![]() |
| Ketua Perguruan Kuntow Bawod - Abd. Somad |
Di sebuah sudut Kota Tarakan, hidup seorang pendekar tangguh bernama Abdul Somad. Tubuhnya yang gesit bergerak lincah memperlihatkan keindahan jurus-jurus kuntow, seni bela diri khas suku Tidung dari Kalimantan Utara. Dalam setiap gerakannya, tangan dan kaki Somad meluncur cepat, melumpuhkan lawan hingga tak mampu bangkit lagi. Meskipun posturnya tidak besar, dengan tinggi sekitar 169 cm dan tubuh yang cenderung kurus, Somad memiliki stamina yang luar biasa. Wajahnya yang keras dan penuh tekad menunjukkan bahwa ia adalah seorang pekerja keras yang tak pernah menyerah pada tantangan hidup.
Somad, yang akrab disapa "Paman" oleh orang-orang di sekitarnya, telah menjadi pelatih kuntow selama dua tahun terakhir. Seni bela diri ini ia pelajari sejak kecil, tepatnya pada era 1980-an, dan kini ia mengajarkan ilmu tersebut kepada generasi muda. Baginya, kuntow adalah warisan leluhur yang sangat penting untuk pertahanan diri. Dengan penuh semangat, ia berbagi keterampilannya kepada sebelas muridnya yang berlatih dua kali seminggu, di malam hari. Pada siang hari, Somad menjalani profesinya sebagai nelayan di perairan Mamburungan, Tarakan. Meski memiliki dua peran yang berbeda, Somad menjalani keduanya dengan penuh kebanggaan.
![]() |
| Keindahan jurus - jurus Kuntow |
Kuntow: Seni Bela Diri Khas Suku Tidung
Kuntow adalah seni bela diri yang diwariskan oleh leluhur suku Tidung. Berbeda dengan seni bela diri lain seperti silat, kuntow memiliki ciri khas tersendiri. Somad menjelaskan bahwa kuntow hanya terdiri dari sepuluh jurus, jauh lebih sederhana dibandingkan silat yang memiliki banyak jurus. Jurus-jurus dalam kuntow menonjolkan elemen "bunga" atau gerakan pembukaan yang unik sebelum melancarkan langkah-langkah menyerang. Kecepatan, ketangkasan, dan presisi menjadi elemen penting dalam setiap gerakan kuntow. Meski tidak dipertandingkan secara resmi, seni bela diri ini sering ditampilkan dalam acara budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.
Sayangnya, seni bela diri kuntow tidak diajarkan kepada masyarakat umum. Hal ini merupakan amanah leluhur yang menginginkan agar ilmu kuntow hanya diwariskan dalam lingkup keluarga atau komunitas tertentu. Akibatnya, popularitas kuntow di Tarakan tidak begitu besar. Namun, bagi Somad, hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk melestarikan warisan budaya tersebut.
![]() |
| Jaelani, Salah seorang pelatih Kuntow sedang melatih muridnya |
Kehidupan Sehari-hari Sang Pendekar
Selain menjadi pelatih kuntow, Somad adalah seorang nelayan yang gigih. Kehidupannya di laut penuh dengan kerja keras, namun ia tetap menyempatkan diri untuk melatih murid-muridnya di malam hari. Dengan usia yang kini menginjak 53 tahun, Somad tetap energik dan penuh semangat. Ia merasa bahwa melatih kuntow bukan sekadar hobi, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga warisan leluhur tetap hidup.
Bagi Somad, kuntow adalah bagian tak terpisahkan dari identitasnya sebagai seorang Tidung. Ia percaya bahwa setiap anak cucu suku Tidung memiliki kewajiban untuk melestarikan seni bela diri ini. Meski tantangan besar datang dari modernisasi dan kurangnya minat generasi muda, Somad tidak pernah menyerah. Baginya, kuntow adalah simbol kebanggaan budaya yang harus terus diwariskan dari generasi ke generasi.
![]() |
| Kuntow, Seni bela diri khas suku Tidung |
Manfaat Kuntow Bagi Para Murid
Salah satu murid Somad, Jaelani, adalah seorang mahasiswa dari PPKIA Tarakan. Ia merasa beruntung bisa belajar langsung dari seorang pendekar seperti Somad. Bagi Jaelani, latihan kuntow tidak hanya membuat tubuhnya lebih bugar, tetapi juga memberikan makna yang lebih dalam. Ia merasa waktunya lebih bermanfaat karena diisi dengan aktivitas yang membangun.
Selain itu, Jaelani juga mengapresiasi nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kuntow. Seni bela diri ini tidak hanya tentang gerakan fisik, tetapi juga tentang memahami filosofi hidup yang diajarkan leluhur. Setiap jurus dalam kuntow memiliki makna mendalam yang mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan keberanian.
![]() |
| Atraksi silat kuntow |
Menjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi
Seni bela diri kuntow saat ini berada di ambang kepunahan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup menjadi tantangan besar dalam melestarikan tradisi ini. Namun, Somad percaya bahwa kuntow adalah aset budaya yang tidak ternilai harganya. Sebagai bagian dari warisan suku Tidung, kuntow mencerminkan kearifan lokal yang sarat nilai.
Somad berharap agar semakin banyak generasi muda Tidung yang tertarik untuk mempelajari kuntow. Ia percaya bahwa seni bela diri ini bukan hanya alat untuk melindungi diri, tetapi juga simbol identitas yang menghubungkan mereka dengan leluhur. Dengan terus melatih dan mengajarkan kuntow, Somad berharap seni bela diri ini tetap hidup dan menjadi kebanggaan suku Tidung di masa depan.
![]() |
| Latihan Jurus - jurus Kuntow |
Refleksi dari Seorang Pendekar
Kuntow adalah lebih dari sekadar seni bela diri. Bagi Abdul Somad, kuntow adalah cara untuk menghormati leluhur, menjaga nilai-nilai budaya, dan membangun generasi yang tangguh. Meski perjalanan mempertahankan tradisi ini tidak mudah, Somad tidak pernah merasa lelah. Setiap gerakan, setiap jurus yang ia ajarkan kepada murid-muridnya adalah bentuk dedikasi dan cinta terhadap warisan budaya.
Melalui perjuangan Somad, kita diingatkan akan pentingnya melestarikan tradisi lokal. Seni bela diri kuntow adalah cerminan dari kearifan suku Tidung yang penuh makna. Dengan memahami dan menghargai warisan ini, kita dapat belajar untuk lebih menghormati sejarah, budaya, dan identitas kita sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman.
Seni Bela Diri
Suku Tidung Dalam Melumpuhkan Lawan : https://youtu.be/Bj8G5n-COUo?si=vQqaNroGOT59CLZe


.jpeg)


