Kamis, 19 September 2024

Sahendarumang : Benteng Hijau Terakhir di Sangihe

 

Ilustrasi Sahendarumang / Foto. Capture from Youtube : @BurungIndonesiaChanel


Pegunungan Sahendarumang: Penjaga Kehidupan di Pulau Sangihe

Di sudut selatan Pulau Sangihe, berdiri sebuah kawasan alami yang menjadi tempat terakhir bagi hutan yang tersisa: Pegunungan Sahendarumang. Bentang alam ini bukan hanya sekadar gugusan bukit dan lembah, melainkan juga penjaga keanekaragaman hayati yang luar biasa serta tempat bernaung bagi berbagai makhluk hidup, termasuk manusia. Pegunungan ini mencakup wilayah administratif beberapa kecamatan, yaitu Manganitu, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Manganitu Selatan, dan Tamako. Keberadaannya sangat vital bagi ekosistem pulau ini dan menjadi harapan terakhir untuk melestarikan keindahan alam yang mulai terancam.

Pentingnya Pegunungan Sahendarumang bagi Pulau Sangihe

Pegunungan Sahendarumang memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjaga keseimbangan ekologis di Pulau Sangihe. Hutan di kawasan ini bertindak sebagai paru-paru pulau, menghasilkan oksigen sekaligus menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Selain itu, hutan ini berfungsi sebagai penyangga air bersih, dengan banyak mata air yang mengalir dari pegunungan ke desa-desa di sekitarnya.

Keberadaan hutan ini juga menjadi tempat tinggal bagi banyak spesies unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Dalam ekosistem ini, burung, mamalia, dan berbagai organisme lainnya hidup berdampingan, menciptakan keseimbangan yang kompleks tetapi harmonis. Hutan ini juga menjadi pusat kehidupan spiritual dan budaya masyarakat lokal yang memandangnya sebagai simbol keharmonisan antara manusia dan alam.



Seriwang sangihe, atau yang disebut masyarakat lokal sebagai manu' niu, adalah burung yang hanya ada di Pulau Sangihe / Foto. Burung Indonesia

 

Habitat Penting bagi Burung

Pegunungan Sahendarumang menjadi tempat beristirahat dan berlindung bagi berbagai jenis burung yang menjadikan Pulau Sangihe sebagai rumah mereka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Burung Indonesia pada tahun 2020, tercatat ada 46 spesies burung yang hidup di sekitar kawasan hutan lindung ini. Dari jumlah tersebut, 10 spesies merupakan burung endemik, sedangkan 14 spesies lainnya dilindungi oleh peraturan pemerintah.

Seluruh jenis burung yang hanya dapat ditemukan di Pulau Sangihe, termasuk burung-burung yang tergolong langka, ditemukan di kawasan ini. Salah satu fungsi hutan di Pegunungan Sahendarumang adalah sebagai tempat beristirahat (roosting site) bagi burung-burung tersebut. Dengan habitat yang masih relatif terjaga, burung-burung ini dapat bertahan meskipun tekanan terhadap lingkungan di sekitarnya terus meningkat.

Keberadaan burung endemik di kawasan ini memiliki arti penting tidak hanya dari segi ekologi tetapi juga budaya dan ilmiah. Burung-burung ini menjadi indikator kesehatan lingkungan di Pulau Sangihe. Ketika mereka mampu bertahan, ini menunjukkan bahwa ekosistem masih mendukung kehidupan.

Mamalia Unik yang Hanya Ada di Sangihe

Tidak hanya burung, Pegunungan Sahendarumang juga menjadi rumah bagi berbagai jenis mamalia unik. Dua di antaranya merupakan spesies endemik yang hanya ada di Pulau Sangihe, sedangkan satu lagi adalah spesies endemik gabungan antara Pulau Sangihe dan Talaud. Selain itu, empat mamalia lainnya adalah endemik Pulau Sulawesi. Keberagaman ini menjadikan kawasan hutan Sahendarumang sebagai salah satu area dengan keanekaragaman mamalia yang luar biasa.

Mamalia yang hidup di kawasan ini tidak hanya menjadi bagian penting dari rantai makanan tetapi juga memainkan peran vital dalam proses regenerasi hutan. Beberapa di antaranya membantu penyebaran biji tanaman melalui aktivitas makan dan berpindah tempat. Interaksi yang rumit antara mamalia dan tumbuhan inilah yang membantu menjaga kelangsungan hidup hutan.

Namun, ancaman terhadap habitat mamalia ini terus meningkat akibat aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, perburuan liar, dan perambahan hutan. Kehilangan mamalia ini akan berdampak luas, bukan hanya pada ekosistem lokal tetapi juga pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Hutan Sahendarumang / Foto. Burung Indonesia


Keindahan yang Tak Tergantikan

Hutan di Pegunungan Sahendarumang tidak hanya penting bagi flora dan fauna, tetapi juga menyimpan keindahan yang memikat. Pepohonan besar dengan kanopi lebat, suara burung yang merdu, serta udara segar yang berhembus menjadikan kawasan ini sebagai tempat yang menenangkan jiwa. Bagi siapa pun yang menjelajahi pegunungan ini, pengalaman yang didapatkan adalah pengingat betapa berharganya warisan alam yang ada di bumi.

Selain itu, kawasan ini juga memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata. Dengan pengelolaan yang baik, ekowisata dapat menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak: masyarakat lokal mendapatkan manfaat ekonomi, sedangkan hutan tetap terjaga kelestariannya. Pengunjung yang datang dapat belajar tentang keanekaragaman hayati, pentingnya pelestarian hutan, dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Ancaman Terhadap Keberlangsungan Pegunungan Sahendarumang

Meski memiliki nilai yang sangat tinggi, Pegunungan Sahendarumang tidak luput dari ancaman. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah kerusakan habitat akibat aktivitas manusia. Pembukaan lahan untuk pertanian, pembangunan, dan penebangan liar telah mengurangi luas kawasan hutan secara signifikan. Selain itu, perburuan satwa liar dan perdagangan ilegal juga menjadi ancaman nyata bagi keanekaragaman hayati di kawasan ini.

Perubahan iklim global juga membawa dampak besar terhadap ekosistem hutan. Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi kehidupan flora dan fauna yang bergantung pada kestabilan lingkungan mereka. Tanpa upaya pelestarian yang serius, Pegunungan Sahendarumang bisa kehilangan fungsinya sebagai benteng terakhir hutan tropis di Pulau Sangihe.

Gunung Sahendarumang / Foto. Burung Indonesia

Upaya Pelestarian dan Harapan Masa Depan

Berbagai langkah telah diambil untuk menjaga keberlanjutan Pegunungan Sahendarumang. Salah satunya adalah menetapkan kawasan ini sebagai hutan lindung, sehingga kegiatan yang dapat merusak ekosistem dilarang secara hukum. Selain itu, program rehabilitasi hutan juga dilakukan untuk memulihkan area yang telah mengalami kerusakan.

Organisasi konservasi seperti Burung Indonesia telah berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan ini. Melalui penelitian, pendidikan, dan kampanye lingkungan, mereka berusaha melibatkan masyarakat lokal dalam upaya pelestarian. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi juga seluruh masyarakat.

Di masa depan, Pegunungan Sahendarumang diharapkan tidak hanya menjadi simbol keanekaragaman hayati, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang untuk hidup berdampingan dengan alam. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan, Pegunungan Sahendarumang dapat terus menjadi rumah bagi makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya, serta sumber kehidupan bagi manusia di Pulau Sangihe.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...