Kamis, 21 April 2022

Cerita Rakyat Sangihe Talaud : PAPAANG BATU

 


Pada zaman dahulu hiduplah seorang yang bernama Papaang Batu bersama istri dan anak-anak, mereka hidup dengan bercocok tanam ubi dan padi lading. Pencaharian lain adalah berburu babi hutan dengan tombak. Hasil yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan sering juga dapat membantu sesamanya yang membutuhkan. Papaang juga dikenal sebagai seorang pengrajin dan hasilnya lumayan.

Suatu hari kebunnya dimasuki babi hutan dalam jumlah yang banyak sehingga separuh dari tanamannya habis dimakan babi hutan. Papaang sangat kecewa dan timbul niat untuk membalas dendam. Dibetulkannya pagar kebunnya yang rusak dan ditanamnya cula untuk menjerat babi yang masuk. Namun Papaang belum merasa puas, suatu malam ia pergi dengan membawa tombak untuk menjaga kebunnya, kebetulan malam itu bulan purnama sehingga suasana menjadi terang seperti siang.

Di tengah kebun tumbuh sebatang pohon yang sangat rimbun daunnya. Papaang batu duduk di bawah pohon itu dan tombaknya disandarkannya. Malam makin larut, bulan pun makin tinggi namun ia belum juga mendengar tanda-tanda yang mencurigakan. Terbuai dengan kesunyian malam dan hembusan udara dingin maka Papaang pun tertidur bersandar pada batang pohon. Tak lama berlalu antara sadar dan mimpi ia mendengar ada suara orang yang bercakap - cakap.

Sebagai seorang pemburu ia mempunyai naluri yang sangat tajam, walau pun mata terpejam tetapi telinganya tetap waspada dan cepat menangkap bunyi suara apapun. Secepatnya ia bangun berdiri dan memperhatikan keadaan sekelilingnya. Benar juga apa yang didengarnya, suara orang yang bercakap-cakap itu sudah ada dalam kebunnya. Diraihnya tombak dan pedangnya, tampak olehnya demikian banyak benda seperti manusia dengan memakai topi warna merah. Setelah diperhatikan bahasa yang mereka pakai adalah bahasa manusia biasa dan ia mendengar ada yang berkata “ tuan raja boleh pergi berbaring di bawah pohon di tengah kebun itu dan biarlah kami yang membawa makanan untuknya”.

Mendengar itu Papaang batu sangat terkejut sebab pohon yang dimaksud adalah pohon dimana ia berada. Papaang batu pun panik mau lari, niatnya tidak tercapai, karena raja dan para pengiring sedang menuju pohon itu, tidak ada jalan baginya, mau lari pasti akan terlihat oleh mereka, tanpa berpikir panjang Papaang batu memanjat pohon itu dan duduk pada dahannya yang tingginya sekitar dua meter dari atas tanah.  Diaturnya posisi tombak dengan matanya menghadap ke tanah siap untuk ditikamkan pada raja itu. Diperhatikannya benda - benda yang sedang mendekat itu dan alangkah terkejutnya kalau rombongan itu adalah rombongan babi hutan yang bersuara manusia. Papaang batu tidak bergerak, rasa takutnya hilang ketika melihat babi hutan itu berdiri di bawah pohon. Sebagian babi mengatakan “ hati - hati terhadap Papaang batu yang cekatan itu, jaga baik - baik tuan raja” Ada  yang menjawab “dia di laut sekarang sebab sekarang musim ikan” yang lain berkata “Bawa ubi yang besar-besar dan beras kepada tuan raja”. Papaang batu tidak lagi memperhatikan obrolan para babi itu, mata dan perhatiannya tertuju pada tombaknya dan punggung raja babi yang lebar itu. Setelah babi-babi yang lain pergi kini tinggal raja babi sendiri, dikumpulkannya tenaga dan diangkatnya tombak sekuat tenaga dan ditikamkannya ke punggung raja babi itu dan menembus jantung.

Setelah tombak itu mengenai sasaran raja babi berteriak dengan keras “tolong saya ditikam” lalu ia lari menuju tepi kebun dan terus ke hutan. Mendengar rajanya berteriak maka paniklah semua babi yang ada dalam kebun, lari tidak tentu arah ada yang saling bertabrakan ada yang melompat pagar dan tertusuk cula. Dalam keadaan panik ada babi yang berkata ”sudah saya bilang Papaang batu manusia yang cerdik”. Dalam keadaan kacau tiba-tiba Papaang batu berteriak dengan suara keras “rasakan tanganku, aku ini Papaang batu”, sesudah itu keadaan kebun kembali sunyi, terdengar suara mengeluh di luar pagar, itu adalah suara babi hutan yang tertusuk cula. Hal itu diketahui oleh Papaang batu segera ia turun dari pohon dan mengikuti bekas raja babi berlari dengan darahnya yang berceceran. Sampai di tepi hutan ia menyusuri pagar memeriksa cula yang ditanamnya. Alangkah senangnya ia setelah melihat babi - babi yang mati terkena jerat dihitungnya ada sebelas ekor, dengan perasaan senang Papaang batu pulang kerumah.

Pagi hari Papaang batu memanggil para tetangganya untuk membantunya mengambil babi -babi yang sudah mati di kebunnya. Sampai dikebun mereka sibuk mengangkat babi - babi yang sudah mati untuk di bawa pulang dan dua orang menemani Papaang batu menelusuri jejak babi yang ditikamnya semalam.
Di suatu tempat ditengah hutan diatas batu besar yang datar terdapat bekas kaki dan darah. Mereka berpencar mengelilingi batu tetapi bekasnya tidak ada lagi. Mereka pun duduk di atas batu sambil berpikir apa yang harus dilakukan. Tiba - tiba Papaang batu berkata “mari kita coba gulingkan batu ini” dengan tidak berpikir panjang kedua temannya setuju lalu batu itu digulingkan. Apa yang mereka lihat, ternyata dibawah batu itu ada lubang besar, mereka heran dan melihat kedalam dan ternyata lubang itu lebar dan gelap tetapi ada tangga dari akar-akar yang menuju ke bawah dan terlihat oleh mereka ada darah yang membekas ditangga itu. 

Papaang batu memutuskan untuk masuk ke dalam, kira - kira sejam ia berjalan tibalah ia pada suatu tempat yang rata dan bukan lagi akar melainkan tanah. Dari kejauhan terlihat seakan-akan ada nyala lampu seperti sebuah kota, ia berpikir bukankah saat ini malam, mengapa baru beberapa jam ia berjalan hari sudah siang. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju terang itu, benar setelah dekat dilihatnya sebuah kampung dengan lampu - lampu yang terang, terlihat pula ada anak-anak bermain dijalan dan di halaman, tidak berbeda dengan kampung yang ada di atas. Diperhatikannya wajah orang-orang di situ, mereka sama dengan manusia yang lain, bahasanya sama dan dapat dimengerti. Aneh! Setelah didekatinya ternyata mereka adalah orang-orang yang ia kenal dan sudah meninggal. Timbullah rasa takut, mau kembali ia tidak tahu lagi jalan pulang karena keadaan tiba - tiba sudah berubah. Ia mendekati anak-anak itu lalu bertanya “ dimanakah rumah tuan raja, saya mau menemui rajamu”. Jawab anak-anak itu “di sana dimana banyak orang berkumpul, raja sedang sakit berat, mari kami antar”.

Sementara berjalan menuju istana ia berpikir, dalam hati ia berkata raja sakit akibat ditikamnya. Setelah tiba di depan istana ia langsung menghadap pengawalnya dan minta izin untuk menjenguk raja. Setelah diijinkan ia melihat orang - orang yang sedang cemas, permaisuri dan anak-anaknya yang sedang menangis. Ia masuk dan mendekati raja, benar apa yang ia lihat keadaan raja sangat parah, sampai-sampai ia tidak mengenal orang lagi dan kata - katanya sudah tersendat - sendat. Segera Papaang batu memohon kepada permaisuri dan kepada orang tua disitu untuk mengobati Raja. Perkataan Papaang batu disambut dengan gembira oleh semua yang ada disitu, mereka memohon agar raja dapat disembuhkan. Setelah diobati oleh Papaang batu ternyata raja sembuh, semua rakyat bergembira bersama permaisuri dan anak-anaknya. Raja bertanya kepada permaisuri kalau siapa yang menyembuhkannya. Permaisuri mengatakan bahwa ada orang asing yang tiba -tiba datang seakan - akan ia sudah tahu kalau baginda raja sedang sakit.

Raja meminta orang itu untuk masuk, dengan segera Papaang batu menghadap raja. “ Siapa namamu ” Tanya raja dan “dari mana engkau datang”. Jawabnya “nama saya Papaang batu” mendengar itu raja terkejut sebab mereka mengenal nama itu dan dari mana asalnya. “dengan apa kau mengobati sakitku ” Tanya raja. “ Penyakit tuan kena tusukan besi manusia di bumi atas dan obatnya dicabut dengan besi itu ” kata Papaang batu. Mereka tidak dapat mengenal mata tombak yang terselip di pinggangnya. “ Memang obatmu sangat mujarab, buktinya sekarang saya sudah sembuh ” kata raja. Lalu raja bersabda kepada panglima istana “ kumpulkan semua penduduk negeri ini, laki-laki, wanita, anak - anak,orang tua, kita adakan selamatan dan syukuran karena saya sudah sembuh dan seakan-akan hidup kembali dari kematian”.

Demikianlah mereka berpesta dan dihadirI oleh semua penduduk. Raja memanggil Papaang batu untuk duduk di sampingnya dan memperkenalkan Papaang batu kepada seluruh rakyatnya, bahwa inilah orang yang baik hati dan telah berjasa menyembuhkan raja. Dan saat ini juga adalah saat perpisahan karena Papaang batu akan kembali pulang ke kampungnya. Tetapi perhatian Papaang batu sejak acara belum dimulai tertuju pada makanan - makanan yang dihidangkan dalam pesta semua dalam keadaan mentah tidak bedanya dengan makanan babi hutan. Setelah hari sudah malam maka Papaang batu berpamitan untuk pulang. Maka raja berkata kepada Papaang batu “sekarang masuklah ke istana dan tidurlah, besok ketika bangun engkau sudah berada di rumahmu”. Pagi-pagi ketika ia bangun dibukanya matanya, alangkah herannya Karena ternyata ia ada bersama istri dan anak-anaknya di rumahnya sendiri. Saya tidak mengerti katanya kepada istrinya “ kapan saya tiba disini ” sahut istrinya “ tadi subuh kira - kira pukul empat. Waktu datang wajahmu kelihatan liar, diajak bicara tidak menjawab sampai kau tertidur. Sekarang saya ingin tahu apa yang kau alami semalam ”. Diceritakannya kepada istrinya apa yang ia alami dan ia teringat akan tombaknya “dimanakah tombakku “. Jawab istrinya “sudah saya simpan karena kau tertidur dengan tombak masih terselip di pinggang ”.

Mulai saat itu apabila ia membuka kebun tidak ada lagi ganggaun babi hutan, ternyata benarlah janji dan sumpah raja babi itu gumam Papaang batu.

Cerita ini mengandung makna, bahwa saling memaafkan kesalahan  merupakan hal yang indah  dan membawa kedamaian.

 

Sumber : BPNB Sulut

Jumat, 08 April 2022

Panglima Burung, Sosok Gaib Pemersatu Suku Dayak

Bagi masyarakat Dayak yang mendiami pedalaman Kalimantan, nama Panglima Burung merupakan sosok legendaris yang begitu dihormati dan diagungkan. Ia dianggap sebagai pemimpin spiritual yang memiliki kekuatan luar biasa, seorang ksatria sakti mandraguna dengan wibawa yang tak tertandingi. Sosoknya dipercaya tinggal di kawasan pegunungan yang tersembunyi di dalam belantara Kalimantan, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan manusia.

Panglima Burung, yang kerap disapa dengan nama Pangkalima, dipercaya memiliki kekuatan gaib yang melindungi seluruh warga Dayak. Ia tidak hanya dipandang sebagai penjaga dan pengayom masyarakat, tetapi juga sebagai simbol persatuan. Kisah-kisah tentang dirinya tersebar dalam berbagai versi di tengah masyarakat Dayak, yang menjadikan figur ini semakin penuh misteri dan daya tarik.

Sosok Sakti yang Berusia Ratusan Tahun

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Panglima Burung telah hidup selama ratusan tahun. Tempat tinggalnya disebut-sebut berada di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dalam wujud gaibnya, ia dapat muncul sebagai laki-laki atau perempuan, tergantung pada situasi dan kebutuhan. Sebagian besar cerita bahkan menyebutkan bahwa ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap suci dan keramat oleh masyarakat Dayak. Burung ini melambangkan kedamaian, kesucian, dan harmoni dengan alam.

Sebagai tokoh spiritual, Panglima Burung digambarkan memiliki sifat-sifat luhur seperti ketenangan, kesabaran, dan kerendahan hati. Ia tidak pernah menunjukkan kekuatan atau kebesarannya untuk menciptakan kekacauan, melainkan selalu hadir sebagai sosok yang sederhana. Meskipun diagungkan, ia memilih tinggal di tempat terpencil di gunung dan menjalani hidup yang menyatu dengan alam, jauh dari kemewahan dan kemegahan.

Panglima sebagai Gelar Kehormatan

Selain dianggap sebagai sosok mistis, terdapat pula versi cerita yang menyebut Panglima Burung sebagai gelar kehormatan yang diberikan kepada seorang panglima perang di tanah Meliau, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dalam kehidupan sehari-harinya, panglima ini menjalani kehidupan sederhana, seperti warga biasa, meskipun ia tidak menikah. Sosoknya hanya muncul ketika terjadi konflik atau kekacauan yang mengancam kehidupan masyarakat Dayak. Saat itu, ia dipercaya akan turun tangan untuk melindungi dan mengembalikan keharmonisan di tanah leluhur mereka.

Kehadiran Panglima Burung dalam Konflik

Nama Panglima Burung kembali mencuat ke permukaan ketika terjadi kerusuhan besar di Sambas dan Sampit beberapa tahun lalu. Dalam situasi tersebut, masyarakat Dayak percaya bahwa Panglima Burung memainkan peran penting dalam menyatukan suku-suku Dayak yang tersebar di pedalaman Kalimantan untuk melawan ketidakadilan. Bahkan, suku Dayak yang tinggal di wilayah Malaysia dikabarkan turut bergabung dalam perjuangan tersebut.

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah tentang "mandau terbang" yang muncul selama konflik Sampit. Mandau, senjata tradisional Dayak, dipercaya dapat bergerak sendiri untuk melindungi masyarakat Dayak dari ancaman. Banyak yang meyakini bahwa keajaiban ini merupakan bantuan langsung dari Panglima Burung, yang turun tangan untuk memastikan kemenangan masyarakat Dayak dalam menghadapi tantangan yang mereka hadapi.

Simbol Persatuan dan Pelindung Tradisi

Keberadaan Panglima Burung tidak hanya menjadi cerita yang mewarnai kehidupan masyarakat Dayak, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan pelindung tradisi. Dalam setiap versi cerita, sosok ini selalu digambarkan sebagai penjaga harmoni dan keadilan. Ia mengingatkan masyarakat Dayak untuk tetap menjaga hubungan dengan alam dan menghormati adat istiadat yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

Sebagai bagian dari warisan budaya Kalimantan, kisah Panglima Burung memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Dayak. Ia tidak hanya menjadi lambang kekuatan spiritual, tetapi juga inspirasi untuk menjaga persatuan dan kebersamaan di tengah keberagaman. Dengan melestarikan cerita ini, masyarakat Dayak tidak hanya menghormati leluhur mereka, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam legenda ini tetap hidup di masa depan.

Kekayaan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Cerita tentang Panglima Burung adalah salah satu dari sekian banyak warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan. Sosoknya mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam, serta pentingnya menjaga keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam era modern yang serba cepat ini, kisah-kisah seperti Panglima Burung mengingatkan kita untuk tidak melupakan akar budaya dan tradisi yang menjadi identitas kita sebagai bangsa.

Dengan segala keunikannya, Panglima Burung adalah simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Ia mengajarkan kita bahwa kepemimpinan sejati tidak terletak pada kekuasaan atau kemewahan, tetapi pada keberanian untuk melindungi, mengayomi, dan menciptakan harmoni di tengah keberagaman. Mari kita lestarikan kisah ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.

"Adil Ka' Talino Bacuramin Ka' Saruga Basengat Ka' Jubata"

 

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...