Senin, 26 Desember 2022

Tragedi Bulutiken

 

Di tengah gemerlap sejarah Nusantara yang dipenuhi kisah besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram, ada satu kerajaan yang pernah berjaya di ujung utara Kalimantan, tetapi perlahan-lahan memudar dari ingatan bangsa. 

Kesultanan Bulungan, kerajaan Islam yang dahulu berdaulat di Kalimantan Utara, kini hanya menjadi jejak samar dalam sejarah. Sebagai pusat kekuasaan, perdagangan, dan budaya di wilayah perbatasan Kalimantan, Malaysia, dan Filipina, Kesultanan Bulungan menyisakan kepingan cerita yang hampir tak terdengar. 

Peta Wilayah Kesultanan 



Istana Kerajaan Bulungan di Masa Lalu

1. Awal Berdirinya Kesultanan Bulungan: Dari Legenda ke Sejarah

Asal - usul Kesultanan Bulungan bermula dari kisah seorang penguasa Brunei Darussalam bernama Datuk Mencang yang tersesat di wilayah Dayak Kayan. Menurut tradisi lisan, peristiwa ini terjadi sekitar abad ke - 16. Datuk Mencang menikahi perempuan Dayak bernama Asung Luwan, lalu mendirikan pemerintahan kecil di Bulungan.

Kepemimpinannya berlangsung dari tahun 1555 hingga 1594.


Keluarga Besar dan Kerabat Kesultanan Bulungan

Era kesultanan bercorak Islam baru dimulai pada abad ke-18 ketika Wira Amir, penguasa Bulungan saat itu, memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Aji Muhammad. Pada tahun 1771, ia dinobatkan sebagai Sultan Amiril Mukminin, raja pertama Kesultanan Bulungan. Wilayah kekuasaannya mencakup seluruh Kalimantan Utara, Sabah di Malaysia, hingga sebagian Sulu di Filipina. Kesultanan ini berkembang pesat berkat kekayaan alam yang melimpah dari hutan, sungai, dan laut.

Museum Replika Keraton Kesultanan Bulungan

2. Masa Kejayaan Kesultanan Bulungan

Puncak kejayaan Kesultanan Bulungan berlangsung selama hampir dua abad, dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Kesultanan ini makmur dari hasil sumber daya alam, seperti kayu, rotan, damar, dan hasil laut. Struktur pemerintahan yang efektif serta hubungan baik dengan masyarakat Dayak menciptakan stabilitas sosial dan politik yang mendukung kemakmuran.

Perangkat Makan - Minum dan Kecantikan di masa jaya Kesultanan Bulungan

Selain itu, Bulungan memiliki pasukan yang cukup kuat untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman perompak yang sering beroperasi di perbatasan. Pasukan ini dilengkapi dengan senjata modern pada masanya, termasuk senapan dan meriam. Hubungan perdagangan dengan Kesultanan Sulu, Brunei, dan bahkan pedagang Tionghoa juga menjadi faktor penting dalam mendukung ekonomi kerajaan.

Kapal Bulungan Nederland

Kesultanan Bulungan terkenal karena kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Pajak yang diberlakukan sangat rendah, bahkan tidak ada sama sekali pada sektor tertentu. Pendekatan ini membuat rakyat hidup relatif sejahtera dibandingkan kerajaan-kerajaan lain pada masa itu.

Benda - benda penuh kenangan di masa kejayaan Kesultanan Bulungan

3. Masuknya Pengaruh Belanda dan Jepang

Pada pertengahan abad ke-19, Belanda mulai memperluas pengaruhnya di Kalimantan. Kesultanan Bulungan, meski tetap menjaga otonomi, terpaksa menjalin hubungan diplomatik dengan kekuatan kolonial tersebut. 



Pada tahun 1850, Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin menandatangani perjanjian dengan Belanda. Perjanjian ini memberi hak kepada Belanda untuk mengeksploitasi sumber daya minyak dan gas di Tarakan, sementara Bulungan tetap memerintah wilayahnya secara internal.

Kedatangan Jepang selama Perang Dunia II membawa babak baru dalam sejarah Bulungan. 

Hubungan antara Kesultanan Bulungan dan Jepang relatif harmonis. Keluarga kerajaan tidak mengalami tekanan berarti, meskipun situasi perang memengaruhi kehidupan ekonomi rakyat.

4. Bergabung dengan Indonesia dan Tragedi Bultiken

Kesultanan Bulungan resmi bergabung dengan Indonesia melalui Konvensi Malinau pada 7 Agustus 1949. 


Namun, keputusannya untuk menjadi bagian dari NKRI tidak menghentikan ancaman yang datang. Pada tahun 1964, sebuah tragedi besar mengguncang Bulungan.



H. Datu Disan (Raja Muda Bulungan)







Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Bultiken (Bulungan, Tidung, dan Kenyah) bermula dari tuduhan bahwa Kesultanan Bulungan bersekongkol dengan Malaysia untuk memisahkan diri dari Indonesia. 

Istana Kesultanan Bulungan yang di bakar TNI tahun 1964
dalam tragedi Bulutiken



Tuduhan ini diperparah oleh hubungan keluarga kerajaan dengan Kesultanan Sabah di Malaysia. Pada masa itu, kampanye "Ganyang Malaysia" yang digagas oleh Presiden Soekarno menciptakan situasi politik yang memanas.


Putra (i), Pria, Wanita dan anak - anak di bunuh secara massal. Ditenggelamkan dan jenazahnya dibuang di tengah laut. Bukan hanya yang berada di Bulungan, tetap keluarga Sultan Bulungan lainnya yang berada di sekitar Kalimantan hingga di Malang, juga turut diburu dan dibantai.

Aksi militer yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Suharjo menghasilkan tragedi besar. Istana Bulungan dibakar, harta kekayaan dijarah, dan banyak anggota keluarga kerajaan dibantai. 



Setidaknya 87 orang menjadi korban, dengan 37 di antaranya tewas. Sultan Bulungan saat itu menghilang tanpa jejak, dan pewaris takhta melarikan diri ke Malaysia.


5. Kehancuran Fisik dan Identitas Budaya

Setelah istana dihancurkan, Kesultanan Bulungan kehilangan pusat kekuasaan dan identitas budayanya. Rumah-rumah adat yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bulungan turut diratakan dengan tanah. Penduduk setempat yang menolak perintah militer untuk membantu penghancuran dianggap pemberontak dan diperlakukan secara kejam.

Hingga kini, banyak peninggalan sejarah Kesultanan Bulungan yang lenyap. Generasi penerus di Bulungan hidup dalam bayang-bayang sejarah yang nyaris terlupakan, sementara sebagian keturunan keluarga kerajaan menetap di Malaysia dan tidak pernah kembali ke tanah kelahiran mereka.



Museum Kesultanan Bulungan (Replika Istana Kesultanan)

6. Simpang Siur Tuduhan Makar

Tuduhan makar yang dilontarkan kepada Kesultanan Bulungan hingga kini masih menjadi misteri. Tidak ada bukti konkret bahwa Kesultanan Bulungan berencana memisahkan diri dari Indonesia. Beberapa sejarawan percaya bahwa peristiwa ini lebih dipengaruhi oleh persaingan politik internal di tubuh TNI pada masa itu.

Hubungan dekat Kesultanan Bulungan dengan Belanda dan Malaysia menjadi alasan utama munculnya kecurigaan.

Namun, hubungan ini sejatinya wajar mengingat letak geografis Bulungan yang berbatasan langsung dengan Sabah. Sayangnya, dalam situasi politik yang panas, interpretasi terhadap hubungan tersebut menjadi bias.

7. Harapan untuk Rekonsiliasi dan Pengungkapan Kebenaran

Meski telah berlalu lebih dari setengah abad, luka akibat tragedi Bultiken masih terasa di Bulungan. Banyak keturunan keluarga kerajaan yang berharap pemerintah Indonesia membuka kembali catatan sejarah dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1964. Pengakuan terhadap tragedi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk rekonsiliasi.


Peninggalan sejarah Kesultanan Bulungan membutuhkan perhatian serius. Pemerintah daerah Kalimantan Utara telah berupaya menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya Kesultanan Bulungan sebagai bagian dari sejarah Indonesia. Pendirian museum, pelestarian situs sejarah, dan pengajaran sejarah lokal diharapkan dapat menghidupkan kembali identitas budaya Bulungan.


Belajar dari Sejarah untuk Masa Depan

Kesultanan Bulungan adalah contoh nyata bagaimana sebuah kerajaan besar dapat tenggelam dalam arus sejarah. Dari sebuah kerajaan yang makmur hingga tragedi yang memilukan, perjalanan Bulungan mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif dan menghargai warisan sejarah. 


Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi generasi mendatang untuk selalu menghormati keberagaman budaya dan sejarah bangsa.

Bulungan, Kerajaan Besar Di Kalimantan Yang Terlupakan :

https://youtu.be/Ygy3VPqNDFE?si=zhrHrj4y3CTG2h3f

Tragedi di Bulungan tahun 1964 - Runtuhnya Istana Kesultanan Bulungan oleh Oknum TNI dan PKI : https://youtu.be/PwC07xmmp6E?si=Q6Bvtqly2DTj9wtZ








TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...