebagai salah satu tokoh besar yang meninggalkan jejak luar biasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Penjelajah yang terkenal dengan semangat eksplorasi dan misi perdamaian ini tidak hanya dikenal di Tiongkok, tanah kelahirannya, tetapi juga menjadi sosok penting dalam peradaban Asia Tenggara. Di Kalimantan Utara, khususnya Tarakan, cerita tentang Laksamana Cheng Ho masih bergema hingga kini, memberikan makna mendalam pada sejarah dan budaya lokal, terutama bagi masyarakat Dayak Tidung.

Armada Laksamana Cheng Ho

Siapakah Laksamana Cheng Ho?

Laksamana Cheng Ho, yang memiliki nama kecil Ma He, adalah seorang penjelajah legendaris dari Tiongkok. Ia lahir pada 1371 di Provinsi Yunnan, sebuah wilayah di bagian barat daya Cina. Cheng Ho berasal dari suku Hui, komunitas Muslim yang menjadi bagian dari sejarah panjang Islam di Tiongkok. Ayah dan kakeknya, yang dikenal sebagai orang-orang saleh, telah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, yang menjelaskan akar Islam yang kuat dalam keluarga Cheng Ho.

Namun, masa kecil Cheng Ho tidaklah mudah. Saat berusia 12 tahun, kampung halamannya diserbu oleh pasukan Dinasti Ming. Dalam penyerbuan tersebut, ia ditangkap bersama anak-anak lainnya, dibawa ke Nanjing, dan dijadikan kasim di istana kekaisaran. Meski melalui penderitaan seperti dikebiri dan dipisahkan dari keluarganya, Cheng Ho berhasil bangkit menjadi salah satu tokoh paling dihormati di Tiongkok. Ia kemudian menjadi seorang laksamana besar yang dipercaya untuk memimpin ekspedisi maritim dalam rangka memperluas pengaruh diplomatik dan perdagangan Tiongkok ke berbagai penjuru dunia.

Jejak Maritim Armada Laksamana Cheng Ho

Ekspedisi Besar dan Hubungan dengan Nusantara

Di antara tahun 1405 hingga 1433, Cheng Ho memimpin tujuh pelayaran besar yang melibatkan ribuan kapal dan puluhan ribu awak. Perjalanannya membawa rombongan besar melintasi Samudra Hindia hingga ke Afrika Timur. Di kawasan Nusantara, Cheng Ho singgah di berbagai tempat seperti Sabang, Batam, Bangka, Semarang, dan Tarakan. Ia tidak hanya berdiplomasi, tetapi juga menjalin hubungan perdagangan dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat setempat.

Di Tarakan, jejak Cheng Ho terabadikan dalam perubahan besar yang terjadi pada masyarakat Dayak Tidung. Melalui ekspedisi dan interaksinya dengan penduduk lokal, Cheng Ho turut memperkenalkan Islam kepada masyarakat Dayak yang sebelumnya menganut kepercayaan lokal. Akibatnya, muncul komunitas Dayak Tidung, yaitu masyarakat Dayak yang telah menerima Islam sebagai bagian dari identitas mereka.

Ornamen Naga dan Jejak Islam di Tarakan

Salah satu peninggalan budaya yang menjadi bukti kuat pengaruh Cheng Ho di Tarakan adalah ornamen naga yang ditemukan di rumah adat Dayak Tidung. Ornamen ini tidak hanya mencerminkan pengaruh budaya Tiongkok tetapi juga menjadi simbol penyebaran Islam oleh Cheng Ho. Naga tersebut menghiasi Baloy Adat Tidung, rumah adat yang menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat Dayak Tidung hingga saat ini.

Rumah Adat Lamin Bagian Depan

Ornamen ini juga mengisyaratkan hubungan antara suku Dayak Tidung dengan Yunnan, tempat asal Cheng Ho. Nama "Tidung" sendiri diyakini berasal dari kata "gunung," karena suku ini awalnya tinggal di wilayah dataran tinggi. Sebagai hasil dari pengaruh Islam, masyarakat Dayak Tidung mulai mengenakan busana yang berbeda dari Dayak lain, seperti gamis panjang, yang menjadi ciri khas mereka hingga sekarang.

Rumah Adat Lamin Bagian Samping

Warisan Sejarah: Kesultanan dan Rumah Adat

Sejarah Dayak Tidung tidak hanya terkait dengan agama, tetapi juga politik dan budaya. Dahulu, suku ini memiliki kesultanan yang berpusat di Lapangan Datu Adil di Tarakan. Sayangnya, keberadaan kesultanan ini dihancurkan oleh penjajah Belanda akibat penolakan para pemimpin Tidung untuk bekerja sama. Setelah keraton dihancurkan, masyarakat Tidung bergerak ke pedalaman untuk melanjutkan perlawanan mereka.

Kini, untuk mengenang kejayaan masa lalu, keturunan ke-14 Kesultanan Tidung, H. Moehtar Basir Idris, membangun kembali rumah adat sebagai replika keraton yang hilang. Rumah adat tersebut dikenal sebagai Baloy Adat Tidung atau Baloy Mayo Djamaloel Qiram, nama yang diambil dari kepala suku pertama yang memeluk Islam. Rumah adat ini berdiri megah di Jalan Aki Bambu, Tarakan, dan menjadi pusat kegiatan budaya serta tempat wisata yang menarik.

Baloy Mayo Djamaloel Qiram, tampak depan

Struktur dan Fungsi Baloy Adat Tidung

Baloy Adat Tidung terbuat dari kayu ulin, yang dikenal sebagai kayu besi khas Kalimantan, dan dibangun di lahan seluas 2,5 hektar. Rumah ini terdiri dari empat ruang utama yang memiliki fungsi berbeda: Alad Kait: Ruang ini digunakan untuk menerima masyarakat yang memiliki permasalahan adat. Lamin Bantong: Tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat. Ulad Kemagod: Ruang ini berfungsi sebagai tempat berdamai setelah suatu perkara adat diselesaikan. Lamin Dalom: Tempat singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Di Baloy Adat ini, masyarakat dapat mengenang sejarah panjang suku Tidung sekaligus menyaksikan bagaimana budaya mereka tetap hidup di tengah modernisasi.

Baloy Mayo Djamaloel Qiram, tampak samping

Legenda Ikan Keratong

Salah satu elemen unik yang menghiasi dinding Baloy Adat adalah gambar ikan besar yang disebut Keratong. Dalam kepercayaan masyarakat lokal, ikan ini masih hidup di hutan yang dianggap keramat. Panjangnya bisa mencapai empat meter dengan berat hingga satu ton. Keberadaan ikan Keratong menambah daya tarik Baloy Adat Tidung sebagai tempat yang penuh dengan kisah mistis dan sejarah.

Ikan Keratong

Pengaruh Cheng Ho yang Tak Terhapuskan

Laksamana Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Arabnya, Haji Mahmud Shams, membawa perubahan besar ke wilayah yang disinggahinya. Pengaruhnya di Tarakan terlihat tidak hanya dari aspek budaya, tetapi juga agama dan cara hidup masyarakat Dayak Tidung. Cheng Ho bukan hanya seorang pelaut atau penjelajah, tetapi juga pembawa pesan perdamaian yang menyatukan berbagai komunitas melalui agama, perdagangan, dan diplomasi.

Warisan Cheng Ho di Tarakan menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah terjadi dalam ruang kosong. Ia adalah hasil dari interaksi, pertukaran, dan hubungan antarbangsa. Jejaknya di Tarakan akan terus hidup, menginspirasi generasi mendatang untuk melestarikan warisan budaya dan sejarah yang begitu kaya ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...