Sabtu, 28 Oktober 2023

Melodi Rahasia Alam: Mengungkap Suara Dunia Tersembunyi

 


Harmoni Bumi dan Laut dalam Tagonggong dan Sasambo

Tagonggong dan sasambo adalah dua unsur suara yang begitu khas dari wilayah utara Nusantara, menjadi penanda harmoni antara manusia, tanah, dan laut di Sangihe. Suara dentuman tagonggong, yang menggema laksana irama jantung alam, berpadu dengan lengkingan sasambo, menciptakan suasana penuh makna yang menghubungkan masyarakat dengan alam sekitarnya.

Bagi masyarakat Sangihe, bunyi-bunyian ini bukan sekadar hiburan atau ekspresi seni. Tagonggong, dengan ritmenya yang khas, menggambarkan hubungan erat manusia dengan bumi tempat mereka berpijak. Sementara itu, sasambo, dengan nadanya yang melengking dan melodi yang menusuk ke dalam hati, mencerminkan keakraban manusia dengan laut yang mengelilingi pulau-pulau kecil mereka. Harmoni kedua bunyi ini menjadi cerminan keselarasan yang telah lama dijaga oleh masyarakat setempat.

Dalam setiap peristiwa penting, seperti upacara adat, pesta panen, atau ritus keagamaan, tagonggong dan sasambo selalu hadir sebagai pengiring. Bunyi tagonggong yang menyerupai gema pukulan drum besar seolah menjadi denyut nadi bumi yang mengalirkan kehidupan. Sasambo, di sisi lain, ibarat angin laut yang menyampaikan pesan-pesan alam kepada manusia. Kombinasi keduanya menciptakan narasi suara yang mempersatukan komunitas, mengingatkan mereka akan pentingnya keseimbangan alam dan budaya.

Kehidupan masyarakat Sangihe sangat bergantung pada alam sekitarnya. Mereka memanfaatkan hasil bumi dari daratan yang subur sekaligus mengandalkan laut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesadaran akan ketergantungan ini terwujud dalam simbolisme bunyi tagonggong dan sasambo, yang menggambarkan penghormatan mereka terhadap bumi dan laut sebagai sumber penghidupan. Dengan setiap dentuman dan lengkingan, masyarakat diajak untuk merenungi hubungan mendalam yang mereka miliki dengan lingkungan.

Walaupun zaman terus berubah dan modernisasi tak terhindarkan, tradisi memainkan tagonggong dan sasambo tetap dijaga dengan baik. Generasi muda dilibatkan dalam pelestarian bunyi-bunyian ini melalui berbagai program pendidikan dan pertunjukan seni. Dengan demikian, identitas budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tetap hidup, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia dan alam.



Dentuman tagonggong dan lengkingan sasambo adalah bukti nyata bagaimana budaya lokal mampu merefleksikan hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Di tengah tantangan global yang kerap mengancam kelestarian budaya dan alam, Sangihe tetap memperdengarkan bunyi samar ini sebagai pengingat betapa pentingnya menjaga keseimbangan yang telah tercipta selama berabad-abad.

Kepulauan Sangihe, beranda depan Nusantara yang membentang mempesona di Samudra Pasifik, kerap digambarkan sebagai untaian permata yang menghubungkan Asia Timur dan Nusantara. Gugusan pulau ini telah menjadi saksi sejarah panjang perjalanan manusia, konon menjadi jalur migrasi Austronesia yang melahirkan peradaban Indo-Pasifik.

Legenda setempat menceritakan tentang Gumansalangi, seorang pangeran dari Kesultanan Mindanao yang menjadi perintis peradaban di kerajaan Tampungan Lawo. Sang pangeran membawa budaya, seni, dan tradisi, termasuk musik, yang hingga kini menjadi identitas masyarakat Sangihe. Sejak abad ke-13, wilayah ini telah menjadi simpul penting perdagangan rempah antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan kekaisaran besar di Asia.

Nama Kepulauan Sangihe pun tercatat dalam berbagai ekspedisi sejarah. Laksamana Cheng Ho, dalam perjalanannya antara tahun 1413 hingga 1415, menandai kawasan ini sebagai titik strategis. Peta dunia karya kartografer Italia, Giacomo Gastaldi, pada tahun 1528 juga memuat Sangihe, memperlihatkan posisinya yang penting di jalur perdagangan dunia.

Namun, masuknya bangsa Eropa membawa perubahan besar. Abad ke-18 menjadi era monopoli dagang oleh VOC yang menguasai perairan sekitar Sangihe. Hingga kini, Kepulauan Sangihe tetap menjadi tempat yang menyimpan kekayaan tradisi dan budaya yang berharga meski tak lagi menjadi pusat perhatian.


Suara Tagonggong dan Sasambo

Di tengah segala perubahan, musik tradisional tetap menjadi penjaga cerita masa lalu. Tagonggong dan Sasambo, dua elemen seni budaya Sangihe, adalah simbol yang tak tergantikan. Tagonggong adalah alat musik perkusi dari kayu, sementara Sasambo merupakan syair magis yang dilantunkan untuk menyampaikan pesan dari hati dan semesta.

Dalam sebuah acara budaya di halaman Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Sangihe, dentuman tagonggong menyambut tamu kehormatan. Suara perkusi yang kuat diiringi lantunan syair Sasambo mengisi udara pagi itu, menghentikan sejenak hiruk pikuk kehidupan.

Tagonggong, alat musik yang terbuat dari kayu seperti kayu nangka atau kayu besi, memiliki membran dari kulit kambing. Bentuknya sekilas menyerupai djembe dari Afrika atau darbuka dari Timur Tengah. Alat musik ini dapat dimainkan solo atau berkelompok, dengan teknik yang serupa dengan perkusi lainnya. Namun, dalam budaya Sangihe, tagonggong adalah instrumen utama dalam berbagai upacara adat dan ritual.

Sasambo, di sisi lain, adalah seni puisi lama yang memiliki unsur magis. Kata "sasambo" berasal dari "sasasa" yang berarti pengajaran atau petuah, dan "sambo" yang merujuk pada syair magis. Syair-syair Sasambo biasanya memiliki nada minor dan disampaikan dengan berbagai tema, seperti cinta, perang, hingga doa untuk keselamatan. Dalam budaya Sangihe, Sasambo bukan sekadar lagu; ia adalah medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan Ilahi.

Tradisi yang Sarat Makna

Tagonggong dan Sasambo adalah perpaduan seni dan filsafat. Dalam pelaksanaannya, tagonggong memainkan peran sebagai pengatur tempo, sementara Sasambo menjadi roh yang menyampaikan pesan. Nada-nada yang dihasilkan sering kali mencerminkan gelombang kehidupan masyarakat pesisir, dari riak kecil hingga badai besar.

Syair Sasambo terbagi dalam beberapa jenis, seperti:

  • Lagung Bawine: Berisi petuah tentang kehidupan rumah tangga.

  • Lagung Kakumbaede: Syair pengantar tidur yang penuh kebijaksanaan.

  • Lagung Duluhuang: Menggambarkan kearifan pesisir.

  • Lagung Sasonda: Mengisahkan cerita perang.

  • Lagung Kafire: Syair yang memiliki unsur mantra.

Setiap jenis memiliki pesan mendalam yang disampaikan melalui harmonisasi antara tagonggong dan Sasambo. Ritual ini mencerminkan filsafat hidup masyarakat Sangihe yang terdiri dari empat elemen utama: kepala (kecerdasan), suara dada (kemanusiaan), suara perut (kesejahteraan), dan cakra (regenerasi).

Menyambut Modernitas Tanpa Kehilangan Identitas

Kedatangan bangsa Eropa turut membawa pengaruh pada seni musik tradisional Sangihe. Teknik harmoni vokal dari musik gerejawi memperkaya pelantunan Sasambo. Seperti halnya seni beluk di Jawa Barat, Sasambo kini memiliki unsur paduan suara yang memukau.

Namun, seni ini perlahan tergerus oleh waktu. Di tengah modernitas, hanya sedikit generasi muda yang tertarik mewarisi tradisi ini. Tagonggong dan Sasambo masih terdengar di Sangihe, tetapi lebih banyak dilantunkan oleh generasi tua yang semakin sedikit jumlahnya.

Jalan Sasambo bukanlah jalan yang menawarkan ketenaran atau kemewahan. Ia adalah jalan sunyi yang menghubungkan manusia dengan semesta, penuh liku namun sarat makna. Apakah tradisi ini akan terus hidup, atau hanya menjadi kenangan di masa depan? Jawabannya ada di tangan generasi muda yang mau melestarikannya.

Tagonggong dan Sasambo adalah harta tak ternilai yang menunggu untuk kembali menemukan tempatnya di hati masyarakat. Dalam harmoni dentuman perkusi dan syair magisnya, tersembunyi pesan yang dapat menjadi pelita bagi perjalanan hidup kita semua.

TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...