![]() |
Baloy Adat Tidung |
Bahasa Tidung, yang menjadi identitas
kebanggaan suku Tidung di wilayah utara Kalimantan, kini berada di ambang
kepunahan. Bahasa ini, yang pernah menjadi alat komunikasi utama di kota-kota
seperti Tarakan, Nunukan, Malinau, Bulungan, hingga melintasi perbatasan ke
wilayah Sabah di Malaysia, semakin tergerus oleh zaman. Masyarakat Tidung kini
lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,
sementara bahasa leluhur mereka semakin jarang terdengar di tengah percakapan.
Di kota Tarakan, misalnya, para pendatang
dari berbagai suku seperti Jawa, Bugis, dan Banjar secara aktif mempertahankan
bahasa ibu mereka masing-masing. Sebaliknya, bahasa Tidung perlahan-lahan
tergeser dan kehilangan tempatnya di hati para penuturnya. Kondisi ini membuat
banyak pihak merasa prihatin, termasuk penggiat budaya suku Tidung, Muhammad
Arbain, yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan bahasa ini.
![]() |
| Muhammad Arbain,S.Pd.,M.Pd Dosen muda, penulis buku dan penggiat Literasi Kaltara (Ketua Satu Pena Kaltara) |
Bahasa yang Terkikis di Kampung Halaman
Sendiri
Arbain mencatat bahwa masyarakat Tidung
mulai kehilangan kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa mereka sendiri,
bahkan di antara sesama penutur asli. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa
nasional, kerap menjadi pilihan utama, baik dalam percakapan sehari-hari maupun
di lingkungan sosial lainnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tarakan
tetapi juga di daerah lain yang menjadi tempat tinggal utama suku Tidung.
Namun, ironisnya, di wilayah Sabah,
Malaysia, bahasa Tidung justru masih hidup dan dipertahankan. Arbain menyebut
bahwa orang-orang Tidung yang dahulu bermigrasi ke Sabah tetap melestarikan
bahasa ibu mereka dan menggunakannya dalam keseharian. Hal ini mencerminkan
bagaimana di tempat lain, identitas budaya Tidung tetap terpelihara, sementara
di tanah kelahirannya sendiri, bahasa tersebut menghadapi ancaman kepunahan
yang nyata.
![]() |
Muhammad Arbain,S.Pd.,M.Pd |
Upaya Penyelamatan: Harapan di Dunia
Pendidikan
Untuk menjawab kekhawatiran ini, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan mengajukan langkah strategis:
menjadikan bahasa Tidung sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, khususnya
sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Usulan ini diharapkan dapat diterapkan
pada tahun ajaran 2022-2023, meskipun membutuhkan persiapan yang matang sebelum
dapat direalisasikan.
![]() |
Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Jusuf Middu |
Dinas Pendidikan Kota Tarakan menyambut
baik usulan ini, meski dengan sejumlah catatan penting. Kepala Dinas Pendidikan
Kota Tarakan, Budiono, menjelaskan bahwa untuk memasukkan bahasa Tidung ke
dalam kurikulum, ada berbagai aspek yang harus dipertimbangkan, seperti
ketersediaan tenaga pengajar, bahan ajar yang sesuai, dan konsultasi dengan
tokoh adat suku Tidung. Semua ini perlu dipersiapkan dengan baik agar
pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat yang maksimal bagi
generasi muda.
"Bahasa Tidung akan diajarkan di
tingkat SD dan SMP," ujar Budiono, "karena tingkat pendidikan ini
adalah masa yang paling efektif untuk mengenalkan dan menanamkan pemahaman
tentang bahasa dan budaya lokal." Harapannya, langkah ini dapat
membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap bahasa Tidung, sekaligus
membangun kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Budiono |
Penyebaran Bahasa Tidung di Kalimantan dan
Sabah
Selain di Kalimantan Utara, bahasa Tidung
juga dituturkan oleh masyarakat di beberapa wilayah lain, seperti Berau dan
Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Bahasa ini memiliki beberapa variasi
dialek, yang dikenal sebagai "Tideng" atau "Tidong,"
tergantung pada daerah penuturnya. Meski terdapat perbedaan dalam pengucapan
dan beberapa istilah, inti dari bahasa ini tetap sama, yaitu mencerminkan
budaya dan tradisi masyarakat Tidung yang kaya akan sejarah.
Menurut Monografi Kabupaten Bulungan, suku
Tidung berasal dari kawasan pegunungan di Manjelutung, yang kemudian bermigrasi
ke wilayah pesisir. Beberapa sumber bahkan menyebutkan bahwa suku ini memiliki
hubungan kekerabatan dengan suku Dayak Murut yang tinggal di Sabah. Hubungan
ini menunjukkan adanya keterkaitan historis yang erat antara masyarakat Tidung
di kedua sisi perbatasan, sekaligus menambah alasan mengapa bahasa ini penting
untuk dilestarikan.
![]() |
Penggiat
budaya Tidung, Muhammad
Arbain
|
Reporter : Andrey Dwi Riantha |
Tantangan dan Langkah Nyata
Melestarikan bahasa Tidung bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat Tidung sendiri, agar mereka kembali bangga menggunakan bahasa ibu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga tokoh adat dan masyarakat, sangat diperlukan untuk memastikan bahwa upaya pelestarian ini berjalan efektif.
Salah satu tantangan lainnya adalah
bagaimana membuat generasi muda tertarik untuk mempelajari dan menggunakan
bahasa Tidung. Dalam dunia yang semakin modern dan didominasi oleh teknologi,
bahasa daerah seringkali dianggap kurang relevan. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan yang kreatif, seperti mengintegrasikan teknologi dan media sosial
dalam pembelajaran bahasa Tidung. Misalnya, membuat konten digital dalam bahasa
Tidung atau mengadakan lomba-lomba kreatif berbasis budaya lokal.
![]() |
Survey pengenalan Bahasa Tidung pada para
pelajar di Kota Tarakan
|
Kameramen : Hery Susanto, Reporter : Virgo
Eddie |
Melestarikan Identitas Lewat Bahasa
Bahasa adalah cermin dari identitas sebuah
komunitas. Ketika sebuah bahasa punah, yang hilang bukan hanya sekadar
kata-kata, tetapi juga cara berpikir, tradisi, dan kearifan lokal yang
terkandung di dalamnya. Bahasa Tidung bukan sekadar alat komunikasi, melainkan
juga bagian dari sejarah panjang suku Tidung yang telah bertahan di tengah
berbagai perubahan zaman.
Melalui langkah-langkah strategis seperti
pengintegrasian dalam kurikulum pendidikan, promosi budaya melalui media, dan
peningkatan kesadaran masyarakat, ada harapan bahwa bahasa Tidung dapat
diselamatkan dari kepunahan. Upaya ini membutuhkan komitmen bersama, baik dari
masyarakat Tidung sendiri maupun dari pihak-pihak lain yang peduli terhadap
pelestarian budaya.
Bahasa Tidung adalah warisan yang tak
ternilai harganya. Ia menyimpan cerita tentang masa lalu, identitas, dan
kebanggaan suatu bangsa. Jangan biarkan bahasa ini hanya menjadi catatan
sejarah. Saatnya bagi kita semua, terutama masyarakat Tidung, untuk bangkit dan
memastikan bahwa bahasa ini tetap hidup di tengah tantangan zaman.
Gambar pakaian adat suku Tidung pada uang
kertas Rp. 75 ribu, yang diterbitkan tahun 2020 lalu untuk memperingati ulang
tahun kemerdekaan yang ke - 75, pernah disalah pahami sebagai pakaian adat
Tionghoa dan oleh pengkritik di media sosial gambar itu dihebohkan sebagai
bukti bahwa Cina sudah menguasai Indonesia.
![]() |
Ilustrasi anak menggunakan pakaian adat
Suku Tidung,
Obrolan
Budaya || Rri Tarakan || Bahasa Daerah Tidung Terancam Punah || 27 Mei 2019 II https://Youtu.Be/G8fq9v_Yh3y?Si=Zntmwsc3gd8qyvyt








