Dahulu kala menurut
cerita datuk moyang, di Kotabatu, sebuah negeri di Pulau Mindano Filipina
Selatan bersemayamlah seorang Raja Kotabatu. Beliau mempunyai seorang putera
yang bernama Gumansalangi. Namun putera ini berbudi perketi tidak baik, shingga
ia dikucilkan di tengah hutan rimba, tempat mana kemudian diberi nama Marauw.
Dalam pengasingan itu barulah hati Gumansalangi tergugah dan menyesali perbuatannya yang tidak baik. Ia meratap tiada berkeputusan dan ratapan tangisnya itu kedengaran hingga kepada Sang Dewa. Raja Kayangan Sang Dewa pun turun ke Bumi menuruti bunyi ratapan itu dan dijumpainya seorang putera raja yang hidup sebatang kara di tengah-tengah hutan rimba, sehingga menimbulkan rasa belas kasihan.
Sekembalinya dikayangan, ditanyakanlah puteri-puterinya : “siapa yang rela berkorban untuk menolong seorang putera yang malang didunia, bahkan berkenan menjadi pujaannya?” Permintaan sang ayah tiada diterima oleh puteri-puterinya kecuali sibungsu, putri yang senantiasa patuh menjalankan perintah beliau.
Puteri bungsu tersebut bernama Kondawulaeng atau Sangiangkonda turun ke dunia dan menyamar sebagai seorang yang berpenyakit puru. Bau yang sangat menusuk hidung tercium oeh putera yang diasingkan itu dan setelah diikutnya asal bau tersebut, ternyata berasal dari seorang wanita penyakitan. Walaupun demikian Gumansalangi tidak merasa jijik, malahan diajaknya berdiam bersamanya. Ajakan itu ditolak oleh Kondawulaeng, dengan alasan bahwa ia tidak layak untuk hidup bersama seorang yang sehat, meskipun hal itu merupakan uian bagi Gumansalangi. Namun, Gumansalangi dengan tekun merawatnya hingga sembuh. Tetapi setelah beberapa hari, menghilanglah wanita itu tanpa bekas. Sebenarnya ia kembali ke kayangan untuk menyampaikan berita kepada Sang Dewa, perihal Gumansalangi, putera yang diasingkan itu ternyata berjiwa ksatria dan bertingkah laku wajar terhadapnya.
Kondawulaeng kemudian disuruh kembali oleh Sang Dewa ke Dunia untuk kedua kalinya. Kali ini menyamar sebagai seorang wanita yang berpenyakit kulit yang baunya tengik dan menjijikan. Sebagaimana peristiwa pertama, begitu pula yang dilakukan oleh Gumansalangi pada peristiwa kali ini terhadap wanita yang berpenyakit kulit tadi. Oleh sebab itu sudah sepantasnya kalau puteri Kondawulaeng turun ke Dunia mendapingi Gumansalangi seumur hidupnya.
Kali ini Kondawulaeng hadir sebagai puteri kayangan yang cantik molek, dengan bau wewangian yang berasal dari tubuhnya menabur semerbak di hutan rimba. Gumansalangi lalu bangkit mencari asal dari mana bau harum merebak. Dan alangkah tertegunnya ia kala menyaksikan keelokan seorang puteri kayangan yang cantik parasnya, sehingga ia jatuh pingsan. Melihat kejadian itu, Puteri Kondawulaeng meraih tiga kembang melati yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, merendamnya dalam air telapak tangannya, kemudian air melati tadi ia percikkan kemuka Gumansalangi dan sadarlah ia seketika itu juga.
Pengembaraan Gumansalangi dan Kondawulaeng ke tempat yang baru ditemani oleh Bawangunglare yang menyaru sebagai seekor ular sakti. Keduanya mengendarai ular sakti yang tidak lain lain adalah saudara tua Kodawulaeng, mulai dengan mengitari Kotabatu sebanyak tiga kali pada tengah malam. Kehadiran mereka bertiga telah menggemparkan penduduk Kotabatu yang terkejut melihat cahaya gemerlapan dari ular sakti.
Semasa hidupnya sebagai tokoh masyarakat Nusa Utara, Alm. Paul Utje Pulu pernah menuturkan terkait hal ini,” Raja Gumansalangi itu kan rajanya Tampunganglawo, raja yang berkuasa yang asal muasalnya dia dari Mindano sana di Filipin. Jadi dia datang ke Sangihe dalam legenda itu kan penumpang dari pulau-pulau raksasa hingga dibeberapa tempat termasuk singgah di Tagulandang, Talaud sampai di Sandarumang sana gunung disekitar Tamako. Dia itu nanti dengan istrinya Sangiang Mekila menjadi raja pertama di Tampunganlawo.
Sesudah itu berangkatlah mereka menuju arah timur dan tibalah mereka di pulau Marulung (Balut). Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Pulau Siau (Karangetang) dan mendaki Gunung Tamata. Setelah tinggal beberapa saat, tidak ada hujan lebat, petir dan guntur yang menyambutnya. Lalu mereka menuju ke utara, ke arah Pulau Sangihe atau Tampungan Lawo dan mendaki gunung Sahendarumang. Setibanya mereka di puncak Gunung Sahendarumang, turunlah hujan lebat disertai petir dan guntur yang bersahut-sahutan yang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Setelah hujan redah pada hari yang ketiga, yakinlah keduanya bahwa disinilah mereka harus menetap. Lalu turunlah pasangan suami istri menelusuri aliran sungai Balau, dan tiba di perkampunagn penduduk. Oleh penduduk setempat keduanya dielu-elukan dan dipuja, dan diberi nama baru. Tempat ini kini dikenal dengan nama Salurang atau Aluhang, berasal dari kata Saluhe, artinya yang dipuja dan dielu-elukan.
CERITA GUMANSALANGI
Untuk mendalami kebudayaan sangihe, sebaiknya memahami sastra lisan sangihe, sastra lisan sangihe adalah salah satu bukti peninggalan kebudayaan sangihe masa lalu yang masih dilestarikan sampai saat ini. Dari beberapa sastera lisan sangihe yang paling melegenda adalah cerita Gumansalangi. Dari cerita tersebut kita dapat melihat keberadaan sangihe dari penduduk mula-mula sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan yang menjadi dasar terbentuknya sebuah suku yang dinamakan suku sangihe. Kisah Gumansalangi sebagai penduduk mula-mula tergambar secara utuh dalam “Tamo” karena tamo telah menjiwai kelahiran sangiang konda sebagai ibu dari orang-orang sangihe. Cerita Gumansalangi dan pembentukan kerajaan sudah ditulis banyak orang meskipun hanya dalam tulisan-tulisan lepas, bukan dalam sebuah buku yang sangat lengkap.
Ada banyak tulisan yang dilengkapi
dengan tahun kejadian, tetapi belum bisa diakui karena semua cerita tentang
Gumansalangi, tidak pernah dibukukan dimasa lalu sehingga terjadi
kesimpangsiuran. Mungkin cerita lengkap tentang Sangihe boleh ditelusuri di
Belanda untuk mandapatkan kepastian yang lebih ilmiah dan dapat diakui oleh
publik yang lebih luas.
Seperti pepatah mengatakan “tak ada
rotan akarpun jadi”. Kita sebagai generasi baru tidak bisa lagi menunggu “pemerintah”
untuk mendanai penelitian dan penulisan tentang sejarah dan kebudayaan sangihe
secara komprehensip. Karena lebih banyak orang sangihe “ndak” mau peduli, dari
pada yang terpanggil untuk berbuat menggali kekayaan budaya.
Tokoh Gumansalangi sudah diceritakan
berabad-abad lamanya di kepulauan sangihe melalui cerita lisan dari generasi
kegenerasi secara turun-temurun. Sejak masuknya bangsa Eropa, cerita
Gumansalangi mulai ditulis oleh para budayawan, sejarahwan dan pemerhati
sejarah dan kebudayaan sangihe lainnya dalam bentuk tulisan-tulisan lepas.
Cerita Gumansalangi pertama kali diterjemahkan Desember 1993 di Biola University – Los Angles. Kisah Gumansalangi terbaru ditulis oleh Kenneth R. Maryott, seorang berkebangsaan Amerika yang bekerja sebagai dosen bahasa Inggris di Philliphin dalam buku yang berjudul “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “. Buku tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Sangihe,bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, diterbitkan oleh “ The Committee For The Promotion Of The Sangir Language, Davao – Phillphiness, 1995. Kenneth bertindak sebagai editor, berdasarkan penuturan dari Bapak Haremson E. Juda. Disamping itu terdapat juga cerita tentang Makaampo. Cerita Makaampo pertama kali ditulis dan dipublikasikan dengan judul “Bĕkeng Makaampo (The Story of Makaampo)” dari artikel journal “Majalah Bijdragen tot de taal,- Land – en Volkendkunde, Volume 113 (1957)
Cerita Gumansalangi berasal dari kepulauan Sangihe Talaud, yang diceritakan sebagai folklore atau cerita rakyat. (Folklore adalah unsure kebudayaan dari masa silam yang menuju ke ambang kepunahan). Banyak cerita yang berkembang di kepuluan sangihe tentang Gumansalangi tetapi intinya berkisah tentang penduduk sangihe pertama. Permasalahannya adalah Siapa dan dari mana asal Gumansalangi yang sebenar – benarnya. Sampai kapanpun tidak akan mungkin ditemukan kebenaran secarah ilmiah siapa Gumansalangi. Penyebabnya adalah belum ditemukan bukti melalui naskah kuno atau prasasti yang menulis atau memberikan gambaran tentang kehidupan Gumansalangi. Hal ini terjadi juga pada beberapa folklore lain disulawesi utara seperti cerita Toar dan Lumimuut dari Minahasa, cerita Gumalangi dan isterinya Tendeduata penghuni pertama Bolaang Mongondow, cerita seperti ini tetap menjadi legenda.
Kenapa cerita Gumansalangi memiliki banyak bentuk,dari alur cerita maupun kesesuaiannya dengan sejarah Sangihe. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu : Cerita Gumansalangi merupakan sastera lisan, yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut, keadaan ini memungkinkan terjadinya berbagai perubahan. Perubahan dapat terjadi berdasarkan siapa yang pertama mengisahkan, siapa yang mendengarkan, kepada siapa kisah itu diturunkan dan dilingkungan apa cerita itu dikembangkan.
Berdasarkan beberapa
cerita yang berkembang dimasyarakat sangihe terdapat beberapa cerita
berdasarkan tempat dimana cerita itu berkembang diantaranya ; Cerita
Gumansalangi versi Siau, Cerita Gumansalangi versi Talaud, Cerita Gumansalangi
versi pulau Sangihe besar. Dikalangan orang sangihe sendiri terdapat beberapa
bentuk, seperti versi cerita Gumansalangi dari orang-orang yang ada di bekas
kerajaan Tabukan dan diluar kerajaan Tabukan. Diantara beberapa versi tersebut
dapat dipaparkan beberapa versi yang memiliki perbedaan.
a. Versi pertama (versi siau)
Gumansalangi
adalah kulano pertama di Pulau Sangihe besar. Gumansalangi bersiteri Ondaasa
yang disebut juga Sangiangkonda atau Kondawulaeng. Gumansalangi adalah Putera
Mahkota dari kesultanan Cotabato,Mindanao Selatan akhir abad ke XII. Mereka
diperintahkan untuk pergi ketimur oleh ayah Gumansalangi dengan maksud supaya
mereka dapat mendirikan kerajaan baru. Berangkatlah mereka dengan menunggangi
ular terbang sampai ke Pulau Marulung (pulau balut), kemudian keselatan menuju
pulau Mandolokang (pulau Taghulandang) dipulau ini mereka tidak turun tetapi
melanjutkan perjalanan ke pulau lain melewati pulau Siau dan turun di pulau
Sangihe besar.
Dalam
perjalanan, ikut pula saudara laki-laki dari Kondaasa bernama Pangeran
Bawangunglare. Mereka lalu mendarat di pantai Saluhe. Dikemudian hari nama
Saluhe berubah menjadi Saluhang dan kini menjadi Salurang.
Karena
Gumansalangi adalah seorang bangsawan maka tempat tersebut dinamakan Saluhang
yang berararti ”dieluk-elukan” dan dipelihara supaya dia bertumbuh dengan baik
dan subur. Sejak kedatangan Gumansalangi dan Kondaasa di saluhe, selalu saja
terdengar gemuruh dan terlihat kilat yang datang dari gunung. Gumansalangi lalu
diberikan gelar Medellu yg berarti Guntur dan Kondaasa diberikan gelar Mengkila
yang berarti cahaya kilat. Gumansalangi dan Kondaasa memiliki dua orang putra
bernama Melintangnusa dan Melikunusa.
Gumansalangi
lalu mendirikan kerajaan pada tahun 1300. Wilayah kerajaannya sampai ke
Malurung (Pulau Balut / Philliphina).Saudara laki-laki Kondaasa melanjutkan
perjalanan ke kepulauan Talaud tepatnya di pulau Kabaruan. Sampai saat ini
tempat yang pertama kali diinjak oleh Pangeran Bawangunglare, dinamakan
Pangeran.
Gumansalangi
menyerahkan waris raja kepada anaknya yang sulung Melintangnusa pada tahun
1350. Anak bungsu Melikunusa mengembara ke Mongondow dan memperisteri
Menongsangiang putri raja Mongondow. Melikunusa meninggal di Mongondow
sedangkan Melintangnusa meninggal di Philliphina pada tahun 1400. Sesudah
wafatnya Malintangnusa, kerajaan terbagi dua yaitu kerajaan Utara bernama
Sahabe atau Lumage dan kerajaan Selatan bernama Manuwo atau Salurang. (dari
beberapa catatan lepas pemerhati sejarah sangihe).
b. Versi kedua
Terbentuknya kerajaan
pertama Sangihe berakar dari cerita tentang Gumansalangi. Humansandulage
beristeri Tendensehiwu dan memperanakan Datung Dellu. Datung Dellu bersiteri Hiwungelo
dan memperanakan Gumansalangi.
Gumansalangi,
setelah mempersunting Ondaasa berlayar dari Molibagu melalui pulau
Ruang,Tagulandang,Biaro,Siau terus ke Mindanao kemudian kepulau Sangihe, mereka
tiba di Kauhis lalu mendaki Gunung Sahendarumang dan berdiam disana sampai
terbentuknya kerajaan Sangihe pertama bernama Tampungang Lawo pada tahun
1425.( Iverdikson Tinungki dalam tabloid Zona utara )
c. Versi ketiga
Gumansalangi
adalah anak seorang raja dari sebuah kerajan kecil diwilayah Philiphina bagian
selatan. Ibunya meninggal ketika Gumansalangi masih kecil. Raja kemudian
menikah lagi dengan perempuan lain dan melahirkan seorang puteri. Pada suatu
pesta sang puteri atas perintah ibunya mempengaruhi Raja dengan sebuah
permintaan dan berkata ”harta kekayaan tak penting bagiku yang kuinginkan
adalah agar Ayah dapat membunuh Gumansalangi. Permintaan ini dilakukan agar
tahta kerajaan tidak jatuh ketangan Gumansalangi.
Keinginan
itu diketahui oleh Batahalawo dan Batahasulu atau Manderesulu orang sakti kerajaan
pengikut Gumansalangi, mereka lalu meberitahukan rencana itu pada Gumansalangi.
Batahalawo kemudian melemparkan ikat kepala ( poporong ) kelaut yang kemudian
menjelmah menjadi Dumalombang atau ular naga besar. Dumalombang membawa terbang
Gumansalangi dan tiba di Rane dan tebing Mênanawo lalu mengitari bukit Bowong
Panamba,Dumêga dan Areng kambing. Setibanya ditempat yang baru, setiap malam
Gumansalangi hanya mendengarkan suara burung pungguk atau Tanalawo, arti lain
dari Tanalawo adalah Pulau Besar.
Pada suatu senja digubuknya kedatangan seorang nenek yang memerlukan tempat
berteduh. Malam berikutnya dia didatangi lagi seorang gadis cantik. Dua
persitiwa membingungkan hati Gumansalangi. Disaat tenang terdengar suara yang
berkata ambilah telur dipucuk pohon yang besar itu dan jangan sampai pecah.
Ditebangnyalah pohon tersebut sampai mendapatkan sebutir telur. Telur itu
kemudian pecah dalam perjalanan pulang, dari telur itu keluar seorang puteri
cantik yang kemudian dikenal dengan nama Konda Wulaeng atau Sangiang Ondo Wasa
(puteri perintang malam) putri khayangan. Mereka menikah lalu dinobatkan
menjadi Kasili Mědělu dan Sangiang Měngkila yang berarti Putra Guntur dan Putri
Kilat. Dinamai demikian karena pakaian sang putri berkilau seperti emas dan
pertemuan mereka ditandai gemuruh dari langit. Cerita ini juga menjadi bagian
dari lahirnya nama sangihe, dan menjadi inspirasi untuk pemotongan kue adat
Tamo.
(Toponimi,Cerita rakyat, dan data sejarah dari kawasan perbatasan Nusa
Utara, Sub Dinas kebudayaan kab.Kepl. sangihe, 2006)
d. Versi ke empat
Tahun 1300, Pangeran
Gumansalangi dibuang oleh orang tuanya dari Cotabato – Mindanao, jauh ketengah
hutan. Gumansalangi dibuang karena tabiatnya buruk. Ditengah hutan Gumansalangi
menyadari kesalahannya sambil menangis-nangis dan tangisannya terdengar sampai
kekayangan. Dia lalu ditolong oleh raja dari kayangan dengan mengirim putri
bungsunya bernama konda kebumi untuk menemui Gumansalangi dalam penyamaran
sebagai seorang perempuan yang berpenyakit kulit.
Gumansalangi mengajak
perempuan itu untuk tinggal bersamanya. Tapi beberapa hari kemudian sang putri
menghilang karena kembali kekhayangan. Dua kali putri melakukan hal itu kepada
Gumansalangi. Ketiga kalinya sang putri datang lagi dalam rupa putri cantik
atas perintah ayahnya. Sejak saat itu mereka menjadi suami isteri.
Setelah menikah, atas
perintah sang raja khayangan mereka disuruh keluar dari hutan tersebut.
Kepergian mereka ditemani oleh kakak sang putri bernama Bawangung – Lare yang
menjelmah menjadi seekor naga. Mereka berangkat ketimur dan sampai ke pulau
Marulung (pulau balut sekarang) Ditempat ini mereka tidak turun karena tidak
ada tanda seperti yang disampaikan oleh ayah mereka.Tanda-tanda tersebut adalah
nampak kilat saling menyambar dan gemuruh. Perjalanan di lanjutkan melewati
Pulau Mandalokang (Pulau taghulandang sekarang) mereka tidak menetap disana
karena tidak ada tanda dan terus ke pulau Karangetang disana tidak juga
terlihat tanda. Perjalanan dilanjutkan ke pulau Tampungang Lawo menuju ke
gunung Sahendalumang. Di puncak gunung, mereka menemukan tanda berupa kilat
dari atas dan gemuruh dari bawah. Berdasarkan titah sang ayah, menetaplah
mereka di tempat itu. Gumansalangi diangkat menjadi raja dengan gelar Medellu
yang berarti bagaikan gemuruh, sedangkan Putri Konda dijuluki Mengkila yang berarti
putri kilat. Kerajaan itu bernama kerajaan Tampungan Lawo.
Tahta kerajaan
kemudian diserahkan kepada anaknya yang sulung Melintangnusa tapi kemudian
Melintangnusa pergi ke Mindanao dan menikah dengan putri Mindanao bernama Putri
Hiabĕ anak dari raja tugis. Adiknya Melikunusa pergi ke daerah Bolaang
Mongondow dan menikah dengan putri Mongondow bernama Menong Sangiang.
Tahta kerajaan dari
Melintangnusa digantikan oleh anaknya Bulegalangi. (sumber cerita dari
Bapak H.Juda dalam buku “ Manga wĕkeng Asaļ ‘u Tau Sangihĕ “).
Melihat penyampaian syair umum dalam berbagai sasalamate tamo yang diturunkan sejak masa lalu, memberikan gambaran tentang usaha Gumansalangi memecahkan masalah dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Tentang telur pada pucuk tamo sudah dijadikan hiasan utama pada tamo masa lalu sbagai simbol kehidupan baru yang diamanatkan dalam kisah Konda Wulaeng. Jika pemaknaan filosofi Tamo adalah gambaran Gumansalangi dan konda wulaeng maka kemungkinan besar, dari beberapa versi cerita Gumansalangi diatas yang paling bersesuaian adalah versi ke tiga.

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)