![]() |
| Laksamana Cheng Ho |
Dalam catatan sejarah yang panjang dan
penuh warna, nama Laksamana Cheng Ho selalu hadir sebagai salah satu tokoh
besar yang meninggalkan jejak luar biasa di berbagai belahan dunia, termasuk
Indonesia. Penjelajah yang terkenal dengan semangat eksplorasi dan misi
perdamaian ini tidak hanya dikenal di Tiongkok, tanah kelahirannya, tetapi juga
menjadi sosok penting dalam peradaban Asia Tenggara. Di Kalimantan Utara,
khususnya Tarakan, cerita tentang Laksamana Cheng Ho masih bergema hingga kini,
memberikan makna mendalam pada sejarah dan budaya lokal, terutama bagi
masyarakat Dayak Tidung.
![]() |
| Armada Laksamana Cheng Ho |
Siapakah Laksamana Cheng Ho?
Laksamana Cheng Ho, yang memiliki nama
kecil Ma He, adalah seorang penjelajah legendaris dari Tiongkok. Ia lahir pada
1371 di Provinsi Yunnan, sebuah wilayah di bagian barat daya Cina. Cheng Ho
berasal dari suku Hui, komunitas Muslim yang menjadi bagian dari sejarah
panjang Islam di Tiongkok. Ayah dan kakeknya, yang dikenal sebagai orang-orang
saleh, telah menunaikan ibadah haji ke Mekkah, yang menjelaskan akar Islam yang
kuat dalam keluarga Cheng Ho.
Namun, masa kecil Cheng Ho tidaklah mudah.
Saat berusia 12 tahun, kampung halamannya diserbu oleh pasukan Dinasti Ming.
Dalam penyerbuan tersebut, ia ditangkap bersama anak-anak lainnya, dibawa ke
Nanjing, dan dijadikan kasim di istana kekaisaran. Meski melalui penderitaan
seperti dikebiri dan dipisahkan dari keluarganya, Cheng Ho berhasil bangkit
menjadi salah satu tokoh paling dihormati di Tiongkok. Ia kemudian menjadi
seorang laksamana besar yang dipercaya untuk memimpin ekspedisi maritim dalam
rangka memperluas pengaruh diplomatik dan perdagangan Tiongkok ke berbagai
penjuru dunia.
![]() |
| Jejak Maritim Armada Laksamana Cheng Ho |
Ekspedisi Besar dan Hubungan dengan
Nusantara
Di antara tahun 1405 hingga 1433, Cheng Ho
memimpin tujuh pelayaran besar yang melibatkan ribuan kapal dan puluhan ribu
awak. Perjalanannya membawa rombongan besar melintasi Samudra Hindia hingga ke
Afrika Timur. Di kawasan Nusantara, Cheng Ho singgah di berbagai tempat seperti
Sabang, Batam, Bangka, Semarang, dan Tarakan. Ia tidak hanya berdiplomasi,
tetapi juga menjalin hubungan perdagangan dan memperkenalkan Islam kepada
masyarakat setempat.
Di Tarakan, jejak Cheng Ho terabadikan
dalam perubahan besar yang terjadi pada masyarakat Dayak Tidung. Melalui
ekspedisi dan interaksinya dengan penduduk lokal, Cheng Ho turut memperkenalkan
Islam kepada masyarakat Dayak yang sebelumnya menganut kepercayaan lokal.
Akibatnya, muncul komunitas Dayak Tidung, yaitu masyarakat Dayak yang telah
menerima Islam sebagai bagian dari identitas mereka.
Ornamen Naga dan Jejak Islam di Tarakan
Salah satu peninggalan budaya yang menjadi
bukti kuat pengaruh Cheng Ho di Tarakan adalah ornamen naga yang ditemukan di
rumah adat Dayak Tidung. Ornamen ini tidak hanya mencerminkan pengaruh budaya
Tiongkok tetapi juga menjadi simbol penyebaran Islam oleh Cheng Ho. Naga
tersebut menghiasi Baloy Adat Tidung, rumah adat yang menjadi pusat kegiatan
budaya masyarakat Dayak Tidung hingga saat ini.
![]() |
| Rumah Adat Lamin Bagian Depan |
Ornamen ini juga mengisyaratkan hubungan
antara suku Dayak Tidung dengan Yunnan, tempat asal Cheng Ho. Nama
"Tidung" sendiri diyakini berasal dari kata "gunung,"
karena suku ini awalnya tinggal di wilayah dataran tinggi. Sebagai hasil dari
pengaruh Islam, masyarakat Dayak Tidung mulai mengenakan busana yang berbeda
dari Dayak lain, seperti gamis panjang, yang menjadi ciri khas mereka hingga
sekarang.
![]() |
| Rumah Adat Lamin Bagian Samping |
Warisan Sejarah: Kesultanan dan Rumah Adat
Sejarah Dayak Tidung tidak hanya terkait
dengan agama, tetapi juga politik dan budaya. Dahulu, suku ini memiliki
kesultanan yang berpusat di Lapangan Datu Adil di Tarakan. Sayangnya,
keberadaan kesultanan ini dihancurkan oleh penjajah Belanda akibat penolakan
para pemimpin Tidung untuk bekerja sama. Setelah keraton dihancurkan,
masyarakat Tidung bergerak ke pedalaman untuk melanjutkan perlawanan mereka.
Kini, untuk mengenang kejayaan masa lalu,
keturunan ke-14 Kesultanan Tidung, H. Moehtar Basir Idris, membangun kembali
rumah adat sebagai replika keraton yang hilang. Rumah adat tersebut dikenal
sebagai Baloy Adat Tidung atau Baloy Mayo Djamaloel Qiram, nama yang diambil
dari kepala suku pertama yang memeluk Islam. Rumah adat ini berdiri megah di
Jalan Aki Bambu, Tarakan, dan menjadi pusat kegiatan budaya serta tempat wisata
yang menarik.
![]() |
| Baloy Mayo Djamaloel Qiram, tampak depan |
Struktur dan Fungsi Baloy Adat Tidung
Baloy Adat Tidung terbuat dari kayu ulin, yang dikenal sebagai kayu besi khas Kalimantan, dan dibangun di lahan seluas 2,5 hektar. Rumah ini terdiri dari empat ruang utama yang memiliki fungsi berbeda: Alad Kait: Ruang ini digunakan untuk menerima masyarakat yang memiliki permasalahan adat. Lamin Bantong: Tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat. Ulad Kemagod: Ruang ini berfungsi sebagai tempat berdamai setelah suatu perkara adat diselesaikan. Lamin Dalom: Tempat singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.
Di Baloy Adat ini, masyarakat dapat mengenang sejarah panjang suku Tidung sekaligus menyaksikan bagaimana budaya mereka tetap hidup di tengah modernisasi.
| Baloy Mayo Djamaloel Qiram, tampak samping |
Legenda Ikan Keratong
Salah satu elemen unik yang menghiasi
dinding Baloy Adat adalah gambar ikan besar yang disebut Keratong. Dalam
kepercayaan masyarakat lokal, ikan ini masih hidup di hutan yang dianggap
keramat. Panjangnya bisa mencapai empat meter dengan berat hingga satu ton.
Keberadaan ikan Keratong menambah daya tarik Baloy Adat Tidung sebagai tempat
yang penuh dengan kisah mistis dan sejarah.
![]() |
| Ikan Keratong |
Pengaruh Cheng Ho yang Tak Terhapuskan
Laksamana Cheng Ho, yang juga dikenal
dengan nama Arabnya, Haji Mahmud Shams, membawa perubahan besar ke wilayah yang
disinggahinya. Pengaruhnya di Tarakan terlihat tidak hanya dari aspek budaya,
tetapi juga agama dan cara hidup masyarakat Dayak Tidung. Cheng Ho bukan hanya
seorang pelaut atau penjelajah, tetapi juga pembawa pesan perdamaian yang
menyatukan berbagai komunitas melalui agama, perdagangan, dan diplomasi. Warisan Cheng Ho di Tarakan menjadi
pengingat bahwa sejarah tidak pernah terjadi dalam ruang kosong. Ia adalah
hasil dari interaksi, pertukaran, dan hubungan antarbangsa. Jejaknya di Tarakan
akan terus hidup, menginspirasi generasi mendatang untuk melestarikan warisan
budaya dan sejarah yang begitu kaya ini. |
.png)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar