Senin, 31 Januari 2022

Kisah Inspiratif Agustinus Sasundu



Agustinus Sasundu, seorang maestro yang lahir di Desa Lenganeng pada 17 Agustus 1950, telah mengukir sejarah sebagai pelopor musik bambu tradisional dari Sangihe. Pria yang akrab disapa Om Utu oleh generasi muda ini adalah sosok yang dikenal karena kesederhanaannya, keramahannya, dan dedikasi luar biasa terhadap seni. Dengan semangat yang tak pernah surut, ia telah meraih berbagai penghargaan berkat kontribusinya dalam melestarikan seni musik bambu khas Sangihe.

Pada tahun 2005, pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe memberikan penghargaan kepada Agustinus atas kreativitasnya memanfaatkan bambu lokal sebagai bahan dasar inovasi musik. Penghargaan lainnya, yaitu Citra Kehati Award, diraihnya pada 2015 atas kontribusi di bidang lingkungan. Puncaknya, pada tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menganugerahinya gelar Maestro Seni Tradisi, sebagai pengakuan atas usahanya menjaga keberlanjutan musik bambu tradisional Sangihe.


Awal Perjalanan Sang Maestro

Perjalanan Agustinus dalam merawat tradisi musik bambu dimulai pada tahun 1969. Berawal dari eksperimen menggunakan bambu tutul yang banyak tumbuh di desanya, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk insiden serius saat tangannya terluka parah hingga membutuhkan 18 jahitan. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Baginya, bambu adalah kekayaan alam yang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi karya seni.

Menurut Agustinus, kecintaan masyarakat Sangihe terhadap musik adalah warisan turun-temurun. Pada masa itu, instrumen yang digunakan sangat sederhana. Ia merasa terpanggil untuk menciptakan alat musik yang lebih kompleks menggunakan bahan lokal. Tradisi Masamper, yakni kompetisi antar desa yang mempertunjukkan kemampuan musik, menjadi motivasi besar baginya. Pada tahun 1972, ia mendirikan grup musik bambu di Tabukan Utara, mengaransemen lagu-lagu, dan menciptakan berbagai alat musik tiup dari bambu, seperti seruling, klarinet, trombon, saksofon, hingga terompet.


Menginspirasi Generasi Muda

Agustinus dikenal dengan semangat berbagi yang tak pernah surut. Ia sering mengunjungi desa-desa untuk mengajarkan cara membuat dan menyetel alat musik bambu. Selain itu, ia melatih generasi muda memainkan musik, bahkan saat ia masih menjadi guru honorer di sekolah menengah. “Dulu, meskipun banyak masyarakat yang buta huruf, mereka mampu memainkan musik bambu dengan sangat baik,” kenangnya penuh kebanggaan.

Kini, ia memimpin Grup Welengang Pontolawokang Sawang Jauh yang kerap tampil di berbagai acara nasional. Salah satu momen berkesan adalah ketika mereka diundang tampil pada Perayaan Natal Nasional yang dihadiri Presiden Joko Widodo di Papua. Di halaman rumah di Kampung Likuang, kelompok ini rutin berlatih memainkan berbagai lagu menggunakan alat musik bambu, melibatkan pemain dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.


Keunikan Alat Musik Bambu

Keunikan utama dari alat musik yang diciptakan Agustinus terletak pada bahan dasarnya—bambu, bukan logam seperti pada alat musik tiup konvensional. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sangihe, yang awalnya digunakan untuk mengiringi acara adat, pernikahan, atau kegiatan keagamaan.

Proses pembuatan alat musik bambu dimulai dengan pemilihan bambu berkualitas. Agustinus biasanya memilih bambu tua yang tumbuh di sekitar pantai dan menebangnya saat air laut surut. Setelah dikeringkan, bambu diolah menjadi berbagai alat musik. Dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan 40 instrumen, dengan melibatkan satu hingga tiga orang dalam prosesnya. Hasil karyanya kemudian dijual kepada kelompok musik, sehingga tradisi ini terus berkembang.


Tradisi Masamper dan Harmoni Sosial

Musik bambu memiliki peran penting dalam acara budaya Masamper, di mana kelompok-kelompok musik dari berbagai desa bersaing menampilkan kemampuan terbaik mereka. Selain menjadi ajang unjuk kebolehan, Masamper juga memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi antarwarga. Musik bambu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk agama. Dalam setiap pertunjukan, warga muslim dan non-muslim sering kali bekerja sama, menciptakan harmoni yang menginspirasi.

Agustinus tidak hanya mengajarkan teknik bermain musik, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai budaya dan cerita yang mendalam. Hal ini menciptakan keterhubungan emosional antara musik yang dimainkan dan penontonnya, menjadikan setiap pertunjukan sebagai pengalaman yang tak terlupakan.


Warisan Seni untuk Dunia

Dedikasi Agustinus telah menarik perhatian dunia internasional. Karya-karyanya, termasuk alat musik tiup dari bambu, telah diapresiasi hingga ke Prancis. Salah satu alat musiknya bahkan ditempatkan di sebuah museum, menunjukkan bagaimana seni tradisional Indonesia dapat menjadi bagian dari warisan budaya dunia. Dengan menggabungkan elemen lokal dan perspektif global, Agustinus berhasil menjembatani budaya yang berbeda.

Filosofi Hidup dan Dampak Lingkungan

Selain seni, filosofi hidup Agustinus juga menyentuh keberlanjutan alam. Ia mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian bambu dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Bersama istrinya, Martha Macpal, ia kini menikmati masa tua dengan bertani secara organik sambil terus mengembangkan inovasi dalam musik bambu. Baginya, musik bukan sekadar bunyi, tetapi juga sarana menyampaikan pesan, nilai, dan identitas budaya.


Warisan Tak Ternilai

Melalui dedikasi dan inovasinya, Agustinus Sasundu telah meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi generasi mendatang. Musik bambu, yang dulunya hanya dimainkan dalam acara-acara lokal, kini telah menjadi identitas budaya yang membanggakan. Inspirasi dari seorang maestro seperti Agustinus menunjukkan bahwa seni tradisional dapat berkembang dan memberikan dampak besar, tidak hanya bagi komunitas lokal tetapi juga dunia.


Jumat, 28 Januari 2022

Asal Usul Istilah Imlek


Altar Sesembahan Keluarga

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting dalam budaya Tionghoa yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Dalam setiap perayaan ini, berbagai ucapan dan tradisi digunakan untuk menyampaikan harapan baik serta kebahagiaan kepada keluarga, teman, dan kolega. Salah satu istilah yang kerap terdengar saat perayaan adalah "Imlek" dan ucapan "Gong Xi Fa Cai" yang melambangkan doa untuk kemakmuran dan keberuntungan.

Tim Produksi dan Narasumber / Foto. Private Documentation / Anzefka

Meskipun banyak orang menganggap "Imlek" sebagai istilah asli dalam bahasa Tionghoa, sebenarnya kata ini berasal dari dialek Hokkian. Dalam bahasa Mandarin, Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan sebutan "Chunjie" (春节) yang berarti "Festival Musim Semi". Kata "Imlek" sendiri berasal dari "Yin Li" (阴历) yang berarti "kalender lunar". Seiring waktu, istilah ini menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia untuk menyebut perayaan Tahun Baru China.

Kalender Lunar 2022

Sistem kalender yang digunakan dalam perayaan ini didasarkan pada siklus bulan, berbeda dengan kalender matahari yang banyak dipakai di dunia Barat. Oleh sebab itu, tanggal perayaan Imlek selalu berubah setiap tahunnya, namun tetap jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.

Tim Produksi dan Narasumber / Foto. Private Documentation / Anzefka

Makna dan Ragam Ucapan Tahun Baru Imlek

Ucapan selamat Tahun Baru Imlek tidak hanya terbatas pada "Gong Xi Fa Cai". Banyak ungkapan lain yang digunakan untuk menyampaikan harapan baik, antara lain:

  • Gong Xi Fa Cai (恭喜发财) – Secara harfiah berarti "Selamat dan semoga semakin kaya", sering diucapkan sebagai doa untuk kemakmuran.

  • Xin Nian Kuai Le (新年快乐) – Berarti "Selamat Tahun Baru", lebih umum digunakan di Tiongkok daratan.

  • Wan Shi Ru Yi (万事如意) – Bermakna "Semoga segala urusan berjalan sesuai harapan".

  • Shen Ti Jian Kang (身体健康) – Mengandung doa agar seseorang diberikan kesehatan yang baik sepanjang tahun.

Setiap ucapan ini mencerminkan nilai-nilai yang dihargai dalam budaya Tionghoa, seperti kesejahteraan, kebahagiaan, dan kesuksesan.

Klenteng Toa Pek Kong Tarakan

Suasana Klenteng Toa Pek Kong Tarakan di Tahun Baru Imlek

Perkembangan Tradisi Imlek di Berbagai Negara

Tahun Baru Imlek dirayakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan komunitas diaspora Tionghoa di negara - negara Barat. Masing-masing tempat memiliki cara unik dalam merayakan momen ini. Di Indonesia, misalnya, perayaan Imlek sering diwarnai dengan pertunjukan barongsai, penyalaan kembang api, dan makan malam bersama keluarga.

Pertunjukan Barongsai dari Komunitas Tionghoa Tarakan 

Di Tiongkok, tradisi mudik atau "Chunyun" menjadi momen penting di mana jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga. Selain itu, pemberian angpao (红包) atau amplop merah yang berisi uang juga menjadi tradisi utama sebagai simbol berbagi keberuntungan.

Bunga Imlek (Pohon Meihua) / Foto. Private Documentation / Anzefka

Simbolisme dan Harapan di Balik Perayaan

Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Tahun Baru Imlek mengandung makna mendalam tentang harapan dan semangat baru. Warna merah yang mendominasi dekorasi dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. 

Hidangan Khas Imlek yang penuh makna

Sementara itu, berbagai makanan khas seperti ikan (melambangkan kelimpahan), jeruk (simbol keberuntungan), dan kue keranjang (nian gao) mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.

Kue Keranjang (Nian Gao), Cemilan Khas Imlek

Dengan pemahaman lebih dalam tentang asal-usul kata "Imlek" dan berbagai ucapan selamat yang digunakan, kita dapat lebih menghargai makna dan filosofi di balik perayaan ini. Tahun Baru Imlek bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana untuk menyebarkan kebahagiaan dan mempererat hubungan dengan orang - orang terkasih.

Tim Produksi Program Siaran Dokumenter







Gong Xi Fa Cai (恭喜发财) – Xin Nian Kuai Le (新年快)














TUGAS.3 MK. FSIK 4309 / Penulisan Konten Media Baru / VLOG

  Prosesi tradisional Seke Maneke adalah sebuah ritual penangkapan ikan massal secara adat yang merupakan warisan budaya maritim kuno masyar...