Di tengah derasnya arus modernisasi, seni bela diri tradisional seperti Kuntow, yang menjadi bagian penting dari warisan masyarakat Tidung Ulun Pagun di Kalimantan Utara, semakin terpinggirkan. Kuntow bukan hanya sekadar seni bertarung; ia adalah simbol identitas dan nilai luhur budaya.
Sayangnya, seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Arbain dalam bukunya, "Buku Pintar Kebudayaan Tidung", keberadaan Kuntow kini berada di ujung tanduk, hampir terkikis oleh waktu. Arbain menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kelangkaan Kuntow adalah pembatasan yang melarang seni ini dipelajari oleh masyarakat umum. Hanya lingkaran keluarga Tidung tertentu yang diizinkan mempelajarinya.
Pendapat serupa diutarakan oleh Datuk Noerbeck, seorang budayawan Tidung. Ia mengungkapkan bahwa pada masa lalu, Raja Tidung bahkan menyediakan dana untuk menggaji pelatih Kuntow agar seni bela diri ini dapat diajarkan secara luas di wilayah kerajaannya. Namun, kini, tradisi tersebut telah memudar, dan pengajaran Kuntow menjadi sangat terbatas.
Eksklusivitas Kuntow dan Tantangan Pelestarian
Saat ini, Kuntow jarang ditemukan, tidak hanya di kalangan masyarakat heterogen Kalimantan Utara tetapi juga di antara suku Tidung sendiri. Abdul Somad, seorang pelatih Kuntow dari perguruan Bawod, menegaskan bahwa tradisi ini dipertahankan dengan ketat dalam lingkup keluarga. "Ini adalah amanah leluhur kami," ujar Somad. Prinsip ini menjadi pedang bermata dua: di satu sisi, menjaga keaslian Kuntow, tetapi di sisi lain, membatasi penyebarannya.
Perbedaan Kuntow dengan seni bela diri lain, seperti silat, terletak pada jumlah jurusnya. Jika silat memiliki ratusan jurus, Kuntow hanya memiliki sepuluh jurus inti. Namun, kekuatan Kuntow terletak pada jurus bunga, yang menjadi ciri khas seni bela diri ini. Jurus bunga bukan sekadar langkah awal, melainkan gerakan yang memadukan keanggunan dan kekuatan, disertai kecepatan serta ketangkasan untuk menjatuhkan lawan.
Bagi Jaelani, seorang mahasiswa PPKIA Tarakan sekaligus murid Abdul Somad, belajar Kuntow memberikan manfaat besar. Selain meningkatkan kesehatan fisik, seni bela diri ini juga menjadi cara produktif untuk mengisi waktu luang. Jaelani merasa bangga dapat mempelajari tradisi yang begitu kaya akan nilai budaya.
Keprihatinan terhadap Kepunahan Kuntow
Ironisnya, meskipun Kuntow memiliki nilai budaya yang tinggi, seni bela diri ini kini tergolong sebagai warisan yang hampir punah. Generasi muda Tidung, terutama yang tinggal di daerah perkotaan, semakin menjauh dari tradisi ini. Modernisasi dan gaya hidup yang serba praktis menjadi tantangan besar bagi pelestarian Kuntow.
Menurut Arbain, masyarakat Tidung perlu menyadari pentingnya melestarikan seni bela diri ini. Selain sebagai pelindung diri, Kuntow juga merupakan simbol kebanggaan dan identitas budaya yang tidak ternilai harganya. Tanpa upaya nyata untuk menjaga keberadaan Kuntow, tradisi ini berisiko hilang sepenuhnya.
Upaya Pelestarian dan Harapan Masa Depan
Pelestarian Kuntow membutuhkan pendekatan yang inovatif namun tetap menghormati akar tradisinya. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah mengintegrasikan Kuntow ke dalam program pendidikan budaya di sekolah-sekolah lokal. Dengan cara ini, generasi muda dapat mengenal dan menghargai seni bela diri ini sejak dini.
Selain itu, pemerintah daerah dan komunitas budaya dapat berkolaborasi untuk mengadakan pertunjukan dan festival seni bela diri tradisional. Meskipun Kuntow tidak dipertandingkan, memperkenalkannya dalam bentuk pertunjukan dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Abdul Somad dan para pelatih Kuntow lainnya juga memiliki peran penting dalam pelestarian seni bela diri ini. Dengan dedikasi mereka, Kuntow dapat terus diajarkan kepada generasi berikutnya. Jika tradisi ini mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensinya, Kuntow akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Tidung.
Kuntow Bukan Sekedar Seni Bela Diri
Kuntow bukan hanya seni bela diri; ia adalah warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Tidung Ulun Pagun. Dalam setiap gerakan dan jurusnya, tersimpan cerita tentang kekuatan, ketangkasan, dan kebijaksanaan leluhur. Kini, tanggung jawab melestarikan Kuntow berada di tangan kita semua. Dengan langkah-langkah konkret dan dukungan kolektif, seni bela diri ini dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kita.
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar