Senin, 28 Oktober 2024

Tari Jugit Demaring : Warisan Klasik Kesultanan Bulungan

Kesultanan Bulungan adalah sebuah kerajaan yang pernah memerintah wilayah pesisir di bagian utara Kalimantan. Daerah kekuasaannya mencakup wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, serta Tawau di Sabah, Malaysia. Berdiri pada tahun 1731, Kesultanan Bulungan didirikan oleh Wira Amir, yang bergelar Amiril Mukminin. Ia memerintah hingga tahun 1777 sebagai raja pertama. Pemerintahan terakhir kesultanan ini dipegang oleh Datuk Tiras, bergelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin, yang berkuasa dari tahun 1931 hingga 1958.

Salah satu aspek budaya paling menonjol dari Kesultanan Bulungan adalah seni tarinya. Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga sarana untuk mengekspresikan keindahan dan kelembutan budaya masyarakatnya. Dalam bahasa Bulungan, kata “jugit” berarti menari, dan salah satu tari tradisional yang paling dihormati di wilayah ini adalah Tari Jugit Demaring. Tarian ini memiliki nilai sakral yang tinggi dan menjadi simbol warisan budaya yang terus dijaga hingga kini.

Asal Usul Tari Jugit Demaring

Tari Jugit Demaring memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tarian ini diciptakan oleh dua tokoh penting Kesultanan Bulungan, yaitu Datuk Maulana dan Datuk Mahubut, yang juga dikenal sebagai laksamana kerajaan. Berdasarkan perkiraan, tarian ini sudah ada sejak paruh kedua abad ke-18 dan tetap mempertahankan bentuk aslinya hingga sekarang.

Sebagai tarian khas keraton, Tari Jugit Demaring sering dipentaskan untuk menyambut tamu penting di luar istana. Salah satu lokasi pementasan yang sering digunakan adalah dermaga istana atau di atas kapal layar kerajaan, yang disebut Biduk Bebandung. Adat unik yang masih dipertahankan dalam tarian ini adalah tradisi menggendong penari wanita oleh seorang pria menuju tempat pertunjukan. Hal ini mencerminkan tata cara istimewa yang melekat pada budaya Kesultanan Bulungan.

Makna dan Keistimewaan Tari Jugit Demaring

Menurut Haji Datu Dissan Maulana Djalaluddin, pewaris Kesultanan Bulungan, Tari Jugit Demaring memiliki makna mendalam yang tercermin dalam setiap gerakan dan elemen pertunjukannya. Kostum penari, misalnya, terdiri dari atasan berwarna kuning dan bawahan berwarna hijau, melambangkan keserasian dan keharmonisan.

Gerakan Tari Jugit Demaring ditandai oleh tempo yang lambat dan lembut. Posisi tangan penari berada setinggi dada, di mana tangan kanan memegang kipas sementara tangan kiri memegang selendang. Salah satu gerakan khasnya adalah “Ayu Ane”, yang menggambarkan posisi menggendong anak. Pada gerakan ini, kipas yang dipegang penari dikuncupkan, sementara tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri seperti sedang menggendong bayi.

Tari Jugit Demaring diiringi oleh dua lagu tradisional yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Lagu pertama, “Kalau”, menggambarkan suasana sore hari, sedangkan lagu kedua, “Jumalom”, mencerminkan keheningan malam. Dalam lagu “Jumalom” terdapat syair yang berisi gerakan “Ayu Ane”, menambah nuansa emosional pada pertunjukan. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini beragam, mulai dari kelantang atau kolintang, hingga rebana dan biola, terutama untuk lagu “Jumalom”.

Tradisi dan Latihan Penari

Untuk menjaga kualitas dan keaslian Tari Jugit Demaring, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para penarinya. Para penari harus berasal dari kalangan hamba sultan, bukan dari kerabat istana. Selain itu, penari juga harus berparas cantik dan menjalani pelatihan intensif sebelum dapat tampil di hadapan publik.

Pelatihan biasanya dilakukan pada pagi hari untuk menjaga kelenturan tubuh dan mempermudah penari dalam mempelajari gerakan. Selain itu, baik penari maupun penyanyi lagu pengiring harus menghafal isi syair dengan sempurna. Pada masa lalu, jumlah penyanyi syair dalam Tari Jugit Demaring berkisar antara empat hingga sepuluh orang, memastikan lagu terus mengalir tanpa henti selama pertunjukan berlangsung.

Pelestarian Budaya Kesultanan Bulungan

Tari Jugit Demaring bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Bulungan. Melalui tarian ini, generasi muda diajak untuk mengenal dan mencintai warisan budaya nenek moyang mereka. Upaya pelestarian terus dilakukan, baik melalui festival budaya, pendidikan seni, maupun dukungan dari pemerintah daerah.

Warisan Kesultanan Bulungan ini menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu sekaligus inspirasi untuk terus menjaga kekayaan budaya nusantara. Tari Jugit Demaring, dengan segala keindahan dan maknanya, adalah bukti nyata bahwa seni tradisional dapat menjadi jembatan antara sejarah dan masa kini, serta tetap relevan dalam kehidupan modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...