Selasa, 18 Juni 2019

TRADISI IRAW TENGKAYU

Padaw Tuju Dulung

Mengenal Iraw Tengkayu

Di tengah hiruk-pikuk zaman modern, tradisi merupakan salah satu cerminan jati diri sebuah masyarakat. Salah satu tradisi yang masih dijaga dengan penuh kehormatan oleh masyarakat Suku Tidung adalah Iraw Tengkayu, sebuah perayaan adat yang sarat akan makna. Diselenggarakan setiap dua tahun sekali di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, ritual ini tak sekadar menjadi tontonan budaya, tetapi juga sebuah pengingat akan sejarah, kepercayaan, dan filosofi yang mendalam.

Ritual Sakral di Tanah Tidung

Budayawan Suku Tidung, Datu Norbeck, mengungkapkan bahwa Iraw Tengkayu merupakan ritual turun-temurun yang diwarisi dari leluhur. Secara etimologis, kata Iraw bermakna perayaan atau pesta, sementara Tengkayu menggambarkan sebuah pulau kecil yang dikelilingi laut. Dalam konteks ini, Pulau Tarakan dianggap sebagai pulau kecil yang menjadi pusat dari ritual suci ini.

Iraw Tengkayu

Padaw Tuju Dulung, Perahu Sakral dan Makna Filosofisnya

Salah satu inti dari Iraw Tengkayu adalah Parade Padaw Tuju Dulung, yaitu arak-arakan perahu hias yang sarat akan simbolisme mendalam. Perahu ini memiliki tujuh haluan dengan tiga cabang utama. Haluan di tengah memiliki tiga tingkat, sementara dua haluan lainnya masing-masing memiliki dua tingkat, sehingga totalnya berjumlah tujuh—melambangkan siklus kehidupan manusia yang berulang setiap minggu.

Para pemuda suku Tidung mengangkat perahu menggunakan beberapa bilah bambu

Para pemuda suku Tidung mengangkat perahu ini menggunakan beberapa bilah bambu, memperlihatkan semangat gotong-royong yang masih dijunjung tinggi. Warna - warna yang menghiasi perahu juga memiliki makna tersendiri:

  • Kuning: Simbol kehormatan dan kedudukan tinggi.

  • Hijau: Lambang kesuburan dan kesejahteraan.

  • Merah: Representasi keberanian dan kekuatan.

Selain itu, perahu ini memiliki lima tiang di bagian tengah, melambangkan lima waktu shalat dalam ajaran Islam, menunjukkan eratnya kaitan tradisi ini dengan nilai-nilai religius masyarakat Tidung.

Sesaji dan Makna Spiritualnya

Di bawah struktur utama perahu terdapat tempat khusus yang disebut meligay, yaitu rumah kecil dengan atap bertingkat tiga. Di dalamnya, terdapat sesaji atau pakan, yang terdiri dari berbagai makanan. Setelah diarak mengelilingi kota Tarakan, perahu ini akhirnya dilarung ke laut, sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta dan ungkapan rasa syukur.

Perayaan yang Meriah : Seni, Lomba, dan Tradisi

Iraw Tengkayu tidak hanya sekadar upacara sakral, tetapi juga perayaan budaya yang kaya akan hiburan dan perlombaan:

  • Tari Kolosal: Ratusan penari berpartisipasi dalam pertunjukan tari tradisional yang menggambarkan sejarah dan filosofi suku Tidung.

  • Lomba Sumpit: Keahlian berburu tradisional diuji dalam kompetisi ini, memperlihatkan ketangkasan para peserta.

  • Balap Perahu & Kapal Hias: Kompetisi ini menjadi daya tarik tersendiri, memperlihatkan keindahan perahu yang dihias penuh warna.

  • Festival Kuliner Laut: Beragam hidangan khas pesisir turut meramaikan suasana, mengundang para pengunjung untuk menikmati kekayaan kuliner suku Tidung.


Epik dalam Warisan, Menjaga Tradisi untuk Generasi Mendatang

Iraw Tengkayu bukan hanya sekadar festival, tetapi juga manifestasi dari identitas budaya Suku Tidung. Dalam pusaran modernisasi, upaya pelestarian tradisi ini menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk memahami, mengapresiasi, dan meneruskan warisan budaya ini agar tetap lestari.

Dengan segala keunikan dan kekayaan maknanya, Iraw Tengkayu menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah kisah, filosofi, dan identitas yang terus hidup dalam sanubari masyarakat Tidung di Kalimantan Utara.

Selasa, 04 Juni 2019

Kyu Sakamoto : Penyanyi Legendaris Jepang

Kyu Sakamoto, lahir dengan nama asli Hisashi Oshima pada 10 Desember 1941, adalah seorang penyanyi dan aktor Jepang yang dikenal luas karena lagu terkenalnya, Ue o Muite Arukō atau yang lebih dikenal di dunia internasional dengan judul Sukiyaki. Ia menjadi salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah Jepang, menduduki peringkat ke-18 dalam daftar 100 musisi Jepang paling berpengaruh menurut HMV Japan.

Masa Kecil dan Perjalanan Menuju Karier Musik

Sakamoto lahir di Kawasaki, Prefektur Kanagawa, sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara. Nama pemberiannya, Kyu (九), berarti "sembilan", melambangkan posisinya dalam keluarga. Kedua orang tuanya, Hiroshi Sakamoto dan Iku Sakamoto, bekerja di sebuah restoran untuk menghidupi keluarga mereka.

Sejak masa remaja, Sakamoto telah menunjukkan minat besar dalam dunia musik. Saat masih bersekolah di SMA, ia mulai menyanyi dan segera mendapatkan popularitas di klub-klub lokal. Pada tahun 1958, ia bergabung dengan grup musik pop Jepang The Drifters sebagai penyanyi. Karier musiknya semakin berkembang ketika ia menandatangani kontrak dengan Toshiba pada tahun 1959 dan merilis rekaman pertamanya setahun kemudian.

Kesuksesan Besar dengan Ue o Muite Arukō (Sukiyaki)

Puncak karier Sakamoto datang dengan perilisan lagunya yang paling terkenal, Ue o Muite Arukō, sebuah lagu tentang seorang pria yang berusaha menahan air matanya. Lagu ini diciptakan oleh pianis Hachidai Nakamura dengan lirik yang ditulis oleh Rokusuke Ei, yang terinspirasi dari kisah patah hati akibat hubungannya dengan aktris Meiko Nakamura.

Hachidai Nakamura
Meiko Nakamura
Rokusuke Ei

Lagu ini menjadi hit besar di Jepang, terjual lebih dari 500.000 kopi. Kesuksesan ini menarik perhatian Louis Benjamin, kepala Pye Records di Inggris, yang membawa lagu tersebut ke negaranya. Ia kemudian meminta grup jazz Kenny Ball & The Jazzmen untuk meng-cover lagu ini dengan judul Sukiyaki, dinamai sesuai dengan makanan Jepang favoritnya.

Kyu Sakamoto and Yukiko Kashiwagi, Married 1971

Di Amerika Serikat, lagu ini mulai diputar di stasiun radio KORD di Washington oleh DJ Richard Osbourne. Popularitasnya meningkat pesat, hingga Capitol Records memutuskan untuk merilis versi asli Sakamoto dengan tetap menggunakan judul Sukiyaki. Hasilnya luar biasa—lagu ini mencapai peringkat #1 di Billboard Hot 100 selama tiga minggu dan terjual lebih dari satu juta kopi di AS.

Di negara-negara lain, termasuk Inggris dan Jerman, lagu ini juga menjadi hit besar. Bahkan hingga saat ini, Sukiyaki tetap menjadi salah satu lagu Jepang paling dikenal secara global.

Kyu Sakamoto, Yukiko Kashiwagi, Serta kedua putri mereka
 (Hanako dan Maiko)

Pengaruh dan Warisan Musik Kyu Sakamoto

Keberhasilan Sukiyaki memicu berbagai versi rekaman oleh artis lain dalam berbagai genre, termasuk R&B, reggae, Latin, dan jazz. Beberapa musisi terkenal seperti Bob Dylan bahkan pernah menyanyikan lagu ini dalam konser mereka di Jepang.

Pada tahun 1981, duo soul Amerika A Taste of Honey mengaransemen ulang lagu ini dan berhasil masuk tangga lagu Billboard selama 24 minggu, mencapai posisi #3. Versi lain yang sukses adalah dari grup vokal 4PM pada tahun 1995 yang menempati posisi #8 di tangga lagu. Selain itu, penyanyi Latin terkenal, Selena, juga pernah merekam versinya sendiri.

Sakamoto sendiri terus berkarya dan melakukan tur dunia pada tahun 1963 hingga awal 1964. Ia tampil di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, dan Swedia. Saat mengunjungi AS, ia sempat diundang ke acara The Tonight Show yang dipandu oleh Steve Allen, meskipun penampilannya di The Ed Sullivan Show harus dibatalkan karena ia sedang sibuk dengan proyek filmnya, Kyu-chan no Katana wo Uite.

Di luar dunia hiburan, Sakamoto juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia banyak bekerja untuk anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas di Jepang. Salah satu lagunya, Ashita Ga Aru Sa, bahkan menjadi lagu tema utama untuk Olimpiade Paralimpik Tokyo 1964.

Tragedi Kecelakaan Pesawat dan Akhir Hidupnya

Sayangnya, perjalanan hidup Kyu Sakamoto berakhir secara tragis. Pada 12 Agustus 1985, ia menjadi salah satu dari 520 korban dalam kecelakaan penerbangan Japan Airlines Flight 123. Pesawat Boeing 747 yang ia tumpangi mengalami kegagalan teknis pada bagian ekornya dan kehilangan kendali selama sekitar 30 menit sebelum akhirnya jatuh di pegunungan sekitar 60 mil di barat laut Tokyo.

Dalam momen - momen terakhirnya, Sakamoto sempat menulis surat perpisahan kepada istrinya, Yukiko Kashiwagi, yang dinikahinya sejak 1971. Mereka memiliki dua putri, Hanako dan Maiko.

Tragedi ini menjadi kecelakaan pesawat tunggal paling mematikan dalam sejarah Jepang dan salah satu yang terburuk dalam sejarah penerbangan dunia.

Warisan Abadi Kyu Sakamoto

Meskipun suaranya telah tiada, lagu-lagu Kyu Sakamoto terus hidup dan dicintai oleh banyak generasi, baik di Jepang maupun di seluruh dunia. Hingga saat ini, Sukiyaki tetap menjadi simbol dari keindahan musik Jepang yang mampu menembus batas budaya dan bahasa.

Jika Anda ingin mengenang Kyu Sakamoto, ada banyak rekaman video dan dokumentasi tentangnya yang dapat ditemukan, termasuk film Machikado no Uta (Kyu-chan’s Big Dream, 1967), yang menampilkan perjalanan dan impiannya sebagai seorang musisi.

Kyu Sakamoto mungkin telah tiada, tetapi warisan musiknya akan terus menginspirasi dan menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia.

WARISANNYA UNTUK DUNIA
KYU SAKAMOTO MEMORIAL MUSEUM

Kyu Sakamoto Memorial Museum





TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...