Rabu, 31 Januari 2024

FUNGSI SPIRITUAL UPACARA ADAT TULUDE BAGI SUKU SANGIHE

                                                        Prosesi Upacara Adat Tulude


"Tulude: Syukur, Tradisi, dan Spiritualitas Tanah Sangihe"


Pendahuluan: Menghidupkan Warisan di Tengah Arus Modernisasi

Makna Filosofis Tulude: Antara Syukur dan Pengharapan
1. Tulude Sebagai Wujud Syukur dan Refleksi
2. Nilai Adat yang Dijaga dalam Ritual

Keistimewaan Kue Adat Tamo: Simbol Kebersamaan dan Kehormatan
1. Kue Tamo Sebagai Ikon Ritual Tulude
2. Detail Makna pada Tiap Bagian Kue

Ritual Pentahiran: Menahulending Banua dan Makna Spiritualnya
1. Pentahiran untuk Memulihkan Harmoni
2. Doa dan Harapan untuk Keberkahan

Tulude Sebagai Penghubung Masa Lalu dan Masa Kini
1. Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan
2. Bentuk Syukur yang Berkembang

Fungsi Tulude: Lebih dari Sekadar Ritual
1. Fungsi Spiritual
2. Fungsi Sosial


Merawat Warisan, Menjaga Kehidupan

Di tengah deru modernisasi yang kian melaju, masyarakat Sangihe tetap berdiri kokoh dengan mempertahankan nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur. Tradisi dan budaya masih menjadi nafas kehidupan sehari-hari mereka, menjadi benteng terakhir di tengah gempuran globalisasi yang mengancam identitas bangsa. Salah satu warisan budaya yang tetap lestari hingga kini adalah Upacara Adat Tulude.

Tulude bukan sekadar sebuah ritual, tetapi juga wujud penghormatan kepada Sang Pencipta atas berkat dan perlindungan yang dilimpahkan selama satu tahun penuh. Lebih dari itu, Tulude merupakan momentum untuk merenungkan apa yang telah dilalui, sekaligus mempersiapkan diri menyongsong masa depan dengan hati yang bersih. Upacara ini tidak hanya dilakukan di tanah Sangihe, tetapi juga di berbagai daerah lain di Sulawesi Utara tempat suku Sangihe bermukim, seperti Bitung, Manado, dan Gorontalo. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri, Tulude biasanya digelar setiap tanggal 31 Januari, menjadikannya agenda adat yang penuh makna dan sakral.

Secara etimologi, kata “Tulude” berasal dari bahasa Sangir, “suhude,” yang berarti tolak. Dalam konteks yang lebih luas, Tulude melambangkan penolakan untuk terus terikat pada masa lalu, sekaligus kesiapan untuk menyongsong tahun yang baru. Upacara ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat Sangihe kepada I Ghenggonalangi Duatang Saruluang, yang berarti Tuhan Yang Mahakuasa, atas segala perlindungan dan berkat yang telah diterima sepanjang tahun.

Tulude tidak hanya sebatas seremonial, tetapi juga menjadi momen penting untuk memohon pengampunan atas segala kesalahan yang mungkin telah dilakukan, baik secara individu maupun kolektif. Dengan menggelar upacara ini, masyarakat berharap agar tahun yang akan datang dilimpahi keberkahan, baik dalam hal hasil bumi, kelimpahan ikan di laut, maupun keselamatan dari berbagai bencana.

Upacara Tulude bukan hanya ritual rutin tahunan, tetapi juga sarana untuk menjaga nilai-nilai luhur adat Sangihe. Tradisi ini mengandung nilai spiritual, sosial, dan kultural yang sangat penting bagi masyarakat. Salah satu aspek penting dari Tulude adalah penggunaannya sebagai medium untuk mempertahankan bahasa Sasahara, bahasa dalam yang kini mulai jarang digunakan oleh generasi muda.

Bahasa ini dipakai dalam berbagai tahapan upacara, baik dalam doa maupun dalam nyanyian adat. Hal ini menjadi salah satu cara bagi masyarakat Sangihe untuk tetap menjaga eksistensi bahasa mereka, yang merupakan bagian integral dari identitas budaya.

Salah satu elemen yang tak terpisahkan dari upacara adat Tulude adalah kue adat Tamo. Kue ini tidak hanya sekadar sajian, tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Kue Tamo, yang disebut sebagai "Datung Kaeng" atau Raja Makanan, adalah simbol kebersamaan dan penghormatan. Setiap bahan dan bentuknya mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Sangihe.

Kue Tamo berbentuk kerucut, melambangkan gunung atau kerajaan, yang merepresentasikan kejayaan dan kemuliaan. Proses pembuatannya pun penuh dengan nilai kearifan lokal. Bahan-bahan yang digunakan, seperti tepung beras, santan kelapa, gula merah, minyak kelapa, buah pepaya, pisang, kacang, atau kenari, dipadukan dengan kehati-hatian untuk menciptakan kue yang padat dan berdiri tegak setelah didiamkan selama tiga hari.

Setiap elemen pada kue Tamo memiliki makna tersendiri. Pada bagian dasar, terdapat ketupat burung yang melambangkan kejayaan, dan ketupat dodutu yang menjadi simbol tongkat kerajaan. Bagian badan kue dihias dengan udang masak dan cabai. Udang menjadi simbol kebersamaan, karena hewan ini bergerak maju dan mundur secara bersama-sama, sedangkan cabai melambangkan penyakit yang harus dijauhkan. Puncak kue dihiasi dengan telur rebus, lambang kesempurnaan, yang menyempurnakan makna sakral kue Tamo.

Salah satu tujuan utama dari upacara adat Tulude adalah proses pentahiran, atau dalam bahasa adat disebut Menahulending Banua. Ritual ini dilakukan untuk menyucikan masyarakat dari dosa-dosa yang telah diperbuat selama tahun sebelumnya. Pentahiran ini juga mencakup doa kepada I Ghenggona Langi untuk memulihkan keseimbangan alam dan menghapuskan segala bentuk malapetaka yang mengancam kehidupan masyarakat.

Pentahiran ini bukan hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara manusia dengan alam. Dengan membersihkan diri dari kesalahan, masyarakat percaya bahwa mereka akan lebih siap menghadapi tantangan di tahun yang baru.

Ritual pentahiran diikuti oleh doa-doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta. Doa ini mencakup permohonan untuk hasil panen yang melimpah, kelimpahan ikan di laut, serta perlindungan dari berbagai penyakit dan bencana. Doa ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga menjadi simbol ketergantungan manusia pada kekuatan yang lebih besar, yang menjadi penjaga kehidupan mereka.

Upacara Tulude menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi di tengah perubahan zaman. Di era modern ini, banyak tradisi yang mulai terkikis oleh arus globalisasi. Namun, masyarakat Sangihe tetap menjadikan Tulude sebagai bagian integral dari identitas budaya mereka. Upacara ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga menjadi cara untuk mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Dalam pelaksanaannya, Tulude tidak selalu berbentuk upacara adat tradisional. Di beberapa tempat, upacara ini diselenggarakan dalam bentuk ibadah syukur, baik di tingkat RT, lingkungan, jemaat, maupun organisasi masyarakat. Meski bentuknya berbeda, esensi Tulude tetap terjaga, yaitu sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkat yang telah diterima.

Tulude memiliki fungsi spiritual yang sangat kuat. Upacara ini mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa tenang, aman, dan damai di hati masyarakat. Dengan menggelar upacara ini, masyarakat merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta dan lebih siap untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Selain fungsi spiritual, Tulude juga memiliki fungsi sosial yang penting. Upacara ini menjadi momen untuk mempererat hubungan antarwarga, memperkuat rasa kebersamaan, dan meningkatkan solidaritas dalam masyarakat. Melalui upacara ini, pesan-pesan moral dan nilai-nilai kehidupan disampaikan dengan cara yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat.

Upacara adat Tulude adalah cerminan dari kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Sangihe. Melalui upacara ini, masyarakat tidak hanya merayakan tahun yang telah berlalu, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menyongsong tahun yang baru dengan hati yang bersih dan penuh syukur. Tulude menjadi simbol kebersamaan, identitas, dan penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Di tengah tantangan modernisasi, Tulude mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap relevan. Dengan terus melestarikan upacara ini, masyarakat Sangihe tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menjaga hubungan harmonis dengan alam dan Sang Pencipta. Tulude adalah perayaan yang melampaui waktu, menjadi pelita yang menerangi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

MUSIK BAMBU : ASET KEBUDAYAAN ASLI DAERAH SANGIHE

 

Penampilan Grup Orkes Musik Bambu pada program siaran

Obrolan Budaya RRI Net Tahuna


Musik Bambu adalah musik tradisional Sangihe - Talaud yang diciptakan oleh seorang petani pada tahun 1800. Musik bambu berkembang di wilayah sangihe besar (sekarang Kab. Kep. sangihe) dan dari sanalah perjalanan musik bambu berkembang. Hal ini diperkuat dengan banyaknya masyarakat di wilayah ini, yang masih menekuni dan memainkan musik bambu.

Kendati  alat musik bambu bahan dasarnya terbuat dari bahan tradisional, tetapi akord –  akordnya sudah menyerupai musik modern. Menurut Salah Seorang Tokoh dari Badan Adat Sangihe, Martinus Makitulung, musik bambu Sangihe merupakan alat musik tiup yang sudah lama ada dan tercipta dari kreatifitas para komponis atau seniman di daerah ini.

“ Sekarang ini yang menjadi persoalannya adalah sumber daya manusia yang dasar pengetahuan musiknya masih di bawah. Seandainya sumber daya manusianya memiliki tingkat Pendidikan musik yang lebih baik, maka musik bambu di Sangihe akan berkembang dan kelak kedudukannya sejajar dengan musik modern,” sebagaimana dituturkan Agustinus Sasundu, salah seorang seniman musik bambu Sangihe.

Lebih lanjut Agustinus Sasundu mengatakan, “ salah satu kemegahan bagi seniman ketika musik bambu tetap lestari dan dapat didengarkan oleh banyak orang. Musik bambu sangat berperan penting dalam kiprah seni budaya di Sangihe. Sebab setiap acara penting, baik acara kenegaraan, acara keagamaan atau acara budaya,musik bambu tetap mutlak dibutuhkan.”

Peranan pemerintah daerah saat ini, dengan memikirkan, memperhatikan dan menindak lanjuti keberadaan musik bambu sebagai sebagai salah satu upaya pelestarian dan mempertahankan aset kebudayaan asli daerah ini. Masyarakat adat Sangihe berharap, khususnya bagi para seniman dan pelaku budaya agar musik bambu tidak tertinggal ataupun punah. Tindak lanjut seperti ini akan memotivasi dan merangsang minat animo dari masyarakat untuk berkarya seni.

 


Selasa, 16 Januari 2024

Olga Makasidamo : Persiapan Sangihe Menuju Hut Ke 599

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dra Olga Makasidamo
 (Foto : Richo / RRI Tahuna) 

KBRN, Tahuna : Kepulauan Sangihe bersiap merayakan ulang tahun ke-599 dengan megah. Panitia pelaksana telah ditetapkan melalui Surat Keputusan nomor 21/420/2024 pada tanggal 4 Januari 2024. Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dra Olga Makasidamo, yang tengah merencanakan acara spektakuler ini.

Menurut Kadis Olga, Rapat perdana panitia telah digelar untuk menegaskan tugas masing-masing seksi sesuai SK Bupati. 

"Saat ini, panitia terus berfokus pada penjabaran program dan rencananya minggu ini akan ada rapat untuk menyampaikan program dari masing-masing seksi" Ujar Makasidamo

Tulude tahun ini tetap akan dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2024. Persiapan khusus telah dilakukan dengan melibatkan badan adat, generasi muda di bawah pendampingan tua adat untuk mengeksekusi acara adat tersebut.

" Rangkaian hari ulang tahun daerah juga mencakup Upacara Bendera, Ziarah, dan Rapat Paripurna DPRD. Lomba kebersihan dan Seminar DBD turut menyemarakkan kegiatan, terpusat lapangan mini  Rumah Jabatan Bupati menjadi lokasi utama" Ujar Olga Makasidamo

Sedangkan anggaran acara telah tertata di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, namun masih ada yang perlu diusulkan melalui Kepanitian Usaha Dana. 

"Proposal telah disampaikan, dan permintaan kebutuhan dari seksi yang belum teranggarkanpun tengah diajukan" Jelas Kadis Makasidamo

Dengan persiapan yang matang, Kabupaten Sangihe dipastikan siap memeriahkan ulang tahun yang ke-599 dengan penuh semarak. (Rico)

Link Berita : 

https://rri.co.id/tahuna/daerah/517690/olga-makasidamo-persiapan-sangihe-menuju-hut-ke-599

 


Senin, 15 Januari 2024

Pengrajin Bambu Batik Sangihe Bertahan di Tengah Tantangan

Dalam dunia kerajinan tangan, tidak semua orang memiliki kesabaran dan ketekunan untuk mengembangkan sebuah keahlian yang memerlukan keterampilan tinggi. Salah satu sosok yang berhasil menekuni bidang ini adalah Zakharias Sampel, seorang pengrajin bambu batik asal Kampung Lebo, Kecamatan Manganitu, Kabupaten Sangihe. Selama lebih dari satu dekade, ia telah menggeluti dunia kerajinan tangan dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk menciptakan berbagai aksesori khas Sangihe.

Bermula dari minat dan bakat yang dimilikinya, Zakharias mulai mengolah bahan-bahan alami seperti bambu batik, batok kelapa, pisang abaka, dan kulit sagu untuk dijadikan berbagai jenis souvenir. Salah satu produk yang paling banyak diminati adalah gelang dan kalung yang bernuansa khas Sangihe. Selain itu, ia juga membuat miniatur alat musik bambu, setelan kursi dan meja, serta rak sudut yang semuanya berbahan dasar bambu batik.

Proses Produksi dan Tantangan dalam Berkarya

Dalam kesehariannya, Zakharias mengerjakan hampir seluruh proses produksi secara mandiri. Namun, ketika pesanan meningkat, ia akan melibatkan tenaga kerja tambahan untuk membantu penyelesaian produk. Meski menghadapi berbagai tantangan, seperti ketersediaan bahan baku dan proses pemasaran, ia tetap berkomitmen untuk melestarikan kerajinan tangan khas daerahnya.

Menurut Zakharias, permintaan terhadap produk-produk kerajinannya cukup tinggi. Miniatur perahu londe dan alat musik bambu menjadi dua produk yang paling banyak dipesan oleh pelanggan. Dalam satu bulan, ia mampu meraih pendapatan sekitar dua hingga empat juta rupiah. Sebagian dari hasil tersebut ia sisihkan sebagai tabungan untuk keperluan pengembangan usaha di masa mendatang.

Dukungan Pemerintah dan Harapan ke Depan

Di tengah persaingan industri kreatif yang semakin berkembang, dukungan dari pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha kerajinan lokal. Zakharias mengungkapkan bahwa sejauh ini pemerintah telah memberikan bantuan dalam hal promosi dan pemasaran produk. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk-produk khas Sangihe.

Sebagai seorang pengrajin yang telah menekuni bidang ini selama bertahun-tahun, Zakharias berharap generasi muda juga tertarik untuk melestarikan budaya melalui kerajinan tangan. Baginya, selain memberikan nilai ekonomi, profesi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Dengan semangat dan kerja keras, Zakharias Sampel membuktikan bahwa menjadi pengrajin bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga panggilan hati untuk terus berkreasi dan memperkenalkan keindahan budaya Sangihe kepada dunia.

Rabu, 10 Januari 2024

Agustinus Sasundu: Penjaga Harmoni Alam dan Budaya Sangihe




Musik Bambu, Warisan Alam yang Hidup

Di tengah lanskap Kepulauan Sangihe yang kaya akan keindahan alam, tersembunyi sebuah warisan seni yang tak ternilai harganya—musik bambu. Di tangan seorang maestro bernama Agustinus Sasundu, tradisi musik bambu bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi medium ekspresi budaya yang mendalam. Agustinus tidak sekadar memainkan alat musik ini, tetapi juga menjadi perantara antara masa lalu, masa kini, dan masa depan seni Sangihe.

Musik bambu, dengan bunyinya yang khas dan penuh jiwa, adalah cerminan dari kehidupan masyarakat Sangihe yang erat dengan alam. Suara-suara yang dihasilkan instrumen ini menyampaikan kisah-kisah tentang keharmonisan manusia dengan lingkungan dan bagaimana tradisi dapat terus hidup di tengah arus modernitas. Agustinus Sasundu adalah simbol dari upaya tak kenal lelah untuk melestarikan, memajukan, dan menyebarkan musik bambu ke seluruh penjuru dunia.

Perjalanan Hidup Seorang Maestro

Agustinus Sasundu lahir dan tumbuh di lingkungan yang kaya akan budaya dan tradisi. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan ketertarikan yang mendalam terhadap seni, khususnya musik. Kehidupan di Sangihe, yang dipenuhi suara alam seperti angin, ombak, dan kicauan burung, menjadi inspirasi awal baginya untuk mencintai bunyi-bunyian yang berasal dari bambu.

Keterlibatan Agustinus dengan musik bambu bermula dari rasa ingin tahunya terhadap alat-alat tradisional yang digunakan dalam upacara adat dan perayaan masyarakat. Ia tidak hanya tertarik pada bunyinya, tetapi juga ingin memahami proses pembuatan dan filosofi yang terkandung di balik setiap instrumen.

Pendidikan dan Penjelajahan Musik

Ketekunan dan kerja kerasnya membawa Agustinus pada pengakuan sebagai maestro musik bambu. Gelar ini bukan hanya menunjukkan keahliannya dalam memainkan alat musik, tetapi juga dedikasinya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional.

Keunikan Musik Bambu di Tangan Agustinus

Musik bambu yang dimainkan oleh Agustinus memiliki karakteristik yang unik. Tidak hanya sekadar memainkan nada, ia menciptakan komposisi yang menggambarkan harmoni antara manusia, alam, dan tradisi. Di tangan Agustinus, musik bambu menjadi lebih dari sekadar seni; ia adalah medium untuk menyampaikan pesan-pesan budaya dan spiritual.

1. Instrumen yang Sarat Makna

Setiap alat musik bambu yang digunakan Agustinus dibuat dengan tangan dan penuh perhatian terhadap detail. Bambu yang digunakan dipilih secara khusus, dengan mempertimbangkan usia, tekstur, dan kualitas bunyinya. Proses pembuatan ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Sangihe, yang menghormati alam sebagai sumber kehidupan.

Instrumen-instrumen ini menjadi perpanjangan dari jiwa Agustinus. Ia percaya bahwa setiap bunyi yang dihasilkan alat musik ini membawa cerita, doa, dan energi dari alam.

2. Teknik Bermain yang Inovatif

Agustinus tidak hanya berpegang pada cara tradisional dalam memainkan musik bambu. Ia menciptakan teknik-teknik baru yang menggabungkan tradisi dengan elemen musik modern. Pendekatan ini membuat musik bambu relevan bagi generasi muda, sekaligus menarik perhatian audiens internasional.

Salah satu inovasi yang dikenalkan Agustinus adalah penggabungan alat musik bambu dengan instrumen modern seperti gitar dan keyboard. Kolaborasi ini menciptakan harmoni yang unik, tanpa kehilangan esensi tradisional musik bambu.

Peran Musik Bambu dalam Kehidupan Masyarakat

Musik bambu bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sangihe. Dalam berbagai upacara adat, musik ini menjadi pengiring yang tidak tergantikan, menciptakan suasana sakral dan penuh makna. 

1. Pengiring Ritual Adat

Dalam tradisi masyarakat Sangihe, musik bambu sering dimainkan pada upacara adat seperti Tulude dan perayaan lainnya. Bunyi instrumen ini dipercaya mampu menghadirkan suasana spiritual yang mendalam, memperkuat ikatan antara manusia dan leluhur.

Agustinus sering terlibat dalam berbagai upacara adat, memainkan musik bambu dengan penuh penghayatan. Kehadirannya tidak hanya memberikan keindahan suara, tetapi juga memperkuat makna simbolis dari setiap ritual.

2. Sarana Pendidikan Budaya

Melalui musik bambu, Agustinus juga berperan sebagai pendidik. Ia mengajarkan generasi muda tentang pentingnya melestarikan tradisi, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman langsung. Dalam berbagai kesempatan, ia mengadakan lokakarya dan pelatihan, mengajarkan cara membuat dan memainkan alat musik bambu kepada anak-anak dan remaja.

Dengan cara ini, Agustinus memastikan bahwa warisan musik bambu tidak hanya berhenti di generasinya, tetapi terus hidup dan berkembang di masa depan.

Sebagai maestro musik bambu, Agustinus telah menerima berbagai penghargaan atas dedikasinya dalam melestarikan seni tradisional. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pengakuan atas karyanya, tetapi juga menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai budaya mereka.

Tantangan dalam Pelestarian Musik Bambu

Meskipun telah mencapai banyak hal, Agustinus menghadapi berbagai tantangan dalam usahanya melestarikan musik bambu. Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan gaya hidup masyarakat, yang cenderung lebih terpengaruh oleh budaya modern.

1. Kurangnya Minat Generasi Muda

Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada musik modern dibandingkan musik tradisional. Untuk menghadapi tantangan ini, Agustinus berusaha membuat musik bambu lebih menarik dengan melakukan inovasi tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional.

2. Keterbatasan Sumber Daya

Proses pembuatan alat musik bambu membutuhkan keterampilan dan bahan baku yang berkualitas. Namun, dengan semakin berkurangnya lahan bambu di Sangihe, Agustinus harus beradaptasi dengan menggunakan bahan alternatif atau mencari sumber bambu dari daerah lain.

Inspirasi dari Agustinus Sasundu

Agustinus Sasundu adalah contoh nyata bagaimana seseorang dapat menjadi penjaga tradisi, sekaligus inovator yang mampu membawa budaya lokal ke panggung dunia. Dedikasinya menunjukkan bahwa melestarikan seni tradisional bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, tetapi juga tentang menciptakan masa depan yang lebih kaya secara budaya.

1. Harmoni antara Tradisi dan Modernitas

Karya Agustinus membuktikan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas. Melalui musik bambu, ia menunjukkan bagaimana elemen-elemen tradisional dapat diadaptasi tanpa kehilangan esensinya.

2. Pelajaran tentang Ketekunan

Perjalanan hidup Agustinus adalah pelajaran tentang ketekunan dan dedikasi. Dalam menghadapi berbagai tantangan, ia tidak pernah berhenti berusaha, menjadikan musik bambu sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan budaya dan spiritual.

Warisan Abadi Seorang Maestro

Agustinus Sasundu telah mengukir namanya dalam sejarah sebagai penjaga dan pembaharu musik bambu. Karyanya tidak hanya memberikan keindahan bagi para pendengarnya, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi masyarakat Sangihe dan dunia.

Di tengah perubahan zaman, semangat Agustinus mengajarkan kita pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Melalui musik bambu, ia mengingatkan kita akan kekayaan budaya yang harus dilestarikan, serta harmoni yang dapat tercipta ketika manusia hidup selaras dengan alam.

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...