Senin, 28 Maret 2022

GUMANSALANGI SATRIA ASAL MINDANO BERJAYA DI SANGIHE

 

Dahulu kala menurut cerita datuk moyang, di Kotabatu, sebuah negeri di Pulau Mindano Filipina Selatan bersemayamlah seorang Raja Kotabatu. Beliau mempunyai seorang putera yang bernama Gumansalangi. Namun putera ini berbudi perketi tidak baik, shingga ia dikucilkan di tengah hutan rimba, tempat mana kemudian diberi nama Marauw.

Dalam pengasingan itu barulah hati Gumansalangi tergugah dan menyesali perbuatannya yang tidak baik. Ia meratap tiada berkeputusan dan ratapan tangisnya itu kedengaran hingga kepada Sang Dewa. Raja Kayangan Sang Dewa pun turun ke Bumi menuruti bunyi ratapan itu dan dijumpainya seorang putera raja yang hidup sebatang kara di tengah-tengah hutan rimba, sehingga menimbulkan rasa belas kasihan.

Sekembalinya dikayangan, ditanyakanlah puteri-puterinya : “siapa yang rela berkorban untuk menolong seorang putera yang malang didunia, bahkan berkenan menjadi pujaannya?” Permintaan sang ayah tiada diterima oleh puteri-puterinya kecuali sibungsu, putri yang senantiasa patuh menjalankan perintah beliau.

Puteri bungsu tersebut bernama Kondawulaeng atau Sangiangkonda turun ke dunia dan menyamar sebagai seorang yang berpenyakit puru. Bau yang sangat menusuk hidung tercium oeh putera yang diasingkan itu dan setelah diikutnya asal bau tersebut, ternyata berasal dari seorang wanita penyakitan. Walaupun demikian Gumansalangi tidak merasa jijik, malahan diajaknya berdiam bersamanya. Ajakan itu ditolak oleh Kondawulaeng, dengan alasan bahwa ia tidak layak untuk hidup bersama seorang yang sehat, meskipun hal itu merupakan uian bagi Gumansalangi. Namun, Gumansalangi dengan tekun merawatnya hingga sembuh. Tetapi setelah beberapa hari, menghilanglah wanita itu tanpa bekas. Sebenarnya ia kembali ke kayangan untuk menyampaikan berita kepada Sang Dewa, perihal Gumansalangi, putera yang diasingkan itu ternyata berjiwa ksatria dan bertingkah laku wajar terhadapnya.

Kondawulaeng kemudian disuruh kembali oleh Sang Dewa ke Dunia untuk kedua kalinya. Kali ini menyamar sebagai seorang wanita yang berpenyakit kulit yang baunya tengik dan menjijikan. Sebagaimana peristiwa pertama, begitu pula yang dilakukan oleh Gumansalangi pada peristiwa kali ini terhadap wanita yang berpenyakit kulit tadi. Oleh sebab itu sudah sepantasnya kalau puteri Kondawulaeng turun ke Dunia mendapingi Gumansalangi seumur hidupnya.

Kali ini Kondawulaeng hadir sebagai puteri kayangan yang cantik molek, dengan bau wewangian yang berasal dari tubuhnya menabur semerbak di hutan rimba. Gumansalangi lalu bangkit mencari asal dari mana bau harum merebak. Dan alangkah tertegunnya ia kala menyaksikan keelokan seorang puteri kayangan yang cantik parasnya, sehingga ia jatuh pingsan. Melihat kejadian itu, Puteri Kondawulaeng meraih tiga kembang melati yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, merendamnya dalam air telapak tangannya, kemudian air melati tadi ia percikkan kemuka Gumansalangi dan sadarlah ia seketika itu juga.

Pengembaraan Gumansalangi dan Kondawulaeng ke tempat yang baru ditemani oleh Bawangunglare yang menyaru sebagai seekor ular sakti. Keduanya mengendarai ular sakti yang tidak lain lain adalah saudara tua Kodawulaeng, mulai dengan mengitari Kotabatu sebanyak tiga kali pada tengah malam. Kehadiran mereka bertiga telah menggemparkan penduduk Kotabatu yang terkejut melihat cahaya gemerlapan dari ular sakti.

Semasa hidupnya sebagai tokoh masyarakat Nusa Utara, Alm. Paul Utje Pulu pernah menuturkan terkait hal ini,” Raja Gumansalangi itu kan rajanya Tampunganglawo, raja yang berkuasa yang asal muasalnya dia dari Mindano sana di Filipin. Jadi dia datang ke Sangihe dalam legenda itu kan penumpang dari pulau-pulau raksasa hingga dibeberapa tempat termasuk singgah di Tagulandang, Talaud sampai di Sandarumang sana gunung disekitar Tamako. Dia itu nanti dengan istrinya Sangiang Mekila menjadi raja pertama di Tampunganlawo.

Sesudah itu berangkatlah mereka menuju arah timur dan tibalah mereka di pulau Marulung (Balut). Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Pulau Siau (Karangetang) dan mendaki Gunung Tamata. Setelah tinggal beberapa saat, tidak ada hujan lebat, petir dan guntur yang menyambutnya. Lalu mereka menuju ke utara, ke arah Pulau Sangihe atau Tampungan Lawo dan mendaki gunung Sahendarumang. Setibanya mereka di puncak Gunung Sahendarumang, turunlah hujan lebat disertai petir dan guntur yang bersahut-sahutan yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Setelah hujan redah pada hari yang ketiga, yakinlah keduanya bahwa disinilah mereka harus menetap. Lalu turunlah pasangan suami istri  menelusuri aliran sungai Balau, dan tiba di perkampunagn penduduk. Oleh penduduk setempat keduanya dielu-elukan dan dipuja, dan diberi nama baru. Tempat ini kini dikenal dengan nama Salurang atau Aluhang, berasal dari kata Saluhe, artinya yang dipuja dan dielu-elukan.

CERITA GUMANSALANGI

Untuk mendalami kebudayaan sangihe, sebaiknya memahami sastra lisan sangihe, sastra lisan sangihe adalah salah satu bukti peninggalan kebudayaan sangihe masa lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Dari beberapa sastera lisan sangihe yang paling melegenda adalah cerita Gumansalangi. Dari cerita tersebut kita dapat melihat keberadaan sangihe dari penduduk mula-mula sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan yang menjadi dasar terbentuknya sebuah suku yang dinamakan suku sangihe. Kisah Gumansalangi sebagai penduduk mula-mula tergambar secara utuh dalam “Tamo” karena tamo telah menjiwai kelahiran sangiang konda sebagai ibu dari orang-orang sangihe. Cerita Gumansalangi dan pembentukan kerajaan sudah ditulis banyak orang meskipun hanya dalam tulisan-tulisan lepas, bukan dalam sebuah buku yang sangat lengkap.

Ada banyak tulisan yang dilengkapi dengan tahun kejadian, tetapi belum bisa diakui karena semua cerita tentang Gumansalangi, tidak pernah dibukukan dimasa lalu sehingga terjadi kesimpangsiuran. Mungkin cerita lengkap tentang Sangihe boleh ditelusuri di Belanda untuk mandapatkan kepastian yang lebih ilmiah dan dapat diakui oleh publik yang lebih luas.

Seperti pepatah mengatakan “tak ada rotan akarpun jadi”. Kita sebagai generasi baru tidak bisa lagi menunggu “pemerintah” untuk mendanai penelitian dan penulisan tentang sejarah dan kebudayaan sangihe secara komprehensip. Karena lebih banyak orang sangihe “ndak” mau peduli, dari pada yang terpanggil untuk berbuat menggali kekayaan budaya.

Tokoh Gumansalangi sudah diceritakan berabad-abad lamanya di kepulauan sangihe melalui cerita lisan dari generasi kegenerasi secara turun-temurun. Sejak masuknya bangsa Eropa, cerita Gumansalangi mulai ditulis oleh para budayawan, sejarahwan dan pemerhati sejarah dan kebudayaan sangihe lainnya dalam bentuk tulisan-tulisan lepas.

Cerita Gumansalangi pertama kali diterjemahkan Desember 1993 di Biola University – Los Angles. Kisah Gumansalangi terbaru ditulis oleh Kenneth R. Maryott, seorang berkebangsaan Amerika yang bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di Philliphin dalam buku yang berjudul “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “. Buku tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sangihe,bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, diterbitkan oleh “ The Committee For The Promotion Of The Sangir Language, Davao – Phillphiness, 1995. Kenneth bertindak sebagai editor, berdasarkan penuturan dari Bapak Haremson E. Juda. Disamping itu terdapat juga cerita tentang Makaampo. Cerita Makaampo pertama kali ditulis dan dipublikasikan dengan judul “Bĕkeng Makaampo (The Story of Makaampo)” dari artikel journal “Majalah Bijdragen tot de taal,- Land – en Volkendkunde, Volume 113 (1957)

Cerita Gumansalangi berasal dari kepulauan Sangihe Talaud, yang diceritakan sebagai folklore atau cerita rakyat. (Folklore adalah unsure kebudayaan dari masa silam yang menuju ke ambang kepunahan). Banyak cerita yang berkembang di kepuluan sangihe tentang Gumansalangi tetapi intinya berkisah tentang penduduk sangihe pertama. Permasalahannya adalah Siapa dan dari mana asal Gumansalangi yang sebenar – benarnya. Sampai kapanpun tidak akan mungkin ditemukan kebenaran secarah ilmiah siapa Gumansalangi. Penyebabnya adalah belum ditemukan bukti melalui naskah kuno atau prasasti yang menulis atau memberikan gambaran tentang kehidupan Gumansalangi. Hal ini terjadi juga pada beberapa folklore lain disulawesi utara seperti cerita Toar dan Lumimuut dari Minahasa, cerita Gumalangi dan isterinya Tendeduata penghuni pertama Bolaang Mongondow, cerita seperti ini tetap menjadi legenda.

Kenapa cerita Gumansalangi memiliki banyak bentuk,dari alur cerita maupun kesesuaiannya dengan sejarah Sangihe. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu : Cerita Gumansalangi merupakan sastera lisan, yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut, keadaan ini memungkinkan terjadinya berbagai perubahan. Perubahan dapat terjadi berdasarkan siapa yang pertama mengisahkan, siapa yang mendengarkan, kepada siapa kisah itu diturunkan dan dilingkungan apa cerita itu dikembangkan.

Berdasarkan beberapa cerita yang berkembang dimasyarakat sangihe terdapat beberapa cerita berdasarkan tempat dimana cerita itu berkembang diantaranya ; Cerita Gumansalangi versi Siau, Cerita Gumansalangi versi Talaud, Cerita Gumansalangi versi pulau Sangihe besar. Dikalangan orang sangihe sendiri terdapat beberapa bentuk, seperti versi cerita Gumansalangi dari orang-orang yang ada di bekas kerajaan Tabukan dan diluar kerajaan Tabukan. Diantara beberapa versi tersebut dapat dipaparkan beberapa versi yang memiliki perbedaan.

a.   Versi pertama (versi siau)

Gumansalangi adalah kulano pertama di Pulau Sangihe besar. Gumansalangi bersiteri Ondaasa yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondawulaeng. Gumansalangi adalah Putera Mahkota dari kesultanan Cotabato,Mindanao Selatan akhir abad ke XII. Mereka diperintahkan untuk pergi ketimur oleh ayah Gumansalangi dengan maksud supaya mereka dapat mendirikan kerajaan baru. Berangkatlah mereka dengan menunggangi ular terbang sampai ke Pulau Marulung (pulau balut), kemudian keselatan menuju pulau Mandolokang (pulau Taghulandang) dipulau ini mereka tidak turun tetapi melanjutkan perjalanan ke pulau lain melewati pulau Siau dan turun di pulau Sangihe besar.


Dalam perjalanan, ikut pula saudara laki-laki dari Kondaasa bernama Pangeran Bawangunglare. Mereka lalu mendarat di pantai Saluhe. Dikemudian hari nama Saluhe berubah menjadi Saluhang dan kini menjadi Salurang.


Karena Gumansalangi adalah seorang bangsawan maka tempat tersebut dinamakan Saluhang yang berararti ”dieluk-elukan” dan dipelihara supaya dia bertumbuh dengan baik dan subur. Sejak kedatangan Gumansalangi dan Kondaasa di saluhe, selalu saja terdengar gemuruh dan terlihat kilat yang datang dari gunung. Gumansalangi lalu diberikan gelar Medellu yg berarti Guntur dan Kondaasa diberikan gelar Mengkila yang berarti cahaya kilat. Gumansalangi dan Kondaasa memiliki dua orang putra bernama Melintangnusa dan Melikunusa.


Gumansalangi lalu mendirikan kerajaan pada tahun 1300. Wilayah kerajaannya sampai ke Malurung (Pulau Balut / Philliphina).Saudara laki-laki Kondaasa melanjutkan perjalanan ke kepulauan Talaud tepatnya di pulau Kabaruan. Sampai saat ini tempat yang pertama kali diinjak oleh Pangeran Bawangunglare, dinamakan Pangeran.


Gumansalangi menyerahkan waris raja kepada anaknya yang sulung Melintangnusa pada tahun 1350. Anak bungsu Melikunusa mengembara ke Mongondow dan memperisteri Menongsangiang putri raja Mongondow. Melikunusa meninggal di Mongondow sedangkan Melintangnusa meninggal di Philliphina pada tahun 1400. Sesudah wafatnya Malintangnusa, kerajaan terbagi dua yaitu kerajaan Utara bernama Sahabe atau Lumage dan kerajaan Selatan bernama Manuwo atau Salurang. (dari beberapa catatan lepas pemerhati sejarah sangihe).


b.    Versi kedua

Terbentuknya kerajaan pertama Sangihe berakar dari cerita tentang Gumansalangi. Humansandulage beristeri Tendensehiwu dan memperanakan Datung Dellu. Datung Dellu bersiteri Hiwungelo dan memperanakan Gumansalangi.

Gumansalangi, setelah mempersunting Ondaasa berlayar dari Molibagu melalui pulau Ruang,Tagulandang,Biaro,Siau terus ke Mindanao kemudian kepulau Sangihe, mereka tiba di Kauhis lalu mendaki Gunung Sahendarumang dan berdiam disana sampai terbentuknya kerajaan Sangihe pertama bernama Tampungang Lawo pada tahun 1425.( Iverdikson Tinungki dalam tabloid Zona utara )


c.   Versi ketiga

Gumansalangi adalah anak seorang raja dari sebuah kerajan kecil diwilayah Philiphina bagian selatan. Ibunya meninggal ketika Gumansalangi masih kecil. Raja kemudian menikah lagi dengan perempuan lain dan melahirkan seorang puteri. Pada suatu pesta sang puteri atas perintah ibunya mempengaruhi Raja dengan sebuah permintaan dan berkata ”harta kekayaan tak penting bagiku yang kuinginkan adalah agar Ayah dapat membunuh Gumansalangi. Permintaan ini dilakukan agar tahta kerajaan tidak jatuh ketangan Gumansalangi.


Keinginan itu diketahui oleh Batahalawo dan Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan pengikut Gumansalangi, mereka lalu meberitahukan rencana itu pada Gumansalangi. Batahalawo kemudian melemparkan ikat kepala ( poporong ) kelaut yang kemudian menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa terbang Gumansalangi dan tiba di Rane dan tebing Mênanawo lalu mengitari bukit Bowong Panamba,Dumêga dan Areng kambing. Setibanya ditempat yang baru, setiap malam Gumansalangi hanya mendengarkan suara burung pungguk atau Tanalawo, arti lain dari Tanalawo adalah Pulau Besar.


Pada suatu senja digubuknya kedatangan seorang nenek yang memerlukan tempat berteduh. Malam berikutnya dia didatangi lagi seorang gadis cantik. Dua persitiwa membingungkan hati Gumansalangi. Disaat tenang terdengar suara yang berkata ambilah telur dipucuk pohon yang besar itu dan jangan sampai pecah. Ditebangnyalah pohon tersebut sampai mendapatkan sebutir telur. Telur itu kemudian pecah dalam perjalanan pulang, dari telur itu keluar seorang puteri cantik yang kemudian dikenal dengan nama Konda Wulaeng atau Sangiang Ondo Wasa (puteri perintang malam) putri khayangan. Mereka menikah lalu dinobatkan menjadi Kasili Mědělu dan Sangiang Měngkila yang berarti Putra Guntur dan Putri Kilat. Dinamai demikian karena pakaian sang putri berkilau seperti emas dan pertemuan mereka ditandai gemuruh dari langit. Cerita ini juga menjadi bagian dari lahirnya nama sangihe, dan menjadi inspirasi untuk pemotongan kue adat Tamo.


(Toponimi,Cerita rakyat, dan data sejarah dari kawasan perbatasan Nusa Utara, Sub Dinas kebudayaan kab.Kepl. sangihe, 2006)


d.   Versi ke empat

Tahun 1300, Pangeran Gumansalangi dibuang oleh orang tuanya dari Cotabato – Mindanao, jauh ketengah hutan. Gumansalangi dibuang karena tabiatnya buruk. Ditengah hutan Gumansalangi menyadari kesalahannya sambil menangis-nangis dan tangisannya terdengar sampai kekayangan. Dia lalu ditolong oleh raja dari kayangan dengan mengirim putri bungsunya bernama konda kebumi untuk menemui Gumansalangi dalam penyamaran sebagai seorang perempuan yang berpenyakit kulit.

Gumansalangi mengajak perempuan itu untuk tinggal bersamanya. Tapi beberapa hari kemudian sang putri menghilang karena kembali kekhayangan. Dua kali putri melakukan hal itu kepada Gumansalangi. Ketiga kalinya sang putri datang lagi dalam rupa putri cantik atas perintah ayahnya. Sejak saat itu mereka menjadi suami isteri.

Setelah menikah, atas perintah sang raja khayangan mereka disuruh keluar dari hutan tersebut. Kepergian mereka ditemani oleh kakak sang putri bernama Bawangung – Lare yang menjelmah menjadi seekor naga. Mereka berangkat ketimur dan sampai ke pulau Marulung (pulau balut sekarang) Ditempat ini mereka tidak turun karena tidak ada tanda seperti yang disampaikan oleh ayah mereka.Tanda-tanda tersebut adalah nampak kilat saling menyambar dan gemuruh. Perjalanan di lanjutkan melewati Pulau Mandalokang (Pulau taghulandang sekarang) mereka tidak menetap disana karena tidak ada tanda dan terus ke pulau Karangetang disana tidak juga terlihat tanda. Perjalanan dilanjutkan ke pulau Tampungang Lawo menuju ke gunung Sahendalumang. Di puncak gunung, mereka menemukan tanda berupa kilat dari atas dan gemuruh dari bawah. Berdasarkan titah sang ayah, menetaplah mereka di tempat itu. Gumansalangi diangkat menjadi raja dengan gelar Medellu yang berarti bagaikan gemuruh, sedangkan Putri Konda dijuluki Mengkila yang berarti putri kilat. Kerajaan itu bernama kerajaan Tampungan Lawo.

Tahta kerajaan kemudian diserahkan kepada anaknya yang sulung Melintangnusa tapi kemudian Melintangnusa pergi ke Mindanao dan menikah dengan putri Mindanao bernama Putri Hiabĕ anak dari raja tugis. Adiknya Melikunusa pergi ke daerah Bolaang Mongondow dan menikah dengan putri Mongondow bernama Menong Sangiang.

Tahta kerajaan dari Melintangnusa digantikan oleh anaknya Bulegalangi. (sumber cerita dari Bapak H.Juda dalam buku “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “).

Melihat penyampaian syair umum dalam berbagai sasalamate tamo yang diturunkan sejak masa lalu, memberikan gambaran tentang usaha Gumansalangi memecahkan masalah dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Tentang telur pada pucuk tamo sudah dijadikan hiasan utama pada tamo masa lalu sbagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Jika pemaknaan filosofi Tamo adalah gambaran Gumansalangi dan konda wulaeng maka kemungkinan besar, dari beberapa versi cerita Gumansalangi diatas yang paling bersesuaian adalah versi ke tiga.

Jumat, 11 Maret 2022

SETULANG : HUTAN ADAT, TANAH HARAPAN

 


Desa Setulang: Hutan Adat sebagai Warisan dan Harapan Masa Depan

Desa Setulang, yang berada di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, adalah contoh sempurna dari tempat di mana kelestarian alam bertemu dengan tradisi yang terjaga. Desa ini merupakan cerminan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan, sekaligus destinasi wisata yang sarat nilai budaya. Dengan luas wilayah sekitar 11.300 hektare, Setulang menjadi rumah bagi 230 kepala keluarga yang hidup berdampingan dengan hutan tropis khas Borneo dan aliran sungai seperti Sungai Malinau. Kawasan ini dikelilingi oleh beberapa desa, seperti Tanjung Lapang di timur, Paking di barat, Sentaban di utara, dan Setarap di selatan.


Akses menuju desa ini memang menantang, baik dari segi biaya maupun waktu. Cara termudah adalah melalui Kota Tarakan, yang terletak di Pulau Tarakan, sebelum melanjutkan perjalanan darat dan sungai menuju Desa Setulang. Namun, segala usaha menuju desa ini terbayar lunas dengan keindahan alamnya yang memikat. Ditambah lagi, masyarakat desa telah memanfaatkan peluang pariwisata dengan menyediakan homestay untuk pengunjung, meskipun infrastruktur komunikasi seperti sinyal telepon dan internet belum tersedia. Hingga saat ini, Desa Setulang menjadi salah satu dari empat desa wisata di Kabupaten Malinau yang diresmikan sebagai tujuan wisata pada 28 Oktober 2013.

Harmoni Alam dan Budaya dalam Kehidupan Sehari-hari

Yang membuat Desa Setulang begitu istimewa adalah pelestarian budaya adat suku Dayak Kenyah Uma’ Lung yang menjadi identitas utama masyarakat. Mereka mempertahankan bahasa, hukum adat, serta berbagai tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang paling menonjol dari budaya ini adalah dedikasi mereka untuk melindungi hutan adat, yang dikenal dengan nama Tane’ Olen. Hutan ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya alam, tetapi juga sebagai cadangan kehidupan yang menjadi penopang keberlangsungan hidup masyarakat lokal.


Tane’ Olen, yang berarti "hutan larangan," adalah kawasan hutan adat yang dilindungi oleh aturan adat setempat. Kawasan ini dipenuhi dengan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun, beberapa di antaranya memiliki diameter batang hingga lebih dari sembilan meter. Untuk mencapai area tertentu di hutan ini, pengunjung harus berjalan kaki selama sekitar empat jam melalui lebatnya vegetasi tropis. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan air terjun, pohon-pohon raksasa, dan suara alam yang menenangkan.

Keunikan Desa Setulang sebagai Destinasi Wisata

Selain keindahan alamnya, Desa Setulang juga menawarkan pengalaman budaya yang kaya. Seni tari, musik tradisional, dan kerajinan tangan seperti anyaman rotan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan budaya khas Dayak Kenyah Uma’ Lung yang menceritakan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Keindahan budaya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti, wisatawan lokal, maupun mancanegara yang ingin mempelajari lebih dalam tentang kearifan lokal.


Untuk mendukung pengembangan pariwisata, masyarakat Desa Setulang telah menyediakan 15 rumah yang difungsikan sebagai homestay, mampu menampung hingga 50 pengunjung. Kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi perekonomian desa, termasuk peningkatan keterampilan warga dalam menjadi pemandu wisata. Meskipun demikian, keterbatasan infrastruktur komunikasi menjadi tantangan tersendiri yang perlu diatasi agar Desa Setulang semakin berkembang.

Tane’ Olen: Karunia Alam yang Dijaga dengan Bijaksana

Hutan adat Tane’ Olen adalah simbol dari kearifan lokal masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung. Hutan ini dijaga dengan aturan adat yang ketat, di mana kegiatan seperti menebang pohon hanya diperbolehkan dalam keadaan tertentu dan harus mendapat izin dari tetua adat. Melalui aturan ini, masyarakat Setulang mampu menjaga kelestarian hutan mereka hingga sekarang. Hutan tersebut menyediakan berbagai kebutuhan hidup, seperti kayu untuk bangunan, damar sebagai bahan perekat, serta madu hutan yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.


Ketua pengelola hutan, Jakson, menyatakan bahwa Tane’ Olen bukan hanya tentang kelestarian alam tetapi juga bagian integral dari budaya dan identitas masyarakat. "Hutan ini adalah sumber kehidupan kami. Jika hutan hilang, kami kehilangan segalanya," tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan betapa pentingnya hutan bagi masyarakat Setulang, tidak hanya secara ekologis tetapi juga secara ekonomi dan budaya.

Tantangan Pelestarian di Tengah Perubahan Zaman

Meskipun keberadaan Tane’ Olen telah diakui sebagai model pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal, berbagai tantangan tetap mengancam keberlanjutannya. Perubahan sosial dan ekonomi, termasuk tekanan untuk membuka lahan baru, dapat memengaruhi keberlanjutan tradisi menjaga hutan. Oleh karena itu, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait sangat penting untuk memastikan pelestarian hutan ini.


Hutan adat seperti Tane’ Olen juga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global. Sebagai bagian dari Heart of Borneo, hutan ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di Pulau Kalimantan. Dengan melindungi Tane’ Olen, masyarakat Desa Setulang tidak hanya menjaga kehidupan mereka sendiri tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan global.

Masa Depan Desa Setulang

Harapan besar melekat pada Desa Setulang sebagai contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi untuk pelestarian lingkungan. Jakson dan masyarakat desa lainnya percaya bahwa hutan adat mereka akan terus bertahan sebagai warisan untuk generasi mendatang. Dengan pengelolaan yang bijaksana, Tane’ Olen akan tetap menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, sekaligus destinasi wisata yang menawarkan pengalaman otentik bagi para pengunjung.


Penetapan Desa Setulang sebagai kawasan wisata pada tahun 2013 merupakan langkah awal yang penting dalam mengembangkan potensi desa ini. Namun, upaya lebih lanjut masih diperlukan, termasuk peningkatan aksesibilitas, pembangunan infrastruktur komunikasi, dan promosi yang lebih luas. Dengan demikian, Desa Setulang dapat semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga pelajaran berharga tentang pelestarian budaya dan lingkungan.

Warisan yang Tak Ternilai

Desa Setulang dan hutan adat Tane’ Olen adalah contoh nyata bagaimana hubungan manusia dengan alam dapat terjalin secara harmonis. Di tengah arus modernisasi yang sering kali mengancam kelestarian lingkungan, masyarakat Dayak Kenyah Uma’ Lung menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan. Hutan ini bukan hanya sebuah aset bagi masyarakat Setulang, tetapi juga warisan tak ternilai bagi Indonesia dan dunia. Dengan menjaga Tane’ Olen, Desa Setulang tidak hanya melestarikan kehidupan tetapi juga menanamkan harapan untuk masa depan yang lebih baik.






Rabu, 09 Maret 2022

Kuntow : Jejak Seni Bela Diri Tradisional

Di tengah derasnya arus modernisasi, seni bela diri tradisional seperti Kuntow, yang menjadi bagian penting dari warisan masyarakat Tidung Ulun Pagun di Kalimantan Utara, semakin terpinggirkan. Kuntow bukan hanya sekadar seni bertarung; ia adalah simbol identitas dan nilai luhur budaya. 

Sayangnya, seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Arbain dalam bukunya, "Buku Pintar Kebudayaan Tidung", keberadaan Kuntow kini berada di ujung tanduk, hampir terkikis oleh waktu. Arbain menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kelangkaan Kuntow adalah pembatasan yang melarang seni ini dipelajari oleh masyarakat umum. Hanya lingkaran keluarga Tidung tertentu yang diizinkan mempelajarinya.

Pendapat serupa diutarakan oleh Datuk Noerbeck, seorang budayawan Tidung. Ia mengungkapkan bahwa pada masa lalu, Raja Tidung bahkan menyediakan dana untuk menggaji pelatih Kuntow agar seni bela diri ini dapat diajarkan secara luas di wilayah kerajaannya. Namun, kini, tradisi tersebut telah memudar, dan pengajaran Kuntow menjadi sangat terbatas.

Eksklusivitas Kuntow dan Tantangan Pelestarian

Saat ini, Kuntow jarang ditemukan, tidak hanya di kalangan masyarakat heterogen Kalimantan Utara tetapi juga di antara suku Tidung sendiri. Abdul Somad, seorang pelatih Kuntow dari perguruan Bawod, menegaskan bahwa tradisi ini dipertahankan dengan ketat dalam lingkup keluarga. "Ini adalah amanah leluhur kami," ujar Somad. Prinsip ini menjadi pedang bermata dua: di satu sisi, menjaga keaslian Kuntow, tetapi di sisi lain, membatasi penyebarannya.

Perbedaan Kuntow dengan seni bela diri lain, seperti silat, terletak pada jumlah jurusnya. Jika silat memiliki ratusan jurus, Kuntow hanya memiliki sepuluh jurus inti. Namun, kekuatan Kuntow terletak pada jurus bunga, yang menjadi ciri khas seni bela diri ini. Jurus bunga bukan sekadar langkah awal, melainkan gerakan yang memadukan keanggunan dan kekuatan, disertai kecepatan serta ketangkasan untuk menjatuhkan lawan.

Bagi Jaelani, seorang mahasiswa PPKIA Tarakan sekaligus murid Abdul Somad, belajar Kuntow memberikan manfaat besar. Selain meningkatkan kesehatan fisik, seni bela diri ini juga menjadi cara produktif untuk mengisi waktu luang. Jaelani merasa bangga dapat mempelajari tradisi yang begitu kaya akan nilai budaya.

Keprihatinan terhadap Kepunahan Kuntow

Ironisnya, meskipun Kuntow memiliki nilai budaya yang tinggi, seni bela diri ini kini tergolong sebagai warisan yang hampir punah. Generasi muda Tidung, terutama yang tinggal di daerah perkotaan, semakin menjauh dari tradisi ini. Modernisasi dan gaya hidup yang serba praktis menjadi tantangan besar bagi pelestarian Kuntow.

Menurut Arbain, masyarakat Tidung perlu menyadari pentingnya melestarikan seni bela diri ini. Selain sebagai pelindung diri, Kuntow juga merupakan simbol kebanggaan dan identitas budaya yang tidak ternilai harganya. Tanpa upaya nyata untuk menjaga keberadaan Kuntow, tradisi ini berisiko hilang sepenuhnya.

Upaya Pelestarian dan Harapan Masa Depan

Pelestarian Kuntow membutuhkan pendekatan yang inovatif namun tetap menghormati akar tradisinya. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah mengintegrasikan Kuntow ke dalam program pendidikan budaya di sekolah-sekolah lokal. Dengan cara ini, generasi muda dapat mengenal dan menghargai seni bela diri ini sejak dini.

Selain itu, pemerintah daerah dan komunitas budaya dapat berkolaborasi untuk mengadakan pertunjukan dan festival seni bela diri tradisional. Meskipun Kuntow tidak dipertandingkan, memperkenalkannya dalam bentuk pertunjukan dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Abdul Somad dan para pelatih Kuntow lainnya juga memiliki peran penting dalam pelestarian seni bela diri ini. Dengan dedikasi mereka, Kuntow dapat terus diajarkan kepada generasi berikutnya. Jika tradisi ini mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensinya, Kuntow akan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat Tidung.

Kuntow Bukan Sekedar Seni Bela Diri

Kuntow bukan hanya seni bela diri; ia adalah warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Tidung Ulun Pagun. Dalam setiap gerakan dan jurusnya, tersimpan cerita tentang kekuatan, ketangkasan, dan kebijaksanaan leluhur. Kini, tanggung jawab melestarikan Kuntow berada di tangan kita semua. Dengan langkah-langkah konkret dan dukungan kolektif, seni bela diri ini dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya kita.





TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...