Pada zaman dahulu hiduplah seorang yang bernama Papaang
Batu bersama istri dan anak-anak, mereka hidup dengan bercocok tanam ubi dan
padi lading. Pencaharian lain adalah berburu babi hutan dengan tombak. Hasil
yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan sering juga dapat
membantu sesamanya yang membutuhkan. Papaang juga dikenal sebagai seorang
pengrajin dan hasilnya lumayan.
Suatu hari kebunnya dimasuki babi hutan dalam jumlah yang
banyak sehingga separuh dari tanamannya habis dimakan babi hutan. Papaang
sangat kecewa dan timbul niat untuk membalas dendam. Dibetulkannya pagar
kebunnya yang rusak dan ditanamnya cula untuk menjerat babi yang masuk. Namun
Papaang belum merasa puas, suatu malam ia pergi dengan membawa tombak untuk
menjaga kebunnya, kebetulan malam itu bulan purnama sehingga suasana menjadi
terang seperti siang.
Di tengah kebun tumbuh sebatang pohon yang sangat rimbun
daunnya. Papaang batu duduk di bawah pohon itu dan tombaknya disandarkannya.
Malam makin larut, bulan pun makin tinggi namun ia belum juga mendengar
tanda-tanda yang mencurigakan. Terbuai dengan kesunyian malam dan hembusan
udara dingin maka Papaang pun tertidur bersandar pada batang pohon. Tak lama
berlalu antara sadar dan mimpi ia mendengar ada suara orang yang bercakap - cakap.
Sebagai seorang pemburu ia mempunyai naluri yang sangat tajam,
walau pun mata terpejam tetapi telinganya tetap waspada dan cepat menangkap
bunyi suara apapun. Secepatnya ia bangun berdiri dan memperhatikan keadaan
sekelilingnya. Benar juga apa yang didengarnya, suara orang yang bercakap-cakap
itu sudah ada dalam kebunnya. Diraihnya tombak dan pedangnya, tampak olehnya
demikian banyak benda seperti manusia dengan memakai topi warna merah. Setelah
diperhatikan bahasa yang mereka pakai adalah bahasa manusia biasa dan ia
mendengar ada yang berkata “ tuan raja boleh pergi berbaring di bawah pohon di
tengah kebun itu dan biarlah kami yang membawa makanan untuknya”.
Mendengar itu Papaang batu sangat terkejut sebab pohon
yang dimaksud adalah pohon dimana ia berada. Papaang batu pun panik mau lari,
niatnya tidak tercapai, karena raja dan para pengiring sedang menuju pohon itu,
tidak ada jalan baginya, mau lari pasti akan terlihat oleh mereka, tanpa
berpikir panjang Papaang batu memanjat pohon itu dan duduk pada dahannya yang
tingginya sekitar dua meter dari atas tanah. Diaturnya posisi tombak
dengan matanya menghadap ke tanah siap untuk ditikamkan pada raja itu.
Diperhatikannya benda - benda yang sedang mendekat itu dan alangkah terkejutnya
kalau rombongan itu adalah rombongan babi hutan yang bersuara manusia. Papaang
batu tidak bergerak, rasa takutnya hilang ketika melihat babi hutan itu berdiri
di bawah pohon. Sebagian babi mengatakan “ hati - hati terhadap Papaang batu
yang cekatan itu, jaga baik - baik tuan raja” Ada yang menjawab “dia di
laut sekarang sebab sekarang musim ikan” yang lain berkata “Bawa ubi yang
besar-besar dan beras kepada tuan raja”. Papaang batu tidak lagi memperhatikan
obrolan para babi itu, mata dan perhatiannya tertuju pada tombaknya dan
punggung raja babi yang lebar itu. Setelah babi-babi yang lain pergi kini
tinggal raja babi sendiri, dikumpulkannya tenaga dan diangkatnya tombak sekuat
tenaga dan ditikamkannya ke punggung raja babi itu dan menembus jantung.
Setelah tombak itu mengenai sasaran raja babi berteriak
dengan keras “tolong saya ditikam” lalu ia lari menuju tepi kebun dan terus ke
hutan. Mendengar rajanya berteriak maka paniklah semua babi yang ada dalam
kebun, lari tidak tentu arah ada yang saling bertabrakan ada yang melompat
pagar dan tertusuk cula. Dalam keadaan panik ada babi yang berkata ”sudah saya
bilang Papaang batu manusia yang cerdik”. Dalam keadaan kacau tiba-tiba Papaang
batu berteriak dengan suara keras “rasakan tanganku, aku ini Papaang batu”,
sesudah itu keadaan kebun kembali sunyi, terdengar suara mengeluh di luar
pagar, itu adalah suara babi hutan yang tertusuk cula. Hal itu diketahui oleh
Papaang batu segera ia turun dari pohon dan mengikuti bekas raja babi berlari
dengan darahnya yang berceceran. Sampai di tepi hutan ia menyusuri pagar
memeriksa cula yang ditanamnya. Alangkah senangnya ia setelah melihat babi - babi
yang mati terkena jerat dihitungnya ada sebelas ekor, dengan perasaan senang
Papaang batu pulang kerumah.
Pagi hari Papaang batu memanggil para tetangganya untuk
membantunya mengambil babi -babi yang sudah mati di kebunnya. Sampai dikebun
mereka sibuk mengangkat babi - babi yang sudah mati untuk di bawa pulang dan
dua orang menemani Papaang batu menelusuri jejak babi yang ditikamnya semalam.
Di suatu tempat ditengah hutan diatas batu besar yang datar terdapat bekas kaki dan darah. Mereka berpencar mengelilingi batu tetapi bekasnya tidak ada lagi. Mereka pun duduk di atas batu sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Tiba - tiba Papaang batu berkata “mari kita coba gulingkan batu ini” dengan tidak berpikir panjang kedua temannya setuju lalu batu itu digulingkan. Apa yang mereka lihat, ternyata dibawah batu itu ada lubang besar, mereka heran dan melihat kedalam dan ternyata lubang itu lebar dan gelap tetapi ada tangga dari akar-akar yang menuju ke bawah dan terlihat oleh mereka ada darah yang membekas ditangga itu.
Di suatu tempat ditengah hutan diatas batu besar yang datar terdapat bekas kaki dan darah. Mereka berpencar mengelilingi batu tetapi bekasnya tidak ada lagi. Mereka pun duduk di atas batu sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Tiba - tiba Papaang batu berkata “mari kita coba gulingkan batu ini” dengan tidak berpikir panjang kedua temannya setuju lalu batu itu digulingkan. Apa yang mereka lihat, ternyata dibawah batu itu ada lubang besar, mereka heran dan melihat kedalam dan ternyata lubang itu lebar dan gelap tetapi ada tangga dari akar-akar yang menuju ke bawah dan terlihat oleh mereka ada darah yang membekas ditangga itu.
Papaang batu memutuskan untuk masuk ke dalam,
kira - kira sejam ia berjalan tibalah ia pada suatu tempat yang rata dan bukan
lagi akar melainkan tanah. Dari kejauhan terlihat seakan-akan ada nyala lampu
seperti sebuah kota, ia berpikir bukankah saat ini malam, mengapa baru beberapa
jam ia berjalan hari sudah siang. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju terang
itu, benar setelah dekat dilihatnya sebuah kampung dengan lampu - lampu yang
terang, terlihat pula ada anak-anak bermain dijalan dan di halaman, tidak
berbeda dengan kampung yang ada di atas. Diperhatikannya wajah orang-orang di
situ, mereka sama dengan manusia yang lain, bahasanya sama dan dapat
dimengerti. Aneh! Setelah didekatinya ternyata mereka adalah orang-orang yang
ia kenal dan sudah meninggal. Timbullah rasa takut, mau kembali ia tidak tahu
lagi jalan pulang karena keadaan tiba - tiba sudah berubah. Ia mendekati
anak-anak itu lalu bertanya “ dimanakah rumah tuan raja, saya mau menemui
rajamu”. Jawab anak-anak itu “di sana dimana banyak orang berkumpul, raja
sedang sakit berat, mari kami antar”.
Sementara berjalan menuju istana ia berpikir, dalam hati ia
berkata raja sakit akibat ditikamnya. Setelah tiba di depan istana ia langsung
menghadap pengawalnya dan minta izin untuk menjenguk raja. Setelah diijinkan ia
melihat orang - orang yang sedang cemas, permaisuri dan anak-anaknya yang
sedang menangis. Ia masuk dan mendekati raja, benar apa yang ia lihat keadaan
raja sangat parah, sampai-sampai ia tidak mengenal orang lagi dan kata - katanya
sudah tersendat - sendat. Segera Papaang batu memohon kepada permaisuri dan
kepada orang tua disitu untuk mengobati Raja. Perkataan Papaang batu disambut
dengan gembira oleh semua yang ada disitu, mereka memohon agar raja dapat
disembuhkan. Setelah diobati oleh Papaang batu ternyata raja sembuh, semua
rakyat bergembira bersama permaisuri dan anak-anaknya. Raja bertanya kepada
permaisuri kalau siapa yang menyembuhkannya. Permaisuri mengatakan bahwa ada
orang asing yang tiba -tiba datang seakan - akan ia sudah tahu kalau baginda
raja sedang sakit.
Raja meminta orang itu untuk masuk, dengan segera Papaang
batu menghadap raja. “ Siapa namamu ” Tanya raja dan “dari mana engkau datang”.
Jawabnya “nama saya Papaang batu” mendengar itu raja terkejut sebab mereka
mengenal nama itu dan dari mana asalnya. “dengan apa kau mengobati sakitku ”
Tanya raja. “ Penyakit tuan kena tusukan besi manusia di bumi atas dan obatnya
dicabut dengan besi itu ” kata Papaang batu. Mereka tidak dapat mengenal mata
tombak yang terselip di pinggangnya. “ Memang obatmu sangat mujarab, buktinya
sekarang saya sudah sembuh ” kata raja. Lalu raja bersabda kepada panglima
istana “ kumpulkan semua penduduk negeri ini, laki-laki, wanita, anak - anak,orang
tua, kita adakan selamatan dan syukuran karena saya sudah sembuh dan
seakan-akan hidup kembali dari kematian”.
Demikianlah mereka berpesta dan dihadirI oleh semua
penduduk. Raja memanggil Papaang batu untuk duduk di sampingnya dan
memperkenalkan Papaang batu kepada seluruh rakyatnya, bahwa inilah orang yang
baik hati dan telah berjasa menyembuhkan raja. Dan saat ini juga adalah saat
perpisahan karena Papaang batu akan kembali pulang ke kampungnya. Tetapi
perhatian Papaang batu sejak acara belum dimulai tertuju pada makanan - makanan
yang dihidangkan dalam pesta semua dalam keadaan mentah tidak bedanya dengan
makanan babi hutan. Setelah hari sudah malam maka Papaang batu berpamitan untuk
pulang. Maka raja berkata kepada Papaang batu “sekarang masuklah ke istana dan
tidurlah, besok ketika bangun engkau sudah berada di rumahmu”. Pagi-pagi ketika
ia bangun dibukanya matanya, alangkah herannya Karena ternyata ia ada bersama
istri dan anak-anaknya di rumahnya sendiri. Saya tidak mengerti katanya kepada
istrinya “ kapan saya tiba disini ” sahut istrinya “ tadi subuh kira - kira pukul
empat. Waktu datang wajahmu kelihatan liar, diajak bicara tidak menjawab sampai
kau tertidur. Sekarang saya ingin tahu apa yang kau alami semalam ”.
Diceritakannya kepada istrinya apa yang ia alami dan ia teringat akan tombaknya
“dimanakah tombakku “. Jawab istrinya “sudah saya simpan karena kau tertidur
dengan tombak masih terselip di pinggang ”.
Mulai saat itu apabila ia membuka kebun tidak ada lagi
ganggaun babi hutan, ternyata benarlah janji dan sumpah raja babi itu gumam
Papaang batu.
Cerita
ini mengandung makna, bahwa saling memaafkan kesalahan merupakan hal yang
indah dan membawa kedamaian.
Sumber : BPNB Sulut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar